Tradisi Beduruk Dayak Desa di Ujung Pena Kandidat Ph.D. yang Studi di Polandia

Apa gerangan “beduruk”?

Bagi banyak orang. Terutama yang bukan berasal dari suku bangsa Dayak, istilah-istilah dan tradisi yang ada di dalam budaya Dayak mungkin terdengar asing di telinga. Namun, setelah membaca buku ini, kita menjadi lebih sadar akan kekayaan budaya dan warisan tradisi leluhur suku Dayak.

Seiring dengan perkembangan zaman, budaya Dayak seperti sungai yang bertemu dengan muara, mengalir dari penganut agama asli suku Dayak menuju Gereja Katolik sebagai agama yang diimpor. Namun, keduanya tetap harmonis dan akarnya tetap berpegang pada budaya asli, sesuai dengan ajaran Konsili Vatikan II, Ad Gentes (Kepada Bangsa-bangsa).

Inilah yang menjadi fokus studi dalam buku ini. Penulis buku ini, yang telah aktif menulis di berbagai jurnal terkemuka baik di tingkat nasional maupun internasional sejak ia masih mahasiswa, telah menjadikan budaya Dayak dan perpaduan dengan agama Katolik sebagai objek kajiannya.

Gregorius Nyaming, saat ia menulis dan menerbitkan buku ini, belum mengejar gelar doktoralnya. Saat ini, ia sedang dalam persiapan untuk meraih gelar Ph.D. di bidang Teologi Dokmatik di Universitas Katolik St. Yohanes Paulus II di Lublin, Polandia.

Jika ia menulis buku ini saat ini, mungkin nuansa dan isi bukunya akan berbeda. Namun, sebagai kajian awal, buku ini sudah sangat memadai di bidangnya. Apalagi, buku ini menjadi yang pertama dalam kajian ilmiah terhadap salah satu tradisi di kalangan Dayak Desa, khususnya subsuku Iban di wilayah Sintang, Kalimantan Barat.

Tradisi “beduruk” adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Suku Dayak. Ini adalah bentuk gotong royong yang mencerminkan semangat kebersamaan dan kekeluargaan yang kuat di antara mereka.

Dalam beduruk, setiap anggota komunitas menghargai peran dan kontribusi satu sama lain. Mereka bekerja bersama untuk membantu sesama dengan tulus, tanpa mengharapkan imbalan. Tradisi ini juga mencerminkan nilai-nilai kasih sayang dan solidaritas, terutama terhadap mereka yang memerlukan bantuan.

Beduruk bukan hanya sekadar kerja bersama, tetapi juga sebuah cara untuk menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Dalam dunia yang semakin dipengaruhi oleh individualisme dan teknologi modern, beduruk menjadi salah satu cara untuk mengatasi isolasi diri. Melalui kerja gotong royong, individu diajak untuk keluar dari diri sendiri, belajar dari orang lain, dan memahami bahwa pemberian diri dan pengorbanan untuk orang lain adalah kunci kehidupan yang bermakna.

Tradisi beduruk mencerminkan nilai-nilai fundamental tentang manusia sebagai pribadi yang ada untuk sesama, sejalan dengan ajaran Gereja sebagai keluarga Allah. Dalam keseluruhan konteksnya, beduruk adalah cara masyarakat Suku Dayak menjalankan nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Tradisi “beduruk” juga mengakui peran penting kaum perempuan dalam kehidupan masyarakat Suku Dayak. Mereka tidak hanya dilihat sebagai pendukung, tetapi aktif terlibat dalam aktivitas berladang dan dalam tradisi beduruk itu sendiri. Kehadiran kaum perempuan di ladang adalah kebutuhan yang sangat nyata, mengingat sistem pertanian dalam budaya Dayak membutuhkan tenaga yang signifikan.

Sebagai sebuah kajian awal, buku ini sudah sangat memadai di bidangnya. Apalagi menjadi yang pertama! Sebuah kajian ilmiah terhadap salah sattu tradisi di kalangan Dayak Desa, subsuku Iban di wilayah Sintang, Kalimantan Barat.

Sistem bilateral yang dianut oleh masyarakat Dayak menempatkan laki-laki dan perempuan pada posisi yang setara dalam berkontribusi pada masyarakat dan mencari nafkah untuk keluarga. Ini mencerminkan pandangan bahwa peran kaum perempuan tidak hanya sebagai tanggungan, tetapi sebagai tanggung jawab luhur yang dijalankan dengan kesadaran penuh. Mereka tidak dipaksa atau dieksploitasi; sebaliknya, mereka dianggap sebagai mitra setara dalam upaya bersama untuk mencapai kesejahteraan.

Pandangan ini juga mencerminkan pemahaman akan kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam pandangan agama. Mereka diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, yang menunjukkan bahwa keduanya memiliki martabat yang sama. Pengakuan akan kesetaraan ini merupakan langkah awal untuk mengaktifkan partisipasi penuh kaum perempuan dalam kehidupan Gereja, masyarakat, dan kehidupan publik.

Dalam konteks Gereja Keuskupan Sintang, tradisi beduruk memainkan peran penting dalam mengingatkan umat Allah akan pentingnya konsep communio (komunitas iman yang hidup) dan peran aktif mereka dalam membangun dan menghidupi Gereja sebagai communio. Ini sejalan dengan visi Gereja Keuskupan Sintang yang menekankan pentingnya Gereja sebagai komunitas iman yang hidup, bukan hanya perkumpulan atau kerumunan orang.

Dengan demikian, tradisi beduruk menjadi salah satu cara yang bermakna bagi masyarakat Suku Dayak dan Gereja Keuskupan Sintang untuk menjalankan nilai-nilai kesetaraan, partisipasi aktif, dan komitmen terhadap solidaritas yang merujuk pada ajaran Gereja dan prinsip-prinsip Konsili Vatikan II.

Fokus yang menjadi Locus studiorum romo diosesan Keuskupan Sintang ini teologi kontekstual, dengan maior: Teologi Dogmatik.

Dan beduruk, di narasi ini, pasti tidak dapat dkupas tuntas. Yang pasti, ia tradisi  nilai Dayak, belarasa, saling tolong. Lebih dalam dari sekadar gotong-royong. Tulisan ini lebih sebagai pengumpan (feeder) bagi Pembaca untuk masuk ke bukunya, sebagai inti.

Kita berharap banyak pada Nyaming. Dengan semakin tingginya kandungan dan luasnya ilmu romo yang seturut ilmu padi, serta subur menaburkan pikiran dan riset terkait topik yang menjadi vaknya di berbagai media; kian banyak orang bukan hanya tercelik oleh tulisan-tulisannya. Melainkan juga kiranya dia menjadi Profesor. Dengan catatan, sekembalinya dari Negeri Santo Yohanes Paulus II, Nyaming mengajar di sebuah perguruan tinggi agar menjadi dosen yang meraih Jenjang Jabatan Akademik (JJA) sampai puncak: Profesor.

Di Sintang, ada Universitas Kapuas.

Di Sekadau, ada Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK). Romo dapat menjadi dosen yang home base-nya di situ. Usia masih muda. Bisa mengurus Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN), untuk segera meniti karier menuju guru-besar.

Karya akademik telah banyak. Kum (angka)  telah lebih dari cukup! Jadi, tunggu apa lagi?

Tolle et lege!

Data Buku
Judul: Tradisi Beduruk Suku Dayak Desa : Harmoni antara Tuhan, Manusia dan Alam
Penulis: Fransiskus Gregorius Nyaming, Pr.
Jenis Bahan : Monograf (tulisan/ karya tulis bertopik tunggal)
Penerbit : Sekaban

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply