Uniknya Upacara Pemberian Nama Anak Secara Adat dalam Suku Dayak Desa

Kita orang Dayak memiliki tradisi yang kaya dan unik dalam hal pemberian nama secara adat kepada anak. Dalam tulisan ini, saya akan mengetengahkan tradisi pemberian nama dalam suku Dayak Desa di Dusun Medang, Kabupaten Sintang, Kecamatan Dedai. Pemberian nama secara adat kepada keponakaan saya yang lahir pada tanggal 4 Agustus 2020 akan saya jadikan sebagai contoh kasus.

Tepat pada Minggu, 16 Agustus 2020, keluarga berkumpul untuk memberikan nama kepadanya. Ada dua nama yang akan diberikan kepadanya, yakni nama Kristiani dan nama kampung atau nama belah pinang. Untuk nama Kristiani sendiri sudah dipersiapkan dan disepakati bersama oleh kedua orang tua jauh-jauh hari sebelum dia lahir. Sementara, proses pencarian untuk nama kampung harus dilaksanakan melalui upacara adat.

Upacara adat pemberian nama ini cukup unik. Sarat dengan pesan dan makna. Bagaimana upacara ini berlangsung? Mengapa nama kampung yang diberikan disebut juga nama belah pinang?

Dalam upacara adat ini disediakan sebuah piring tua, beras, sirih, buah pinang. Dan yang tak pernah ketinggalan ialah tuak. Juga disediakan lilin dan salib yang nanti akan digunakan untuk doa bersama.

Buah pinang memainkan peranan yang sangat penting dalam upacara adat ini. Penting karena lewat pinanglah akan diketahui apakah nama yang telah dipilih bisa digunakan atau tidak.

Peraturannya ialah pabila setelah dilemparkan, kedua belah pinang itu posisinya sama-sama telungkup atau sama-sama telentang, artinya nama yang telah dipilih tersebut tidak boleh dipakai. Sebaliknya, jika yang sebelah telentang dan yang sebelah lainnya telungkup, itu artinya nama tersebut direstui oleh Petara dan para leluhur. Dengan kata lain, nama tersebut boleh digunakan.

Sekarang mari kita lihat bagaimana proses upacara adat ini berlangsung.

Buah pinang, yang nanti akan digunakan untuk menentukan nama si anak, oleh tetua adat selaku pemimpin upacara, akan diletakkan di atas sebuah piring tua yang telah disiapkan. Buah pinang itu sendiri sudah dalam keadaan terbelah dua. Setelah semuanya siap, pemberian nama kampung kepada sang bayi pun segera dimulai.

Ada yang unik pada bagian pemberian nama kampung ini. Tidak seperti nama Kristiani yang sudah disiapkan jauh-jauh hari, nama kampung ini dicari dengan mengambil nama-nama leluhur atau nenek moyang. Ada dua hal yang biasanya diperhitungkan dari nenek moyang tersebut: (1) selama hidupnya dikenal baik, (2) memiliki umur yang panjang (gayu dalam bahasa kampungnya).

Oleh karena pemberian nama belah pinang ini mengambil nama dari nenek moyang yang sudah cukup lama meninggal dunia, kehadiran orang-orang tua sangat diperlukan. Sebab, merekalah yang dianggap mengenal dengan baik bagaimana kepribadian nenek moyang itu selama hidup di dunia ini.

Nama nenek moyang yang akan diberikan itu berasal dari pihak ibu maupun pihak ayah si anak. Baik dari pihak ibu maupun dari pihak ayah sama-sama diminta untuk mempersiapkan tiga nama.

Upacara pun dimulai dengan terlebih dahulu “menguji” kepantasan ketiga nama yang telah disiapkan oleh pihak ibu (kakak ipar saya). Nama pertama pun disodorkan kepada pemimpin upacara. Setelah menerima nama tersebut, pemimpin upacara, seperti yang terjadi dalam upacara atau ritual adat lainnya, akan melafalkan sebuah mantra khusus.

Mantra ini ditujukan kepada Petara dengan tujuan memohon perkenanan sekaligus petunjuk atas nama yang telah dipilih.

Setelah mantra selesai dilafalkan biasanya akan ada jeda untuk beberapa saat. Selain memberi kesempatan kepada pemimpin upacara adat untuk beristriahat setelah melafalkan mantra yang cukup panjang, jeda ini menjadi kesempatan untuk menikmati hidangan yang telah tersedia. Termasuk tuak yang sudah disediakan.

Setelah masa jeda selesai, pemimpin upacara kemudian mengambil pinang yang tadi sudah dibelah. Kemudian ia melemparkan buah pinang di atas permukaan piring tua yang sudah disiapkan.

Kedua orang tua dan semua yang hadir berdebar-debar menunggu bagaimana hasilnya. Sayang sekali, kedua belah pinang itu sama-sama telentang. Itu artinya, keponakan saya tidak boleh menggunakan nama tersebut.

Karena nama pertama tidak bisa digunakan, maka disodorkanlah nama yang kedua. Rupanya, nama yang kedua ini sama nasibnya dengan nama yang pertama. Lalu, disodorkanlah nama terakhir. Dan lagi-lagi, kedua belah pinang masih saja dalam posisi sama-sama telentang.

Karena sudah ada tiga nama yang disodorkan oleh pihak si ibu, dan semuanya tidak mendapat perkenanan Petara dan para leluhur, maka sekarang giliran pihak sang ayah yang menyodorkan nama.

Setelah nama disampaikan kepada pemimpin, upacara kembali dilakukan dengan tata cara yang sama. Mantra pun selesai dilafalkan. Buah pinang yang telah dibelah kembali dilemparkan di atas permukaan piring. Dan apa yang terjadi???? Kedua belah pinang berada dalam posisi yang satu telentang dan yang satunya lagi dalam posisi telungkup.

Semua yang hadir bersorak kegirangan. Mereka merasa lega setelah sempat melewati proses pencarian nama yang cukup alot. Sekarang keponakan saya sudah mempunyai nama kampung atau nama belah pinang, yakni Apong. Sedangkan nama Kristianinya ialah Carolina Kaila Vianney. Apong sendiri merupakan nama ibu dari salah satu paman saya.

Setelah ritus pemberian nama secara adat rampung dilakukan, upacara dilanjutkan dengan ritus pemberian nama secara Kristiani.

Dengan menghidupkan kembali nama nenek moyang yang telah meninggal dunia, upacara pemberian nama ini menghandung harapan dari kedua orang tua si bayi dan semua orang yang mengasihinya agar ia kelak menjadi pribadi yang baik dan disenangi banyak. Dan juga dianugerahi kesehatan dan umur yang panjang.

Begitu pula dengan nama Kristiani yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Harapannya, pertama-tama, agar santo atau santa (orang-orang kudus dalam Gereja Katolik) yang namanya dipakai oleh sang anak, senantiasa melindungi dan menyertai perjalanan hidupnya.

Dan, dengan menyandang nama tersebut, sang anak diharapkan bisa meneladan peri hidup santo atau santa yang menjadi nama pelindungnya. Agar ia, sebagaimana tercantum dalam doa upacara memberi nama, berkembang menjadi dewasa dalam cinta, taat, serta berbakti kepada Tuhan.

Upacara adat ini secara tidak langsung kiranya hendak mengajarkan sekaligus juga mengingatkan mereka yang masih hidup di dunia ini agar terus berjuang menjadi orang baik. Bila hidup kita baik dan disukai banyak orang, maka kelak nama kita juga akan dikenang dan dihidupkan kembali oleh generasi-generasi selanjutnya. “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”, begitu kata pepatah.

Share your love
Avatar photo
Gregorius Nyaming
Articles: 33

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply