Writer’s Block

Writer’s Block. Jika boleh berkata jujur. Hanya dialami oleh penulis pemula. Atau penulis amatiran. Kami, yang profesi dan makan minum dari menulis, tidak pernah mengalaminya.

“Writer’s Block” adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi di mana seorang penulis mengalami kesulitan untuk memulai atau melanjutkan proses menulis. Dan merasa adanya aral melintang dalam mencipta karya tulis.

Kebuntuan dalam menulis ini bisa melibatkan ketidakmampuan untuk menghasilkan ide kreatif. Di mana seseorang mengalami kebuntuan dalam penulisan. Selain merasa frustasi karena sulit mengorganisikan pikiran menjadi tata kalimat atau membangun paragraf yang koheren menjadi sebuah narasi yang bukan saja utuh, juga menarik bagi sidang pembaca.

Di situlah (biasanya) penulis pemula mengalami kebuntuan!

Mengapa ide menulis buntu?

Penyebab writer’s block dapat bervariasi dan bersifat subjektif. Beberapa faktor umum yang dapat menyebabkan writer’s block meliputi kelelahan mental. Selain kebingungan mengenai topik, arah atau isi tulisan, tekanan deadline, kecemasan kinerja, atau bahkan faktor emosional atau pribadi.

Baca Clear Thinking & Clear Writing

Penting untuk dicatat bahwa writer’s block tidak bersifat universal. Setiap penulis mungkin menghadapi tantangan ini dengan cara yang berbeda. Beberapa penulis mungkin merasa terhambat hanya untuk sementara waktu, sementara yang lain mungkin memerlukan waktu yang lebih lama untuk pulih dari kondisi ini.

Berbagai strategi dapat digunakan untuk mengatasi writer’s block, termasuk mengubah lingkungan kerja, mencoba pendekatan penulisan yang berbeda, mengambil istirahat, atau mencari inspirasi dari sumber-sumber luar.

Terkadang, mengenali bahwa writer’s block adalah bagian normal dari proses kreatif juga dapat membantu penulis mengatasi tantangan ini dengan lebih baik.

Bertanya pada senior, atau orang yang berpengalaman menulis, dapat membantu memecahkan batu kebuntuan di dalam menulis.

Lebih dari semuanya, berlatih. Sekali lagi: berlatih. Sekali dan sekali lagi “berlatih” adalah jalan terbaik mengatasi kebuntuan di dalam menulis.

Kebuntuan Fardeen dan Melvari

Hari ini (9 Desember 2023) saya mendapat 3 WA dari seorang Dayak Punan, yang bermukim di Krayan. Fardeen, nama anak muda itu.

Baca Terapi dengan Menulis Pengalaman Traumatik

Sejak lama, ia menyatakan keinginan untuk bisa terampil menulis. Saya berusaha meyakinkan bahwa dia bisa.

Sebelumnya, ada seorang guru yang tinggal di Long Layu, Melvari namanya, juga menyatakan hal yang sama.

“Saya tak tahu mau nulis apa? Dan mulai dari mana?” tanya Melvari. “Sudah saya coba berkali-kali. Rasanya, saya tidak bisa menulis!”

Pak Guru Melvari: Aku bisa menulis!

“Tulislah bahwa Anda tidak bisa menulis!” sela saya. “Gambarkanlah bagaimana kebuntuan melandamu, sedemikian rupa, sehingga tidak bisa menulis.”

Akhirnya, tulisan Melvari pun jadi. Setelah sedikit disentuh, dimuat media ini.

Baca Aku Tidak Bisa

Jadi, jangan pernah memvonis diri-sendiri “tidak bisa menulis”. Yang lebih tepat “belum bisa menulis”. Mengapa? Sebab saatnya saja yang belum tiba.

Menulis bukanlah bakat, atau talenta. Melainkan skill, keterampilan, yang bisa dipelajari . Dan dilatih.

Para penulis menjadi mahir karena berlatih. Bukan saja setiap hari, tetapi setiap saat. Alah bisa karena biasa.

Luar biasa = kebiasaan yang terus-menerus diulang

Aristoteles, salah seorang filosof dan empu para penulis terkenal, menyampaikan pemikirannya yang mendalam melalui kata-kata bijaknya: “You are what You repeatedly do. Excellence, then, is not an act but a habit.” (Kamu adalah apa yang secara berulang-ulang kamu lakukan. Keunggulan, oleh karena itu, bukanlah sebuah tindakan, melainkan sebuah kebiasaan.)

Ungkapan ini mengandung makna yang mendalam tentang bagaimana kebiasaan dan tindakan yang diulang-ulang membentuk esensi dari siapa kita.

Pernyataan ini menggambarkan gagasan bahwa identitas dan pencapaian keunggulan seseorang tidak ditentukan oleh tindakan atau perbuatan tertentu, melainkan oleh kebiasaan yang diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Aristoteles mengemukakan bahwa kebiasaan yang baik dan terus-menerus menjadi fondasi dari keunggulan, bukan sekadar tindakan atau momen tertentu. Dengan kata lain, pencapaian keunggulan terletak pada pola hidup yang dilakukan secara berulang-ulang.

Dalam pandangan Aristoteles, keunggulan (excellence) bukanlah sesuatu yang hanya muncul sebagai tindakan sekali waktu, melainkan sebuah kebiasaan yang ditanamkan dalam rutinitas sehari-hari. Pemahaman ini menyoroti pentingnya konsistensi dalam mencapai tingkat keunggulan.

Terlepas dari bakat alamiah atau keahlian awal, yang membedakan antara kesuksesan dan kegagalan adalah serangkaian kebiasaan yang diulang secara konsisten. Tekad yang bulat. Kemauan yang kukuh. Dan kehendak yang teguh merupakan kunci Inggris bagi para penulis membuka pintu sukses.

Baca Menulis dan Mengarang : Beda, Dong!

Konsep ini dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia menulis.

Bagi para penulis, kecemerlangan dalam penciptaan karya-karya yang luar biasa bukanlah hasil dari satu tindakan atau momen, melainkan hasil dari kebiasaan menulis yang terus-menerus.

Melalui tindakan yang diulang secara konsisten, seorang penulis dapat membentuk gaya penulisan mereka sendiri, meningkatkan kualitas tulisan, dan akhirnya mencapai tingkat keunggulan dalam bidangnya.

Dengan merangkul gagasan ini, para penulis dapat memandang proses menulis sebagai sebuah perjalanan yang memerlukan dedikasi dan latihan berkelanjutan.

Konsistensi

Konsistensi dalam mengejar kebiasaan menulis yang baik membuka pintu bagi pencapaian keunggulan dalam bentuk karya-karya yang memiliki dampak dan nilai artistik. Dengan kata lain, kebiasaan adalah fondasi yang memungkinkan potensi seseorang untuk menjadi sesuatu yang luar biasa.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply