Bukit Kelam, Sintang| Pesona Sebuah Monolit

Monolit, dipetik dari kata Yunani monos (tunggal, satu) dan lithos (batu).

Umumnya bukit, tidak tunggal. Ada anakannya. Atau setidaknya, ada kaki yang menjadi indukan, atau penyangganya.

Tapi itulah keunikan. Sekaligus pesona Bukit Kelam, monolit, yang menyimpan banyak cerita dan legenda di Sintang, Kalimantan Barat.

Dari kota Sintang, Kalimantan Barat, seonggok batu itu tampak tergeletak begitu saja di antara langit dan bumi. Bentuknya unik. Hanya satu. Tak biasa gunung tunggal, tanpa ada anak dan punggungnya.

Pagi itu cerah. Matahari terik bersinar mengusir kelam di atas Bukit Kelam. Perlahan, berangsur-angsur langit cerah tumpah ruah cahayanya gemulai di atas bumi Senentang.

Saya pun dijemput sepagi itu. Matahari sepeninggi pohon kelapa, ketika kami meninggalkan kota Sintang, Kalimantan Barat. Dan beberapa menit kemudian, tiba di datar tanah yang jadi alas kaki bukit batu yang ditengarai dari sisi ilmiah adalah monolit, atau jatuhan meteor jutaan tahun silam.

Tak jauh dari kaki bukit, terhampar  tanah datar. Sejauh mata memandang, terbentang sawah luas nan permai. Hijau asri lagi menawan hati. Ada sepotong biru langit yang diwarnai putih awan. Lalu terbentang sebuah betang di sana. Orang mengenalnya sebagai rumah panjang Ensaid, pemukiman tradisional penduduk Dayak.

Kontur bukit yang berjarak 20 meter dari kota Sintang itu sungguh sebongkah batu tunggal. Jarang ada bukit tunggal, biasanya sekitar ada pegunungan dan lereng-lereng, minimal bukit kembar.

Rumah tradisional itu, sejatinya menyatu dengan Bukit Kelam. Sebab begitu memasuki perkampungan, seperti juga masuk ke dalam seluruh nuansa perbukitan.

Menurut legenda. Syahdan, Bukit Kelam, yang kini menjadi “batu akik” terbesar sedunia dengan ketinggian 990 M sebongkah batu besar yang akan digunakan Bujang Beji membendung Sungai Kapuas.

Konon, Beji bermaksud membendung Sungai Kapuas. Hal itu karena ia iri pada seterunya, Temenggung Marubai, sesama pemancing yang mendapat banyak ikan di kembar sungai itu, Sungai Melawi. Temenggung Marubai mendapat banyak ikan karena ia melepas yang kecil-kecil dan hanya menangkap yang besar saja. Sementara Bujang Beji menangkap isi sungai apa saja. Karena itu, ikan di Kapuas semakin sedikit, sehingga ia mulai berpikir membendung Sungai Kapuas dengan batu raksasa.

Beji lalu mengikat batu raksasa dengan tali. Para dewi khayangan menertawai kepandirannya. Maka kontan, batu itu jatuh dan terlepas di daratan, menjadi Bukit Kelam.

Zaman baheula, orang tua menjelaskan fenomena dengan legenda. Namun, yang cukup masuk akal ialah praduga bahwa Bukit Kelam adalah meteor yang jatuh ke bumi jutaan tahun silam. Ini sangat layak dipercaya. Sebab, bukit itu berbentuk monolit (yunani: monos (tunggal) dan lithos (batu). Ya, jika saksama diperhatikan, bukit Kelam adalah batu raksasa tunggal memang!

Lagi pula, kontur bukit yang berjarak 20 meter dari kota Sintang itu sungguh sebongkah batu tunggal. Jarang ada bukit tunggal, biasanya sekitar ada pegunungan dan lereng-lereng, minimal bukit kembar (hmmm, indah, kan?)

Kontur tanah sepanjang, dan mengelilingi bukit, juga bergelombang. Ditengarai, itu terjadi karena jatuhan meteor jutaan tahun silam: membelah tanah, menggelombanginya, menjadi tidak rata. Dan jalan ke dan mengelilingi monolit itu memang bergelombang, naik turun.

Apa pun, kini Bukit Kelam menawan. Pesonanya luar biasa. 4 Juni lalu, bersama kawan-kawan dari CU Keling Kumang, Yohanes Rj dan “penyanyi” Hetty Koes Endang dan bro Gum dari Jakarta, saya ber-eko wisata dan berwisata budaya ke sana! Penghuni rumah betang Ensaid menyediakan berbagai seni budaya, hasil kerajinan, tenunan, dan ukiran Dayak.

Aneka flora dan fauna terhampar di sana. Ada kantong semar dan anggrek hutan. Juga beruang madu dan burung walet.

Dengan kemiringan 15 – 40 derajat, para pemanjat tebing boleh mengadu nyali mendaki hingga puncak. Meski berdinding batu, dan di celah-celahnya mengalir air bening pemuas dahaga sekaligus pemberi hidup. Bukit ini tidak angker. Tak ada cerita orang sesat, dan mati, ketika mendaki.

Jika malam hari, tatkala serangga mulai memperdengarkan bunyi, sepi meningkah alam sekitar. Hingar bingar dan bising kota, jauh di sana. Pun pula, ada pertapaan untuk semedi. Tersedia apa saja, termasuk keperluan pribadi.

Pabila perut keroncongan, pergi agak ke tepi. Berbagai kuliner menanti Anda. Saya, diajak Yohanes, makan ikan bakar. Segar. Lagi mak nyuzz!

Kelak, wisata alam, sekaligus wisata budaya, Bukit Kelam dipastikan kian mashyur. Seperti Puncak, nantinya kawasan ini adalah tempat pelepas suntuk orang kota. CU Keling Kumang sudah punya tanah datar di sana, cukup luas.

Demikian pun, pihak Keuskupan Sintang telah memiliki sederet bungalow, lengkap dengan fasilitas penginapan dan rapat di sana. Semula, disiapkan sebagai tempat retret. Namun, siapa pun bisa menikmatinya. Jalan ke sana mutar-mutar dahulu, tapi tidak ribet. Berkelok-kelok, tapi tidak membuat pusing karena jalan diaspal.

Toh penginapan bukanhanya itu! Di kaki Bukit Kelam, terhampar banyak penginapan. Anda boleh memilih sesuka hati, sesuai dengan kantong dan keperluan.

Bukit Kelam masih menyisa cerita cinta. Konon, Darajuanti dan Patih Loh Gender dulunya juga menetap di sini. Setelah kisruh di Kerajaan Sintang makin tajam, Darajuanti dibuang dan harus meninggalkan kerajaan oleh Abang Jubair. Lalu berdua, mereka mengungsi ke Bukit Kelam.

Pesona Bukit Kelam bukan hanya tentang indahnya. Juga kisah asmara serta legenda di baliknya.

Kelam nama bukitnya. Syahdan karena tempat buangan kedua pasang kekasih, para keturunan darah biru, di masa lalu.*

 

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply