Definisi Leksikal (Kamus) Saja Tidak Cukup

Pagi ini. Tatkala buka mata. Sembari meneguk secangkir kopi panas. Habitus, yang menjadi ritual, saya adalah memeriksa “List to Do” hari ini.

Di muka saya, persis atas meja tulis, tertera senarainya. Saya wajib menyelesaikan buku, yang mesti segera terbit.

Saya menulis babu (bakal buku) dengan topik “Adat Istiadat, Wilayah, dan Kelompok Etnis”.

Jangankan niat. Terbesit di alam bawah sadar saja tak ada ingin mengajari ikan berenang. Narasi ini semata-mata untuk berbagi dengan para Pembaca.

***

Studi-studi ilmiah dan akademik mengenai adat istiadat suatu suku bangsa, senantiasa mulai dengan menempatkan suatu klan, komunitas, kelompok, grup etnik di suatu lokus atau wilayah yang menjadi tempat tinggalnya (Jean D’Aspremont. 2021 dan Peter Orebech, ‎Fred Bosselman, dkk. 2005). 

Mengapa demikian? Apabila dimengerti dengan saksama, maka sangat kuat lagi jelas alasannya. Suatu komunitas, terutama komunitas yang tergolong “primitif”, bukan pertama-tama dilihat dari cara hidup (modus vivendi) dan cara berada (modus essendi)-nya. Dari asal usul kata Latin “prīmitīvus”, dari kata prīmus (yang pertama) primitif mengacu kepada suatu perikehidupan suatu kaum, suku bangsa, yang khas di tempat itu yang pertama-tama mengandalkan kebersatuan dan kehidupan yang menyatu dengan alam semesta dan lingkungan sekitarnya.

Dengan demikian, pada citarasa pertama dan awal mula, yang disebut primitif itu bukanlah pertama-tama ihwal keterbelakangan (budaya). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pada entri “primitif”, perlu kita cermati, dan berikan catatan. Sebagaimana halnya kamus, sudah tentu entrinya adalah sebagian besar definisi leksikal dari para pengumpul kosa kata. Di dalamnya, dalam proses penyusunan, sebagian besar makna kata berdasarkan kepada penafsiran, atau pengertian si penyusunnya.  Semakin luas dan dalam pemahaman si penafsir akan suatu objek, maka makin jelas pula hasil penafsirannya. 

Camkan definisi leksikal “primitif yang berikut ini:

primitif/pri·mi·tif/ a 1 dalam keadaan yang sangat sederhana; belum maju (tentang peradaban; terbelakang): kebudayaan –; 2 sederhana; kuno (tidak modern tentang peralatan): senjata-senjata —

Demikianlah, dalam Logika Klasik, kita menyebutnya sebagai “isi” dan “luas” suatu term. Isi, atau komprehensi, menunjuk pada keseluruhan arti yang dimaksudkan oleh suatu term. Misalnya, term ”magnet” adalah setiap bahan yang dapat menarik logam besi. Adapun luas atau ekstensi ialah keseluruhan hal yang ditunjuk oleh term. Misalnya, term ”hewan” dapat menunjuk pada ikan, sapi, ayam, ular, dan sebagainya yang dapat ditunujuk atau disebut sebagai hewan.  Antara isi dan luas term terdapat korelasi yang saling berbalikan. Apabila yang satu bertambah, maka yang lain akan berkurang. Sebaliknya, apabila yang satu berkurang, maka yang lainnya akan bertambah. 

Sedemikian rupa, jika kita perhatikan dengan saksama, definisi leksikal, atau makna dari kamus, tidak cukup menjelaskan suatu fenomenon. Apalagi menjelaskan secara komprehensif suatu objek penelitian. Karena itu, sebagai peneliti dan penulis kita wajib mengeksplorasi berbagai inter-teks untuk menjelaskan fenomena.

Jadi, bagaimana, dong?

Kita sendiri, sebagai penulis andal, yang bikin definisi operasional suatu term –manakala kamus/ leksikon/ ensiklopedia, tidak memadai. Sudah tentu, berdasar kepada teori membuat suatu definisi!

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply