Social Trust mendatangkan Financial Trust

Sebagai pengarang-penulis. Yang sejak 1984 menembus harian Kompas dengan artikel adat budaya (Dayak). Kemudian, malang melintang menulis dan menghasilkan tidak kurang dari 4.000 artikel hingga 2004. Saya punya komunitas, entah pembaca entah penulis juga. Selain: komunitas hobi dan profesi.

Tetap berkomuikasi, dengan mereka, walaupun apa yang terjadi. Kini lebih mudah. Dengan membuat grup WA, komunitas penulis, penggemar, dan sebagainya.

Saya selektif sekali masuk WAG. Tidak tahan dengan bunyi “ting” masuk HP. Diangkat, dilihat : tidak penting. Tidak diangkat: mungkin juga penting.

Maka saya hanya punya 4 WAG. Satu dari grup alumni. Satu grup keluarga besar. Satunya lagi dari sesama pegiat literasi. Dan –terakhir– dari grup pemain saham.

Itu saja. Yang lain-lain: saya tega untuk leave. Terutama sebabnya, manakala saya lihat anggotanya suka: copas, forward status orang, unggah konten video yang bikin penuh memori HP. Dalam hati saya berkata, “Jangan coba-coba kirim saya konten seperti itu, saya bisa bikin lebih bagus lagi!”

Saya suka status yang orisinal.

Ketika Web kita ini, mendapat Iklan dari Google (Google AdSense). Saya betul-betul menyadari dan memahami kata-kata sakti sang empu.

Kembali ke komunitas, kelompok sosial. Saya bisa bikin 1 tulisan dibaca lebih dari 1.000 jika saya blash. Namun, kadang tidak juga harus demikian. Bergantung kontennya.

Sebab, seperti saya. Saya tidak selalu suka menerima, di-blash, konten media. Terutama yang saya tak suka.

Social trust mendatangkan financial trust.  Ketika mengalami, saya baru mafhum kata-kata Jakob Oetama, gurubesar saya dan kami semua di Kelompok Kompas Gramedia. Yang ia kerap ucapkan dan tandaskan kepada kami, 30 tahun silam.

Terutama ketika Web kita ini, mendapat Iklan dari Google (Google AdSense). Saya betul-betul menyadari. Sekaligus memahami kata-kata sakti sang empu.

Betapa tidak! Misalnya: ketika kita bisa meraih 1.000 klik/ views, maka cuan dari iklan yang masuk 100 rupiah /View dari jumlah itu (Rp100.000).

Nah!

Sesuatu banget, kan? Itulah: ekonomi/ industri kreatif yang telah dinujumkan Dr. Marie Elka Pangestu tahun 2009 menjadi bisnis baru.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply