Masa Lalu Memang Debus!

 

I’m not an actor, I’m not a star

And I don’t even have my own car

But I’m hoping so much you’ll stay

Michael Learns to Rock, “The Actor” (1991)

 

Sebuah paket mampir ke meja kerja saya bulan April lalu. Di dalamnya ada buku tipis bersampul biru tua yang sangat anggun, dikirim langsung oleh pihak penerbit. Beberapa hari sebelumnya penerbit itu menanyakan apa yang bisa saya kerjakan, dan saya bilang “Saya rasa sebaiknya saya menulis esai.” Meski tantangan untuk membuat feed atau reels juga boleh saja jika suasana hati saya berubah arah.

Buku tersebut memuat karya terbaru Toto ST Radik, penyair senior yang sudah melahirkan lembar demi lembar puisi sejak dekade 80-an, ketika saya sendiri masih sibuk mengejar layangan putus di langit Jawa Barat.

Karena itulah ingatan saya terlempar jauh ke masa kecil dan remaja di Bandung, yang barangkali ikut membentuk cara pandang saya terhadap buku puisi.

Sebagai anak yang lahir di akhir 70-an, kiblat dunia saya sama sekali dibentuk oleh emperan buku (khususnya novel dan komik), majalah, koran, dan bahkan diktat-diktat di sekitar Cikapundung, Asia Afrika, dan bagian timur Alun-alun, serta sepanjang jalan trotoar Dewi Sartika—dari Alun-alun menuju terminal Kebon Kalapa.

Di sekitar jalan-jalan itulah saya biasa menghabiskan uang jajan dan honor “Mupu Kembang” dari tabloid Galura demi berburu majalah Aktuil atau Hai bekas yang aromanya sangat khas—perpaduan kertas koran yang menua dan sisa minyak cetak. Kamus perasaan saya tidak dirajut oleh buku-buku puisi, kecuali sedikit saja dari Amir Hamzah di saat SMA, melainkan lebih banyak oleh poster film bioskop yang dipajang di jalanan, pita kaset Maxell atau TDK yang pitanya harus saya putar manual menggunakan ujung pensil jika kusut, dan melodi pop yang mengalun dari radio.

Ketika berstatus mahasiswa di IKIP Bandung (UPI), kabut pagi yang turun di sekitaran sisa-sisa bangunan kolonial selalu terasa lebih hangat jika dilewati sambil menyandungkan suara rendah Chrisye atau meratapi lagu-lagu melankolis Nike Ardilla.

Di ruang kelas S1, saya ingat betapa jemari saya kerap berkeringat dingin dan mendadak gugup setiap kali dosen atau senior mengutip larik-larik Sapardi Djoko Damono yang tampak sederhana tapi menyimpan lubang rahasia yang dalam. Kuping saya sejak dulu adalah kuping pasar malam dan layar tancap, yang selalu mengukur keindahan kata dari seberapa cepat sebaris lirik bisa menempel di kepala, bersenandung di bibir, lalu membuat hati terasa lega setelah durasi empat menit lagu selesai.

Bahkan ketika sempat berpindah menghirup aroma gudeg di Yogyakarta untuk belajar filsafat di UGM, kegugupan itu tidak hilang, melainkan naik kelas; saya kerap mendapati kepala saya berdenyut pening dan gemetar saat berhadapan dengan konsep waktu dan eksistensi Martin Heidegger. Bagi saya, keindahan tetaplah kepasrahan liris yang mengalir biasa seperti petikan gitar Ebiet G. Ade yang saya dengarkan sejak sekolah dasar

Maka, ketika saya mulai membuka buku kiriman Langgam Pustaka ini dan mata saya menangkap larik-larik dari satu halaman ke halaman lain, saya kembali didera kecemasan yang sama. Sejak tahun 2003, saya memang mengemban tugas sebagai pengajar sastra di kampus Untirta, namun di depan puisi-puisi yang pekat, kegugupan itu tak pernah benar-benar bisa saya sembuhkan. Apalagi penulisan buku ini dilakukan sebagian besar di Serang, kota yang sama tempat saya dan Kang Toto sehari-hari menghirup debu jalanan dan berbagi cuaca gerah.

Saya mendapati diri saya termangu lama di depan halaman berisi bait: engkau berangkat ke masa depan / tapi yang kaudatangi / ialah masa lalu.

Pikiran saya yang biasa disuapi oleh alur linier lagu pop langsung kena bentur. Bagi anak yang tumbuh bersama musik populer, masa lalu itu sederhana dan nyaman. Kepala saya biasa memutar kaset Kla Project, lalu bernyanyi “Tak bisa ke lain hati…”, atau menyetel kepasrahan lirik Michael Learns to Rock, lalu urusan selesai setelah pita kaset mentok di ujung.

Industri musik pop begitu baik hati menyediakan emosi siap saji yang dirancang untuk membuai jutaan telinga tanpa meminta saya memeras otak terlalu keras. Namun, dalam dunia puisi Kang Toto—penyair yang banyak membentuk ekosistem kebudayaan di Serang, merawat komunitas dari sanggar ke sanggar sejak masa mudanya—masa lalu mendadak berubah menjadi labirin waktu yang berputar, sebuah pohon silsilah tempat penyair berseru dalam sebuah dialog imajiner: “halo, / aku di timur!” / seru masa lalu // malam pun berputar / serupa puting beliung / menghisap dan membawaku / ke dalam pohon silsilah”

Seketika saya merasa puisi-puisi ini seperti memilih tinggal di atas gunungnya sendiri yang tinggi dan sepi, enggan untuk sekadar turun ke kaki lembah menemui orang-orang praktis yang hari-harinya dihabiskan dalam keriuhan. Di zaman yang bergerak serba instan, riuh oleh hitungan untung-rugi industri hiburan dan algoritma media sosial yang seragam, bait-bait ini justru memilih jalan sunyi yang teramat jauh dari pita kaset. Ia menolak menjadi komoditas jualan yang bisa langsung dikonsumsi, menjauh dari kerumunan, merenungi tanah yang menyimpan ari-ari, atau berbicara sendiri di pojok sepi tentang pangeran yang hilang dari sejarah dan sawah yang dipenuhi darah ibu.

Saat jemari saya membalik halaman secara acak dengan sisa kegugupan seorang dosen yang takut salah tafsir, mata saya kembali tertumbuk pada baris yang terasa seperti ketukan keras: tubuhku tertawan di sini / sebuah negeri yang dipuja / alim dan jaya // tetapi ia lebih mirip belantara / rimba yang dikemas rekomendasi / dari sajadah hingga sampah.

Bait tersebut sungguh sebuah lukisan kenyataan yang teramat megah sekaligus tidak mudah saya nyanyikan. Alih-alih mampu membedahnya dengan pisau teori yang pas, pikiran saya yang naif ini justru langsung mencari perlindungan pada kenangan lama tentang lengkingan vokal Ahmad Albar bersama God Bless di dekade 80-an, atau dentum bas dari lagu-lagu Slank yang begitu fasih merajut kemarahan sosial menjadi lagu yang laku keras di pasaran. Mereka memotret carut-marut dunia dengan berteriak langsung di depan muka kita.

Musik pop tidak butuh waktu lama untuk membuat saya mengangguk paham dan larut dalam harmoni industri. Sementara buku puisi Kang Toto ini menolak bersikap ramah pada selera pasar; ia menuntut saya untuk ikut mengembara tanpa tubuh nyata / jauh ke timur, menyeberangi sejarah di atas benang basah yang ngilu membuat kaki tergelincir hingga “mataku seperti buta / dunia kelabu.

Pada akhirnya, ketika sampai pada bagian akhir buku di mana tertulis: demikianlah akhirnya: / melupakanmu / o, tanah yang menyimpan ariariku / meski harus kutanggung segala perkara // dan dada yang dihunjam nyeri / kini aku ke timur / lahir sebagai aku yang baru saya tertegun merenungkan rahasia kekebalan seorang Toto ST Radik.

Sebagai penyair kelahiran tahun 1965, masa remaja dan awal dewasanya di dekade 80-an—termasuk masa ketika ia sempat meniti kuliah di Bandung—sebenarnya adalah masa di mana kultur pop sedang menggila dengan sangat genit. Itu adalah era ketika bioskop-bioskop memutar film remaja Catatan Si Boy, anak-anak muda gandrung pada jaket denim longgar, dan radio-radio memutar pop kreatif bersuara berat ala Fariz RM atau rancaknya musik New Wave. Logikanya, ingatan estetis Kang Toto sangat bisa terseret ke dalam arus industri pop yang serbaterang dan gemerlap itu macam yang salah lihat dari ekspresi kakak-kakak saya di rumah. Namun, entah kekuatan debus apa yang melindunginya, ia justru berhasil lolos dan bebas sepenuhnya dari tebasan dan kertan instan budaya massa.

Mungkin, ketika Kang Toto membalikkan badan dari industri di era mudanya, di kepalanya sedang berdengung kemegahan simfoni progressive rock ala Genesis era Peter Gabriel, lengkingan puitis dari kaset-kaset Pink Floyd, atau protes sosial yang dingin dari lagu-lagu Bob Dylan. Kualitas musik Barat yang berkelas, berbobot, dan sarat perenungan semacam itulah yang tampaknya membakar energi kreatif seorang Toto ST Radik untuk terus bertahan di atas gunung sunyinya.

Sementara saya? Saya justru tumbuh di era akhir 90-an yang telanjur dimanjakan oleh lagu pop picisan yang mendayu-dayu, yang liriknya cuma sewangian kosmetik murah dan obral gombalan macam ratapan pasrah lagu Lingua dalam “Bila Kuingat”: Bila kuingat senyum manismu / Tak kan habis waktu melamun… dan saya selalu suka. Sialan. Maka sungguh ironis bahwa sangat mungkin modal hafalan lagu picisan macam itulah yang selama ini menjadi bekal rahasia saya untuk mengajar, berdiri di depan kelas, dan menjadi seorang dosen sastra yang—pantas saja—selalu gugup di depan buku-buku para penyair debus yang selamanya kebal godaan zaman. Di angkatan Toto ST Radik tentu banyak juga kelas-kelas kebal itu.

Aku bukan seorang aktor, aku bukan seorang bintang, dan bahkan tidak punya mobil sendiri. Tapi aku sangat berharap kamu akan bertahan. Begitulah Michael Learns to Rock mengisi radio-radio tahun 1990-an. Anehnya, yang bertahan justru bukan lagu itu. Yang bertahan adalah masa lalu. Dan seingat saya, pada hampir semua karya Toto ST Radik, masa lalu itu memang tak pernah menyerah dikerat, ditebas, ditusuk, bahkan pun jika harus digorok. Masa lalu memang kebal. []

Share your love
Avatar photo
Arip Senjaya

Pemenang Literasi Terapan Lokal Perpusnas 2022, alumni Batu Ruyud Writing Camp Kaltara, dosen filsafat Untirta, anggota Komite Buku Nonteks Pusbuk Kemdikbud, sastrawan, editor. Alumni UPI dan UGM.

Articles: 48

Leave a Reply