Leadpreneurship| Memimpin dengan Untung

Lama gonta ganti. Apa padanan yang pas untuk “leadpreneurship”?

Hal itu mengingat belum ada dalam kosa kata Indonesia. Lead = memimpin. Preneurship – kewirausahaan. Sama sekali tidak enak didengar: Memimpin dengan kewirausahaan. Maka setelah ditimbang-timbang. Jadilah judul artikel yang mengulas buku ini.

Pagi ini. Tanggal pertama dalam bulan Desmber 2022. Sembari menyeruput kopi. Samping teras rumah. Depan kolam ikan.

Saya memamah biak dan sekaligus menulis satu chapter buku di mana saya diminta jadi co-author oleh seorang doktor yang mengajar mata kuliah Entrepreneurship atau Kewirausahaan.

Read and emulate great writing -> demikianlah saya senantiasa melakukan. Sekaligus mengajarkan. Bahwa apabila kita ingin menghasilkan mahakarya maka kita pun harus memamah biak dari mahakarya itu secara langsung dari sumber primernya.

Saya langsung membaca buku-buku dari Drucker, dari Chairul Tanjung. Selain mencermati bagaimana pengusaha sejati seperti Hamka di dalam hang membangun mesin moral menjadi seorang entrepreneur. Bahwa pertama-tama bukan soal pamer kekayaan dan aset kepada publik, melainkan terletak pada sikap moral.

Dalam hal ini, saya ingat akan nasihat Hamka yang berikut ini: kala kaya, jadilah orang kaya terhormat.

Pemimpin masa depan. Bukan hanya dituntut pandai membawa lembaga dan SDM mencapai tujuan. Tapi juga membuatnya untung –dalam makna harfiah maupun simbolik.

Namun, topik mengenai cracy rich ini, lain kali saja kita bahas. Kita fokus pada apa yang saya baca dan lakukan pagi ini.

Di dalam buku Leadpreneurship, atau menjadi pemimpin yang berjiwa wirausaha, Profesor Doktor AB Susanto memaparkan hal yang berikut ini.

Wirausahawan sejati bukan semata-mata orang yang menyediakan lapangan pekerjaan dan menyiapkan gaji rutin kepada karyawan.

Lebih dari itu. Seorang wirausaha sejati adalah seorang yang senantiasa terprogram di dalam hal menyediakan benih, menaburkannya secara tepat tempat dan waktu. Kemudian memperbesar dan semakin memperbanyak kolam.

Susanto, yang dikenal pakar manajemen strategik dan pemilik The Jakarta Consulting Group juga pengusaha berlian menyatakan hal yang demikian ini:

“Entrepreneurship pada galibnya adalah upaya menciptakan nilai tambah kemah dengan menangkap peluang bisnis dan mengelola sumber daya untuk mewujudkan nya. Tentu harus disertai pengambilan resiko dalam porsi yang tepat.” (hlm. 3).

Buku sampul merah darah terbitan Esensi, salah satu kelompok Erlangga, terbit tahun 2009. Tidak tebal. “Hanya” 114 halaman saja.

Tapi sajian gizi menu kandungan di dalamnya sungguh bernas. Bagai bulir padi. Daging semua!

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply