Ghost Writer | Penulis yang Namanya tak-diterakan (1)

Saya pernah terpingkal-pingkal. Merasa perut mulas. Separuh miris membaca seorang penulis menerjemahkan “ghost writer” dengan: penulis hantu.

Alaaamak! Sumpah deh. Demi. Gak ngerti benar tu orang. Atau memang gak paham karena pendatang baru dalam dunia tulis menulis?

Jangan dimaknai secara harfiah. Ghost writer berarti: penulis yang menulis untuk orang lain. Atau disebut juga penulis bayangan (harfiah ghost = hantu/ruh), sebab menghantui pikiran, sama saja dengan membayang-bayangi.

Saya banyak menjadi ghost writer bagi orang yang memerlukan.Harusakah kusebut siapa saja penulis yang sudah dibantu?

Nama penulis bayangan tidak tercantum dalam suatu publikasi. Sebab, ia bekerja karena diminta/disuruh pihak lain.

Ia menuliskan pikiran orang dan karena keterampilannya itu, ia dibayar. Hak dan kewajiban dituangkan dalam Kontrak Perjanjian. Namun, senantiasa hak cipta pada pemesan, bukan pada penulis.

Bisa juga seorang penulis bayangan bekerja karena diminta penerbit.

Saat ini. Penerbit membutuhkan banyak naskah untuk bisa tetap bertahan. Mereka memerlukan penulis andal yang tidak saja terampil menulis, tetapi juga cepat menulis.

Anda bisa melakukan pekerjaan itu.
Saya banyak menjadi ghost writer bagi orang yang memerlukan.

Harusakah kusebut siapa saja penulis yang sudah dibantu?

Nggak, ah! Gak etis. Seperti dokter membantu pasien sehat kembali, begitulah seorang dokter-literasi. Pekerjaan itu memang panggilan. Sekaligus kewajibannya.

Di tengah ekonomi kreatif yang sedang marak, di negara maju, ghost writer sebuah profesi sendiri. Apalagi, oleh Howard Gardner. Keterampilan menulis dimasukkan dalam 8 kecerdasan, yakni wordsmart –sebuah profesi yang menjanjikan.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply