Kaharingan dan Hindu

Sejarah mencatat bahwa pada era pengaruh Hindu-India (sejak akhir abad 4 Masehi) Borneo yang kemdian dikenal sebagai Kalimantan sebelumnya bernama Varuna-dvipa.

Sebutan ini karena pulau terbesar ke-3 dunia ini dikelilingi oleh samudera dan oleh banyaknya sungai. Penduduknya menganut agama, atau setidak-tidaknya dipengaruhi, oleh Hindu-India.

Kini terdapat komunitas Dayak yang masih menganut kepercayaan asli, yakni Kaharingan. 

Komunitas Dayak yang mirip dan serupa dengan Hindu di Bali terdapat di desa Mentaren, Kalimantan Tengah. Selain di sini, penganut Kaharingan juga tersebar sampai wilayah Gunung Mas, Tumbang Manggu, hingga Kapuas.

Sebagaimana Pembaca, kami juga belum mafhum bahwa Kaharingan mempunyai Kitab Suci sendiri, yakni Panaturan sebelum memamah-biak buku ini. 

Kehadiran buku ini mencelikkan kita semua. Sebuah pustaka yang wajib dibaca dan dimiliki sejarawan, cerdik cendikia, penulis, jurnalis, dosen, periset serta siapa saja yang cinta damai dan menghargai toleransi (menanggung/ memikul) serta kebhinekaan di Indonesia.

Kaharingan sebagai bagian integral dari Hindu, dianut oleh beragama suku Dayak yang berada di pulau Kalimantan. 

Menurut Dananjaya, agama pribumi di pulau Kalimantan ini pada awalnya disebut oleh Kolonial Belanda sebagai agama helo (da­hulu), dan baru di zaman pendudukan Jepang diberikan nama khas oleh seorang Damang (kepala adat Dayak) yakni Damang Yohanes Salilah yaitu agama Kaharingan.

Nama Kaharingan ini kemudian mendapat restu dari pemerintah Jepang. Hingga sekarang nama tersebut diakui dan diterima oleh masyarakat, ter­utama oleh para pemeluknya. 

Damang Yohanes Salilah, yang pernah menjadi “Balian” atau “Basir” (pinandita Kaharingan) sebelum memeluk agama Kristen, menerangkan bahwa kata “Kaharingan” berasal dari bahasa Sangiang (bahasa Dayak Kuna). Bahasa yang hanya digunakan dalam tuturan/mantra ritual Kaharingan atau bahasa sastra Dayak. Kata “Kaharingan” berarti “dengan sendi­ rinya” (by itself). 

Pustaka yang wajib dibaca dan dimiliki sejarawan, cerdik cendikia, penulis, jurnalis, dosen, periset serta siapa saja yang cinta damai dan menghargai toleransi (menanggung/ memikul) serta kebhinekaan di Indonesia.

Namun, dalam kitab Panaturan dan tutur ritual kata Kaharingan berarti Kehidupan (Koentjaranigrat, 2004: 137). Sedangkan menurut Tjilik Riwut (dalam Nila Riwut, 2003: 478) menjelaskan bahwa kata Kaharingan berasal dari kata “Haring” yang berarti “hidup”.

Kaharingan ada tidak dimulai pada zaman tertentu, Kaharingan telah ada sejak awal penciptaan yang dilakukan oleh Ranying Hatalla. Dengan kata lain Ka­haringan ada sejak adanya kehidupan itu sendiri.

Hanya sedikit yang mengetahui bahwa sesungguhnya Kaharingan adalah Hindu dan Hindu adalah Kaharingan. Sedemikian rupa, sehingga integrasi Kaharingan ke dalam Hindu tidak sekadar untuk mendapatkan payung hukum, namun sebuah peristiwa mulia atas kehendak Ranying Hatalla (sebutan Tuhan dalam bahasa Sangiang) agar ajaran Kaharingan dapat bersinar dan menjadi Nyalung Kaharingan Belum (air suci kehidupan) bagi umat manusia ditengah krisis identitas yang dihadapi oleh panakan Raja Bunu (umat Kaharingan) itu sendiri.

Dari buku ini kita mengetahui bahwa kebersamaan antara Hindu dan Kaharingan sejak berinteg­ rasi pada tahun 1980, dipahami oleh banyak kalangan hanya sebatas sebuah upaya mendapatkan legalitas hukum bagi umat  Kaharingan, sehingga mendapat pembinaan dari Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Bimbing­an Masyarakat Hindu.

Ditulis seorang ilmuwan Dayak, Tiwi Etika yang mengambil program Doktor di India, buku ini adalah nyala yang menerangi akal budi dan hati kita memandang Kaharingan dalam perpektif masa lalu, kini, dan akan datang.  *)

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply