Mediamorphosis| Turning Obstacles into Opportunities

Mediamorfosis berasal dari kata Latin “medium” (tunggal) “media” (jamak) yang berarti: pertengahan, tengah, pusat (K. Prent, et al., 1969: 525). Adapun “morfosis” berasal dari kata Yunani μορφόω (morfoein) yang berarti: bentuk atau penampilan.

Dengan demikian, mediamorfosis dapat diartikan sebagai: satu kesatuan pemikiran terhadap evolusi teknologi media komunikasi. Di Indonesia, evolusi teknologi media komunikasi ini mulaipada akhir tahun 1990-an, ketika internet mulai merasuki kehidupan umat manusia.

Sejak itu, era digitalisasi seakan-akan merupakan suatu keniscayaan menggantikan media konvensional seiring dengan perubahan dan dinamika kehidupan masyarakat dunia.

Dengan demikian, perubahan evolusi bukan hanya terjadi pada alat, melainkan juga pada cara berada dan cara hidup manusia.

Media adalah alat komunikasi untuk menyampaikan pesan dan atau informasi secara massal Terutama sejak mesin cetak ditemukan Gutenberg (1450) upaya menyampaikan pesan dan atau informasi secara massal tersebut berkembang pesat. Sedemikian rupa, menjadi industri.

Jika sebelumnya teknologi hanya dapat menggandakan atau menduplikasikan beberapa kopi, sejak mesin cetak ditemukan, terjadi mediamorfosis.

Sebelumnya, orang menyampaikan pesan dan atau informasi melalui media batu, daun lontar, pilar, dan vellum (kulit binatang). Sejak mesin cetak ditemukan, media tersebut perlahan-lahan ditinggalkan, namun juga terus-menerus beradaptasi.

Dalam konteks ini, manusia disebut sebagai koevolusi dan koeksistensi perkembangan teknologi komunikasi.

Dalam media selalu terdapat dua unsur penting, yakni pesan atau informasi (content) dan alat penyampaiannya yang disebut media.

Pada saat mesin cetak ditemukan, mesin cetak ini dapat menggandakan sejumlah besar kopi dari content yang sama sehingga dapat menyampaikan pesan dan atau informasi yang sama dalam waktu yang bersamaan.

Tidak mudah. Akan tetapi, bisa! Jika saja kreatif, dan lincah, bermain-main dalam pusaran gelombang dinamika zaman dan manusia dalam alam Mediamorfosis itu.

Media tidak hidup sendirian, ia berkonvergensi dengan media lain, masing-masing dengan domain-nya (Fidler, 1997: 45). Sebagai contoh, media cetak media cetak hidup dan tumbuh bersama dengan media elektronika.

Sesuai dengan teori Uses and Gratification (Blumer dan Katz, 1974), sesungguhnya setiap media dapat bertahan hidup karena mempunyai kelebihan dan keterbatasan masing-masing. Masalahnya, bagaimana pengelola media dapat menangkap peluang dari perubahan yang terjadi?

Dengan kata lain, bagaimana mediamorfosis disikapi secara kreatif, dengan mengubah tantangan menjadi peluang?

Tetapi buku Fidler ini sungguh beerguna. Menjelaskan koevolusi dan koeksistensi teknologi (media), manusia, dan zamannya. Namun, ISI media tidak pernah berubah. Hanya bentuk penyampaian dan model pesannya yang berubah.

Bagaimana mengemas konten menjadi sajian gizi menu media, bukan hanya bernilai dari sisi edukasi, hiburan, dan informasi; melainkan juga sebagai industri (komoditas).

Kita saksikan di sekitar. Banyak media mainstream –media cetak– terpaksa tutup. Namun, ada yang bisa mengubah hambatan (tantangan) menjadi peluang. Turning Obstacles into Opportumities.

Tidak mudah. Akan tetapi, bisa! Jika saja kreatif, dan lincah, bermain-main dalam pusaran gelombang dinamika zaman dan manusia dalam alam Mediamorfosis itu.

Ini yang seang saya jalani. Seperti dapat Anda saksikan dalam portal kita ini.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply