De Sophisticis Elenchis yang Diterapkan dalam Retorika Saat Ini

De Sophisticis Elenchis mengupas tentang kesalahan berpikir atau cacat logika yang sudah lama menjadi fokus perhatian para pemikir, terutama tokoh terkemuka seperti Aristoteles pada abad ke-4 hingga ke-3 sebelum Masehi.Pada masa itu, fenomena ini diselidiki secara mendalam dan ditemukan bahwa terdapat kesalahan berpikir yang disengaja dihasilkan untuk menyesatkan banyak orang.

Baru-baru ini. Kita telah dikejutkan oleh kehadiran seorang pakar retorika di panggung nasional. Orang ini memiliki kemampuan luar biasa dalam menggunakan keahlian berpidato untuk membentuk narasi dan mengarahkan opini publik menuju suatu agenda tertentu sesuai keinginannya.

Banyak pihak telah terperangkap dalam wacana yang dibangun oleh yang bersangkutan. Sedemikian rupa, sehingga memancing emosi. Lalu bertindak tanpa benar-benar mengkritisi substansi dari pernyataannya. Padahal, itulah tujuan sang rhetorikus melempar umpan, agar disambar. Dari agenda setting, menjadi agenda publik, kemudian menjadi agenda pemerintah.

Pakar retorika itu juga paham Media/Impact atau impak media yang ditulis Shirley Biagi. Buku babon wajib untuk bahan kuliah S-2 Ilmu Komunikasi, jurusan Media Studies (Kajian Media).

Pun pula, ia fasih teori media. Ia gunakan “The Agenda-Setting Theory” yang menyatakan media  tidak selalu berhasil memberi tahu kita apa yang harus diketahui, tetapi memberi tahu kita apa yang harus dipikirkan. Pencetus teori media ini adalah McComb dan Donald L. Shaw pada 1968. 

Namun, jika kita melihat dengan seksama, tampaknya individu tersebut menerapkan teknik-teknik yang sejalan dengan konsep yang dijelaskan dalam “De Sophisticis Elenchis,” yaitu mengenai kesalahan-kesalahan berpikir yang digunakan untuk memengaruhi dan memanipulasi pendapat orang lain.

De Sophisticis Elenchis adalah sebuah karya yang mengulas tentang Kesalahan Berpikir dalam politik dalam konteks seni retorika, walaupun diterima secara umum sebagai suatu praktik yang sah. Terutama dalam konteks politik, karya ini digunakan untuk berbagai tujuan, seperti merespons isu-isu atau membangun strategi agenda.

De Sophisticis Elenchis mengupas tentang kesalahan berpikir atau cacat logika yang sudah lama menjadi fokus perhatian para pemikir, terutama tokoh terkemuka seperti Aristoteles pada abad ke-4 hingga ke-3 sebelum Masehi.

Pada masa itu, fenomena ini diselidiki secara mendalam dan ditemukan bahwa terdapat kesalahan berpikir yang disengaja dihasilkan untuk menyesatkan banyak orang. Pada zaman Aristoteles, para sofis menggunakan kecakapan retorika dan kecerdasan mereka untuk memperdaya orang.

Karya ini mengungkapkan teknik-teknik yang digunakan untuk memperdaya orang, di mana walaupun pernyataannya salah, struktur logikanya terlihat benar. Aristoteles menyebut teknik ini sebagai “de Sophisticis elenchis,” yang dapat diartikan sebagai “mengenai cacat-cacat logika yang dimanfaatkan oleh para sofis.” Melihat situasi pada masanya di mana sofis cenderung memanfaatkan kecerdasan mereka untuk membingungkan orang, Aristoteles melakukan analisis mendalam. Filsuf ini menemukan bahwa dasar-dasar kebenaran yang digunakan oleh para sofis sangat lemah, sehingga premis yang digunakan dalam argumen mereka tidak benar, dan sebagai hasilnya, kesimpulannya juga tidak benar.

Aristoteles berhasil mengidentifikasi kesalahan-kesalahan mendasar ini dan mengkritiknya dengan tajam. Karya ini dianggap sebagai salah satu sumbangan penting Aristoteles dalam bidang logika, selain dari kontribusinya terhadap konsep silogisme.

“De Sophisticis Elenchis” mengilustrasikan betapa pentingnya memahami kesalahan-kesalahan berpikir yang dimanfaatkan oleh para sofis. Tanpa pemahaman ini, mungkin kita tidak akan menyadari seberapa seringnya kesenjangan antara kebenaran pernyataan dengan logika berpikir yang benar. Bahkan, cara berpikir yang salah dapat digunakan untuk memengaruhi opini publik, membangkitkan simpati, dan memperoleh dukungan, meskipun argumen yang digunakan sebenarnya didasarkan pada kebohongan, bukan kebenaran.

Mahakarya Aristoteles dalam bidang logika, yang dikenal sebagai “Organon,” mencakup sejumlah buku yang penting:

  1. “Kategori” memperkenalkan klasifikasi Aristoteles yang meliputi substansi, kuantitas, kualitas, relasi, tempat, waktu, situasi, kondisi, tindakan, dan passi.
  2. “Interpretasi” memperkenalkan konsep proposisi dan penilaian, serta hubungan antara pernyataan afirmatif, negatif, universal, dan khusus.
  3. “Prior Analytics” memperkenalkan metode silogisme, berargumen untuk kebenaran, dan membahas inferensi induktif.
  4.  “The Posterior Analytics” berhubungan dengan demonstrasi, definisi, dan pengetahuan ilmiah.
  5. “Topik” membahas cara membangun argumen dan simpulan yang sah berdasarkan kemungkinan.
  6. “Sophistical Refutations” memberikan contoh-contoh kesalahan-kesalahan logika dan memberikan panduan untuk memahami retorika Aristoteles.

Karya ini mengklasifikasikan kesalahan-kesalahan berpikir menjadi dua jenis, yaitu kesalahan dalam bahasa dan kesalahan dalam relevansi. Dalam kesalahan bahasa, terdapat kesalahan aksentuasi, ekuivokasi, amfiboli, dan metaforis. Sedangkan dalam kesalahan relevansi, terdapat 13 jenis kesalahan, antara lain:

  1. Argumentum ad populum (argumen yang mencoba memenangkan dukungan dengan mengklaim mewakili keinginan rakyat).
  2. Argumentum ad auctoritatem (argumen yang bergantung pada otoritas atau pendapat tokoh terkenal).
  3. Argumentum ad Hominem (argumen yang menyerang karakter atau latar belakang individu sebagai cara untuk meragukan argumen mereka).
  4. Argumentum ad baculum (argumen yang menggunakan ancaman atau rasa takut untuk memengaruhi pendapat).
  5. Argumentum ad misericordiam (argumen yang menggunakan rasa kasihan untuk mempengaruhi pendapat).
  6. Argumentum ad verecundiam (argumen yang berusaha memicu perasaan malu atau inferioritas pada lawan bicara).
  7. Ignoratio elenchi (argumen yang menghasilkan kesimpulan yang tidak relevan dengan premisnya).
  8. Argumentum ad ignoratiam (argumen yang menyatakan sesuatu benar karena tidak dapat dibuktikan salah).
  9. Petitio principii (argumen yang menggunakan premis yang sebenarnya adalah kesimpulan yang ingin dibuktikan).
  10. Kesalahan non causa pro causa (mengasumsikan korelasi sebagai sebab akibat).
  11. Kesalahan aksidensi (mengambil generalisasi dari kejadian yang bersifat insidental).
  12. Kesalahan karena komposisi dan divisi (menganggap bahwa sifat individu berlaku untuk kelompok atau sebaliknya).
  13. Kesalahan karena pertanyaan yang kompleks (membuat pernyataan yang sebenarnya kompleks tetapi disusun sedemikian rupa sehingga tampak sederhana).

Demikianlah, ini hanyalah “perkenalan singkat.” Penjelasan lebih lanjut diuraikan dalam buku ini, lengkap dengan contoh-contohnya yang mengilustrasikan setiap jenis kesalahan berpikir.

Bangun logika sesat-pikir apa yang digunakan pakar retorika itu? Ia menerapkan Argumentum ad Hominem (argumen yang menyerang karakter atau latar belakang individu). Dicampurnya pula dengan Argumentum ad verecundiam.

Seseorang itu memang menguasai ilmu rhetorika!

Jika ingin tahu lebih detail, silakan membaca dan mempelajarinya! *)

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply