Upacara: Novel Perdana Korrie yang Mengangkat dan Memperkenalkan Dayak

Korrie masih belia ketika itu. Tapi ia telah berani keluar cangkang. Meninggalkan negeri “para pengayau” yang sarat adat dan upacara, merantau menjelajah masuk tanah Jawa.

Di kota pelajar, Jogjakarta, sembari kuliah di akademi perbankan, Korrie bersastra.  Larut bersama kawan-kawannya para seniman jalanan Jogja ketika itu. Sebut saja, antara lain: Umbu Landu Paranggi, Linus Suryadi AG, dan Ragil Suwarna Pragolapati.

Bagi Anda yang bukan bagian dunia-sastra, barangkali asing nama-nama tersebut. Tapi bagi sastrawan, sungguh bukan sekadar mengenal, juga menikmati karya mereka yang luar biasa.

Korrie berkisah kepada saya. Ia kuliah di Jogja karena bercita-cita jadi bankir. Nulis selain hobi, karena terpaksa, untuk mendapat honor. Namun, hobi dan honor itu menjadi keenakan. Lalu keterusan. Bahkan kecanduan. Maka  Korrier menulis, dan bersastra, hingga ajal menjemputnya.

Dalam perjalanan pulang kampung ke Samarinda, ia tahu ada sayembara mengarang roman. Ia memutuskan ikut. Jadilah selama seminggu pada liburan itu ia ngebut nulis naskah. Dengan ketik manual, jadilah naskah itu. Lalu dikirimkannya ke Panitia Sayembara.

Tak disangka-sangka. Tahun 1976, naskah Upacara yang mengalir dari imaginasi sekaligus pengalaman dan pengetahuannya, menarik perhatian juri. 

Ada ciri warna lokalnya. Karya sastra ini dinilai unik. Maka Korrie diputuskan sebagai pemenang Sayembara Mengarang Roman yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Sayembara ini menjadi momen penting bagi sastrawan muda ini menunjukkan bakat dan karya-karyanya.

Korrie berkisah. Ia kuliah di Jogja karena bercita-cita jadi bankir. Nulis selain hobi, karena terpaksa, untuk mendapat honor. Namun, hobi dan honor itu menjadi keenakan. Lalu keterusan. Bahkan kecanduan. Maka  Korrier menulis, dan bersastra, hingga ajal menjemputnya.

Kemenangan Korrie dalam sayembara tersebut membawa pengakuan atas kepiawaian dan bakatnya dalam menulis karya sastra. Novel Upacara yang memenangkan sayembara tersebut menjadi salah satu karya yang menonjolkan warna lokal dan nilai-nilai budaya etnis Dayak. Dengan kemenangan ini, karya Korrie semakin dikenal dan diakui di dunia sastra Indonesia.

Sayembara penulisan sastra, seperti Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta, berperan penting dalam memotivasi penulis muda untuk menghasilkan karya-karya berkualitas dan mendukung perkembangan sastra di Indonesia. Kemenangan Korrie Layun Rampan dalam Sayembara Mengarang Roman ini juga memberikan dorongan dan inspirasi bagi penulis muda lainnya untuk mengembangkan bakat mereka dalam dunia sastra.

Dalam Upacara, Korrie Layun Rampan berhasil memadukan dua warna kehidupan yang berbeda, yakni nuansa lokal etnis Dayak dengan nuansa urban Jakarta.

Cerita rekaan Korrie ini menyajikan pertentangan nilai antara masyarakat Dayak yang masih kental dengan adat istiadat tradisional dan orang-orang di kota besar, khususnya Jakarta, yang cenderung mengabaikan dan meremehkan adat istiadat tersebut.

Kisah ini berfokus pada upacara adat yang dianggap sangat penting bagi masyarakat Dayak, tetapi dianggap sepele oleh orang-orang di Jakarta. Pertentangan ini tercermin dalam pandangan mereka terhadap nilai-nilai kehidupan dan adat istiadat. Kepiawaian Korrie dalam menggambarkan “tabrakan” dua budaya ini menjadi daya tarik utama cerita.

Tokoh utama dalam novel ini adalah seorang pria Dayak yang bernama Pupuk. Dia mencoba mempertahankan tradisi dan adat istiadatnya di tengah arus modernisasi yang mulai merambah ke pedalaman Kalimantan. Pupuk berperan penting dalam sebuah upacara adat, namun upacara tersebut menghadapi berbagai tantangan, terutama karena pengaruh buruk dari penebangan hutan yang merusak lingkungan dan tradisi mereka.

Dalam perjalanan ceritanya, “Upacara” menggambarkan konflik internal Pupuk yang berusaha mempertahankan adatnya, sementara juga tergoda oleh kehidupan di kota besar, seperti Jakarta.

Penggambaran kontras antara kehidupan di kampung halamannya dan kota metropolitan menjadi inti dari perjuangan Pupuk untuk menemukan jati diri dan mencari kesesuaian antara tradisi dan modernitas.

Novel Upacara tidak hanya sekadar menceritakan kehidupan masyarakat Dayak, tetapi juga mengangkat isu-isu lingkungan dan sosial yang relevan dengan perkembangan zaman.

Korrie, Masri, dan Titis Basino, novelis peraih Hadiah Mastera.

Dengan latar belakang budaya lokal yang kuat, cerita ini mengajak pembaca untuk merenung tentang pentingnya menjaga tradisi dan lingkungan, sekaligus menyadarkan tentang bahaya modernisasi yang tak terkendali.

Korrie Layun Rampan berhasil menciptakan novel yang mendalam dan memikat, dengan menyelipkan pesan moral yang mengena. Upacara menjadi salah satu karya penting yang mengangkat tema kedaerahan dan mewakili semangat sastra Indonesia yang kreatif dan beragam.

Kemenangan Korrie dalam sayembara tersebut membawa pengakuan atas kepiawaian dan bakatnya dalam menulis karya sastra. Pengalaman ikut dan memenangkan sayembara tersebut menjadi salah satu karya yang menonjolkan warna lokal dan nilai-nilai budaya etnis Dayak. Dengan kemenangan ini, karya Korrie semakin dikenal dan diakui di dunia sastra Indonesia.

Korrie, diakui maupun tidak, telah  memberi motivasi dan inspirasi bagi penulis muda lain untuk mengembangkan bakat mereka dalam dunia sastra, termasuk penulis narasi ini.

Korrie Layun Rampan:
* di Samarinda, Kalimantan Timur, pada 17 Agustus 1953. 
+ Kamis, 19 November 2015 di Rumah Sakit PGI Cikini.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply