Adversity Quotient | Kecerdasan Mengatasi Hambatan

Edisi asli buku karya Paul G. Stoltz, Adversity Quotient, ini diterbitkan John Wiley & Sons tahun 1997.

Sebagai acquisition editor, waktu itu di PT Grasindo, saya mengurus copyrights buku ini dibantu Zus Eleonora Sutadi. Edisi terjemahan Indonesianya, jatuh ke tangan kami.

Buku ini fenomenal di masanya.

Sejalan dengan perkembangan ilmu, terutama psikologi dan ilmu-ilmu humaniora lainnya, kecerdasan dalam dimensi lain juga ditemukan.

Pada tahun 1997, Paul Stoltz memperkenalkan Adversity Quotient atau kecerdasan untuk mengatasi hambatan. Dikemukakan, seseorang yang semata-mata cerdas secara intelegensia tanpa juga cerdas di bidang lain –khususnya emosional dan daya juang—tidak cukup menjamin menjadi orang yang sukses.

Yang menarik, dalam karya itu Stoltz membeberkan contoh konkret pribadi-pribadi yang pintar, namun menjadi gagal atau bahkan menjadi penjahat karena tidak ditopang oleh dimensi kecerdasan yang lain.

AQ pada intinya dapat disarikan dalam tiga bentuk. Pertama, AQ ialah sebuah kerangka kerja konseptual yang baru untuk memahami dan meningkatkan seluruh segi dari sukses.

Kedua, AQ adalah ukuran bagaimana kita merespons hambatan-hambatan.

Ketiga, AQ ialah perangkat yang memiliki dasar ilmiah untuk meningkatkan respons atas hambatan-hambatan dalam hidup.7 Teori mengenai kecerdasan untuk mengatasi hambatan yang memulai dengan mendefinisikan kata “sukses” ini dibangun atas banyak riset para cendekiawan dan lebih dari 500 studi di seantero dunia. Ditarik dari tiga ilmu utama: psikologi kognitif, psikoneuroimunologi, dan neuropsikologi.

Stoltz  membagi manusia ke dalam tiga tipe yang berikut ini: quitters, campers, dan yaitu tipe manusia yang berhenti atau menyerah kalah, manusia yang berkemah, dan climbers yakni tipe manusia pendaki.

1) Quitters. Tipe ini kita temukan dalam kisah sang pemuda yang seharian memecah batu tetapi tidak berhasil untuk mencapai tujuannya yakni sebongkah batu itu pecah berkeping-keping menjadi bahan bangunan yang bisa langsung dijual untuk mendapatkan penghasilan. Seberapa banyak di sekitar kita, atau orang-orang dekat kita, yang punya gaya, tipe,  semangat, juga ciri-ciri yang mirip dengan sang pemuda pemecah batu itu?

2) Campers
Manusia tipe kedua ini cenderung punya sikap mudah puas dengan apa yang telah dicapainya. Merasa bahwa apa yang telah diraihnya telah cukup. Dia tidak ingin lagi semakin baik, lebih baik, dan sangat baik lagi. Atau dengan istilah yang lebih keren good, better, best. Pada titik pencapaiannya, dia rest. Dia berhenti. Dia mendirikan kemah.

Sedikit berbeda dengan tipe manusia yang pertama, quitters adalah tipe manusia yang berkemah ini  telah melampaui titik kulminasi kejenuhan yang menjadi hambatan dari tujuan yang ingin dicapainya. Ibarat kata, sebongkah batu memang telah pecah. Dari pecahan-pecahan batu itu, telah dapat dijual menjadi sesuatu yang bernilai dan berharga, yang dapat untuk dinikmati membeli apa pun juga yang diinginkan. Akan tetapi, setelah batu itu pecah dan berhasil, manusia tipe ini mendirikan kemah. Dia berhenti dan merasa puas dengan apa yang telah dicapainya.

3) Climbers
Inilah manusia-manusia super. Mereka hebat bukan pertama-tama karena segala apa yang dilakukannya senantiasa membuahkan hasil, segala apa yang dicita-citakannya terwujud, segala apa yang dirancang olehnya sesuai dengan apa yang telah diprogramkan. Manusia tipe ini hebat karena dia terus-menerus belajar dari kegagalan, memetik hikmah dari setiap pengalaman. Ia mencoba dan mencoba lagi, tidak pernah lelah untuk melangkah, tidak berhenti mengayunkan palu godam untuk memecah batu, melihat secercah harapan di balik mendung yang muram, dan yakin bahwa kebosanan yang yang dirasakannya mencapai titik kulminasi itulah ujian yang terakhir.

Kita tidak pada posisi untuk menilai manakah dari ketiga tipe manusia ini yang terbaik. Silakan, pembaca  mengidentifikasi. Anda tipe manusia yang mana?

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply