Author I M.S. Gumelar ©2025
BUJANG BEJI & DARA AYU
Sementara itu dalam perjalanannya Bujang Beji Sangkuriang tiba di suatu area sebelah Utara agak ke Timur area Sundaland.
Di sana dia memutuskan untuk menjadi pedagang ikan.
Kini dia lebih sering menggunakan namanya sebagai Bujang Beji dan jarang mengungkap nama Sangkuriang bila ditanya siapa namanya.
Di area Tanah Sunda yang ini, Bujang Beji menemukan cara untuk secara perlahan menghilangkan kekecewaan di masa lalunya yang menyedihkan.
Suatu hari Bujang Beji berkuda melintasi Sungai Melawi. Di sana dia melihat seorang gadis di tepi Sungai Melawi, peristiwa ini mengingatkannya lagi pada Nyai Mas Pohaci.
Kali ini Bujang Beji tertegun. Wajah gadis ini begitu mirip dengan Nyai Mas Pohaci, didekatinya gadis tersebut yang sontak melihat ke arah dirinya.
“Ya?” Tanya Dara Ayu.
“Hm… sepertinya aku pernah melihatmu?” Jawab Bujang Beji.
“Mungkin di kehidupan sebelumnya?” Jawab Dara Ayu.
“Ya, mungkin juga,” Jawab Bujang Beji tertegun, kata-kata itu, demikian mirip dengan hal yang terjadi di masa lalunya.
“Di mana kau tinggal gadis?” Tanya Bujang Beji.
“Tidak jauh dari sini, rumah Tumenggung Marubai,” Jawab Dara Ayu.
“Tumenggung Marubai, sepertinya aku pernah mendengar nama itu?” jelas Bujang Beji mencoba mengingat.
“Oh itu nama ayahku, seorang Mantir Adat, sekaligus sebagai nelayan dan pedagang ikan,” ungkap Dara Ayu.
“Ah iyaaaa, pernah bertemu di area perdagangan ikan,” jawab Bujang Beji.
“Bila berkenan kau dapat datang ke rumahku,” Dara Ayu mengundang Bujang Beji, kejadian yang mirip seperti dia bertemu dengan Nyai Mas Pohaci di area tanah Sunda lainnya di masa lalu.
“Hm… baiklah, akan saya lakukan dalam beberapa waktu ke depan, saya pamit balik terlebih dahulu,” Jawab Bujang Beji.
Bujang Beji menggerakkan dan mengarahkan kudanya ke area luar desa tersebut, meninggalkan Dara Ayu yang tersenyum sendiri melihat pemuda itu dari jauh yang sedang memunggunginya dan menjauh secara perlahan.
*
Pasar ikan di Sungai Kapuas, area Kalimantan Barat di era kini ribuan tahun yang lalu.
Bujang Beji adalah pedagang ikan yang sukses, belum memiliki pasangan istri.
Kekayaannya sudah dikenal, tetapi juga kesaktiannya, Bujang Beji pernah terlihat mengangkat lima batu sebesar gajah yang ditumpuk hanya dengan satu tangan kiri saja untuk membantu menandai batas desa.
Hal ini membuat tidak ada yang berani mengganggu bahkan banyak yang takut untuk sekadar menyapanya.
Padahal Bujang Beji sangat ramah dan murah senyum selama orang mau menyapanya.
Karena banyak orang yang takut untuk menyapanya. Lama kelamaan banyak orang yang takut sehingga hal ini menimbul citra baru dan membuat Bujang Beji dianggap sombong dan angkuh.
Pagi hari di pasar ikan di pertemuan Sungai Kapuas dan Melawi. Seorang juragan ikan hari itu berhasil menjual ikan terbanyak dan dengan bahagia membagikan kepingan emas yang didapatnya ke beberapa nelayan yang belum beruntung mendapatkan penghasilan yang layak.
“Terima kasih banyak dengan kebaikannya Tumenggung Marubai,” ucap salah satu nelayan yang mewakili lainnya.
“Tumenggung benar-benar orang yang baik hati dan peduli dengan kami-kami yang kurang beruntung hari ini,” tambah seorang nelayan lainnya.
Pada saat itu terlihat Bujang Beji berjalan mengarah ke pasar ikan tersebut dengan membawa 10 bakul ikan lais dan baong yang ditumpuk di pundak kirinya dan hanya dengan satu tangan kiri menahannya.
Orang-orang memberi jalan kepada Bujang Beji karena merasa orang angkuh dan sombong ini tidak boleh diremehkan, apalagi orang ini selalu menunjukkan kesaktiannya secara terbuka, membuat banyak orang sebal dan iri hati.
“Selamat pagi,” ucapnya pada saudagar pembeli ikan yang masih belum penuh bakul ikannya untuk diedarkan di area pedalaman.
“Selamat pagi, keping emas kami sudah hampir habis untuk membeli ikan Tumenggung Marubai, jadi maaf kami simpan untuk esok hari,” jawab salah satu pedagang ikan.
“Tidak apa-apa, yang saya perlukan saat ini garam, adakah yang memilikinya? Boleh ditukar dengan 10 bakul ikan lais dan baong ini,” jelas Bujang Beji sembari tersenyum.
Tetapi senyum Bujang Beji banyak yang menganggap hanya sebagai basa-basi dan tampak seperti ancaman di kepala mereka daripada ungkapan keramahan.
Banyak yang terdiam tidak bereaksi.
Mendadak satu suara memecah keheningan.
“Aku punya satu kantung garam, tetapi tidak aku bawa sekarang, ada di rumah, kalau kau berkenan, akan kuberikan saat sudah sampai di rumahku,” Tumenggung Marubai menawarkan barter.
“Ah.., terima kasih, perkenalkan saya Bujang Beji,” sapa Bujang Beji dengan ramah, penuh hormat, dengan senyuman.
“Nama saya Tumenggung Marubai, senang berkenalan denganmu anak muda, mari ke tempatku, tidak jauh dari sini,” ajak Tumenggung Marubai.
Bujang Beji segera mengikuti Tumenggung Marubai dari belakang sembari tetap memanggul 10 bakul ikan yang bertumpuk di pundak kirinya.
Kejadian ini membuat pasar ikan heboh.
Satu orang sakti yang sombong dan angkuh bertemu dengan orang terkaya dan baik hati.
Semua pandangan penduduk yang dilewati oleh arak-arakan kecil yang unik ini menjadi pusat perhatian.
Sesampainya di dekat rumah Tumenggung Marubai, seorang gadis berlari mendekati mereka.
Dara Ayu terkesiap saat melihat Bujang Beji yang pernah dilihatnya, kini berjalan di belakang ayahnya Tumenggung Marubai dengan membawa 10 bakul ikan.
Ini pemandangan yang langka dan membuat Dara Ayu tahu bahwa Bujang Beji adalah orang yang kuat dan sakti.
“Apai, kenapa membawa ikannya lagi ke rumah, bukankah untuk dijual?” tanya Dara Ayu sembari melihat ke Bujang Beji yang sedang meletakkan 10 bakul ikan di teras rumah. Dara Ayu tersenyum manis ke arah Bujang Beji.
“Oh, itu untuk aku jual besok atau lusa, pemuda ini memerlukan satu kantung garam, jadi ambilkan segera!”
“Baik,” Dara Ayu bergegas ke area dapur untuk mengambil sekantung garam.
“Silakan duduk Bujang Beji,” ucap Tumenggung Marubai dengan ramah sembari duduk bersila di area luas lantai rumah radakng.
“Aku sudah tahu namamu sejak lama, tetapi baru kali ini kita benar-benar berkenalan,” jelas Tumenggung Marubai.
“Terima kasih, boleh kutahu, dari mana kesaktianmu?” tanya Tumenggung Marubai membuka pembicaraan dan langsung mengenai kekuatan yang dimiliki oleh Bujang Beji yang sudah dikenal di area tersebut.
“Oh… sudah sejak lahir saya begini,” jawab Bujang Beji berbohong untuk melindungi sumber kekuatannya.
“Ah kalau sejak lahir, sulit untuk ditiru, karena merupakan berkah,” ucap Tumenggung Marubai tampak kecewa sekaligus memuji.
Tak berapa lama Daya Ayu muncul dengan membawa sekantung garam dan juga nampan berisi makanan ringan seperti singkong, jagung, dan kacang rebus.
“Ini satu kantung garamnya,” diberikan kepada ayahnya.
“Nah… Bujang Beji, ini satu kantung garam yang kujanjikan untuk 10 bakul ikan yang kau miliki,” Tumenggung Marubai meletakkan satu kantung garam tersebut di depan Bujang Beji yang duduk bersila.
“Terima kasih, semoga pertemuan kita bukan yang pertama dan terakhir, karena yang saya perlukan selalu garam, sulit mendapatkan garam di area ini,” jelas Bujang Beji.
“Tentu saja, kalau persediaan garammu habis, kau tidak perlu ke pasar ikan untuk mendapatkannya, cukup datang ke sini dan menukar 10 bakul ikan, bila aku sedang tidak ada di sini, kau dapat menemui putriku, Dara Ayu untuk melakukan barter 10 bakul ikan dengan satu kantung garam,” jelas Tumenggung Marubai.
“Tawaran yang menarik, terima kasih banyak Tumenggung Marubai, saya pamit balik,” ucap Bujang Beji sembari bergerak ke arah pintu.
“Ah… kau lupa sesuatu,” Tumenggung Marubai menghentikan langkah Bujang Beji.
“Ini, sekalian ini untuk bekal di jalan,” Dara Ayu memberikan satu kantung garam yang lupa diambil oleh Bujang Beji, dan juga satu kantung besar berisi pisang, singkong, ubi, kacang rebus dan ikan lais yang sudah digoreng.
“Terima kasih banyak!” ucap Bujang Beji dengan senyum ramah dan tampak gembira, kemudian matanya memandang Dara Ayu yang tersipu.
Bujang Beji melangkah ke luar dari rumah Tumenggung Marubai.
Anehnya, sejak saat itu muncul isu yang menyeruak di kalangan penduduk adalah Bujang Beji di saat itu mengancam Tumenggung Marubai untuk tidak menjadi pesaing dalam berjualan ikan di pasar ikan, mirip perebutan wilayah antara juragan ikan sebagai nelayan besar.
Suatu pagi, seperti biasa, setelah sekian lama Bujang Beji menemui Tumenggung Marubai untuk menukar 10 bakul ikan dengan satu kantung garam.
“Ah Bujang Beji, sudah sekitar 3 bulan kita tidak berjumpa, bagaimana kabarmu?” Tumenggung Marubai memulai menyapa Bujang Beji yang sedang membawa 10 bakul ikan dan meletakkannya di teras radakng.
“Seperti biasa Mantir Tumenggung Marubai, Aku isi dengan bertani, beternak, berburu, dan menjadi nelayan untuk menangkap ikan, rutinitas sehari-hari,” balas Bujang Beji.
“Luar biasa, tidak kau perhatikankah beberapa area tanah mulai tandus, musim kemarau lebih panjang?” pancing Tumenggung Marubai agar Bujang Beji lebih memperhatikan lingkungan sekitarnya.
“I… iya, dalam perjalanan ke arah sini, kulihat banyak hal seperti itu, tetapi karena aku tinggal sendirian dan sungai di dekat rumahku sudah cukup, jadi aku belum begitu memperhatikan hal ini, hanya memikirkan diriku saja,” jelas Bujang Beji.
“Mari masuk Bujang Beji, saya perlu membicarakan sesuatu…” Tumenggung Marubai mengajak Bujang Beji untuk masuk ke rumah radakng.
Di dalam Radakng telah duduk Tumenggung Marubai, Daya Ayu, dan beberapa sesepuh di sana.
“Begini Bujang Beji, kulihat kau memiliki kesaktian yang luar biasa, saat ini ikan-ikan mulai sulit didapatkan di Sungai Melawi dan juga Sungai Kapuas, para penduduk di sekitar sini… “
“.… karena kesulitan di masa kekeringan yang panjang ini, salah solusinya adalah mendapatkan makanan dari sungai karena laut sangat jauh dari sini,” Tumenggung Marubai memulai pembicaraan.
“Iya Tumenggung,” Bujang Beji mengerti.
“Nah… karena ikan juga lebih sedikit di area kekeringan ini dan di area Sungai Kapuas di mana kau tinggal sepertinya masih lebih banyak ikan dibandingkan dengan yang ada di sungai Melawi ini…”
“… aku perlu bantuanmu, kami memerlukan banyak ikan untuk memberi makan banyak orang di sini agar tetap bertahan di musim kemarau panjang ini, dengan kesaktianmu, aku pikir hal tersebut bukan masalah,” jelas Tumenggung Marubai.
“Kau sangat sakti, pasti dapat menyelesaikan masalah ini dan membantu kami,” tambah Dara Ayu diikuti oleh anggukan para sesepuh yang tinggal di Radakng Desa Pesaguan tersebut.
Bujang Beji tertegun. “Separah itukah Tumenggung Marubai kekeringan ini?”
“Kau saat pamit balik, aku sarankan berjalan lebih perlahan dan perhatikan, banyak keluarga yang kurus kekurangan makan, kami sudah berusaha membantu…”
“… tetapi pasokan tetap kurang dari yang dibutuhkan, kau amati sendiri, bila kau merasa kami tidak perlu dibantu… itu juga kembali kepadamu…”
“… tetapi kalau kau membantu kami, akan kami siapkan 20 kantung garam sebagai ucapan terima kasih,” jelas Tumenggung Marubai.
“Baiklah Tumenggung Marubai, saya akan melihat terlebih dahulu secara langsung, dan segera akan kembali ke sini bila saya memutuskan untuk membantu,” jawab Bujang Beji dengan jelas dan mantap.
Bujang Beji segera ke luar dari rumah Radakng tersebut, bergerak ke luar dan berjalan di area sekitar pedesaan tersebut selama 3 hari.
Secara langsung Bujang Beji melihat dengan mata kepala sendiri bahwa memang benar, kelaparan melanda area tersebut, tanaman banyak yang mati kekeringan, sungai kecil surut tidak ada air, sungai besar Melawi dan Kapuas menyusut drastis permukaan airnya hampir terlihat seperti dasar lumpur saja.
Di hari keempat. Bujang Beji sudah tiba di depan rumah Radakng milik Tumenggung Marubai.
Tetapi Tumenggung Marubai sedang tidak ada di tempat karena membantu para penduduk desa dengan membagikan makanan ikan yang didapatnya yang jumlahnya semakin menyusut.
Hanya ada Dara Ayu dan beberapa sesepuh rumah Radakng saja di saat itu.
“Terima kasih sudah datang kembali ke rumah Radakng ini Bujang Beji, dari kehadiranmu di sini, aku yakin kau telah membulatkan tekad untuk membantu kami,” ucap Dara Ayu mewakili para sesepuh.
“Ya, tetapi aku belum pernah tahu caranya mendapatkan ikan yang banyak, apakah ada cara yang cepat dan efektik untuk mendapatkan ikan di sungai areaku berada, Sungai Kapuas?” tanya Bujang Beji.
“Sebenarnya ini adalah cara lama kami, dan kami tidak dibenarkan menggunakannya karena akan merusak lingkungan serta membunuh banyak ikan, jadi di area Sungai Melawi, kami dilarang menggunakannya, apalagi di saat kesulitan ikan dan kekeringan seperti ini,” jelas Dara Ayu.
“Katakan padaku, cara apa itu Dara Ayu?” Bujang Beji sudah bertekad bulat untuk membantu, karena lebih penting sekarang adalah menyelamatkan banyak orang agar tetap makan, melindungi mereka agar tetap hidup.
“Cara lama kami adalah dengan menggunakan akar tuba dan pohon ipoh atau pohon upas, gunakan dan sebarkan di Sungai Kapuas secukupnya, tunggu ikan-ikan yang besar saja yang kau ambil…”
“… ikan tidak akan mati dengan takaran yang tepat, hanya mabuk saja atau pingsan saja, mudah untuk diambil, dan biarkan ikan yang kecil untuk tumbuh besar….”
“… dalam waktu beberapa lama, seiring air sungai mengalir konsentrasi tuba akan berkurang dan mereka akan dapat berenang normal kembali, bila kau perlu bantuan banyak orang, kami siap membantumu,” jelas Dara Ayu.
“Tetapi yang kami minta, tuba hanya digunakan di Sungai Kapuas, karena kami dilarang menggunakannya di Sungai Melawi,” Dara Ayu memperjelas kondisinya.
“Baik, saya mengerti, tidak perlu bantuan, karena akan memperlambat kerja saya nantinya, tetapi siap, saya akan bantu, besok lusa, saya akan kirim berbakul-bakul ikan untuk membantu penduduk di sini agar tidak kelaparan,” janji Bujang Beji dan kemudian segera bergegas pamit balik untuk mempersiapkan semuanya.
Dara Ayu terkagum dengan Bujang Beji yang ternyata mampu melakukan permintaan mereka, dan yang paling membuat Daya Ayu terkesan adalah ketulusan Bujang Beji dalam membantu sesama bagi yang kesulitan, mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Semakin tumbuh benih kagum yang menjadi benih cinta di benak Dara Ayu.
Bujang Beji memacu kudanya lebih cepat bergerak ke arah di mana dia tinggal.
Sesampainya di sana, tidak menunggu waktu lama segera bergegas dan bertanya ke penduduk di sekitar rumahnya bagaimana bentuk akar tuba dan pohon upas atau pohon ipoh, dan mencarinya dengan sangat cepat serta mempersiapkan upas yang diperlukan.
Besok pagi, Bujang Beji sudah berada di pinggiran Sungai Kapus dengan mengenakan baju zirah milik ayahnya, dengan perlahan dia menyebar upas di hulu atau bagian awal Sungai Kapuas.
Ditunggunya beberapa lama setelah upas tersebar, benar sekali mulai muncul ikan-ikan besar ke permukaan air, lalu dengan cepat Bujang Beji mengumpulkan semua ikan yang mabuk dan mengambang di sungai dan mengumpulkannya.
Hal ini berjalan sekitar setengah hari lebih, telah terkumpul sekitar 200 bakul ikan, terbanyak yang pernah dia tangkap sebagai nelayan.
Kemudian dengan menggunakan teleport portable, dia membuka pintu tujuan ke Desa Pesaguan rumah Radakng milik Temenggung Marubai.
Dara Ayu terkesiap saat Bujang Beji muncul begitu saja di depan rumah radakng, para penghuni rumah Radakng pun geger.
Melihat Bujang Beji membawa banyak bakul ikan dan muncul dan menghilang secara bolak-balik begitu saja di depan rumah Radakng sampai semua bakul yang berisi ikan sudah lengkap terkumpul.
Mereka para penghuni Radakng tidak berkata apa pun, mereka seperti melihat pertunjukan yang luar biasa yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, rasa kagum muncul di benak mereka semua terhadap Bujang Beji.
Setelah selesai, Bujang Beji mendekati Dara Ayu,”Ini semua ikan yang berhasil aku tangkap hari ini, semoga dapat membantu, dalam waktu tujuh hari lagi, aku akan kembali dengan membawa ikan lagi,” ucap Bujang Beji kepada Dara Ayu yang masih bengong tidak percaya. Bujang Beji memutar tubuhnya untuk balik ke pintu teleport.
“Kau lupa sesuatu!” Dara Ayu mengingatkan sembari menyodorkan 20 kantung garam.
Bujang Beji membalikkan badannya dan tersenyum, lalu berjalan untuk mengambil 20 kantung garam yang disodorkan oleh Dara Ayu..
Kemudian Bujang Beji masuk ke portal teleport portable dan meninggalkan area tersebut.
Di saat itu Temenggung Marubai mulai datang ke depan rumah radakng, terkesiap, begitu banyak ikan, lebih banyak dari yang pernah dia tangkap.
“Di mana Bujang Beji?’ tanyanya kepada Dara Ayu.
Dara Ayu tak mampu berkata dan hanya menunjuk satu titik area di depan rumah Radakng di mana Bujang Beji teleport balik pulang ke rumahnya.
Temenggung Marubai tidak mengerti,”Tidak ada Bujang Beji di sana,” ucapnya tidak mengerti.
“Tadi dia di sana, mendadak hilang, seperti masuk ke pintu ajaib,” jelas Dara Ayu tergagap.
“Benarkah?” tanya Temenggung Marubai kepada beberapa sesepuh yang ada di sana sebagai saksi.
“I… iya Temenggung!” jawab para sesepuh berbarengan.
“Hmm… baiklah, ayo kita rapikan dan siapkan ikan-ikan ini,” Temenggung Marubai masih belum mengerti.
Tetapi dia segera meminta orang-orang bergotong royong membantu mempersiapkan ikan untuk diberikan kepada para warga yang perlu bantuan makanan, diperkirakan jumlah ikan ini lebih dari cukup untuk sekitar 7 harian.
Sejak hari itu yang beredar justru sesuatu yang di luar dugaan. Beredar kabar di antara penduduk bahwa Bujang Beji memiliki rasa ini dan dengki, sehingga untuk bersaing agar pembelian ikan jauh melebihi Temenggung Marubai.
“Benar… Bujang Beji sangat iri dengan Temenggung Marubai!” ucap seorang perempuan berkata sembari memonyongkan mulutnya.
“Iya… benar sekali!” timpal seorang perempuan setengah baya yang ada didekatnya sembari menyuapkan makanan ke mulutnya.
“.… sangat buruk sikap Bujang Beji… katanya bahkan Bujang Beji memutuskan melanggar adat dengan menuba atau meracuni sungai kapuas agar mendapatkan ikan yang jauh lebih banyak dari Temenggung Marubai!” cetus Ibu satunya sembari mengulek sambal.
Berita tersebut tidak sampai ke Bujang Beji, karena Bujang Beji sibuk membantu secara tulus untuk menolong penduduk Desa Pesaguan yang tinggal dekat Sungai Melawi di masa itu.
Tujuh hari berikutnya. Bujang Beji seperti biasa muncul di depan rumah Radakngmilik Matir Temenggung Marubai.
Kali ini Temenggung Marubai sendiri menyaksikan bagaimana Bujang Beji muncul begitu saja dan mengantar bakul-bakul ikan tepat di depan rumah radakngnya.
Mata Temenggung Marubai terbelalak tidak henti dan kagum dengan apa yang terjadi di depan matanya, menyaksikan sendiri kejadian aneh dan langka yang mungkin hanya sekali terjadi dalam hidupnya selama ini.
“Untuk pengantaran ikan sebanyak 200 bakul hari ini telah selesai,” ucap Bujang Beji kepada Temenggung Marubai.
Dengan segera Temenggung Marubai memberikan 20 kantung garam kepada Bujang Beji.
Dara Ayu melihat wajah ayahnya dengan tersenyum. Sesaat sebelum Bujang Beji melangkah memasuki pintu portal teleport, Temenggung Marubai
menghentikannya,”Tunggu Bujang Beji.”
Bujang Beji menoleh dan mengurungkan niatnya,”Ya Matir?”
“Ehm… begini, kau tahu Sungai Melawi airnya mulai surut, aku berpikir, mungkinkah kau dapat membendung dengan batu sebesar bukit yang ada di sana, dialihkan ke Sungai Melawi?” tanya Temenggung Marubai sembari menunjuk ke satu arah.
“Sangat memungkinkan Matir, karena bila air Sungai Melawi dibendung, dia akan mengumpul dan memberi lebih banyak air, berpotensi ikan-ikan ke depannya akan lebih banyak karena lingkungannya kembali seperti semula,” Bujang Beji mempertegas rencana yang bagus tersebut, mendukung ide Temenggung Marubai.
“Ah itu juga yang aku pikir selama ini, jadi kau benar-benar mampu memindahkan batu hitam sebesar bukit itu yang selama ini menghalangi pandangan dari desa ini ke sisi sebelah sana, juga perjalanan melintasi bukit akan sangat berat walaupun lebih singkat…”
“… jadi selama ini kau tahu, kami selalu memutarinya, tetapi tentu saja jaraknya menjadi lebih jauh, dengan pindahnya bukit hitam kelam itu sebagai pembendung Sungai Melawi tentu menyelesaikan dua masalah sekaligus dalam sekali aksi,” jelas Temenggung Marubai.
“Benar sekali pengamatanmu Matir, baiklah, kapan rencananya hal ini dilakukan?” tanya Bujang Beji.
“Siapkan dirimu, datanglah pada saat kau siap, dan tidak perlu mengantar ikan lagi, sebab bila Sungai Melawi dapat dibendung dan airnya meninggi lagi, maka potensi ikan akan semakin banyak akan menjadi solusi terakhir untuk mengatasi kekurangan makanan di sini,” jelas Temenggung Marubai.
“Baiklah Matir, saya pamit balik,” Bujang Beji bergerak menuju alat teleport-nya sembari melirik ke arah Dara Ayu yang tampak sangat gembira melihat pemuda pujaannya dan memberikan senyum manis kepada Bujang Beji.
ZAP!
Bujang Beji mendadak sudah menghilang dari pandangan semua orang yang ada di depan rumah radakng.
*
“Luar biasa,” puji Dara Ayu.
“Ya, pemuda yang luar biasa, kau sepertinya suka kepadanya?” tanya Temenggung Marubai kepada Dara Ayu.
“Iya Apai,” jawab Dara Ayu tersipu malu tetapi tetap menjawab dengan jelas dan tegas sembari pipinya memerah.
“Sudah kuduga, tetapi aku masih penasaran dengan kekuatannya, seperti alat atau tas yang dibawanya mampu membuat gerbang yang memperpendek jarak dari satu area ke area lainnya, paling tidak dari rumah Radakng ini ke rumahnya,” selidik Temenggung Marubai.
“Dan juga rahasia kekuatannya yang mampu mengangkat benda yang sangat berat, sampai seberapa berat sesungguhnya? Oleh karena itu bila dia mampu mengangkat batu besar hitam sebesar bukit yang ada di sana dan memindahkannya untuk membendung Sungai Melawi, tentunya sangat luar biasa!” ujar Temenggung Marubai.
“Apakah tugas itu tidak berlebihan Apai?” Tanya Dara Ayu.
“Entahlah, yang kupikirkan bila dia berhasil, maka akan memberi solusi pada pasokan ikan kita ke depannya dan tidak khawatir lagi tentang hal ini, itu saja, bonusnya, kita dapat melihat Bujang Beji mengangkat bukit batu Kelam yang selama ini membuat jauh perjalanan Apai untuk membeli kantung garam…”
“… yang juga diperlukan tidak hanya Bujang Beji, tapi juga oleh kita dan semua penduduk desa ini,” jelas Temenggung Marubai.
“Aku mengerti Apai,” jawab Dara Ayu.
*
Tiga hari kemudian. Bujang Beji datang, kali ini tidak menggunakan alat teleport-nya, dia menunggangi kuda kesayangannya dengan mengenakan baju zirah seperti biasanya.
Orang-orang mulai berkerumun mengikuti Bujang Beji yang menuju rumah Radakng Temenggung Marubai.
”Lihat… Bujang Besi yang sombong itu sepertinya akan menantang Temenggung Marubai!” ucap seorang perempuan yang ada di pinggir jalan.
“Kapan ada sikap baik dari orang ini… kenapa selalu sombong dan iri hati?” ungkap seorang pemuda pria yang di dekatnya.
“Iya… dia sakti tapi sikapnya selalu buruk… cuih!” seorang perempuan berbadan gemuk menambahkan dan meludah.
Banyak orang yang salah persepsi dan salah sangka saat itu.
Mereka berpikir Bujang Beji akan menantang Temenggung Marubai untuk bertarung atau sejenisnya karena Bujang Beji iri tidak mendapatkan ikan yang lebih banyak.
Sesampainya di depan rumah Radakng milik Temenggung Marubai. Bujang Beji disambut oleh Temenggung Marubai dan Dara Ayu.
“Sepertinya kau sudah siap?” tanya Temenggung Marubai kepada Bujang Beji.
“Siap Matir!” jawab Bujang Beji dengan mantap.
“Baiklah, ikuti aku, akan kutunjukkan Batu Hitam sebesar bukit yang kumaksud,” jelas Temenggung Marubai bergerak menunggangi kudanya diikuti oleh Dara Ayu melakukan hal yang sama, serta beberapa sesepuh rumah Radakng Desa Pesaguan.
Rombongan berkuda bergerak ke arah bukit batu hitam kelam yang dimaksud oleh Temenggung Marubai.
“Bujang Besji pasti menantang Temenggung Marubai… sepertinya Temenggung juga orang yang sakti… tetapi tidak sombong…,” komentar seorang remaja pria berbisik kepada temannya.
“ iyaa…buktinya Temenggung Marubai berani menerima tantangan itu…, aku yakin Temenggung Marubai akan menang!” temannya menjawab dengan jelas.
Banyak orang berbisik-bisik dan salah persepsi bahwa Bujang Beji sengaja menantang Temenggung Marubai.
“Perjalanan ke arah tujuan sekitar 5 hari, oleh karena itu, bagi yang tidak berkepentingan, cukup sampai batas desa ini, dan kami akan melanjutkan ke batu bukit kelam,” jelas Temenggung Marubai kepada orang-orang yang mengikutinya.
Dengan penjelasan tersebut, mulai banyak orang memisahkan diri dan kembali ke rumah masing-masing.
Menjelang sore hari hanya tersisa dua sesepuh yang tetap mengikuti Temenggung Marubai, Bujang Beji, dan Dara Ayu.
Dua sesepuh ini Apai Janggut dan Dehen.
Dehen adalah sesepuh yang masih muda, walaupun masih muda seumuran Bujang Beji, tetapi mewarisi adat istiadat dan budaya dari leluhur dengan kental.
Menjelang malam sebelum memasuki hutan yang lebih lebat,”Ada baiknya kita beristirahat di warung sana dan mencari penginapan,” saran Temenggung Marubai sembari menunjuk ke satu rumah di tepi hutan.
*
“Selamat malam Apai Marubai,” sapa pemilik rumah Radakng di pinggir hutan ke arah bukit batu kelam.
“Selamat malam Apai Jau, mohon maaf merepotkan, kami esok hari akan ke hutan untuk melihat batu bukit kelam,” jelas Temenggung Marubai.
“Oh… tidak apa, sila masuk Apai, sesama warga desa tentu wajib saling menolong, istirahat di rumah Radakng kami, akan kami siapkan makan malam bersama,” jawab Apai Jau ramah dan bersemangat.
“Ah… Dara Ayu, sudah besar, menjadi gadis yang cantik, kau tentu lupa pada Apai, karena waktu kau ke sini, kau masih berumur 3 tahunan,” Sapa Apai Jau kepada Dara Ayu.
Dara Ayu tersenyum, karena benar-benar tidak ingat,”Terima kasih Apai karena masih ingat kepadaku,” puji Dara Ayu tulus.
“Ini Bujang Beji, Apai Janggut, dan Dehen,” Temenggung Marubai mengenalkan orang-orang yang menyertainya.
“Janggut, ah… akhirnya berjumpa lagi,” ucap Apai Jau.
“Ya… ya… kita teman bermain waktu masih kecil, kini usia kita sudah mencapai 120an tahun, masih segar dan sehat, tidak kukira ternyata kau kini tinggal di sini Jau…”
“… kukira kau pergi berkelana sampai ke wilayah Utara,” sapa Apai Janggut dengan gembira, tak menyangka dapat bertemu dengan teman bermain semasa kecil.
“Ya, sejak aku berkelana meninggalkan desa ke arah Utara, kemudian aku memutuskan kembali ke sini, tidak jauh dari desa kita,” jelas Apai Jau.
*
“Sila dinikmati makan malamnya, ya tidak mewah tetapi ciri khas Radakng ini yaitu Juhu Singkah, ikan baong Asam Pedas, dan Umbut Rotan,” ujar Apai Jau sembari mencentong nasi dan meletakkan di piring tanah liat milik Temenggung Marubai.
“Terima kasih Apai,” ucap Temenggung Marubai kepada Apai Jau.
Kemudian Apai Jau menggerakkan tangannya mempersilakan yang lain untuk mengambil sendiri nasi dan lauk untuk menikmati makan malam bersama.
“Wuaaaah masakan istrimu tetap khas seperti dulu saat terakhir kali aku ke sini, tidak berubah, mantap!” Puji Temenggung Marubai kepada Apai Jau.
“Ah… lihat, nanti dia akan semakin pongah,” canda Apai Jau menoleh ke arah istrinya yang sedang menuangkan kopi ke wadah gelas tanah liat.
“Makasih Apai, oleh karena itulah warung kami banyak dikunjungi oleh banyak orang yang berkelana, karena warung sekaligus Radakng ini satu-satunya yang ada di sini. Jadi kualitas harus terjaga,” jelas istri Apai Jau.
“Nah tuh dengar sendiri, seperti pengusaha sejati,” tambah Apai Jau menimpali istrinya.
“Cara berpikir seperti itu sangat bagus, karena aku juga selama ini melakukannya, istrimu sepertinya mengerti benar Apai Jau,” Puji Temenggung Marubai.
“Makasih banyak Apai Marubai,” Apai Jau tampak gembira.
“Bujang Beji, logatmu sepertinya bukan dari sekitar sini, aku pernah berkelana ke arah barat ke arah selatan, banyak yang memiliki logat sepertimu di Tanah Sunda area sana,” selidik Apai Jau.
“Benar sekali Apai, saya dari tanah Sunda area tersebut, berkelana sampai ke tanah Sunda area sini, mudah dilalui dengan kuda atau berjalan kaki, tidak ada laut yang menghalangi,” Jawab Bujang Beji.
“Ah.. aaah… anak muda, itu juga yang membuatku berkelana sampai ke area Utara yang dingin, lalu memutuskan untuk kembali ke sini, area sini menurutku paling subur, kau rasakankah, singkong terasa seperti kentang, durian yang unik…”
“… kami menyebutnya pekawai, dari warna kuning sampai merah, tidak membuat mabuk, kau boleh menyebut tanah Sunda area sini adalah taman para jubata, banyak ragam buah-buahan yang unik,” ujar Apai Jau dengan bangga.
“Kau benar sekali Apai,” Jawab Bujang Beji tidak mau berdebat karena berpotensi besar benar adanya.
“Baiklah, sudah malam, saatnya kita beristirahat setelah lelah perjalanan dan dijamu dengan makanan khas yang nikmat untuk disantap, terima kasih Apai Jau untuk menerima kami menginap dan jamuan ini,” ucap Temenggung Marubai.
“Ah jangan sungkan Apai Marubai, kalau aku ke Radakng milikmu, kau juga pasti melakukan hal yang sama, sila beristirahat, untuk kamarnya akan ditunjukkan oleh Nira anakku,” jelas Apai Jau.
Nira kemudian mempersilakan dan mengantar para tamu ke kamar masing-masing yang telah disediakan.
*
Ayam berkokok. Pagi hari. Setelah semuanya sarapan pagi. Tampak Temenggung Marubai dan rombongannya sudah di depan Radakng milik Apai Jau.
“Terima kasih telah menerima kami. Kami pamit untuk melanjutkan perjalanan, setelah dari sana, kami akan kembali menginap di sini lagi, sampai ketemu nanti dalam waktu dekat Apai Jau,” ucap Temenggung Marubai.
“Dengan senang hati menunggu kedatangan kalian kembali, selamat jalan, hati-hati sampai tujuan!” Apai Jau melambaikan tangan kepada rombongan Temenggung Marubai yang mulai menaiki kudanya dan bergerak ke arah hutan.
Dara Ayu mendekati kuda tunggangan Bujang Beji sembari melirik ke arah Bujang Beji dan tersenyum manis.
“Jadi perjalanan ke arah bukit batu hitam kelam tentunya bukan sesuatu yang berat bagimu karena kau telah berkelana jauh sampai ke area sini,” Dara Ayu memulai pembicaraan.
“Ya begitulah, setiap area memiliki keunikan tersendiri, seperti makanan, kebudayaan, dan …”
“Para gadisnya?” potong Dara Ayu dengan senyum menggoda.
“Hm… maksudku kepercayaannya, tapi itu boleh juga,” jawab Bujang Beji ramah.
“Kepercayaan apa yang kau maksud?” tanya Dara Ayu lebih detail.
“Ya, aku lebih suka menetap di suatu area yang kepercayaan menyatakan bahwa alam ini adalah tuhan atau petara atau batara atau jubata, karena dengan cara itu, tuhan adalah alam, mudah ditemukan di mana pun, kita hidup di dalamnya…”
“… menjadi satu kesatuan utuh, bukan di luarnya, kita berada di dalamnya… menyatu… oleh karena itulah menjaga alam dan menyatu dengan alam sangat penting bagi kita semua,” jelas Bujang Beji.
“Ah… aku juga berpikiran yang sama, lalu apa yang terjadi bila kita meninggal menurutmu sendiri?” tanya Dara Ayu.
“Entahlah… karena belum aku alami, tetapi aku yakin, kita akan menyatu dengan alam atau semesta, bukan mati, tetapi bangun lagi sebagai alam atau semesta…”
“… dan ingat pernah menjadi bintang, menjadi bulan, menjadi matahari, menjadi apa pun yang ada pada masa sebelumnya bahkan pada masa kemudian, semua memori di masa lalu dan masa depan teringat kembali bila sudah menyatu dengan semesta,” jelas Bujang Beji.
“Wuoh tak kukira kau memiliki pemahaman yang dalam tentang hidup setelah mati,” puji Dara Ayu.
“… di pemikiran tersebut, apa sebenarnya mati? Mati di tubuh ini tetapi bangun di tubuh lain sebagai semesta, aku tidak menyebutnya mati, tetapi terbangun.” jelas Bujang Beji.
“Menjadi membingungkan ya?” Dara Ayu tampak masih belum paham.
“Tidak masalah bila belum paham. Pernahkah kau bermimpi menjadi seseorang di dalam mimpimu?” tanya Bujang Beji.
“Iya… pernah, aku dalam mimpi tersebut menjadi aku tetapi saat kulihat di cermin, itu bukan diriku, tetapi aku tetap merasa itu adalah aku….”
“… kemudian aku tewas dalam mimpi tersebut karena peperangan yang terjadi di sana, aku terbangun dari mimpi dan menjadi diriku sendiri, tetapi aku masih ingat pernah menjadi dirinya,” jawab Dara Ayu.
“Persis seperti itulah hidup di dunia ini, hidup di dunia ini cuma salah satu mimpi yang kita jalani sebagai salah satu perwakilan dari alam….
“… saat diri kita meninggal versi manusia di dunia ini, kita bangun dan tersadar bahwa kita adalah alam ini, kita adalah semesta,” jelas Bujang Beji.
“Tapi mengapa alam atau semesta sadar pada setiap pribadi yang ada di diri manusia, sedangkan kita hanya mampu sadar hanya sebagai satu orang saja di mimpi kita?” tanya Dara Ayu.
“Mungkin… aku tidak tahu, ini hanya mungkin, mungkin karena alam atau semesta lebih hebat dari kita sehingga alam atau semesta mampu dan sadar bagi tiap individu yang ada di dalamnya…”
“… berbeda dengan kita yang hanya mampu sadar dan hanya mengendalikan satu orang saja dalam mimpi kita…”
“… karena kita adalah alam versi kecil sedangkan alam versi besar atau semesta, tidak dapat terpikirkan kehebatannya, semesta mampu mengendalikan setiap orang yang ada di dalamnya” jawab Bujang Beji.
“Hm… masuk akal,” Dara Ayu tampak puas dengan jawaban tersebut.
“Mari berhati-hati, sebentar lagi kita akan memasuki area kekuasaan seorang raksasa berkulit hijau, orang sekitar yang selamat darinya menyebutnya Yaksha,” jelas Temenggung Marubai.
“Yaksha?” tanya Apai Janggut.
“Iya, Yaksha, raksasa hijau yang menjadi buruan kerajaan sekitar sini, dan belum ada yang pernah mengalahkannya. Yaksha ini sering mengganggu orang yang melewati areanya, mirip seekor anjing hutan yang menjaga wilayahnya, sangat teritorial,” jelas Temenggung Marubai.
“Oleh karena itulah aku tidak melewati area ini bila melakukan perjalanan dagang untuk mendapatkan kantung garam selama ini, lebih memilih untuk memutarinya,” jelas Temenggung Marubai.
“Yakhsa adalah tonah atau antu penunggu area yang akan kita jelajahi menjelang sore ini,” jelas Temenggung Marubai.
“Hm… membuatku penasaran,” Dara Ayu menyela.
“Tunggu sampai kau melihatnya, semoga kau tidak lari terbirit-birit,” Temenggung Marubai memperingatkan Dara Ayu.
“Ah Apaaaai!” Dara Ayu cemberut kepada ayahnya.
Sisa perjalanan mereka terdiam bersiaga.
Tidak ada yang bersuara, sampai
Temenggung Marubai memberikan aba-aba untuk bergerak lebih melambat.
Kemudian Temenggung Marubai mendekati Bujang Beji yang ada di area tengah iring-iringan kecil tersebut.
”Aku tahu kau kuat, jadi aku berharap kita dapat melewati area sini dengan selamat bagi semuanya,” dengan suara rendah dan hampir tidak terdengar oleh orang lainnya kepada Bujang Beji.
“Saya akan berusaha Matir,” jawab Bujang Beji dengan mantap.
Temenggung Marubai merasa lebih tenang, kemudian mengarahkan kudanya lagi ke depan memimpin rombongan.
Mendadak gesekan pohon oleh sesuatu yang besar terdengar dari jauh. Gerakannya memberi getaran mirip gempa kecil dan berjalan mengarah ke arah rombongan Temenggung Marubai.
Temenggung Marubai menghentikan kudanya diikuti oleh yang lainnya.
Gesekan pohon semakin keras, menandakan sesuatu yang sangat besar bergerak ke arah mereka.
Semuanya menunggu dengan berdebar. Tidak berapa lama muncul kaki yang sangat besar diikuti oleh sepasang tangan yang menyibak rimbun pepohonan.
Muncul di hadapan mereka seorang raksasa berkulit hijau. Dengan ukuran tinggi sekitar 10 kali ekor gajah yang ditumpuk menjadi satu atau sekitar 35 meter. Perbandingan dengan manusia biasa di masa kini sekitar 1,6 meter.
Bujang Beji tampak tenang. Sedangkan Temenggung Marubai, Dara Ayu, Apai Janggut dan Dehen tampak bergetar ketakutan.
Temenggung Marubai melirik ke arah Dara Ayu yang terkesima tidak dapat bergerak karena ketakutan.
Sedangkan Apai Janggut sontak terjatuh lemas dari kudanya. Dehen tampak basah celananya karena kencingnya sendiri.
Temenggung Marubai dengan kaki gemetar turun dari kudanya dengan gugup sehingga terjatuh. Untung dengan cepat Bujang Beji melompat turun dan menahan tubuh Temenggung Marubai.
“Aku mencium bau manusia! Siapa yang berani memasuki areaku, akan aku binasakan!” teriak Yakhsa dengan suara besar dan berat.
“Aku Bujang Beji berani, tidak kubiarkan kau membinasakan siapa pun setelah hari ini,” jawab Bujang Beji.
“Ha ha ha manusia kecil seperti tikus, mana mungkin mampu mengalahkanku!” ejek Yaksha.
Dengan segera Yaksha mengambil goloknya yang super besar dan mempersiapkannya.
Bujang Beji tidak menunggu waktu, segera saja dia menyambar tubuh Temenggung Marubai, Daya Ayu sekaligus dan menempatkan mereka di tempat yang jauh dan aman dari jangkauan Yakhsa.
Kemudian Bujang Beji bergerak lagi dengan cepat membawa Apai Janggut dan Dehen ke area yang sama.
Setelah itu Bujang Beji melompat ke area yang lebih tinggi tepat di punggung pedang raksasa yang di pegang oleh Yakhsa untuk mendekati agar suaranya terdengar lebih jelas bagi Yaksha.
“Asalmu dari mana Yaksha?” tanya Bujang Beji.
“Kau manusia, mana paham asalku dari mana?” Ejek Yaksha.
“Aku paham, kau dari planet mana?” tanya Bujang Beji sekali lagi.
Yaksha tertegun,”Planet? Kau tahu dari mana kata itu?” tanya Yaksha penasaran.
“Aku bukan orang biasa, ayahku berasal dari Planet Saqqara, di gugusan Bintang Sirius A,” jelas Bujang Beji.
“Hm… baiklah, sepertinya kau lebih cerdas dari lainnya, apa maksudmu ke sini?” tanya Yaksha.
“Aku punya tugas untuk memindahkan batu bukit hitam kelam yang ada di area perjalanan 2 hari lagi dari sini untuk membendung Sungai Melawi agar airnya menjadi lebih tinggi,” jelas Bujang Beji.
“Oh sungguh, batu bukit hitam kelam itu sangat berat, kau sekecil itu apakah kau mampu melakukannya?” tanya Yaksha sangsi.
“Entahlah, tapi baju zirah milik ayahku selama ini mampu mengangkat beban berat bahkan aku sendiri tidak tahu persis batasannya sejauh ini, semoga saja aku dapat melakukannya,” ungkap Bujang Beji.
“Kepercayaan diri yang kuat, aku pernah mencoba mengangkatnya dan gagal, apalagi orang kecil sepertimu, tapi itu urusanmu!” ujar Yaksha.
“Jadi bolehkah aku melewati area kekuasaanmu dengan damai?” tanya Bujang Beji.
“Tentu saja, tetapi ada syaratnya!” jawab Yaksha.
“Apa syaratnya?” tanya Bujang Beji.
“Aku ingin pulang ke Planet Angkor Wat, di gugusan Bintang Orion,” jelas Yaksha.
“Sayang sekali, aku tidak tahu di mana tempat itu, jadi aku tidak dapat membantumu, tetapi aku punya alat teleport portable yang dapat memindahkanmu hanya di area Planet Bumi ini saja, apakah kau tertarik ke area yang kau mau di Bumi area lainnya?” Bujang Beji bernegosiasi.
“Aku tertarik, karena aku sudah tidak dapat berjalan lebih jauh lagi, kalau kau perhatikan, aku berjalan pincang, kakiku pernah patah terjatuh dari bukit batu hitam kelam yang kau tuju…
“… sehingga aku memulihkan diri dan memutuskan tinggal di sini, bila kau memiliki teknologi teleport itu, aku dengan senang hati berpindah ke area lainnya, adakah petanya di pintu teleport milikmu?” tanya Yaksha.
“Ya, tentu saja ada, di sana kau dapat sentuh area yang kau mau, maka saat kau memasuki pintu teleport, kau akan dibawa ke sana, semudah itu,” jelas Bujang Beji.
“Kalau begitu, aku setuju!” jawab Yaksha tampak gembira.
Bujang Beji segera melompat turun dari punggung pedang raksasa yang dipegang oleh Yaksa ke area bawah.
Bujang Beji segera menemui Temenggung Marubai dan Dara Ayu yang tampaknya sudah lebih tenang, demikian juga Apai Janggut dan Dehen.
“Raksasa hijau ini tidak akan mengganggu kita kalau dia dapat pergi dari area sini dengan bantuanku,” Bujang Beji menjelaskan.
“Maksudmu kau akan pergi bersama dengan raksasa hijau itu?” Dara Ayu bertanya dengan heran.
“Bukan begitu, aku tetap di sini, akan kugunakan alat yang biasa aku gunakan membawa bakul-bakul ikan dan muncul tepat di depan rumah radakngmu,” jelas Bujang Beji.
“Oh aku mengerti,” jawab Temenggung Marubai.
“Tetapi mungkinkah pintu itu dapat membesar?” Tanya Dara Ayu.
“Iya bisa,” jawab Bujang Beji sembari segera mempersiapkan alat teleport-nya dan mengatur ukuran pintunya agar Yaksha dapat masuk ke dalamnya.
Mendadak pintu teleport membesar seperti pusaran air danau dan membentuk ukuran pintu yang tinggi dan bentuknya bagaikan jembatan pelangi yang muncul di langit.
“Oh jembatan langit!” Teriak Apai Janggut.
“Luar biasa, hanya dalam sekejap saja jembatan langit tercipta!” gumam Dehen.
“Ayo Yaksha, kau sentuh di layar hologram area tujuanmu yang muncul di hadapanmu, dan masuklah ke dalam pintu teleport itu!” jelas Bujang Beji.
“Baik, terima kasih banyak Bujang Beji!” ucap Yaksha yang menekan satu tujuan di peta yang muncul di depannya kemudian berjalan memasuki pintu portal yang beriak seperti pusaran air, portal itu cukup untuk dilewatinya.
ZAP!
Seketika Yaksha menghilang dari tempat tersebut menggunakan jembatan langit yang disaksikan oleh Temenggung Marubai, Dara Ayu, Apai Janggut, dan Dehen.
Mereka semua terkesima dengan kejadian tersebut. Kesaktian Bujang Beji sangat luar biasa, bahkan mungkin setara dengan para petara atau simbol dari semesta.
Sekitar lebih dari lima menit setelah kejadian tersebut semuanya berdiri terdiam. Tidak dapat berkata apa-apa.
Sedangkan terlihat Bujang Beji sedang memberi makan kudanya. Sikap yang kontras karena mereka tidak pernah melihat hal yang menakjubkan seperti itu sebelumnya, sedangkan bagi Bujang Beji, itu hal yang biasa.
“Kau berhasil mengalahkan raksasa hijau itu dengan membuatnya masuk ke jembatan langit!” Apai Janggut memuji Bujang Beji dengan bergerak kegirangan mendekati Bujang Beji, ”Itu luar biasaaaa!”
“Aku tidak mengalahkan apa pun, dia hanya ingin pulang, maka agar lebih cepat, aku gunakan pintu ajaib atau kau boleh menyebutnya jembatan ajaib dari sini ke tempat tujuannya,” jelas Bujang Beji.
“Tetap saja hebat, tidak semua orang mampu melakukan hal itu!” puji Dehen.
“Benar sekali,” tambah Temenggung Marubai.
Bujang Beji tersenyum dan matanya melirik ke arah Dara Ayu yang wajahnya berbinar dengan kekaguman sekaligus terpancar rasa cinta.
“Baiklah, kini raksasa hijau sudah bukan ancaman lagi, penduduk area sini dan kerajaan area sini tidak perlu lagi takut untuk melewati area sini,” jelas Bujang Beji.
“Tepat sekali, mari kita lanjutkan perjalanan” ucap Temenggung Marubai.
“Begini Apai, bagaimana kalau kita persingkat waktu dengan memasuki pintu ajaib dan langsung kita akan sampai ke batu bukit hitam kelam itu, bagaimana?” usul Dara Ayu ke ayahnya.
“Usul yang bagus, bagaimana Bujang Beji?” tanya Temenggung Marubai.
“Setuju Matir, mari kita lakukan!” Bujang Beji segera mempersiapkan arah tujuan dan titik teleport ke area yang dituju.
“Sudah siap, mari kita lewati pintu ajaib ini!” Ajak Bujang Beji setelah semuanya siap.
Rombongan itu memasuki pintu teleport.
ZAP!
Dalam sekejap, mereka telah tiba di kaki batu bukit hitam kelam yang selama ini menjadi tujuan perjalanan.
“Ugh!” Temenggung Marubai tampak mau muntah. Demikian juga Dara Ayu, Apai Janggut dan Dehen.
“Ya, itu terjadi juga padaku saat pertama kali menggunakan pintu ajaib, mual, mau muntah, dan terkadang sedikit pusing seperti area sekeliling bergerak perlahan setelah keluar dari pintu ajaib, seperti orang mabuk,” jelas Bujang Beji.
“Wuoookh!” Dehen akhirnya muntah karena tidak tahan. Disusul oleh Apai Janggut dan terakhir Temenggung Marubai.
Sedangkan Dara Ayu tampak lebih mampu untuk menahan muntahnya, namun wajahnya tampak memerah.
“Hari sudah malam, ada baiknya kita berkemah terlebih dahulu, dan mempersiapkan bekal makan malam yang telah kita bawa, besok pagi kita akan melanjutkan misi kita,” Temenggung Marubai memberikan arahan setelah rasa mual dan pusingnya berangsur sirna.
“Baik Matir” jawab Apai Janggut, Dehen, dan Bujang Beji.
Kemudian Apai Janggut, Dehen, Bujang Beji mempersiapkan perkemahan.
Sedangkan Dara Ayu sedang mempersiapkan makan malam.
Temenggung Marubai sedang membuat api unggun agar tidak terlalu dingin di area sekitar tersebut.
Tak berapa lama mereka berkumpul menikmati makan malam di depan api unggun.
Dara Ayu yang duduk di samping Bujang Beji membuka percakapan.”Jadi saat kita menyatu dengan semesta, menjadi semesta dan ingat apa pun yang terjadi di masa lalu, masa kini, bahkan di masa depan, lalu mengapa kita memilih untuk lahir lagi dan menjadi manusia lagi?”
Bujang Beji terdiam sejenak,”Menjadi manusia lagi adalah pilihan, boleh menjadi raksasa hijau, menjadi dewa, menjadi satwa, menjadi pohon, menjadi bulan, bumi, matahari, dan hal yang belum terpikirkan sebelumnya, atau tetap menyatu dengan alam… itu terserah kita.”
“Jadi kita adalah memori yang kekal abadi yang menjadi bagian dari semesta. Saat kita sendiri memutuskan untuk berpetualang di alam ini, lahir lagi, tidak memiliki beban dari kehidupan sebelumnya, walaupun mungkin kita pernah ingat hidup di masa sebelumnya, tetapi beban itu tidak ada,” jelas Bujang Beji.
“Jadi tujuan hidup adalah murni berpetualang di dunia inikah?” Dara Ayu menekankan.
“Kau boleh bilang begitu, tetapi untuk berpetualang, tidak hanya di dunia ini, aku sudah pernah melihat dunia lainnya, dunia ini adalah salah satunya saja, dan masih banyak tak terhitung dunia lainnya…”
“… isinya mirip seperti kita tetapi tidak sama persis,” jawab Bujang Beji sembari matanya agak sembab mengenang ayahnya yang ada di planet lain, terkadang rindu itu muncul di dalam dirinya, ayahnya yang baik, ayahnya yang berasal dari dunia yang jauh.
“Bagaimana dengan karma?” tanya Dara Ayu.
“Karma adalah hukum sebab akibat, dalam pemahamanku, karma hanya terjadi di dunia ini saja, cepat atau lambat akan terjadi sebagai balasan di dunia ini, tetapi bebannya tidak kita bawa setelah kita meninggal atau kita membawa karma di kehidupan sebelumnya,” jelas Bujang Beji.
“Lalu kenapa kita berbuat baik kalau tidak ada beban karma buruk di kehidupan sebelum atau kehidupan berikutnya?” Dara Ayu menambahkan.
“Kita berbuat baik bukan karena takut atau karena adanya karma buruk yang kita tanggung saat nanti memutuskan melakukan petualangan lagi di masa depan di tubuh yang baru,” jelas Bujang Beji.
“Kita takut berbuat buruk, karena sebenarnya kita satu kesatuan utuh dengan alam, dengan sesama. Jadi kalau aku menyakitimu sebenarnya aku menyakiti diri sendiri, sebab kamu adalah aku, dan aku adalah kamu, kita adalah satu kesatuan utuh” Bujang Beji tersenyum kepada Dara Ayu.
“Filosofi yang dalam… terima kasih,” Dara Ayu tersenyum renyah.
“Baiklah, saatnya istirahat, besok kita bangun pagi!” Temenggung Marubai berdiri dan menjauhi api unggun.
Dara Ayu mengikuti ayahnya. Apai Janggut bergegas ke tempat perkemahannya.
Sedangkan Dehen memutuskan tetap di depan api unggun.
Bujang Beji pun segera berdiri dan berjalan ke arah perkemahannya juga,”Selamat malam Dehen.”
“Selamat malam, sampai berjumpa esok!” jawab Dehen.
*
Pagi hari Temenggung Marubai dan rombongannya sudah bersiap untuk melanjutkan misi, namun mendadak Temenggung Marubai menjerit sesaat seekor ular sangat beracun mematuk kakinya.
“Sial!” teriaknya, kemudian tak lama tubuhnya tampak menggigil dan jatuh terjerembap.
“Apai!” Teriak Dara Ayu panik.
“Ular apa itu?” tanya Dehen.
“Sepertinya ular antu krait, ular yang dikenal paling beracun!” jelas Apai Janggut.
“Adakah yang membawa obat penawar?” Dara Ayu melihat Apai Janggut, Dehen, dan Bujang Beji.
“Maaf, kami tidak membawanya,” jawab Dehen merunduk.
Dara Ayu menatap Bujang Beji,”Kau sangat sakti, tolonglah Apaiku,” pinta Dara Ayu memelas.
“Apai Janggut, Dehen… obat antiracun apa untuk gigitan ular jenis tersebut?” tanya Bujang Beji.
“Selama ini ular jenis ini dapat dinetralkan dengan akar penawar pohon Tabar Kedayan dicampur dengan akar Rumput Bulu, serta daun Bajakah, tetapi yang paling ampuh Bunga Petara, mampu menghilangkan racun dalam sekejap!” jelas Apai Janggut yang terlihat sangat berpengalaman.
“Di mana agar saya mendapatkan bunga tersebut?” tanya Bujang Beji.
“Di taman kerajaan terdekat tidak jauh dari sini, dengan pintu ajaibmu, kau akan mudah mendapatkannya dalam waktu singkat, karena bunga ini bunga langka, tentu dijaga ketat oleh para prajurit di sana,” jelas Apai Janggut.
“Baik, tunjukkan arah mana kerajaan tersebut, berapa hari perkiraan perjalanan naik kuda?” tanya Bujang Beji.
“Ke arah Barat dari sini, perlu sekitar 14 hari naik kuda,” jelas Apai janggut.
“Empat belas hari, Apaiku tidak akan terselamatkan, lihatlah, kakinya mulai membengkak berwarna kebiruan menjalar ke area atasnya,” isak Dara Ayu.
“Baik, Apai Janggut kau tampak berpengalaman menangani racun, tangani Matir Marubai, aku akan pergi mengambil bunga petara tersebut,” jelas Bujang Beji.
“Aku ikut!” Pinta Dara Ayu.
“Aku tahu bentuk Bunga Petara, pernah kugunakan waktu kecil masih kecil, untuk mengobati ibuku yang sakit, tetapi sayangnya, kini aku tahu…”
“… obat itu bukan untuk jenis sakit yang diderita ibu, tetapi untuk penawar racun, aku salah obat! Tetapi kini aku punya kesempatan kedua untuk menyelamatkan Apaiku!” jelas Dara Ayu.
Bujang Beji tertegun, pantas selama ini dia belum pernah melihat ibunya Dara Ayu, ternyata ibunya telah meninggal saat Dara Ayu masih kecil,”Baiklah, ikut aku,” Bujang Beji segera membuka pintu ajaibnya dan memperkirakan letak taman kerajaan tersebut.
ZAP!
Keduanya bergerak masuk ke pintu ajaib. Mereka muncul di area mirip pedesaan yang lebih besar dari Desa Pesaguan.
“Di mana area taman kerajaan ini?” tanya Dara Ayu ke pada salah satu warga yang tengah melintas, seorang perempuan paruh baya.
“Dia area timur bangunan besar itu, itu adalah istana raja,” jelas perempuan tersebut.
“Terima kasih,” jawab Dara Ayu.
Lalu keduanya bergegas ke arah yang ditunjukkan. Sesampainya di sana,”Kulihat memang banyak penjaga sedang berada di dalam taman, terutama di pojok Utara, ada potensi besar Bunga Petara ada di sana,” jelas Dara Ayu.
“Hm… sepertinya kau benar, untuk memastikan, ayo kita lebih mendekat ke sisi tersebut, lalu kau lihat dari jauh, apakah benar bunga itu yang kita butuhkan?” jelas Bujang Beji.
Bujang Beji dan Dara Ayu berjalan lebih cepat ke arah taman tersebut dari area luar istana, dan kemudian Bujang Beji mengeluarkan sejenis alat yang membuat Dara Ayu mampu melihat bunga tersebut dari jarak jauh di luar pagar istana.
“Apa nama alat ini?” tanya Dara Ayu.
“itu teropong pembesar, dapat melihat hal yang jauh menjadi tampak lebih dekat dan lebih besar, apakah benar bunga itu yang kita perlukan?” tanya Bujang Beji.
“Dari warnanya dan bentuknya mirip sewaktu aku masih kecil, kemungkinan besar benar, itu Bunga Petara,” jawab Dara Ayu.
“Baiklah, kau di sini saja, aku yang akan mengambilnya, sebanyak yang kita perlukan!” jelas Bujang Beji.
Delapan prajurit mengelilingi Bunga Petara, bunga sangat langka yang menjadi kebanggaan kerajaan tersebut karena mampu menyembuhkan racun yang paling ganas sekali pun.
Bunga indah tersebut bergerombol tumbuh subur berwarna keunguan sedikit kebiruan.
Para prajuit yang menjaganya bangga dan kagum akan bunga tersebut, mata mereka tidak berkedip, menjaga warisan kerajaan merupakan kebanggaan tersendiri.
Mendadak tepat di hadapan mereka muncul seseorang, mengambil beberapa bunga dan kemudian menghilang tepat di hadapan mereka.
Tanpa mereka dapat bereaksi apa pun, beberapa gerombol bunga telah terpetik dari tangkainya.
Istana menjadi geger dengan kejadian ini.
Tidak satu pun prajurit yang menjaga dan berada tepat di taman bunga mampu menghentikan kejadian aneh tersebut walaupun mereka berjaga tepat di depan bunga tersebut.
Sehingga mereka beredar rumor di masa-masa berikutnya bahwa seorang petara memerlukan bunga tersebut untuk menyembuhkan racun bagi petara lainnya, dan tidak heran nama bunga itu disebut dengan nama bunga petara.
Hal ini membuat bunga ini menjadi semakin dikenal dan dinilai menjadi lebih sakral lagi.
ZAP!
Tak berapa lama Bujang Beji dan Dara Ayu kembali ke kaki bukit batu kelam hitam menemui Temenggung Marubai.
Dengan segera Dara Ayu mempersiapkan obat penawar dari Bunga Petara tersebut dan meminumkannya kepada Temenggung Marubai serta mengoleskan di area yang dipatuk ular.
Benar saja, tidak berapa lama Temenggung Marubai mulai terlihat lebih sehat,”Dara Ayu terima kasih.”
“Tenang Apai, kau baru sembuh, makanlah bubur ini terlebih dahulu,” ucap Dara Ayu sembari menyuapkan bubur kepada ayahnya.
“Hari telah siang, dan aku masih belum sembuh benar, kita lanjutkan misi ini esok hari,” jelas Temenggung Marubai.
“Kalau melihat kesaktian Bujang Beji, ada baiknya, kita segera selesaikan misi ini, jangan menunggu lama lagi, saya khawatir akan ada bencana lain yang mungkin menimpa kita, misalnya ternyata di sini sarangnya ular krait?” saran Apai Janggut.
“Apai Janggut ada benarnya,” tambah Dehen.
Temenggung Marubai melihat ke arah Apai Janggut dan Dehen, kemudian ke Dara Ayu dan Bujang Beji.
“Apakah kau dapat melakukannya Bujang Beji?” tanya Temenggung Marubai.
“Siap Matir!” jawab Bujang Beji.
“Ada tapinya, saya memerlukan mata yang mengarahkan ke mana saya harus bergerak, mata ini perlu berada di atas batu bukit kelam hitam, tepat di puncaknya dan memberitahu aku arahnya,” jelas Bujang Beji.
“Bagaimana caranya kau dapat mendengarkan suara seseorang yang ada di atas puncak bukit hitam kelam ini bila jaraknya sangat jauh, walau pun aku tahu kami selama ini mampu berteriak hingga terdengar sampai jauh…”
“… tetapi bukan dari atas bukit ke bawah bukit? Dan yang paling penting jelas informasi yang disampaikannya” tanya Temenggung Marubai.
“Dengan alat ini Matir,” jawab Bujang Beji sembari menunjukkan dua kalung yang identik,”Kalung ini adalah kalung ajaib di mana kalau aku berkata dari tempat yang jauh, kau juga dapat mendengarnya.”
“Hm… coba Dara Ayu kenakan salah satu kalung tersebut dan bicaralah padaku dari area yang jauh di sana dengan berbisik pada kalung tersebut,” pinta Temenggung Marubai.
“Baik Apai,” kemudian Dara Ayu mengenakkan salah satu kalung tersebut dan mengenakkan satu kalung lainnya ke ayahnya.
Dara Ayu bergegas menjauh kemudian berbisik, “Apai, ini Dara Ayu.”
“Luar biasa!” teriak Temenggung Marubai terkesima.
*
Tampak Bujang Beji berdiri di bawah bukit batu hitam kelam, tengah berkomunikasi dengan Dara Ayu yang telah berada di puncak bukit.
“Siap Dara Ayu, saat aku bilang 1, 2, 3 berpegang pada pohon besi yang di depanmu, lalu arahkan aku ke arah Sungai Melawi untuk membendungnya dengan bukit ini,” jelas Bujang Beji.
“Baik, siap!” jawab Dara Ayu mantap.
Kini Bujang Beji mempersiapkan zirah warisan ayahnya untuk mengangkat benda yang terberat dan terbesar yang pernah dia lakukan, oleh karena itulah Bujang Beji menset kekuatan baju zirah tersebut secara optimum.
Bujang Beji bergerak dari satu sisi bukit batu kelam hitam dan mengangkatnya dari sisi sana secara perlahan.
“1, 2, 3!” teriak Bujang Beji.
Dara Ayu segera memeluk pohon besi atau pohon adau yang ada di depannya agar tidak terjatuh.
Dara Ayu merasakan bukit berguncang dan mulai bergerak ke satu arah.
Luar biasa, bukit batu hitam kelam itu kini seperti hidup, berjalan perlahan ke suatu arah.
Temenggung Marubai, Apai Janggut, dan Dehen terkesima, bengong menyaksikan itu semua.
Tidak mungkin, seorang manusia mampu melakukannya. Bujang Beji pastilah seorang petara atau mungkin paling tidak percampuran anak manusia dan petara.
Dengan perlahan batu bukit hitam kelam itu bergerak ke suatu arah. Temenggung Marubai, Apai janggut, dan Dehen diam di tempat, tidak mengikuti, karena takut tertimpa bukit tersebut.
“Sebaiknya kita tetap berkemah di sini, menunggu mereka kembali” ucap Temenggung Marubai.
“Eh… Bujang, sepertinya arah tujuannya agak melenceng sedikit, lebih ke arah kiri, di sana sungai Melawi berada,” Dara Ayu mengarahkan.
“Berapa lama kita akan sampai di sana tepatnya?” tanya Dara Ayu.
“Kalau aku berjalan, akan memakan waktu sekitar 5 hari, apalagi membawa bukit batu hitam kelam ini, kecuali naik kuda, maka sekitar dua harian, tapi kuda tidak akan mampu menahan beban ini,” Jelas Bujang Beji.
“Ha ha ha lucu… Tidakkah kau menggunakan pintu ajaib saja untuk mempercepat waktu?” tanya Dara Ayu.
“Kemarin sudah aku cek pintu ajaibnya, maksimum pintu yang kubuat ternyata ada batasnya, sekitar 750 meter, sedangkan tinggi batu bukit hitam kelam ini sekitar 1000an meter mungkin lebih, belum lebarnya, lebih luas lagi, jadi satu-satunya cara ya dibawa seperti ini,” jelas Bujang Beji.
“Oh… ternyata,” Dara Ayu mengerti.
“Aku ada ide, aku akan melompat-lompat agar mempercepat waktu, pastikan kau berpegang dengan erat,” ucap Bujang Beji.
Tak selang berapa lama, Dara Ayu merasakan bukit hitam kelam itu melambung tinggi sekali, dan turun dengan cepat, membuatnya gelagapan dan mempererat pegangannya.
Hal tersebut berlangsung sekitar setengah hari lebih sehingga matahari mulai tampak redup, sore hari telah tiba.
Mendadak Bujang Beji muncul di sampingnya yang tengah memeluk pohon adau atau pohon ulin dengan membawa rusa yang siap untuk dibakar.
“Akh! Kau mengagetkanku!” teriak Dara Ayu sembari menepuk pundak Bujang Beji.
“Saatnya istirahat!” jelas Bujang Beji yang tampak lelah dengan keringat bercucuran.
“Baik, aku siapkan makan malam ya!” kemudian Dara Ayu sibuk menyiapkan daging rusa bakar, lalu Dara Ayu mengambil beberapa buah jeruk dan memerasnya menjadi minuman yang menyegarkan.
“Hmm… daging rusa yang lezat dan jeruk yang segar!” kini Bujang Beji seperti tampak pulih lagi kekuatannya.
“Berapa lama lagi akan sampai bila kau melompat tinggi seperti hampir terbang tersebut?” tanya Dara Ayu.
“Dengan cara itu, besok sore kita akan sampai tujuan!” jelas Bujang Beji.
“Luar biasa!” puji Dara Ayu.
“Bujang, boleh aku tanya sesuatu?” tanya Dara Ayu dengan wajah memerah.
“Boleh, tentang apakah?” tanya Bujang Beji.
“Pernahkah kau jatuh cinta pada seorang gadis?” Dara Ayu tampak tersipu terlihat telah mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan hal tersebut.
“Pernah, dan berakhir buruk, dan membuatku memutuskan untuk sangat berhati-hati agar tidak jatuh cinta lagi,” jawab Bujang Beji jujur.
“Oh… dari kecil sampai besar, aku dididik Apai untuk bagaimana memperlakukan seorang pria dengan baik, menghormati, dan berbakti dan wajib mendukung seorang suami apa pun yang dilakukannya selama hal tersebut baik untuk membantu keluarga dan sesama,” jelas Dara Ayu.
“Hm… Apaimu orang yang baik dan mengajarkan dengan benar, sebab banyak perempuan yang hanya mementingkan diri sendiri…. tidak dapat memasak…”
“… menyalahkan ini dan itu kepada pasangannya, mengatur, mengontrolnya, ingin hidup mewah, menjadikan pasangannya sebagai budaknya, bukan sebagai pasangannya,” ucap Bujang Beji.
“Tapi… memang benar, selama aku mengenalmu, kau patuh pada Apaimu dan kau melakukan persis seperti yang Apaimu katakan, kau memperlakukan pria dengan baik, termasuk kepadaku!” puji Bujang Beji.
“Tidak banyak orang tua yang mampu mengajarkan anak gadisnya bagaimana memperlakukan pria dengan baik, tetapi banyak orang tua yang berhasil mendidik dan membuat seorang anak pria memperlakukan seorang perempuan dengan baik,” jelas Bujang Beji.
“Itu yang dikatakan oleh Apai, seolah mendidik seorang perempuan lebih sulit dibandingkan mendidik seorang pria,” jelas Dara Ayu.
“Apakah itu benar menurut pengalamanmu?” Tanya Bujang Beji.
“Ya, sepertinya benar, perempuan cenderung sensitif, pemarah, dan hanya cinta pada dirinya sendiri, mementingkan dirinya sendiri bahkan mampu
mengorbankan kebahagiaan seorang pria untuk kebahagiaan dirinya sendiri,” Dara Ayu membenarkan.
Bujang Beji terkenang lagi pada Nyai Mas Pohaci,”Mungkin kau benar, dan Apaimu mendidikmu dengan sangat baik,” ucapnya dan terlihat matanya berkaca-kaca terkena sinar api unggun.
“Kakek Rumwat, kakekku pernah mengatakan, perempuan sulit ditebak pikirannya karena lebih mementingkan perasaannya….”
“.… jadi emosi yang di dalam dirinyalah yang diutamakan, bukan hasil dari pemikiran yang jernih, dan hal itu yang membuat banyak pria tidak mampu untuk memenuhi keinginan mereka, mustahil” ucap Bujang Beji lirih.
“Iya aku tahu, Apai juga bilang, perempuan malah menjadi sumber utama masalah bagi pasangannya,” kemudian Dara Ayu terdiam dan mampu merasakan kegetiran yang mendalam dalam kata-kata Bujang Beji tersebut.
Dara Ayu tidak tahu masa lalu Bujang Beji, tetapi dari pembicaraan tersebut, dia tahu peristiwa sangat buruk telah terjadi di masa lalu dan melibatkan gadis yang pernah dicintainya.
“Maafkan aku tidak sengaja membuatmu mengingat masa lalumu,” ucap Dara Ayu lirih.
“Ah… tidak apa, itu masa lalu, telah berlalu, membuatku lebih kuat,” jawab Bujang Beji sembari dengan cepat menyeka air mata yang hampir menetes dari pelupuk matanya.
“Sebaiknya kita beristirahat, besok kita akan tuntaskan misi kita,” saran Bujang Beji, tetapi yang dilakukannya justru mengambil satu paha daging rusa bakar dan melahapnya lagi.
“Baiklah, selamat malam!” Dara Ayu bergerak ke perkemahan sementara yang telah dibuat oleh Bujang Beji tadi sore.
*
“1,2,3!” Bujang Beji mengangkat lagi Batu Bukit hitam kelam untuk memberi tanda bagi Dara Ayu yang berada di atas bukit yang diangkatnya sebagai pemandu arah.
Segera saja Dara Ayu memeluk pohon ulin yang ada di depannya dengan erat. Dan bukit tersebut mendadak melayang tinggi seolah melompat dengan sendirinya ke suatu arah.
Hal tersebut berlangsung sekitar 3 jam. Dara Ayu terdiam tanpa membuat percakapan apa pun. Mendadak dia berteriak,”Bujang Beji, berhenti!”
Batu bukit kelam yang membumbung tinggi kemudian turun dan berhenti.
“Ya ada apa Dara Ayu?” tanya Bujang Beji.
“Sebentar, setelah kupikir dengan jernih, sepertinya ada yang kurang pas pada rencana Apaiku?” ucap Dara Ayu.
“Apa maksudmu?” tanya Bujang Beji.
“Begini, bila tujuan Apaiku adalah membendung sungai Melawi dan membuat sungai Melawi mengumpul airnya dan akan banyak ikan nantinya, ada satu hal yang dia lupakan!” tambah Dara Ayu.
“Iya, apa itu,” tanya Bujang Beji.
“Banjir! Tidak hanya terjadi di Sungai Melawi, tapi juga akan terjadi di Sungai Kapuas, bencana baru akan muncul kalau batu bukit hitam kelam ini menghalangi aliran sungai!” jelas Dara Ayu.
“Saat ini musim kemarau, tentu tidak akan menjadi masalah, tetapi saat musim hujan tiba, potensi bencana banjir akan terjadi, itu yang Apaiku belum dapat melihat ke depannya, aku dapat melihat potensi bahaya itu,” jelas Dara Ayu.
“Ah… kau benar, jarang sekali aku menemui perempuan yang mampu menggunakan pikiran jernihnya, kau adalah perempuan pertama yang pernah kutemui mampu untuk melakukannya,” puji Bujang Beji.
“Jadi kita tidak perlu melanjutkan misi ini?” ucap Bujang Beji menegaskan.
“Benar sekali, dan biarkan batu bukit hitam kelam ini di sini, sudah dekat ke arah Sungai Melawi, dan hampir berada di tengah perbatasan dengan Sungai Kapuas juga, anggap sebagai penanda dua aliran sungai ini,” jelas Dara Ayu.
“Bagaimana dengan ide Apaimu?” tanya Bujang Beji.
“Apai mendidikku agar aku mampu berpikir jernih dan kritis, aku yakin Apai akan mendukungku!” Dara Ayu percaya diri.
“Baiklah kalau begitu,” jawab Bujang Beji dan segera menyiapkan pintu ajaibnya.
ZAP!
Dalam sekejap mereka sudah tiba di depan perkemahan Temenggung Marubai.
Temenggung Marubai menyambut mereka dengan senyuman,”Aku yakin kalian berhasil!”
“Maaf Apai, kami tidak melanjutkan misi ini karena…” Dara Ayu menjelaskan panjang lebar alasannya.
Selang beberapa lama kemudian.
“Hm… kau benar Dara Ayu, aku belum berpikir sejauh itu, aku dibutakan oleh memberi solusi pada para penduduk di desa kita dan hanya berpikir pada masa kemarau panjang ini. Ternyata kau kini sudah melebihi Apai, Apai bangga!” Temenggung Marubai tersenyum gembira dan menepuk pundak anak gadisnya.
Temenggung Marubai kemudian berdiri di depan Bujang Beji, ”Kau telah menuntaskan misi ini dengan baik, aku tidak dapat memberimu kantung garam lagi, tidak ada yang lebih berharga melebihi itu semua, bila kau berkenan, aku relakan Dara Ayu menjadi pendampingmu!”
“Matir! Terima kasih, ini adalah anugerah terbaik yang pernah saya alami!” Bujang Beji duduk bersimpuh di depan Temenggung Marubai.
Temenggung Marubai memegang pundak dan lengan kiri Bujang Beji dan mengajaknya berdiri sejajar,” Kau pemuda yang baik Bujang Beji, aku yang sebenarnya telah mendapatkan anugerah memiliki calon menantu yang sakti mandraguna sekaligus baik hati.”
Dara Ayu pipinya bersemu merah dan tampak matanya berkaca-kaca karena bahagia.
“Aku punya pertanyaan untukmu, bukankah kau dengan mudah mendapatkan garam bahkan lebih dari satu kantung garam dengan menggunakan pintu ajaibmu, pergi ke pantai dan membeli langsung ke pedagang garam di sana, tapi kenapa kau tidak melakukannya?” tanya Dara Ayu ke Bujang Beji.
“Aku sebenarnya tidak suka sendirian, kau tahu tinggal seorang diri menjemukan, oleh karena itu, berkomunikasi dengan orang lain untuk menghilangkan kejemuanku… adalah tujuanku, dengan cara itu, kita juga akhirnya dapat bertemu,” jelas Bujang Beji.
*
Tujuh hari tujuh malam pesta pernikahan Bujang Beji berlangsung meriah, banyak orang berdatangan, tetapi juga banyak orang yang tidak mengerti.
Hal ini berkenaan dengan kenapa Temenggung Marubai juragan ikan sekaligus kepala desa yang bijak, baik, hati, tidak sombong, dan menolong penduduk yang kesulitan bermantukan seorang pemuda sakti tetapi sombong dan serakah yang bernama Bujang Beji.
Hal tersebut tidak membuat Bujang Beji dan Dara Ayu pusing, sebab terkadang kenyataan sesungguhnya banyak orang yang tidak mengerti bahkan tidak mau tahu, yang mereka inginkan hanya cerita tentang adanya kebaikan dan keburukan, padahal ada juga kebaikan bertemu dengan kebaikan dan saling mendukung.
Empat bulan sejak pernikahan telah berlangsung,”Apai, kami akan memisahkan diri untuk membangun rumah sendiri dan lumayan jauh dari sini, bila kami rindu, kami akan datang kembali,” Bujang Beji berpamitan di depan rumah Radakng disertai Dara Ayu yang perutnya tampak hamil muda.
“Aku tahu saat perpisahan itu akan tiba, jangan sungkan-sungkan untuk mengunjungi Apai sekadar melepas rindu,” Temenggung Marubai memeluk Dara Ayu kemudian merangkul mantunya.
ZAP!
Bujang Beji dan Dara Ayu menghilang melalui pintu ajaib. Sekian ribu tahun berlalu, seorang berjalan melintasi ladang, menengadah ke atas.
“Apa yang kau lihat Ang El?” tanya Bujang Beji Sangkuriang kepada anak lelaki yang melihat ke atas.
“Sepertinya aku melihat sekilas pesawat di langit, bukan di laut!” jawab Ang El.
“Kau tahu Ang El, ayah juga pernah melihatnya,” Jawab Bujang Beji Sangkuriang.
“Iya, yuk, kita pulang, ibumu Dara Ayu pasti sudah menunggu kita untuk makan siang bersama!” ajak Bujang Beji kepada anak lelakinya.
*
“Itu adalah cerita tentang Bukit Kelam yang berada di Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.” Jelas Sang Guide.
“Bujang Beji rela dianggap sebagai musuh dalam cerita tersebut, tetapi cerita yang lain juga muncul sebagai penyeimbang, cinta Bujang Beji dan Dara Ayu menjadi inspirasi bagi Dayak Pesaguan akan murninya kedua cinta tersebut yang menyatu…”
“… wujud cinta yang penuh hormat saling mendukung, melengkapi satu sama lainnya, suatu kisah cinta yang sangat indah!” jelas Sang Guide.
Mari kita lanjutkan perjalanan ke area wisata lainnya di sebelah sana.
“Jadi area Pulau Dayak ini di masa lalu masuk ke area tanah Sunda atau Sundaland?” tanya seorang turis dengan heran.

Sundaland: https://en.wikipedia.org/wiki/Sundaland
“Ya, di masa lalu Sundaland adalah satu bagian benua utuh, tidak dibatasi oleh laut, jadi pulau Sumatra, Jawa, Dayak, Bali, sampai Flores kini… dulu terhubung dengan Malaysia, Thailand, area utara Rusia, India, Timur Tengah, Afrika, bahkan area Amerika di masa kini.”
“Di area Timur… Orang Sunda dapat melakukan perjalanan ke Daratan China sampai sampai ke dataran rendah Beringia dan melewatinya… yang kini di beberapa area di sana disebut dengan nama daratan Amerika.”
“Jadi sebenarnya kita semua yang dulu menjadi satu bagian tanah Sunda atau Sundaland adalah satu keluarga besar, satu bagian dari suatu benua, kita semua sebenarnya bersaudara!” jelas Sang Guide tersenyum manis.
“Kau adalah aku dan aku adalah kau!” ucap salah satu turis.
“Benar sekali, itu yang dikatakan oleh Bujang Beji!”
*
Tamat
*
NGAYAU: MISTERI MANUSIA IKAT KEPALA MERAH, A NOVEL BASED ON HISTORY
https://play.google.com/store/books/details?id=TU0oDwAAQBAJ
Baca kisah Legenda Sundaland dalam format ebook di sini




