Tri-Sumpah Kedaulatan Dayak Patih Jaga Pati

Buku Sumpah Kedaulatan Dayak: Patih Jaga Pati Raden Cendaga Pintu Bumi Jaga Banua Alexander Wilyo, dilaunching dan dibahas pada 4 Mei 2024 di Balai Kepatihan, Ketapang, Kalimantan Barat.

Memoar Alexander Wilyo yang ditulis Masri Sareb Putra dan Thomas Tion, dengan tebal 214 halaman, kertas HVS, dan dicetak full-color, fokus pada peran Alexander Wilyo dalam konteks Kerajaan Hulu Aik. Terutama Tri-Sumpahnya mengenai Kedaulatan di bidang budaya, ekonomi, dan politik.

Baca “Prosiding Kongres Internasional: Kebudayaan Dayak 1: Menjadi Dayak”

Tampilan wajah depan buku itu.

Sumpah Kedaulatan Dayak yang digegelarkan oleh Patih Jaga Pati merupakan suatu tekad-kuat yang penuh makna sekaligus sumber inspirasi. 

Sumpah Kedaulatan Dayak

Dalam buku ini, penulis dengan tajam serta cukup mendalam mengungkapkan esensi dari sumpah-sumpah Patih Jaga Pati yang telah membentuk fondasi kuat bagi kelangsungan budaya, ekonomi, dan politik suku bangsa Dayak khususnya di dalam jejak wilayah Kerajaan Ulu Aik dan pulau Kalimantan pada umumnya. 

Dengan pemahaman yang mendalam dilandasi rasa hormat terhadap sejarah serta adat budaya Dayak, penulis memberikan secuil gambaran yang menyentuh hati tentang bagaimana Sumpah Kedaulatan ini telah membentuk sekaligus memandu komunitas Dayak dalam menghadapi perubahan zaman yang tidak bisa untuk dihindari.

Thomas Tion (penulis) dan Masri (Penerbit) menerangkan secara singkat isi buku.

Sajian gizi menu pustaka ini membawa pembaca mengembara melalui perjalanan Sumpah Patih Jaga Pati, yang bukan sekadar janji-janji, tetapi juga tekad yang tulus setia dan janji setia untuk menjaga budaya, memperkuat ekonomi, dan memperjuangkan hak politik suku bangsa Dayak. 

Dengan gaya penulisan yang cukup santai serta populis, penulis memerinci bagaimana Sumpah Patih ini mencerminkan pentingnya kedaulatan dalam hal budaya, ekonomi, dan politik. Masing-masing dari tiga sumpah ini berperan pentng dalam menjaga identitas dan keberlanjutan suku bangsa Dayak.

Penulis juga membawa pembaca kepada suatu perenungan mengenai pentingnya literasi dalam mempertahankan dan mempromosikan budaya Dayak.

Patih Jaga Pati bukan hanya menjadi penggali yang menghidupkan sekaligus menghidupi sejarah, tetapi juga seorang pemimpin yang menginspirasi untuk membangun literasi yang dapat membawa budaya Dayak ke tingkat global. 

Materi buku ini

Sebagian besar konten buku ini telah pernah dimuat dalam media digital Patihjagapati.com. Dengan menghidupkan literasi dan merangkul komunitas Dayak melalui media modern, komunitas Dayak dapat membangun narasi mereka sendiri dan memperkuat identitas mereka dalam wajah perubahan dunia. Suatu lompatan peradaban yang boleh dikatakan “maju”, sebab selama ini narasi dan citraan Dayak dibangun orang luar, bukan oleh orang Dayak itu sendiri.

Baca The Dayak Proverbs Related to Land and Life

Akibatnya, dapat kita rasakan sampai dengan detik ini, antara lain dengan masih hidupnya di kalangan tertentu citraan miring serta stereotype negatif tentang Dayak yang bias, bahkan tidak benar. Padahal orang Dayak yang paling mengerti siapa diri mereka yang sebenarnya, bukanlah orang luar sebagaimana dikemukakan oleh Cirrino (1971) yang sarat dengan bias. Bias pertama dan utama adalah dari si penulis dan media yang mempublikasikannya, sebab tidak ada penulis yang tidak berpihak dan tidak ada media yang tidak punya kepentingan!

Demikianlah buku ini! Tidak dapat dikatakan di dalam setiap narasi yang dibangun tidak ada bias dan bebas interest sama sekali, setidak-tidaknya berpihak pada kebenaran yang belum diungkapkan dalam tulisan. 

Simbol

Narasi yang dibagi-bagi per topik menjadi Bagian dan Bab buku ini membawa kita lebih dalam masuk zona sejarah asal usul kerajaan Ulu Aik dan makna dari Balai Kepatihan sebagai simbol kedaulatan dan kebanggaan Dayak. Penulis membahas bagaimana Balai Kepatihan bukan hanya sebuah struktur fisik, melainkan juga manifestasi dari kekayaan budaya dan sejarah yang hidup dalam masyarakat Dayak.

Pembangunan Balai Kepatihan adalah bukti nyata bagaimana Dayak terus merawat dan memperkuat sejarah Kerajaan Hulu Aik sebagai warisan budaya mereka, mengintegrasikan simbolisme yang dalam ke dalam aspek fisik bangunan itu sendiri.

Pada akhirnya, buku ini memberikan suatu gambaran yang kaya serta mendalam tentang peran Patih Jaga Pati, kerajaan Ulu Aik, dan budaya Dayak. Dengan kisah-kisah yang mendalam dan penuh inspirasi, buku ini mengajak kita untuk merenung tentang pentingnya kedaulatan budaya, ekonomi, dan politik dalam menjaga dan mempromosikan identitas suku bangsa Dayak. Melalui pemahaman dan apresiasi yang lebih dalam terhadap warisan budaya ini, kita dapat terinspirasi untuk menjaga dan menghormati nilai-nilai yang membentuk komunitas Dayak yang luhur.

“Verba volant, scripta manent” adalah ungkapan dalam bahasa Latin yang artinya “Kata-kata terbang, berlalu ditelan waktu, namun tulisan bertahan.” 

Share your love
Avatar photo
Biblio Pedia
Articles: 235

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

One comment

Leave a Reply