Semakin lama saya bergelut dengan sastra dan musik, semakin sering muncul sebuah kecurigaan yang sulit saya singkirkan: mungkin selama ini saya terlalu percaya bahwa manusia adalah penguasa bahasa. Ada kenyamanan tertentu dalam membayangkan diri sebagai subjek yang bebas, yang memilih kata-kata sebagaimana seorang tukang memilih alat dari kotak perkakasnya. Dalam bayangan itu, bahasa hadir sebagai benda mati yang siap dipakai. Saya tinggal mengambilnya, menyusunnya, lalu membangun puisi, lagu, atau esai.
Namun, setiap kali mencoba menulis sesuatu yang sungguh hidup, keyakinan itu mulai retak.
Saya justru merasa sedang berjalan di dalam lorong yang telah lebih dahulu dibangun sebelum saya lahir. Kata-kata telah tersedia. Irama kalimat telah menunggu. Bahkan kemungkinan-kemungkinan yang saya anggap sebagai “gagasan pribadi” sering kali terasa seperti sesuatu yang telah ditanam jauh sebelumnya. Di titik itu muncul pertanyaan yang mengganggu: bagaimana jika bahasa sebenarnya lebih dekat dengan rahim daripada perkakas? Bagaimana jika manusialah yang dibentuk, dipelihara, dan dibatasi oleh bahasa yang mengandungnya?
Kecurigaan semacam ini mengingatkan saya pada pemikiran Martin Heidegger yang menyebut bahasa sebagai rumah dari Ada. Saya sering membayangkan rumah itu dengan cara yang lebih personal. Rumah memberikan perlindungan, tetapi juga menentukan ke mana seseorang dapat berjalan. Dinding menciptakan ruang sekaligus batas. Jendela membuka pandangan, namun arah pandangan itu telah ditentukan oleh letak jendelanya.
Barangkali demikian pula bahasa bekerja dalam diri kita.
Ketika mendengar musik blues dari Amerika Selatan, saya selalu merasakan sesuatu yang sulit diterjemahkan secara utuh ke dalam bahasa Indonesia. Kesedihan memang dikenal oleh setiap kebudayaan. Luka, kehilangan, dan keterasingan tersebar di mana-mana. Namun blues menghadirkan kesedihan dengan bentuk yang sangat spesifik. Ada patahan ritme, lenguhan vokal, serta cara kata-kata jatuh ke dalam melodi yang terasa menyatu dengan tubuh bahasanya sendiri.
Saya pernah mencoba membayangkan pengalaman itu dipindahkan sepenuhnya ke dalam bahasa Indonesia. Yang berpindah sering kali hanya kerangkanya. Ada sesuatu yang tertinggal di tempat asalnya. Kesedihan yang sama masih ada, tetapi teksturnya berubah. Rasanya seperti memindahkan pohon tua ke tanah yang berbeda: batangnya masih berdiri, sementara aroma tanah yang selama ini memberi makan akar perlahan menghilang.
Sebaliknya, ketika mendengarkan dangdut, saya merasakan kedekatan yang hampir naluriah antara musik dan bahasa. Bahasa Indonesia memiliki kelenturan tertentu. Ia mudah berima, mudah berputar, dan nyaman bergerak di antara permainan bunyi. Mungkin ada jejak panjang tradisi pantun yang masih hidup di dalamnya. Ketika kata-kata itu bertemu dengan kendang, hubungan keduanya terasa alamiah, seolah telah lama saling mengenal.
Pengalaman-pengalaman kecil seperti itu membuat saya semakin ragu terhadap gagasan bahwa seni sepenuhnya lahir dari kehendak individu. Saya tetap percaya pada peran kreativitas, latihan, dan kerja keras. Namun ada lapisan yang lebih dalam dari semua itu: kondisi-kondisi yang telah mendahului kehadiran kita.
Émile Benveniste pernah menunjukkan betapa erat hubungan antara bahasa dan subjektivitas. Gagasan itu terus menghantui saya. Saya mulai bertanya-tanya apakah sebagian besar kehidupan batin yang saya anggap milik pribadi sebenarnya merupakan hasil dari kemungkinan-kemungkinan yang disediakan bahasa. Perasaan, ingatan, bahkan cara memahami diri sendiri tampak bergerak di dalam jalur-jalur yang telah tersedia sebelumnya.
Karena itulah saya sering merasa kagum ketika mendengar kecapi-suling Sunda dimainkan di pegunungan. Ada suasana yang muncul dan sulit dipisahkan dari dunia yang melahirkannya. Saya tidak sedang berbicara tentang alat musik semata, melainkan tentang jaringan pengalaman yang lebih luas: lanskap, kebiasaan, tata krama, cara memandang alam, serta hubungan manusia dengan kesunyian.
Melodi itu terasa seperti sesuatu yang tumbuh dari tanah tertentu. Ia memiliki akar.
Hal serupa saya rasakan ketika membaca karya-karya besar dalam sastra. Roland Barthes pernah menulis tentang kematian pengarang, dan semakin lama saya membaca, semakin saya memahami daya tarik gagasan tersebut. Ketika berhadapan dengan sebuah karya yang kuat, sosok pengarang perlahan memudar. Yang tersisa adalah gerak bahasa itu sendiri.
Saat membaca Chairil Anwar, misalnya, saya sering merasa sedang menyaksikan bahasa Indonesia menemukan bentuk baru bagi dirinya. Chairil tentu memiliki keberanian dan bakat yang luar biasa. Namun pada saat yang sama, ada kesan bahwa bahasa Indonesia yang sedang tumbuh pada masa itu menemukan saluran yang tepat melalui dirinya. Seolah-olah sejarah, zaman, dan bahasa bertemu pada satu tubuh yang kebetulan bernama Chairil Anwar.
Pemikiran semacam ini membawa saya pada sebuah kesadaran yang agak muram. Hidup dalam bahasa berarti hidup dalam batas-batas tertentu. Setiap bahasa membuka dunia sekaligus menutup dunia yang lain. Tidak ada posisi netral di luar bahasa untuk melihat segala sesuatu secara utuh.
Mungkin karena itulah saya semakin menghargai karya-karya yang tumbuh dari kedekatan yang intim dengan bahasa asalnya. Ada semacam kejujuran yang sulit dipalsukan. Saya tidak melihatnya sebagai persoalan kemurnian budaya ataupun penolakan terhadap perjumpaan antarbahasa. Saya hanya merasakan bahwa beberapa karya memperoleh tenaga terdalamnya dari hubungan yang panjang dan rumit antara manusia dan bahasa yang membesarkannya.
Pada akhirnya, saya tetap menulis. Saya tetap menyusun kalimat-kalimat ini dengan ilusi bahwa saya sedang mengendalikannya. Namun jauh di belakang kesadaran itu, ada suara lain yang terus berbisik: mungkin saya hanya sedang mengikuti arus yang telah mengalir jauh sebelum saya lahir. Mungkin bahasa telah lebih dahulu bermimpi, lalu menggunakan tubuh saya untuk melanjutkan mimpinya sesaat.
