World Future Society: Bagian 1 dari 3 Narasi

Preambul
Tahun 2009. Saya telah menonton habis. Sebuah film futuristic, semacam science fiction, begitu. Lalu secara akademik meneliti (Saya ketika itu sebagai mahasiswa Pascasarjana Jurusan Media Studies sebuah Universitas terkenal di Indonesia) meneliti konsep, mimpi, prediksi, serta ralaman tentang rupa bagaimanakah masyarakat-bangsa dunia yang akan datang.

Tergelitik untuk  mengetahui seperti apakah masyarakat-bangsa dunia di masa yang akan dating, saya membaca sejumlah buku babon. Lalu menyarikannya dalam tulisan, yang rencana akan dibagi ke dalam 3 serial.

Pustaka acuan, disenaraikan pada akhir bagian tulisan.

Meramalkan bagaimanakah masa depan, seperti dikemukakan Marc van der Erve (2006: 17) penuh dengan spekulasi. Akan tetapi, ramalan tersebut dapat saja dilakukan dengan mendasarkannya pada kondisi saat ini dan perspektif masa lampau, lalu memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Inilah salah satu tujuan ilmu, yakni dapat mempredikasi masa depan (Popper, 1995). Dengan catatan, bahwa ada asumsi-asumsi tertentu yang tidak berubah atau tetap.

Topik pembahasan artikel ini ialah melihat bagaimana masyarakat dunia masa depan berkomunikasi dan berinteraksi dalam kaitannya dengan teknologi komunikasi.

Premis dasar McLuhan cocok digunakan untuk menjelaskan bagaimana teknologi dari media baik dahulu, sekarang, dan masa datang adalah “technologies are extensions of human capacities. Tools and implements are extensions of manual skills; the computer is an extension of the brain (Murphie dan Potts, 2003: 13).

Mengembangkan lebih lanjut apa yang dipikirkan McLuhan, dunia sekarang –dan juga dunia masa depan—dilihat sebagai sebuah kampung besar (big village).

Dengan “big village” dimaksudkan sebuah kosmos yang satu, tidak berbatas, tempat manusia berkomunikasi dan berinteraksi yang tidak dibatasi lagi oleh ruang dan waktu. Teknologi komunikasi telah memangkas atau meniadakan kendala ruang dan waktu itu, salah satu teknologi komunikasi yang saat ini dipikirkan dapat menjadi soluisi mengatasi komunikasi dan interaksi menembus ruang dan waktu ialah hologram.

Presentation1

Sumber gambar: https://blog.nerdeo.net/the-amazing-features-of-holographic-communication/

Sebagaimana dikemukakan di depan bahwa di dalam memprediksi masa depan, perlu mendasarkan prediksi tersebut dalam kaitannya dengan masa lampau dan masa kini. Masa sekarang adalah era digital di mana dunia sudah borderless, apa yang terjadi di belahan dunia mana pun dengan cepat dan mudah diakses tanpa mengalami hambatan dalam hal waktu dan tempat.

Teknologi komunikasi dalam hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan McLuhan sebagai ekstensi dari kemampuan manusia. Sebagai contoh, kita tidak bisa ke Mesir disebabkan oleh halangan waktu dan tempat, namun kita bisa saja berkomunikasi dan berinteraksi dengan warga Mesir untuk mengetahui perkembangan terkini negeri tersebut. Sebaliknya, warga Mesir yang ingin berkomunikasi dan berinteraksi dengan warga Indonesia mengenai perkembangan situasi terkini Indonesia (ancaman bom) dapat dengan mudah memperoleh informasi tersebut melalui teknologi media, dalam hal ini media digital.

Inilah yang dimaksudkan dengan dunia yang “big village”, yakni peristiwa atau informasi apa pun dengan mudah dapat diakses dan disebarluaskan layaknya zaman dahulu kala di sebuah kampung.

Pada zaman dahulu, dan kini masih terjadi di tempat tertentu, sebuah kampung demikian transparan. Artinya, apa pun yang terjadi di kampung tersebut, semua orang tahu. Sebuah kampung dalam masyarakat tradisional bergitu terbuka.

Metafora ini digunakan untuk menggambarkan bahwa di era digital oleh kemajuan teknologi, terutama teknologi media, dunia yang luas ini dipersempit oleh teknologi.
(to be continued!)

Daftar Pustaka
Baran, Stanley J dan Dennis K. Davis. (2009). Communication Theory. Boston: Wadsworth.
Erve, Marc van der. (2006). The Future of Society: Explaining the Past, Present and Future of Our World. Evolution Management & Media.
Murphie, Andrew dan John Potts. (2003). Culture & Technology. New York: Palgrave MacMillan.
Popper, Karl Raimund. (1995). The Open Society and Its Enemies. New York: Routledge.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply