Surat-surat Politik Oevaang Oeray | Yang Perlu Segera Dibukukan

Helai demi helai surat-surat politik itu kusam. Sebagian ujungnya robek. Makin  berkurang sisi halamannya ditelan zaman dan dirayap ngengat.

Dokumen asli itu ketik manual, beberapa tulis tangan asli Oevaang. Saya telah melihat, membaca, dan mempelajari. Apa isinya?

Caption: Saya depan rumah Oevaang Oeray di Pontianak setelah memegang dan membaca tuntas  setumpuk surat-surat politik OO.

Oevaang Oeray (OO) tidak dapat dilepas dari F.C. Palaunsoeka. Dwitunggal, seperti Soekarno-Hatta bagi partai Dayak itu. Namun, kemudian, seperti juga Soetta: keduanya dari dwitunggal menjadi Dwitanggal. Apa sebab?

Jawaban atas pertanyaan itu, akan ditemukan kemudian. Setelah kedua tokoh Dayak Kalimantan Barat memilih jalan masing-masing. Lewat surat-surat politik, ketikan langsung jemari Oevaang Oeray, semuanya terang benderang.

Tempus omnia revelat! -waktu akan menyibak segalanya.

Sebagai bagian dari waktu, yang tidak pernah surut menoleh ke belakang, saya adalah alat untuk menjadi saksi atas setumpuk surat yang bercerita itu.

Pontianak sore itu muram. Suaca suram. Maklum, sedang musim hujan.

Di antara gerimis yang titis, saya diantar ke suatu jalan. Di sana bekas rumah kediaman Gubernur pertama Dayak Kalbar, Oevaang Oeray. Agenda ke situ hanya satu: melihat dengan mata kepala sendiri.  Memegang.  Membaca. Lalu mempelajari surat-surat politik Oevaang.

Kebanyakan ketik manual. Kertasnya sudah kuning. Beberapa sobek. Satu dua lembar, ujungnya, tidak lagi utuh. Dimakan rayap.

Saya termasuk periset dari-dalam yang beruntung. Bisa langsung memegang dan membaca dokumen-dokumen mahapenting ini. Bahkan, periset Davidson tidak pernah melihat dan memegang dokumen aslinya.

Bundelan asli ini surat-surat politik OO ini pernah ditawar mau dibeli seorang bule yang bosan kaya, dengan nilai miliaran rupiah. Di mana kini “harta karun” ini disimpan?

Partai Daya (PD) yang segera menjadi buku. Sosok Oevaang Oeray  tidak dapat dilepas dari F.C. Palaunsoeka. Dwitunggal, seperti Soekarno-Hatta bagi partai Dayak. Namun, kemudian, seperti juga Soetta, keduanya dari dwitunggal menjadi Dwitanggal.

Toh saya menikmati membaca surat-surat politik itu. Perburuan seperti ini, persis seperti dalam kisahan cerita silat. Inilah makna “mencuri kitab” itu. Seluruh jurus kita tahu dan kita kuasai. Betapa lega saya bisa mencuri kitab ini, meski dijaga oleh seribu prajurit luar dalam padepokan tempat penyimpanannya.

Menurut saya, sekali lagi kata saya: Siapa pun peneliti yang meneliti dan menulis Oevaang Oeray yang belum pernah melihat dan membaca dokumen ini, belum bertemu sumber primernya. Bukankan demikian inti METODE PENELITIAN DOKUMENTASI?/ Hermeneutika?

Bicara tokoh Dayak Kalimantan Barat, belum sah dan belum lengkap jika tidak menyebut nama Oevaang Oeray. Nama lengkap lelaki bertubuh tambun ini Johannes Chrisostomus Oevaang Oeray atau yang lebih dikenal dengan J. C. Oevaang Oeray adalah  salah seorang tokoh pejuang di Kalimantan Barat.

OO lahir pada tanggal 18 Agustus tahun 1922 di Tanjung Kuda, desa Melapi I, Kabupaten Kapuas Hulu. Ayah dan ibunya bernama Ledjo dan Hurei prenganut Katolik yang taat.

Kedua orangtuanya berasal dari suku Dayak yang sehari-hari untuk mendapatkan penghasilan sebagai penoreh karet dan petani ladang berpindah. OO merupakan anak keempat dari empat bersaudara. Saudaranya yang lain adalah Ding Oeray, Mering Oeray dan Tepo Oeray.

Beruntung, ia keluar dari cangkang pedalaman Kaluas Hulu untuk mengenyam pendidikan di sekolah misi Katolik Nyarumkop, kaki lembah Gunung Poteng, tak jauh dari kota Amoi Singkawang.

Oevaang boleh dikatakan adalah produk Misi Katolik yang cukup militan. Hal ini nanti jelas tercermin dalam perjuangannya mengangkat harkat Dayak dan Gereja menjadi eksis di wilayah Kalimantan Barat.

Dalam sebuah retret para guru Dayak di Sanggau misalnya, Oevaang mengirimkan semacam sebuah surat “agitasi” agar para guru Dayak yang berkumpul itu menjadi agen perubahan –yang dalam bahasa Mills disebut elite power—bergerak dan segera membuat perubahan.

Alhasil, agitasi Oevaang kemudian mendorong terbentuknya Daya in Action (DIA). DIA inilah cikal bakal berdirinya Partai Persatuan Daya (PPD) pada 30 Oktober 1945.

Merasakan bahwa melalui politik maka hak  dan martabat puaknya lebih diperhatikan, Oevang terjun di dunia politik secara total.  Alhasil, ia berhasil melakukan bargaining dengan penguasa pusat dan dilantik menjadi Kepala Daerah Swatantra Tk. 1 pada 22 Juni 1956. Lalu terpilih menjadi Gubernur KDH Tk.I Kalbar 1960-1966. Mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai gubernur Dayak pertama di Kalimantan Barat (1960-1966).

Namun, ironisnya, Oevaang Oeray, selaku  Gubernur Kepala Daerah Kalbar diberhentikan oleh Basuki Rachmat yang kala itu menjabat Menteri Dalam Negeri pada 12 Juli 1966.

Sebelumnya –entah pura-pura agar tampak ada demokrasi atau nama sudah di kantong Jakarta– DPRD GR Kalbar dalam sidangnya pada tanggal 18 Juli 1966 menetapkan dua orang calon gubernur, masing- masing Kol.CHK Soemadi BCHK serta F.C Palaunsoeka yang dikenal sebagai “seteru politik” OO.

Setelah PPD dibubarkan Bung Karno, dan karena orang Dayak sudah tidak punya lagi kendaraan politik, para politisi Dayak tercerai berai dan bergabung dengan partai politik yang ada. Oevang pun bergabung dengan Partindo.

Kita semua mafhum, inilah pintu masuk bagi Orba mengkadali orang-orang daerah dengan drop pejabat yang mewakili pusat (Jakarta) ketika itu.  Oevang dipandang sosok yang multidimensional.

Meski demikian, satu hal yang pasti. Ia gigih memperjuangkan martabat dan hak-hak Dayak. Sangat boleh jadi, untuk memuluskan rencana itu, OO disingkirkan. Ia digulingkan dari kekuasaannya atas tuduhan sebagai orang Soekarno, karena posisinya di Partindo, sebuah partai politik yang didirikan Soekarno. Selain tokoh politik PD dihabisi penguasa, banyak PNS Dayak yang diberhentikan dengan tuduhan terlibat partai terlarang saat itu.

Untuk mengingat jasanya, namanya diabadikan sebagai nama sebuah kolam renang di Pontianak. Juga diabadikan sebagai nama jalan.

Surat-surat politiknya banyak mengejutkan ketika itu. Sayang, tidak seperti rekan sesama Gubernur Kalimantan Tengah, Tjilik Riwut, Oevaang tidak menulis buku sendiri. Namun, surat-surat politiknya ketika itu menggemparkan. Justru karena pikirannya berbentuk surat, maka menjadi sangat berharga di kemudian hari. Jika “diobral” seperti saat ini di media sosial, niscaya dokumen ini menjadi tidak sepenting saat ini.

Saya pikir, ini adalah BUKU yang ditulis Oevaang Oeray. Saya telah melihat, membaca, dan mencermati isi buku yang belum diterbitkan itu!

Ini salah satu salinan isi soerat politiknya:

OO SEORANG NASIONALIS
oevaang nasionalis.
oo konteks keindonesiaan.
menolak ris dan menolak bendera
soekarno dayak

dalam konteks kemerdekaan, sangat bagus, bukan pada dayak; melihat kemerdekaan, kemerdekaan pintu emas (apakah dayak masuk pintu emas itu?) kebetulan dayak mengambil kesempatan dalam kemerdekaan.

Perlu waktu lebih 50 tahun baru ada pemimpin Dayak sekelas Oevaang. Dialah Cornelis.Di buku-buku teks yang membahas leadership, pemimpin demikian disebut: born and made leader. *

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply