BERJUMPA MANDOLIN SIMBAR LEWAT BUKU

Siapakah tokoh Borneo yang sudah dibukukan sejarah perjuangannya? Pasti cukup banyak. Lalu, siapakah tokoh dan salah satu pejuang yang ikut mendirikan Kalimantan Tengah yang sudah dibukukan sejarahnya? Ada sih ‘satu atau dua’ orang. Diantara ‘satu atau dua’ orang itu ialah Christian Mandolin Simbar. Jika ditanya, ‘siapakah kombatan Dayak’ yang sudah dibukukan sejarahnya? Jawabannya cuma satu, dialah Mandolin Simbar.

Christian Mandolin Simbar menjadi kombatan bukanlah untuk mendirikan negara baru atau memberontak terhadap Republik Indonesia. Dia dan kelompoknya (GMTPS) melancarkan aksi bersenjata dikarenakan negosiasi antara para politisi Dayak dengan pihak pemerintahan Republik Indonesia waktu itu mengalami jalan buntu. Kebuntuan itu berimbas terhadap target pendirian Provinsi Kalimantan Tengah.

Ketika pemerintah Republik tidak peduli dengan aspirasi warga Kalimantan Tengah yang diwakili oleh para politisi Dayak untuk meminta berdirinya provinsi Kalimantan Tengah, saat itulah letusan bedil dari GMTPS berbunyi. Meskipun akibat langkah itu Mandolin menerima cap sebagai ‘manusia nakal’. Namun dia bukan pemberontak. Toh kalau memberontak, arahnya kepada siapa dan untuk tujuan apa? Singkatnya, tanpa Mandolin Simbar dan GMTPS, barangkali Kalimantan Tengah belum berdiri di tahun 1957.

Di Kalimantan Tengah, apabila seseorang belum pernah mendengar nama Christian Mandolin Simbar, artinya dia anak baru atau orang dewasa yang baru saja menetap di provinsi ini. Orang lama pasti pernah mendengar nama Mandolin dan GMTPS. Namun, mengetahui bagaimana pribadi Mandolin, tentu saja tidak semua orang berkesempatan.

Melalui buku, tentu saja bisa memperkenalkan seseorang secara lebih istimewa. Nah, itulah yang dilakukan oleh Hadi Saputra dan Darius Dubut melalui buku ‘Jalan Merah Sang Kombatan’ ini. Buku ini berkisah tentang jalan hidup dan gerak langkah Mandolin Simbar dalam memperjuangkan berdirinya provinsi baru di kawasan Tanah Dayak, berkolaborasi dengan para politisi Dayak, yang selanjutnya dinamai Kalimantan Tengah.

Buku ini dipaparkan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan kaya data. Hadi Saputra dan Darius Dubut sudah mengetahui kiprah Mandolin Simbar, bahkan jauh hari sebelum menulis buku ini. Selain sama-sama berasal dari lanskap Barito, Hadi dan Darius masih sub suku dengan Mandolin, yaitu Dayak Maanyan.  Meskipun sudah tahu, ketika menulis buku ini keduanya memulai langkah awal, yaitu riset. Baik riset dokumen maupun wawancara di lapangan tentunya.

Keduanya, disamping bertuah karena bisa menyelesaikan studi di luar negeri, (Hadi menyelesaikan studi Master di Filipina, Darius menyelesaikan studi Doctoral di Jerman), mereka pun sama-sama berkiprah sebagai pengajar yang sudah merilis sejumlah buku.

Buku ini hadiah istimewa bagi Kalimantan Tengah, dikarenakan rilis saat provinsi ini merayakan Ulang Tahun Ke-67 pada Mei 2024. Anda tentu rugi jika tidak membaca buku ini.

Share your love
Avatar photo
Damianus Siyok
Articles: 20

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply