Author I M.S. Gumelar ©2025
Baca cerita Legenda Sundaland ini dalam format Ebook di sini
Sekitar enam puluh ribu tahun yang lalu. Pagi hari waktu lokal. Di dalam kokpit pesawat lintas ruang dan waktu yang berbentuk seperti telur pipih menyerupai gong.
“Sial! Siaaal!” teriak seorang perempuan yang ada di dalamnya dengan panik.
Pesawat tersebut oleng dan mengarah ke Sungai Mahakam dan tercebur ke dalamnya dengan keras.
Sepasang suami istri yang melihat hal tersebut terkesima dengan kejadian tersebut.
Tak berapa lama mereka melihat di area di mana pesawat itu tenggelam terlihat buih-buih air yang bermunculan awalnya perlahan kemudian semakin kencang dan deras lalu pesawat berbentuk seperti telur pipih atau gong tersebut mulai muncul dan mengambang di Sungai Mahakam.
Kemudian muncul perlahan dari dalamnya seorang gadis yang cantik dengan pakaian aneh.
Sepasang suami istri tersebut tertegun, tidak beranjak, sampai gadis tersebut bergerak turun dari gong yang aneh tersebut di tepi sungai, dan anehnya, gong tersebut mendadak mengecil, diambilnya gong tersebut oleh si gadis dan diletakkanya di dalam sakunya.
Si gadis kemudian mendekati sepasang suami istri yang sudah terlihat sebagai penduduk yang berusia sangat senior sekitar delapan puluh tahunan.
“Eh… saya… di mana area ini? Saya Karang Melenu” tanyanya kepada kedua orang tersebut.
Kedua orang tersebut tampak tidak mengerti.
“Oh… tunggu,” kata Karang Melenu, kemudian seperti menyentuh sesuatu di tangannya dan berkata, “Scan bahasa apa yang digunakan oleh penduduk area sini, dan pastikan apa yang kukatakan otomatis ter-translate dalam bahasa lokal penduduk sini,” ucap Karang Melenu dengan bahasanya sendiri.
“Selesai, kau akan dapat berbicara dan mengerti bahasa lokal penduduk sini,” ucap suara muncul di telinga Karang Melenu.
“Sempurna!” Puji Karang Melenu,”Hm… mari kita ulangi lagi.”
“Selamat pagi, saya berada di mana tepatnya?” Tanya Karang Melenu kepada kedua orang tersebut.
“Oh… kupikir kau tidak dapat berbicara dalam bahasa lokal di sini, ini Sungai Mahakam, kau berada di wilayah Suku Tunjung…” jelas si pria tersebut.
“Eh… tepatnya lebih dekat dengan wilayah Benuaq,” tambah si perempuan sembari melihat ke Karang Melenu dengan pandangan terkesima.
“Ya… ya kau dapat bilang ini wilayah bagian dari dua desa, yaitu Tunjung dan Benuaq, kita berada hampir di tengah-tengahnya,” tambah si pria.
“Oh ya… kenapa kau muncul dari dasar Sungai Mahakam? Dan kenapa perahumu yang seperti gong atau telur pipih itu dapat menjadi kecil?” tanya si perempuan.
“Oh… eh… yah… eh… aku bukan berasal dari sini, eh… aku… eh seorang keturunan naga… aku putri naga,” jawab Karang Melenu sekenanya, karena untuk menjelaskan hal yang sebenarnya akan sangat sulit diterima dengan akal bagi kedua orang ini.
Tidak ada maksud untuk berbohong, hanya menjelaskan sesuai dengan pemikiran banyak orang pada umumnya di masa itu.
“Putri Naga pantas kau memiliki kesaktian seperti seorang petara? Siapa namamu Putri?” tanya pria tersebut.
“Namaku Karang Melenu,” jawabnya.
“Karang Melenu, nama yang indah, namaku Babu Jaruma,” perempuan itu menyebutkan namanya.
“Saya Lalong,” pria tersebut ikut menyebutkan namanya.
“Di mana saya dapat menginap malam ini? Adakah penginapan di dekat sini?” Tanya Karang Melenu.
“Di desa Melanti ini tidak ada penginapan, penginapan sangat jauh dari sini, sekitar 14 hari perjalanan naik kuda,” jelas Lalong.
“Sebaiknya menginap di rumah kami untuk sementara ini,” undang Babu Jaruma.
“Terima kasih! Saya sangat senang sekali diundang untuk menginap di rumah kalian,” Karang Melenu tersenyum.
“Ayo ikut kami,” ajak Babu Jaruma.
Karang Melenu berjalan perlahan mengikuti kedua orang tersebut ke suatu arah menjauhi tepi Sungai Mahakam.
Tidak lama sekitar 30 menit berjalan mereka tiba di suatu rumah radakng. Gerak Lalong dan Babu Jaruma tampak masih gesit di usia yang tidak lagi muda.
“Apai Lalong, siapa gadis ini.” Tanya salah satu sesepuh rumah Radakng tersebut.
“Oh… dia Putri Karang Melenu, seorang putri naga muncul dari kedalaman dan buih Sungai Mahakam… dia untuk sementara ini akan tinggal bersama kita dalam beberapa waktu,” jelas Apai Lalong.
“Oh begitu, baiklah Hulu Dusun… kurasa hal ini merupakan kehormatan bagi rumah Radakng ini dikunjungi oleh seorang putri keturunan naga,” jawab sesepuh tersebut kemudian memberikan hormat sembah kepada Karang Melenu.
Karang Melenu membalas sembah tersebut dengan ramah dan tersenyum kepada semua orang yang hadir saat itu di depan Radakng yang dikepalai oleh Apai Lalong.
Sesampainya dalam radakng, ”Sebenarnya hendak ke mana putri ini sehingga sudi untuk mengunjungi desa ini?” tanya Babu Jaruma.
“Eh… perahuku sedang rusak, aku memerlukan beberapa bagian yang diperlukan di sekitar area ini untuk memperbaikinya,” jawab Karang Melenu.
“Oh… ada pasar perahu tidak jauh dari sini, perlu sekitar 3 hari perjalanan untuk mencapainya dengan berkuda,” jelas Apai Lalong.
“Siapa nama naga raja ayahmu,” tanya Babu Jaruma.
“Era ini… tak tahulah…,” Karang Melenu menjawab sekenanya.
Tetapi yang terdengar oleh Babu Jaruma adalah “Oh… Raja Naga Erau,” celetuknya.
“Eh… I… iyaaa,” Karang Melenu gelagapan, tetapi mengiyakannya juga.
“Semoga suatu hari aku dapat bertemu dengan ayahmu, Naga Erau,” Babu Jaruma berharap sembari tersenyum kepada Karang Melenu.
“Ah… iya, semoga,” Karang Melenu ngeset merasa bersalah.
“Mari ikut aku, akan kutunjukkan kamar buatmu,” Babu Jaruma mengajak Karang Melenu ke suatu ruangan.
“Ini kamar yang telah kusiapkan untuk calon anakku, aku mendambakan anak perempuan, sepertimu, tetapi bahkan sampai seusia ini, kami belum beruntung dikaruniai seorang anak oleh para petara,” jelas Babu Jaruma sembari matanya berkaca-kaca.
Karang Melenu mendekati Babu Jaruma dan memegang pundaknya, tanda ikut prihatin.
Babu Jaruma memegang tangan Karang Melenu yang ada di pundaknya sembari tersenyum.
“Kau tidur di kamar ini, kami baru saja gawai padi, jadi kami hari ini banyak berlimpah makanan, sebentar lagi makan siang, kami sedang mempersiapkannya” jelas Babu Jaruma kemudian bergerak ke luar area kamar.
“Baik Ine, terima kasih banyak!” ucap Karang Melenu sembari memberikan sembah.
Babu Jaruma segera meninggalkan Karang Melenu di kamarnya.
Karang Melenu duduk di tepi ranjang kayu dan melihat ke arah luar jendela dari kamarnya.
Kemudian Karang Melenu berjalan ke arah jendela kamar. Dia melihat beberapa anak laki dan perempuan berkeliaran di depan jendelanya sembari tersenyum dan berteriak menyapanya.
“Scan area sini, apakah ada peradaban canggih yang sesuai dengan teknologi kita, kuantum organik guna membenahi kerusakan pesawat kuantum organik kita?” perintah suara Karang Melenu kepada komputer kuantum organik yang ada di kepalanya.
”Sejauh ini belum terdeteksi, masih perlu waktu sampai selesai malam nanti,” jawab komputer kuantum organik yang ada di kepalanya, tertera juga di retina matanya menunjukkan waktu tepatnya kapan scan akan selesai.
“Sial, sepertinya untuk sementara waktu, aku terjebak di masa ini,” keluh Karang Melenu lalu duduk dengan kesal di ranjang kamar tersebut dan meletakkan kedua tangannya di kepala.
*
“Putri… ke sini,” Babu Jaruma menggerakkan tangannya ke arah Karang Melenu saat gadis tersebut terlalu jauh dari tempat berkumpul untuk makan siang.
Karang Melenu segera mendekati Babu Jaruma,”Nih… kau harus tahu makanan khas sini, ini namanya juhu singkah, dan ini wadi ada yang dari daging rusa, babi, dan yang aku suka daging bebek.”
Karang Melenu mengangguk-angguk tanda mengerti,”Aku juga suka bebek!”
“Bagus kalau begitu… ini juhu asam urai… terasa segar, serta ikan baong dan lais yang dibakar di dalam batang bambu… cara ini disebut lemang atau pansoh!” jelas Babu Jaruma panjang lebar.
“Oh…,” Karang Melenu mengomentari sebagai tanda baru tahu.
Karang Melenu saat makan siang menjadi perhatian warga sekitar yang ingin tahu seperti apa wujud dari anak seorang raja naga.
Mereka mudah untuk mengetahui yang mana Putri Karang Melenu karena pakaiannya sangat berbeda dengan semua warga yang sedang bergawai dan makan siang di rumah lamin atau rumah radakng tersebut.
Mereka melihat pakaian yang dikenakan Karang Melenu semuanya berwarna putih bersih, baju ketat, celana panjang, dan memakai sejenis sepatu yang tinggi yang juga berwarna putih, mengenakan sarung tangan, dan matanya seperti terkadang ada muncul bintik-bintik cahaya di dalam retina matanya.
Mereka terpesona dengan mata Putri Karang Melenu yang terkadang muncul bintik-bintik seperti sinar-sinar kecil.
“Matamu seperti ada sinar-sinar kecil, apakah itu?” tanya seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahunan dengan penasaran menanyakan kepada Karang Melenu.
“Oh… uh… ini adalah sinar sebagai pertanda saya anak raja naga,” jawab Karang Melenu sekenanya, karena sulit menjelaskan ke mereka.
Mereka tentu tidak perlu tahu bahwa sebenarnya itu adalah teks dan bahkan terkadang gambar diam ataupun video yang ditayangkan di dalam retina matanya untuk berkomunikasi dengan orang lain yang memiliki teknologi yang sama atau sekadar berkomunikasi dengan komputer yang ada di dalam kepalanya.
“Oh… aku ingin seperti itu,” ucap anak tersebut.
“Kalau kau anak raja naga, kau pasti bisa!” timpal seorang anak lelaki remaja sekitar 15 tahunan sembari mengangkat dan menggendong anak tersebut yang tertawa karena digelitik oleh yang menggendongnya.
Karang Melenu tertawa melihat ulah mereka.
“Bagaimana makan siangmu, apakah kau suka?” tanya Apai Lalong sebagai kepala hulu rumah lamin tersebut.
“Oh… saya suka sekali Apai, benar kata Babu Jaruma, daging bebek wadi ini enak sekali,” jawab Karang Melenu.
“Ayo… nambah… nambah…,” Apai Lalong mempersilakan Karang Melenu untuk menambah lagi bebek wadi yang dia suka.
Karang Melenu pun segera melakukannya.
Anak lelaki yang berusia 15 tahun sebelumnya yang menggendong anak kecil mendekati Karang Melenu dan bertanya,”Apa Putri sudah punya rencana kapan akan kembali ke Raja Naga Erau?”
“Eh… belum, memang kenapa?” tanya Karang Melenu.
“Aku ingin ikut ke tempatmu,” jelas anak remaja tersebut.
“Kau sepertinya suka berpetualang?” tanya Karang Melenu.
“Heeeeeee…” anak tersebut ngeset.
Karang Melenu ikut tersenyum kecut.
“Menurutmu kerajaan ayahku… Raja Naga Erau ada di mana?” tanya Karang Melenu kepada anak remaja tersebut.
“Entahlah… sepertinya sesuai dengan aliran Sungai Mahakam… tinggal mengikutinya sampai ke hulu saja,” jawab anak tersebut menduga.
“Kau tahu nama Raja Naga Erau dari mana?” tanya Karang Melenu.
“Dari cerita Ama bahwa Raja Naga Erau adalah naga yang baik pelindung rakyat yang tertindas, aku ingin seperti Raja Naga Erau menjadi pembela orang yang tertindas.” jelas anak remaja tersebut bersemangat.
“Amamu sangat baik memberikan cerita teladan tentang Raja Naga Erau… siapa namamu?” tanya Karang Melenu.
“Namaku Bujakng Kelikng,” jawab remaja pria tersebut.
“Ayo… ayo berkumpul ke sini, kita akan menari bersama…” ajak Babu Jaruma, kemudian memberikan hiasan kepala seperti bandana ke pada Karang Melenu.
Karang Melenu merunduk agar Babu Jaruma dapat meletakkan hiasan tersebut di kepalanya.
“Ini namanya talingaan atau dapat disebut dengan nama seret,” jelas Babu Jaruma sembari membenarkan letak hiasan tersebut di kepala Karang Melenu.
“Bagi aku… karena pria aku mengenakan ketapu silung,” ucap Bujakng Kelikng sembari menunjukkan hiasan kepala yang berhiaskan bulu burung enggang dan beberapa pria yang hadir ada yang menggunakan bulu ayam hutan, manik-manik, kulit, dan kain ulap doyo.
Babu Jaruma menggandeng Karang Melenu yang diikuti oleh Kelikng di belakangnya.
“Ikuti gerakan tari para perempuan di sini, ini tari Kancet Ledo,” jelas Babu Jaruma sembari memberikan kipas dari bulu ayam hutan.
Karang Melenu mengikuti gerakan tari para perempuan suku Dayak Benuaq tersebut, beberapa gadis lainnya ikut menari dan tertawa saat Karang Melenu keliru mengikuti gerakan mereka, tetapi Karang Melenu malah sengaja melakukan gerakan tari yang menurut mereka aneh tetapi menghibur.
Tak terasa hari mulai merayap sore dan mulai menjelang malam
*
“Scan selesai,” info terbaru di kepala dan retina mata Karang Melenu.
“Bagus, apakah ada peradaban tersembunyi yang canggih di area sini?” tanya Karang Melenu.
“Tidak ada di sekitar sini, tetapi ada di area yang jauh,” jelas komputer kuantum organik yang ada di kepala Karang Melenu.
“Definisikan jauh tersebut, lokasinya di mana?” tanya Karang Melenu.
“Di area Sungai Niah…” jelas komputer kuantum organik.
“Raja Naga Erau…” gumam Karang Melenu.
“Putri, makan malam sudah siap,” ucap salah satu perempuan mewakili Babu Jaruma.
“Baik, di mana Babu Jaruma?” tanya Karang Melenu.
“Sudah menunggu di ruang makan,” jawab perempuan tersebut.
Karang Melenu segera mengikuti perempuan tersebut ke area makan malam.
“Nama ine siapa?” tanya Karang Melenu.
“Aku Sepunti, ibunya Kelikng,” jawab Sepunti sembari tersenyum.
“Ah… ini dia Putri Karang Melenu,” jelas Apai Lalong saat Karang Melenu muncul di ruang makan malam bersama.
“Kenalkan Ladja…” ucap Apai Lalong kepada Karang Melenu mengenalkan lelaki berumur sekitar 30 tahunan.
“Salam kenal, saya Karang Melenu,” Karang Melenu melakukan sembah hormat kepada Ladja.
“Ladja adalah tamu jauh yang juga kebetulan menginap malam ini di sini,” jelas Apai Lalong.
“Ayo… ayo sile makan dahulu…,” ajak Babu Jaruma.
Mereka pun menikmati makan malam dengan saling bercerita.
“… hingga aku sampai di Sungai Niah…” ucap Ladja.
“Sungai Niah katamu?” Karang Melenu menegaskan.
“Iyaa… Sungai Niah, Sungai kecil di area utara dari sini” jelas Ladja.
“Aku ada tujuan ke sana,” jelas Karang Melenu.
“Ah… aku tahu arahnya, sering kukunjungi,” jelas Ladja mantap.
“Kapan rencananya kau akan ke sana?” tanya Apai Lalong.
“Besok…,” jawab Karang Melenu.
“Bolehkah anakku Kelikng ikut?” tanya Sepunti.
Karang Melenu melihat ke mata Sepunti,”Apa Ine setuju Kelikng berpetualang? Menghadapi potensi bahaya?”
“Sejak ayahnya meninggal lima tahun lalu, Kelikng banyak berburu menggantikan ayahnya, banyak hal yang dia lihat dan alami, dia ingin mengembara melihat dunia yang luas ini, terutama terinspirasi oleh Raja Naga Erau yang diceritakan ayahnya,” jelas Sepunti.
“Baiklah… dia boleh ikut,” jawab Karang Melenu.
“Aku siap untuk menemanimu ke Sungai Niah, sebab kebetulan arahku juga ke sana,” jelas Ladja.
*
Esok hari. Tampak Rombongan kecil yang dipandu oleh Ladja, terlihat Karang Melenu, dan Kelikng sudah siap berangkat.
Terlihat Karang Melenu dipeluk oleh Babu Jaruma, sembari matanya sembab,”Walau hanya sehari saja, aku merasa aku mengenalmu bertahun-tahun seolah kau adalah anakku yang seharusnya kami miliki selama ini, kembalilah ke sini setelah dari sana, ini adalah rumah barumu!”
“Baik Ine,” jawab Karang Melenu sembari melirik ke Apai Lalong yang juga tersenyum kepadanya.
“Benar, ini adalah rumahmu, kembalilah kapan pun kau suka,” tambah Apai Lalong dengan lirih sembari menepuk dan memegang pundak Karang Melenu.
“Baik Apai, saya pasti akan kembali,” jawab Karang Melenu menghibur, tidak yakin akan kembali atau tidak.
Tampak Karang Melenu canggung menaikki kudanya dan hampir jatuh, dengan cepat Kelikng menahannya.
“Terima kasih,” ucap Karang Melenu kepada Kelikng.
Kelikng membantu Karang Melenu menaikki dan menuntun kuda tersebut secara perlahan kemudian melepaskannya setelah yakin Karang Melenu dapat melanjutkannya sendiri.
Tak berapa lama kemudian rombongan bergerak perlahan dengan menaikki kuda masing-masing.
Setelah melewati batas desa,“Berapa lama perkiraan perjalanan berkuda dari sini ke Sungai Niah?” Tanya Kelikng.
“Pertanyaan yang bagus, tergantung kecepatan kita berkuda, dan juga seberapa lama kita akan menginap di suatu tempat, jadi perkiraan sekitar 20 sampai 30 harian,” jelas Ladja.
“Hm… lumayan juga,” Karang Melenu ikut menimpali.
“Adakah jalur yang lebih cepat?” tanya Karang Melenu.
“Ada, tetapi lebih berbahaya bagi kita dan juga kuda akan semakin sulit dikendalikan karena naik dan turun bukit yang curam, bila itu kita lakukan, mungkin sekitar 15 hari tanpa banyak beristirahat akan sampai di sana,” jelas Ladja.
“Oh… kupikir akan lebih cepat lagi?” Karang Melenu tampak kecewa.
“Ha ha ha… Putri kalau ada ide yang lebih baik dan sebagai putri raja naga tentu punya kesaktian yang mungkin dapat memberi solusi,” ucap Kelikng berharap lebih kepada Karang Melenu.
“Karena kau mengingatkanku… ya… aku punya,” jawab Karang Melenu dengan tersenyum.
Karang Melenu menghentikan kudanya dan turun. Kemudian merogoh sakunya, dikeluarkannya sejenis pintu mini dan diletakkannya di tanah.
Mendadak pintu tersebut membesar dan kemudian menyentuh beberapa tombol.
OOOOOOOOOOOOOM!
Pintu tersebut mendadak seperti mendengung dan di dalam pintunya muncul seperti riak pusaran air kemudian tenang, pintu tersebut kini seperti jendela dan terlihat area lain di dalamnya.
Ladja dan Kelikng turun dari kudanya.
Heran dengan kejadian tersebut, mereka melihat sekeliling pintu tersebut, heran dengan pemandangan yang ada di dalam pintu tersebut yang sangat berbeda dengan area mereka saat ini.
“Saat kita masuk, kita akan sampai di area Sungai Niah!” jelas Karang Melenu gembira.
Kemudian Karang Melenu menaikki kudanya dan memasuki pintu tersebut. Karang Melenu melambaikan tangannya ke arah Ladja dan Kelikng yang masih bengong.
Ladja dan Kelikng mengikutinya masuk ke pintu tersebut.
Ajaib. Mendadak Ladja dan Kelikng berada di Sungai Niah.
“Eh… kalian meninggalkan kuda kalian masih di sana!” Karang Melenu mengingatkan.
Ladja dan Kelikng melihat ke pintu, ya, kuda mereka masih di sana, dengan bergegas Ladja dan Kelikng kembali memasuki pintu tersebut dan membawa kuda mereka ke Sungai Niah dengan cepat.
“Seperti mimpi, kau memang Putri Raja Naga Erau!” puji Kelikng dengan berteriak gembira sembari melihat ke Karang Melenu.
“Luar biasa Putri!” Puji Ladja,”Hal ini baru aku alami dalam hidupku!”
Karang Melenu segera menyentuh pintu tersebut dan menjadi kecil lagi, kemudian memasukkan ke dalam sakunya.
“Ajaib! Kesaktian apa itu namanya?” tanya Kelikng.
“Oh ini namanya pintu teleport dengan teknologi kuantum organik, hanya dapat melakukan teleport saja, tidak dapat lintas waktu karena fungsinya dibatasi demikian,” jelas Karang Melenu.
“Oh…,” Ladja dan Kelikng menjawab seolah mengerti, padahal tidak sama sekali.
Karang Melenu tersenyum melihat hal itu.
“Nah… kini ayo ke area tujuanku,” ajak Karang Melenu sembari melihat peta yang muncul di retina matanya.
“Lokasi area teknologi terkunci,” tulisan di retina matanya dan suara muncul di kepalanya tanda bahwa komputer kuantum organik yang berada di kepalanya sedang aktif menunjukkan arah sekaligus tracking lokasi.
“Uh… sepertinya aku sudah tidak perlu lagi membimbingmu ke Sungai Niah, itu Sungai Niah sudah di depan mata,” tunjuk Ladja ke sungai yang tidak jauh dari mereka berada.
“Oh… iya, benar,” jawab Karang Melenu.
“Jadi selamat berpisah, aku akan ke saudaraku yang berada tidak jauh di dekat pemukiman desa area sini, sampai bertemu lagi!” ucap Landja sembari menaikki kudanya dan mengangguk ke arah Karang Melenu dan Kelikng lalu kudanya bergerak menjauh.
“Ayo Kelikng, ikuti aku,” ajak Karang Melenu.
Kelikng menganggukkan kepala dan mengikuti Karang Melenu yang sudah menaikki kudanya dan bergerak ke satu arah.
“Target lokasi bergerak!” jelas komputer kuantum organik yang ada di kepalanya.
“Dimengerti, sepertinya teknologinya portabel seperti milik kita,” ucap Karang Melenu.
“Kau berbicara dengan siapa?” tanya Kelikng.
“Oh… dengan ayahku, dia dapat berkomunikasi denganku dengan jarak jauh, telepati,” jelas Karang Melenu.
“Oh… kesaktian yang luar biasa, sampaikan salahku pada Raja Naga, Kelikng menyampaikan hormat!” ujar Kelikng.
“Eh… iya, terima kasih jawab ayahku” ucap Karang Melenu menghibur.
Kelikng tampak tersenyum,”Tidak kukira pertemuan kita membawaku berpertualang dan bertemu Raja Naga, suatu kehormatan bagiku.”
Karang Melenu tersenyum mengangguk kepada Kelikng.
“Disarankan untuk menggunakan alat teleport untuk mencegat agar target dapat dikejar lebih cepat,” komputer kuantum organik di kepala Karang Melenu memberi info dan saran.
“Ah… tidak… terima kasih, aku perlu menikmati perjalanan ini, tidak jauh kita akan bertemu dengan si pembawa teknologi canggih tersebut, sepertinya dengan kecepatan itu kecepatan seseorang yang berjalan kaki dengan cepat,” Karang Melenu menganalisis.
“Kita akan ke area lokasi sekitar 30 menit, kau perlu ngopi?” tanya Karang Melenu kepada Kelikng.
“Ya, kopi akan sangat enak di minum di hari menjelang siang ini,” jawab Kelikng.
“Kita akan minum kopi saat kita melewati warung kecil di area sini, jika ada,” jelas Karang Melenu.
Semakin mendekati area lokasi yang terus bergerak menjauh, mereka melewati sejenis pasar kecil di area pinggir Sungai Niah.
Orang-orang di pasar kecil tersebut tertegun melihat pakaian Karang Melenu yang unik yang didampingi seorang remaja pria yang tampak seperti seorang kesatria.
Karang Melenu berhenti di salah satu kedai dari deretan warung kecil yang ada. Menambatkan kudanya dan berjalan ke depan kedai.
Kemudian berkata,”Dua kopi, satunya tanpa gula, satunya dengan gula.”
“Baik,” jawab pria pemilik kedai sembari tersenyum.
Tak berapa lama pria pemilik kedai menyodorkan kopi panas kepada keduanya.
“Kau tampak dari area jauh, dari manakah?” tanya pria pemilik kedai sembari merapikan dagangannya.
“Dari Sungai Mahakam!” jawab Kelikng mewakili Karang Melenu.
Karang Melenu mengangguk mengiyakan jawaban tersebut.
“Oh… selamat datang di area sini, di sini adalah desa Iban,” jawab pria pemilik kedai yang berusia sekitar 60 tahunan.
“Iban… aku dari desa Benuaq! Dan ini Putri Karang Melenu anak Raja Naga Erau!” jelas Kelikng.
“Anak Raja Naga Erau?” Pria pemilik kedai itu mengulanginya lagi.
“Maksudmu Naga Berauna?” Pria itu memberikan nama yang sesuai dengan apa yang mereka alami.
“Oh… jadi nama aslinya Berauna?” Kelikng menegaskan bahwa dia tidak salah dengar dan mengambil kacang rebus, mengupas dan malahapnya.
”Iya… Berauna… kami juluki juga sebagai Nabau,” jelas pria pemilik kedai.
“Nabau adalah julukan artinya naga air pelindung area sini, dia adalah pahlawan bagi kami,” jelas pria pemilik kedai tersebut.
“Hm… menarik, apakah kalian sering bertemu dengannya?” tanya Kelikng sembari mengambil pisang rebus dan segera melahapnya.
“Sesekali Nabau berkunjung ke area sini untuk memastikan tidak ada penjahat yang membuat onar,” jelas pria pemilik kedai tersebut.
“Dan ini baru pertama kalinya melihat anak gadisnya, jadi selama ini kami salah, kami pikir Nabau belum memiliki anak,” jelas pria pemilik kedai.
“Hekh…,” Karang Melenu tersedak saat meminum kopi pahitnya saat mendengar hal tersebut.
“Tapi… mungkin saja dia sembunyikan, karena dari segi pakaian, kurang lebih jenis pakaiannya mirip seperti yang dikenakan oleh putri ini,” lanjut pria pemilik kedai.
Karang Melenu tersenyum mengangguk kepada pria pemilik kedai tersebut.
“Ayo Kelikng, sebentar lagi kita akan bertemu dengan ayahku,” ajak Karang Melenu.
“Kau belum membayar kopinya?” tanya Kelikng kepada Karang Melenu.
“Tidak… tidak perlu, Nabau adalah pelindung kami, jadi tidak perlu membayar,” jawab pria pemilik kedai.
“Terima kasih,” Karang Melenu memberikan sembah. Diikuti oleh Kelikng.
“Ayo Kelikng, kali ini kita harus bergegas,” ucap Karang Melenu sembari mengarahkan kudanya agar lebih cepat bergerak.
Sesampainya di suatu gua. Mereka berhenti, dan Karang Melenu turun dari kudanya. Kelikng mengikutinya.
“Target di dalam gua, tidak bergerak lagi,” jelas komputer kuantum organik yang ada di kepalanya.
Karang Melenu masuk ke dalam gua, mengikuti arah peta yang ditunjukkan di retina matanya.
Tidak jauh dari sana, terlihat seseorang tengah menggenggam sejenis pistol canggih.
“Jangan mendekat, siapa kau?” tanya orang tersebut.
“Aku tidak mengerti apa yang dikatakannya!” jelas Kelikng.
“Tidak apa-apa, ini bahasa naga,” jelas Karang Melenu.
“Aku Karang Melenu dari masa depan, perlu bantuanmu, paling tidak memberi jawaban yang aku perlukan,” jelas Karang Melenu kepada orang tersebut.
“Oh… dari masa depan, aku mendeteksi pesawat lintas ruang dan waktu kemarin, berarti itu kau?” orang tersebut menegaskan.
“Iya, dan aku men-scan area sini dan kulihat hanya kau yang memiliki teknologi setara denganku di area terdekat sekitar ini di masa ini!” jelas Karang Melenu.
“Hm… baiklah,” Kata orang tersebut kemudian mendekat dan menyarungkan senjatanya.
“Namaku Baruna!” jawabnya terlihat wajahnya berbentuk mirip seperti seekor iguana, reptilia pemakan tumbuhan.
Baruna berpakaian mirip seperti Karang Melenu, baju berwarna abu-abu, celana panjang, dan sepatu boot semuanya berwarna abu-abu, di ujung ekornya terdapat pelindung berfungsi mirip seperti sepatu.
“Raja Naga Erau!” gumam Kelikng terkesima.
“Aku Karang Melenu, kau dari planet apa dan dari konstelasi mana tepatnya?” tanya Karang Melenu.
“Pertanyaan yang tidak tepat, aku berasal dari planet ini, planet Bumi ini sendiri,” jelas Baruna.
“Dari Bumi ini… tetapi dari frekuensi lainnya,” jelas Baruna.
“Hm… tidak kukira, ternyata dari frekuensi lain di Bumi ini, apakah kau juga dari masa depan?” tanya Karang Melenu.
“Tidak, dari masa kini, di frekuensi lainnya, di frekuensi kami… Bumi sudah jauh lebih canggih teknologinya, dan aku adalah seorang teknisi sekaligus peneliti yang ditugaskan untuk melintas frekuensi guna meneliti frekuensi yang ini…” jelasnya.
“Setelah aku melihatmu sekarang… dari masa depan, aku sangat bahagia, karena manusia juga mampu mencapai teknologi yang kami capai, aku pikir kalian akan musnah karena perang antara kalian sendiri, perang antarsesama,” jelas Baruna lega.
“Karena banyak manusia memiliki sifat kejam dan ingin menguasai yang lainnya dan serakah…,” jelas Baruna.
“Kau benar… di masa depan, kami hampir memusnahkan diri sendiri karena ketamakan untuk menguasai dengan cara sentralisasi, memperbudak sesama kami sendiri…”
“… para pemimpin di masa sulit itu… mereka membutakan diri bahwa kita semua tidak sama…. tetapi masa tersebut berhasil kami lewati, dan kini, kami juga banyak yang menjadi peneliti sepertimu…” jelas Karang Melenu.
“Jadi apa yang membuatmu terdampar di masa kini?” tanya Baruna.
“Pesawat kuantum organik milikku mengalami kerusakan, saat aku kendarai, aku tidak ada maksud ke masa ini… tetapi karena kerusakan tersebut… kini aku ada di sini,” jelas Karang Melenu.
“Kalau kau mengerti teknik kuantum organik lintas ruang dan waktu, bisakah kau melihat kerusakannya dan memperbaikinya?” tanya Karang Melenu.
“Akan aku usahakan…” jawab Baruna.
Dengan segera Karang Melenu bergerak ke luar Gua Niah dan mengambil pesawat lintas ruang dan waktu dari sakunya.
Diletakkannya pesawat berbentuk seperti bulat telur tersebut di tanah dan menyentuh bagian tertentu. Kemudian pesawat tersebut membesar.
“Wuaaah!” Kelikng tertegun melihat itu semua.
“Oh… iya, kenalkan ini Kelikng,” jelas Karang Melenu kepada Baruna.
“Hai… Kelikng, senang berkenalan denganmu,” Sapa Baruna dalam bahasa yang dimengerti oleh Kelikng di masa itu, sembari bergerak masuk ke dalam pesawat milik Karang Melenu.
Karang Melenu mengikuti Baruna, dan di belakangnya Kelikng yang terkagum-kagum.
“Aku bersama Raja Naga Erau dan Putrinya,” Kelikng tampak kegirangan lalu terperangah.
“Dari luar tampak kecil, kenapa setelah masuk, ruangannya lebih besar, bahkan lebih luas dari rumah radakng Apai Lalong… dan ruangan ini penuh dengan kristal…” kata Kelikng tidak percaya.
Baruna dan Karang Melenu tersenyum melihat reaksi Kelikng.
Baruna mendekati area kokpit dan melihat log yang terjadi,“Dari catatan pesawat ini… kerusakan terjadi saat petir menyambar dan membuatnya kelebihan beban… coba aku cek bagian dari stabilisasi energi, energi stabilisator.”
“Tunjukkan di peta di mana letak energi stabilisatornya?” perintah Baruna kepada pesawat tersebut.
“Berikut peta letak energi stabilisator,” jawab komputer pesawat kuantum organik tersebut menunjukkan peta secara hologram.
“Wuoow…,” Kelikng terkesima lagi.
“Analisis tersebut benar… stabilisator energinya terbakar!” jelas Baruna, sembari membuka kap di mana area energi stabilisator berada berdasarkan peta hologram tersebut.
“Apakah kau memiliki cadang pengganti atau paling tidak membuat penggantinya dengan teknologi yang mirip?” tanya Karang Melenu.
“Maaf, aku tidak membawa perangkat atau suku cadang seperti itu, karena teknologi yang aku bawa hanya ke gerbang antar frekuensi, tidak untuk menjelajah angkasa atau teleport di dalam frekuensi ini…” jelas Baruna.
“… dan aku juga tidak mau kembali ke frekuensiku di Bumiku sendiri untuk mengambil suku cadang yang mirip atau sejenisnya… karena itu tidak ada hubungannya dengan tugasku di sini, akan menjadi masalah…” tambahnya.
“Aku mengerti…,” ucap Karang Melenu tampak kecewa.
“Tapi… kita dapat mencari suku cadang sejenis di area Barat… di area Sungai Shindu…,” jelas Baruna.
“Ah… tidak kukira aku akan melewatkan waktu di sini lebih lama,” keluh Karang Melenu.
“Aku siap untuk menemanimu,” hibur Baruna.
“Sungguh? Terima kasih, itu membuatku lega!” jawab Karang Melenu tampak gembira.
“Jadi kita akan mencari suku cadang di area Sungai Shindu…” saran Baruna.
“Sebentar lagi sudah menjelang sore, kita belum punya persediaan makanan apa pun,” Kelikng menyela.
“Kau benar,” Karang Melenu melihat ke arah Kelikng.
“Jangan khawatir, aku punya banyak makanan berupa bunga, buah, sayur, dan ubi-ubian,” jelas Baruna.
“Ah… kau vegan?” tanya Karang Melenu.
“Bukan vegan, nenek moyangku adalah iguana, reptilia herbivora, kami juga demikian,” jelas Baruna.
“Ah… iya, aku lupa, iguana bukanlah karnivora, nenek moyang kami percabangan dari kera besar, jadi kami omnivora,” Karang Melenu menambahkan.
“Kau mau berburu rusa, kambing hutan, ayam hutan, atau kelinci?” Karang Melenu melihat ke arah Kelikng.
“Tentu saja, area sini masih hutan lebat, jadi akan sangat mudah mendapatkan satwa buruan!” jelas Kelikng.
“Eh… Baruna, sepertinya kami harus berburu terlebih dahulu,” ucap Karang Melenu.
“Kau tidak punya alat untuk memanggil rusa atau satwa buruan?” tanya Baruna.
“Ya… ya… aku punya,” jawab Karang Melenu.
“Ayo Kelikng kita ke area dekat hutan,” ajak Karang Melenu, kemudian Karang Melenu bergerak ke suatu arah. Kelikng mengikutinya.
Di dekat tepi hutan yang jaraknya tidak jauh sekitar 10 menit berjalan dari posisi Gua Niah.
Karang Melenu menekan sesuatu di tangannya dan suatu suara seperti rusa menggema di area tersebut keluar dari area tangannya seperti speaker,”Kita tunggu di sini, siapkan sumpitmu!” tambahnya sembari melihat ke arah Kelikng.
Kelikng mengangguk walaupun tidak mengerti, kenapa harus menunggu dan tidak langsung berburu saja ke dalam hutan. Tapi pikiran Kelikng tetap ikut permintaan Karang Melenu sebab banyak hal aneh terjadi sejak berpetualang dengannya, Kelikng percaya kepada putri ini.
Benar saja. Tidak berapa lama sekitar 5 menit, dua ekor rusa besar muncul di area tersebut.
Kelikng melihat ke arah Karang Melenu yang menunjuk dan memberi tanda bahwa rusa paling besar untuk disumpit.
Kelikng mengangguk dan menyiapkan sumpitnya.
PUH!
Dengan sekuat tenaga sumpitnya diembusnya dan tepat mengenai rusa terbesar.
Rusa tersebut terkejut dan berlari, tetapi racun anak sumpit demikian kuat, tidak kurang dari 10 meter, rusa tersebut jatuh menggelepar dan tidak dapat berdiri lagi.
“Yeaaay!” Teriak Karang Melenu.
*
Di depan api unggun. Di atasnya seeokor rusa tengah dipanggang dan telah matang.
“Kau tidak mau mencicipi?” tanya Karang Melenu kepada Baruna.
“Kalau aku omnifora, tentu aku mau,” jawab Baruna sembari nyengir kemudian melahap sayur dan buah persediaan makanannya.
“Ha… ha… ha… tidak kukira dapat melihat senyuman spesies cerdas iguana, ternyata unyu juga,” gelak tawa Karang Melenu.
“He he he,” Baruna ikut tertawa kecut.
Kelikng ikut tertawa walaupun tidak mengerti pembicaraan mereka berdua, dia berpikir mereka berbicara dalam bahasa petara.
Melihat Kelikng ikut tertawa malah membuat Karang Melenu dan Baruna semakin tergelak, dan hal ini membuat Kelikng juga semakin tergelak, mereka tertawa sembari memegang perut masing-masing agar tidak sakit karena tertawa dengan bebas dan lepas.
*
Pagi hari.
“Selamat pagi!” sapa Baruna kepada Kelikng dalam bahasa yang Kelikng mengerti.
“Selamat pagi Raja Naga!” jawab Kelikng.
“Raja Naga?” Baruna keheranan.
“Iya, dia percaya kau adalah seorang Raja Naga, dan aku adalah anakmu!” jelas Karang Melenu.
“Kok bisa?” tanya Baruna keheranan.
“Ya, di desanya, ada cerita tentang kau, cuma mereka mengenalmu sebagai Raja Naga Erau, pembela orang yang tertindas…”
“… ayahnya sering menceritakan hal itu saat dia masih kecil, cerita tentang kepahlawananmu telah memberi inspirasi baginya untuk melakukan hal yang sama sepertimu, menjadi kesatria dan membela yang lemah…,” jelas Karang Melenu.
“Oh… aku mengerti, yang tidak aku mengerti, kenapa kau menjadi anakku?” jelas Barunai.
“Oh… itu karena pesawatku terjatuh di Sungai Mahakam, dan muncul ke permukaan, lalu aku ke tepi sungai…”
“… sepasang orang tua yang melihatku muncul dari air mengira aku adalah seorang putri naga karena muncul dari air Sungai Mahakam, kesalahpahaman, dan sulit bagiku untuk menjelaskannya” Karang Melenu menjelaskan kejadian tersebut.
“Oh… aku mengerti sekarang, biarkan ceritanya tetap seperti itu, tidak usah kau perbaiki,” jelas Baruna.
“Setuju, itu juga yang aku pikir,” jawab Karang Melenu.
“Di masa depan, orang yang mengerti cerita tersebut pasti akan menulis ulang dengan pengetahuan dan disesuaikan dengan teknologi yang menurutnya sesuai dengan teknologi masa depan, cepat atau lambat mereka akan tahu bahwa waktu tidaklah linear,” jelas Baruna.
“Hm… ada benarnya,” Karang Melenu setuju.
“Seberapa banyak penjelajah waktu di duniamu?” tanya Karang Melenu.
“Hm… tidak tahu berapa tepat jumlahnya, tetapi mereka diperlukan untuk menjaga waktu dan sekaligus peneliti untuk mengetahui suatu kejadian di masa lalu bagaimana tepatnya?…”
“… hal ini dilakukan agar tidak terjadi manipulasi sejarah dan kami mengerti benar kejadian sesungguhnya, tetapi kami tidak akan mengubah kejadian yang sesungguhnya terjadi… karena itu bagian dari evolusi pikiran kami…” jelas Baruna.
“Ya… sebab banyak kejadian sejarah sebenarnya manipulasi politik, sehingga lebih banyak cerita sejarah yang di dalamnya hanyalah cerita fiksi yang dilegalisasi oleh rezim pemerintah pemenang di saat itu…” jawab Karang Melenu mengiyakan.
“Persis… seperti itulah, jadi mesin waktu dan para penjelajah waktu bertugas untuk memastikan apakah sejarah telah dimanipulasi atau tidak…”
“… kami memberikan sejarah dengan benar melalui penelitian dan saksi para penjelajah waktu dan kemudian memperbaiki informasi yang ada di buku sejarah, tetapi kami dilarang untuk mengubah sejarah,” jelas Baruna.
“Tepat sekali, itu yang para penjelajah di di masa depan kami juga melakukan hal tersebut…,” jelas Karang Melenu.
“Menjadi pertanyaan, apakah kau berada di sini juga merupakan bagian dari sejarah, sebab sebenarnya masa depan dan masa lalu saling terkait,” tanya Baruna.
“Mungkin iya, mungkin, tidak, belum ada catatan resmi dari masa ini di masa depan,” jawab Karang Melenu.
“Tentu saja tidak… tetapi akan menjadi cerita mitos atau legenda yang diceritakan secara turun menurun, tetapi tidak akan memengaruhi sejarah resmi…,” jelas Baruna.
“Itu dia, jadi tidak perlu khawatir bukan?” jawab Karang Melenu.
“Dengan cara begitu potensi besar polisi waktu tidak akan muncul,”lanjut Karang Melenu menambahkan.
“Kurasa begitu…,” Baruna tampak setuju.
“Kita akan makan dahulu atau langsung ke area tujuan?” tanya Kelikng.
“Ah… iya, ada baiknya kita makan dahulu?” jawab Karang Melenu sembari menghangatkan dan mempersiapkan makanan daging rusa hasil buruan kemarin.
“Karena kita akan bergegas berangkat, aku bikinkan sambal matah ya… dari potongan kasar bawang merah, bawang putih, garam, dan hm… lelehan minyak dari lemak daging rusa ini sebagai minyaknya, sebentar aku panaskan minyaknya…,” Karang Melenu dengan semangat mempersiapkan makan pagi.
Setelah minyak mendidih, Karang Melenu menuangkan minyak tersebut ke sambal matahnya, mendadak harum sambal menyeruak.
“Kalau yang itu aku mau… dari tanaman, aku suka!” Baruna meminta ingin mencicipi.
“Ini pedas… semoga perutmu mampu menahannya…” jelas Karang Melenu.
“Aku mau mencicipi sedikit terlebih dahulu…” Baruna mengambil sedikit sambal matah tersebut.
Sedangkan Kelikng mengambil lebih banyak dan dioleskan ke daging rusa bakar yang hangat tersebut sembari menyuapkan nasi pansoh yang telah dihangatkan ke mulutnya.
“Ini sambal terenak yang pernah aku rasakan!” puji Kelikng.
“Kau juga akan dengan mudah untuk membuatnya, sangat sederahana bukan,” timpal Baruna,”Dan ternyata benar… pedaaas!”
Tangan Baruna mengibas-ibas mulutnya yang lebar dengan tangannya tanda kepedasan dan ekornya juga mengibas ke kanan dan ke kiri, ciri khas seorang reptilian.
Kelikng dan Karang Melenu tertawa melihat hal tersebut.
*
“Jadi kita sengaja tinggalkan kuda kita di sini?” Kelikng menanyakan lagi ke arah Karang Melenu.
“Iya, sebab Baruna juga tidak berkuda,” kelas Karang Melenu.
“Aku kasihan menunggangi kuda, itu saja,” jelas Baruna.
“Kasihan?” tanya Kelikng.
“Iya…” tambah Karang Melenu.
“Aneh… juga Raja Naga Erau ini ya…” gumam Kelikng sembari memandangi kudanya dan kuda Karang Melenu yang dibiarkan tidak diikat dan merumput di depan Gua Niah.
“Siap?” Tanya Karang Melenu kepada Kelikng dan Baruna yang berada di dekatnya.
“Siaaap!” jawab keduanya berbarengan.
Karang Melenu menekan tombol pintu teleport yang berada di depannya.
OOOOOOOOOOOOM!
Suara dengungan terdengar. Kemudian pusaran seperti air muncul dan perlahan tenang memperlihatkan tepian Sungai Sindhu.
Mereka masuk ke pintu tersebut satu demi satu.
Di sisi lainnya lima orang warga terdiri dari tiga perempuan dan dua laki-laki terkesima melihat kemunculan mereka di tepi air dari pintu teleport yang mendadak muncul lalu dari pintu tersebut keluar tiga orang dengan pakaian dan satu orang berwajah aneh.
Baruna yang muncul dari pintu portal pertama kali langsung menggerakkan kedua tangannya dan mengatupkannya merapat tepat di depan dadanya sebagai tanda hormat dan tanda bahwa tidak akan menggunakan senjata.
Diikuti oleh Kelikng dan juga Karang Melenu yang segera menutup dan mengambil pintu portal tersebut kemudian memasukkannya ke dalam sakunya.
Kelima orang yang di sana segera melakukan hal yang sama kepada mereka.
“Salam perdamaian!” ucap Baruna menyapa.
“Kau keluar dari air dan melalui pintu langit,” salah satu pria dari kelima orang itu menegaskan apa yang mereka lihat.
“Ya… aku Baruna,” jawab Baruna sembari memperkenalkan diri.
“Ah… Varuna,” jawab mereka bersamaan.
“Bukan Varuna… tapi Baruna…” jelasnya sekali lagi.
“Ya… yaa… Varuna…” mereka mengulangi lagi dengan kata yang persis sama seperti sebelumnya, sembari berpandangan di antara mereka dan berkata “Varuna… ya… Varuna…. Saya Vyasa” ucap orang tersebut menyebutkan namanya.
Baruna sadar ini hanya masalah logat, sama seperti mengucapkan kata Baruna kepada penduduk di sekitaran Sungai Niah yang menjadi Berauna.
“Baiklah… Varuna kalau begitu,” ucapnya mengalah.
Mendadak kelima orang tersebut duduk dan menyembahnya.
“Eh… apa ini?” Baruna keheranan.
“Sepertinya kau dianggap sebagai mahluk sakti,” bisik Karang Melenu.
“Aduh…,” Baruna menepuk kepalanya, lalu segera menarik tangan salah satu orang pria yang bernama Vyasa dan berada paling depan untuk berdiri, kemudian tangannya menggerakkan ke atas kepada keempat orang lainnya yang bersimpuh.
Pria yang diangkat tangannya tersebut ikut berdiri sebentar kemudian duduk bersimpuh lagi di depan Baruna.
“Biarkan… sepertinya tidak dapat kita benahi,” jelas Karang Melenu.
“Baiklah… kalau begitu,” keluh Baruna mengalah.
“Apa nama desa ini?” tanya Baruna.
“Mehrgarh,” jawab pria yang di dekatnya.
“Megah?” tanya Kelikng.
“Dia bilang mekah!” tambah Karang Melenu.
Baruna terkekeh,”Aku baru sadar tiap dari kita punya logat yang berbeda, kalau tidak salah dia bilang merekah.”
“Ya Mehrgarh,” kelima penduduk lokal yang bersimpuh mengatakannya bersamaan.
“Tuh kan… benar… merekah,” tambah Baruna,”… seperti kata dalam bunga sedang merekah.”
Kelikng dan Karang Melenu mengangguk tanda setuju. Seketika Baruna tertawa,”Ha… ha… ha… lucu ni lucuu…”
Kelikng dan Karang Melenu ikut tertawa, diikuti oleh kelima penduduk lokal ikut tertawa walaupun tidak mengerti apa yang sebenarnya yang ditertawakan.
“Baiklah… yuk ke tempat tujuan,” ajak Baruna setelah mereka kehabisan rasa lucunya dari peristiwa tersebut.
“Terima kasih ya…,” Baruna mengucapkan terima kasih kepada lima penduduk lokal yang masih bersimpuh.
“Deteksi area canggih sudah dekat area sini, tidak jauh lagi, sekitar dua puluh menitan berjalan…,” jelas Baruna sembari berjalan memimpin rombongan.
Kelima warga lokal yang melihat hal tersebut melihat rombongan tersebut menjauh, kemudian secara perlahan pemimpin rombongan orang lokal tersebut berdiri.
“Varuna… kita telah bertemu dewa langit dan air… Varuna… ternyata benar… dunia ini ada penciptanya… kita baru saja bertemu dengan Varuna… pencipta langit, bumi, dan air…,” jelasnya.
“Varuna terlihat baik dan bijak…karena suka tertawa….,” tambah salah satu perempuan rombongan tersebut.
Keempat orang yang mendengarnya mengangguk-angguk membenarkan.
*
“Seharusnya ada di sini,” jelas Baruna kepada Karang Melenu dan Kelikng.
“Aku tidak melihat apa pun?” Kelikng keheranan.
“Sebentar…” ucap Baruna sembari menggerakkan tangannya dan seolah menyentuh dan meraba sesuatu.
Kemudian Baruna seperti menekan beberapa kali di sarung tangannya. Tak lama kemudian secara perlahan muncul sejenisnya rumah megah dengan bentuk bangunan yang aneh di sana.
“Stealth mode,” ucap Karang Melenu.
“Iya… sayang sekali, seharusnya Ghost Mode,” tambah Baruna.
“Siapa yang berani masuk ke area ini?” suara menggelegar muncul dari dalam rumah tersebut.
“Wuuuoh… speaker-nya keras sekali suaranya,” Karang Melenu menutup telinganya.
“Iya…,” Baruna setuju.
“Aku Baruna dari Bumi frekeuensi lainnya ingin berbicara dengan siapa pun pemilik rumah ini,” jawab Baruna.
“Frekuensi lainnya?” suara tersebut terdengar lagi disertai suara mendenging speaker dengan keras.
“Aduh… speaker ini mulai rusak!” suara di dalam rumah terdengar di speaker.
Baruna dan Karang Melenu tersenyum mendengarnya. Kelikng tidak mengerti ikut nyengir tanda tak mengerti.
“Baiklah, silakan masuk!” suara itu terdengar lagi, kali ini lebih ramah.
Baruna, Karang Melenu, dan Kelikng perlahan memasuki pintu besar yang terbuka sendiri. Kemudian mereka melihat ke pekarangan rumah yang tertata rapi dan modern.
“Mirip bangunan yang ada di era aku berasal,” Karang Melenu menjelaskan ke Baruna.
“Kita dapat menanyakannya nanti,” jelas Baruna.
Sesampainya di dalam rumah. Mendadak muncul di depan mereka secara perlahan,”Nah… yang ini ghosting mode, kau tahu ghosting mode lebih banyak menyerap energi, jadi hanya kugunakan ditubuhku saja, tidak untuk rumahku,” jelasnya.
“Ya benar, ghosting mode lebih aman karena dengan ghosting mode kau dapat menembus dan ditembus apa pun tanpa terluka… tetapi lebih banyak menyerap energi,” tambah Karang Melenu.
“Hei… kalian dari mana? Di zaman ini sangat sulit bertemu dengan sesama yang memiliki teknologi canggih,” tanya orang tersebut.
“Eh… maaf, mana keramahtamahanku… namaku Andera,” jelas Andera.
“Aku Baruna… dan ini Karang Melenu kemudian yang di sana Kelikng,” sembari menunjuk Kelikng yang sedang bengong memperhatikan detail sekeliling rumah tersebut.
“Baruna, Karang Melenu…. Kelikng… senang bertemu dengan kalian, apa yang bisa saya bantu?” jawab Andera sembari melihat ke arah Kelikng yang mendekatinya dan mengamati pakaian yang dikenakannya dari dekat.
“Ya ada… apakah kau memiliki stabilisator kuantum?” tanya Karang Melenu langsung tanpa basa-basi.
“Eh.. oh… aku punya, tetapi hanya satu… dan aku tidak memiliki cadangannya…” jelas Andera.
Mendadak lima orang yang mereka temui di tepi Sungai Sindhu masuk ke dalam rumah dan muncul di belakang mereka.
“Eh… apa mereka bersama kalian?” tanya Andera kepada Baruna.
“Tidak… tapi kami bertemu mereka tadi di tepi sungai tidak jauh dari sini,” jelas Baruna.
“Warga lokal sepertinya,” jelas Karang Melenu.
“Uh… baru kali ini aku kontak dengan warga lokal, selama ini aku tidak pernah melakukannya… ini pun karena kalian, aku lupa meng-on-kan stealth mode rumahku,” jelas Andera.
“Dari planet mana kau berasal Andera?” tanya Karang Melenu.
“Aku dari Planet Shatabhisha dari rasi Aquarius,” jelas Andera.
“Ada baiknya kau sapa mereka,” saran Baruna kepada Andera untuk menyapa lima orang warga lokal tersebut.
Andera mendekati mereka dan menyapa,”Hai… Aku Andera dan ini rumahku, hati-hati jangan menyentuh apa pun ya, lihat boleh-boleh saja,” jelas Andera.
“Indra…” kata pemimpin rombongan itu.
“Bukan… bukan Indra, anderaaaa… aaaanderaaaa,” jelas Andera.
“Inderaaaa,” kelima orang tersebut mengulanginya lagi.
“Bukan Indra…. Anderaaaaa,” jelas Andera lagi.
Melihat hal tersebut Baruna, Kelikng dan Karang Melenu tersenyum mengingat hal yang sama terjadi sebelumnya pada mereka juga.
“Indra… tidak masalah, mirip… Indra seperti Andera…,” akhirnya Andera menyerah.
Kemudian Andera mengambil sesuatu dari lemari es penyimpan makanannya, dia mengambil beberapa minuman penyegar yang terdiri susu, air, dan tanaman khas dari planetnya.
Kemudian dia tuangkan ke dalam gelas kristal, diberikannya kepada Baruna, Karang Melenu, Kelikng.
Kemudian dia juga memberikannya kepada kelima tamu warga lokal yang ada di sana.
“Minuman ini namanya Soma, menyegarkan tubuh, memberi energi seperti sudah makan dalam sehari…” jelas Andera kepada kelima warga lokal tersebut.
“Terima kasih Indra,” jawab ketua rombongan warga lokal tersebut sembari melihat gelas kristal yang indah dan minuman yang tampak segar tersebut, mereka segera meminumnya dan tampak wajahnya terlihat girang dan wajahnya terlihat lebih segar.
“Wuow… jadi ini minuman spesial?” puji Baruna.
“Ya… dari tanaman asal planetku dan susu sapi dari sekitar sini,” jelas Andera.
“Susu? Semoga perutku baik-baik saja!” jawab Baruna.
“Mengapa?” tanya Andera.
“Dia spesies Iguana bukan reptilia yang memakan daging, tapi sayuran, buah, dan sejenisnya,” jelas Karang Melenu.
“Oh… maafkan aku, semoga susu tidak bermasalah bagimu!” Andera tampak menyesal.
“Tidak apa-apa, banyak yang merasa aku pemakan daging, seperti masalah klasik yang terulang bagiku… tetapi minum sedikit susu tidak akan membuatku sakit…” jelas Baruna.
“Syukurlah kalau begitu…” Andera tampak lega.
“Jadi kembali ke stabilisator kuantum… di mana kami dapat menukar atau membelinya?” tanya Karang Melenu.
“Hm…. kudengar kau dapat memperolehnya di area di sebelah kiri belahan Bumi ini…” jelas Andera.
“Tepatnya di mana?” Tanya Baruna.
Mendadak hologram muncul di depan mereka. Kemudian Andera menunjukan suatu area di peta hologram tersebut, “Di sini.”
“Terekam…” kata Baruna.
“Sepertinya di area Amerika di masa depan,” gumam Karang Melenu.
“Masa depan? Kau dari masa depan! Gawat Polisi waktu akan segera datang ke sini!” Andera tampak ketakutan.
“Jangan khawatir… masa ini belum masuk dalam penanggalan manusia dari masa depan,” jelas Baruna.
“Uh… oh… syukurlah kalau begitu,” Andera tampak lega.
“Kami tidak ingin berlama-lama, makasih dengan minumannya, aku terasa sangat kenyang,” jelas Baruna.
“Sama-sama, maaf aku tidak dapat mengantarmu ke area tersebut… aku suka tinggal di sini, tapi aku juga sedang mempersiapkan rumah baruku di area Gunung Himalaya di sana juga dekat dengan Sungai Gangga.”
“Ide yang bagus, rumah di atas gunung, tidak mudah dijangkau oleh orang pada umumnya,” tambah Baruna.
“Ah… itu dia maksudnya,” tambah Andera.
“Ah… sebelum kalian pergi, ini ada jaket dari bulu burung… berguna bila kalian ke area yang lebih dingin,” ujar Andera sembari memberikan tiga jaket hangat dari bulu burung yang mendadak muncul dari tangannya karena teknologi teleport.
Diberikannya tiga jaket bulu burung tersebut ke Baruna, Karang Melenu, dan Kelikng.
“Terima kasih!” ucap ketiganya hampir bersamaan.
“Tidak banyak yang aku bantu untuk kalian…,” Andera tampak merasa bersalah.
“Tidak apa-apa, informasi mendapatkan Stabilisator kuantum itu yang terpenting,” jelas Karang Melenu.
Ketiganya berpamitan kepada Andera.
Kepergian rombongan Baruna diikuti oleh lima warga lokal yang ada di sana, ikut juga keluar dari rumah Andera. Kemudian rumah Andera kembali ke stealth mode.
Saat Baruna dan rombongannya masuk ke pintu portal.
Kelima warga lokal yang mengikuti mereka sebelumnya tahu rombongan yang diikutinya masuk pintu teleport.
Kemudian pria yang sepertinya pemimpin rombongan duduk bersimpuh dan mulai mengalunkan puji-pujian dan keempat orang tersebut mulai mengikutinya.
*
“Hujan tidak turun juga selama ini, kekeringan ini telah merenggut banyak jiwa, hai dewa… ini adalah persembahan bagimu seorang gadis yang masih suci…”
“… kami korbankan darah dan jiwanya untukmu!” teriak seorang dukun dalam usahanya menghentikan kekeringan yang berkelanjutan selama ini.
Dukun tersebut segera menghujamkan belati tajam ke arah jantung seorang gadis yang terisak menangis tetapi juga ketakutan tanpa dapat melawan karena kaki dan tangannya diikat kuat di altar batu.
TAP!
Mendadak tangannya terhenti sebelum pisau tajam tersebut menghunjam dada gadis yang dikorbankan, dihentikan oleh satu tangan yang kuat.
Semua orang terkesiap dengan kejadian tersebut.
Telah berdiri di depan mereka sembari menahan belati tajam sang dukun seorang berkepala reptilian dengan menggunakan jaket berbulu burung.
Baruna merebut pisau dari dukun tersebut lalu menggunakannya untuk melepaskan ikatan si gadis.
Si gadis segera berdiri dan berlindung di belakang Baruna. Terlihat Kelikng dan Karang Melenu juga tengah bersiap menghadapi situasi yang tidak terduga.
Hal ini mereka lakukan untuk berjaga-jaga bila orang-orang ini akan menyerang mereka karena telah mengganggu upacara berdarah pengorbanan untuk mendatangkan hujan dengan darah pengorbanan jiwa seorang gadis.
“Siapa kau?” tanya si dukun.
“Bahasa teridentinfikasi…silakan berbicara secara biasa, akan aku translasi secara langsung,” jelas Karang Melenu.
“Aku juga bisa, aku punya Syntetic Artitifical Inteligence juga di kepalaku,” jelas Baruna.
“Oh… senang mendengarnya,” puji Karang Melenu.
“Dengar mulai kini tidak boleh lagi ada pengorbanan darah manusia!” teriak Baruna kepada orang-orang yang ada di sana dan melirik ke arah sang dukun yang ketakutan.
“Memiliki kepercayaan kepada dewa dan kalian tidak tahu apa yang dewa inginkan… diberikan hal yang berharga di zaman ini seperti makanan, minuman, dan juga barang berharga milik kalian… hujan tidak juga turun!
“… lalu kalian menyimpulkan pasti dewa menginginkan jiwa karena kalian melihat banyak orang yang tewas karena kelaparan… dukun kalian yang bodoh ini lalu merasa…“
“.… ada baiknya mengorbankan darah manusia dan jiwanya, siapa tahu hujan akan datang!” teriak Baruna dengan suara lantang.
“Hujan tidak akan datang walaupun kalian mengorbankan darah dan jiwa! Hujan akan datang bila saatnya datang!” jelas Baruna.
“Lalu kapan akan datang tepatnya?” tanya sang dukun perlahan tapi dengan nada mengejek.
“Kau!” Karang Melenu mengangkat tangannya dan hampir menampar sang
Dukun tetapi diurungkannya.
“Dengar! Aku dapat membantumu, tetapi kalian harus berjanji untuk tidak mengorbankn jiwa lagi ke depannya!” teriak Baruna.
Karang Melenu mendorong sang dukun dan berkata,”Berjanji atau kau yang akan tewas kami korbankan!” ancam Karang Melenu
Menakut-nakuti.
“Baik… baik!” ucap sang dukun yang bergerak mendekati Baruna karena dipaksa oleh Karang Melenu.
“Kami berjanji tidak akan mengorbankan manusia dan menumpahkan darah dalam upacara apa pun lagi” Teriak sang dukun kepada pengikutnya.
“Hidup Quetzalcoat!” Teriak sang dukun.
“Hidup Quetzalcoat!” teriak pengikutnya.
“Quetzalcoat?” tanya Kelikng.
“Iya, artinya manusia reptilia berbulu, karena Baruna bagi mereka tampak sebagai manusia reptilian yang mengenakan jaket berbulu burung,” jelas Karang Melenu.
“Oh…” Kelikng mengerti.
Kemudian Baruna turun dari altar dan memegang tangan si dukun di sebelah kanan dan sebelah kirinya memegang tangan si gadis yang pasti akan tewas kalau rombongan Baruna tidak muncul tepat di sana.
Di mana tepatnya Baruna, Karang Melenu, dan Kelikng muncul? Mereka berada di suatu area di dataran tinggi kering Meksiko Tengah bila di masa kini.
Kepala suku kemudian menyambut mereka,”Saya Chikaw… kepala suku sini… apakah Quetzalcoat dapat membantu kami menurunkan hujan?” tanya Chikaw si kepala suku.
“Baik Chikaw kepala suku, saya bantu mendatangkan hujan!” jawab Baruna.
“Kita perlu membuat Flare Higroskopis untuk merangsang mendatangkan hujan dengan cepat,” jelas Baruna.
“Kita perlu Potassium Chloride, Sodium Chloride, Magnesium Chloride, Calcium Chloride, Potassium Nitrate, dan bahan bakar padat resin dari tanaman,” jelas Karang Melenu.
“Aku tidak mengerti,” jawab Kelikng.
“Tidak apa-apa,” jawab Baruna.
“Aku dan Karang Melenu akan mencari bahan-bahan tersebut, untuk sementara kau ajarkan tari pemanggil hujan ke mereka agar mengulur waktu, tari lebih baik daripada mengorbankan jiwa manusia,” jelas Baruna.
“Bagaimana aku mengajarkan tari pemanggil hujan?” tanya Kelikng.
“Kau ciptakan saja, sembari mengulur waktu paling tidak setengah hari…,” jelas Karang Melenu.
“Baik Putri…,” jawab Kelikng.
“Tapi… aku tidak mengerti bahasa mereka…” jelas Kelikng.
“Oh… ya… nih gunakan sarung tangan ini, dia akan menerjemahkan apa pun yang kau katakan ke dalam bahasa mereka, dengan suara yang keras dari speaker-nya,” jelas Karang Melenu sembari melepaskan sarung tangan kanannya dan diberikan ke Kelikng.
Kelikng segera memakainya.
Baruna dan Karang Melenu kemudian menggunakan portal teleport untuk mencari bahan-bahan yang mereka perlukan untuk membuat hujan buatan.
“Baiklah, nama saya Kelikng…” jelas Kelikng diterjemahkan langsung oleh sarung tangan dengan suara menggelegar dari speaker sekaligus penerjemah dari sarung tangannya.
Orang-orang yang mendengar terkejut dan mulai memperhatikan Kelikng.
“K’liin…” ucap mereka menirukan.
“Bukan K’liin tapi Kelikng,” Kelikng mencoba membenahi pengucapan namanya dan dia teringat, sulit untuk membenahi logat bahkan hal ini terjadi pada Raja Naga Erau, dengan pengalaman tersebut, Kelikng pun akhirnya berkata,”Baik… namaku K’liin.”
“Akan aku ajarkan tari pemanggil hujan… yang berguna untuk memanggil hujan, lebih ampuh daripada mengorbankan jiwa…,” ucap Kelikng.
“Baik!’ gadis yang hampir menjadi korban bagi upacara pengorbanan memanggil hujan yang bediri paling dekat dengannya.
“Baiiiik!” kemudian yang lainnya menjawab dengan hampir serentak.
“Ikuti aku!” ajak Kelikng yang juga mengenakan jaket bulu hadiah dari Andera, Kelikng kemudian membuat gerakan aneh seperti burung yang melompat-lompat kecil kemudian menghentakkan kakinya dicampur dengan beberapa gerakkan khas dari sukunya dari desa Benuaq dekat Sungai Mahakam.
Kepala Suku Chikaw berdiri dan mengikuti gerakannya. Orang-orang yang melihat hal itu juga satu per satu mulai banyak menirunya.
Sampai beberapa kali Kelikng mengulanginya sehingga dia sendiri mulai hafal urutan gerakan tari pemanggil hujan yang diciptakannya saat itu juga.
*
Di Gunung Cerro Gordo. Baruna dan Karang Melenu sedang meramu bahan-bahan untuk Flare Higroskopis.
“Sepertinya ini area yang paling tinggi dan terlihat awan-awan yang lebih tebal dari area lainnya, tepat sekali untuk menembakkan flare higroskopis dari sisi sini,” jelas Baruna.
“Benar sekali, kita sudah membuat 100 flare higroskopis sangat cukup untuk membuat hujan deras,” Karang Melenu menambahkan, kemudian menembakkan flare tersebut ke awan yang menggumpal.
Hal ini kemudian diikuti oleh Baruna, mereka seperti menembakkan kembang api, dan tertawa gembira menikmati suasana tersebut.
Tak berapa lama “ini flare yang terakhiiir!” ucap Baruna.
“… kita telah sebarkan Flare Higroskopis di area yang lebih tinggi di Gunung Cerro Gordo, potensinya akan merembet ke area lainnya dengan cepat,” tambah Baruna.
*
Tiga jam telah berlalu, bagi Kelikng dia masih segar dan semangat karena telah meminum jus soma buatan Andera, sedangkan orang-orang yang mengikutinya mulai kelelahan.
Hal ini membuat orang-orang berpikir, tentu Kelikng juga memiliki kesaktian yang luar biasa.
“K’liin… kupikir saatnya beristirahat, orang-orangku sepertinya sudah letih,” saran Kepala Suku Chikaw kepada Kelikng.
Kelikng akhirnya berhenti… dan memperhatikan orang-orang tersebut yang juga berhenti dengan terengah-engah.
Dia juga melirik ke gadis yang hampir jadi tumbal pengorbanan yang juga tampak lelah.
“Baik… kita beristirahat terlebih dahulu… kita lanjutkan nanti…,” tambah Kelikng.
Dengan bergegas orang-orang tersebut duduk dan ada juga yang mendadak menghempaskan tubuhnya di area pasir dan terlentang dengan terengah-engah tanda kecapaian.
DHAAAR!
Petir menyambar…. langit mulai diliputi awan yang menggumpal kelam… tanda akan hujan sebentar lagi.
Tak berapa lama kemudian pintu teleport muncul dan dari pintu tersebut muncul Baruna dan Karang Melenu.
Orang-orang terkesiap dengan kedatangan mereka yang hampir bertepatan dengan bunyi petir dan awan yang mulai gelap menggantung tanda akan turun hujan.
“Sepertinya usaha kita mulai berhasil…” Ucap Baruna.
“Dengarkan! Hujan sebentar lagi akan turun, terima kasih telah memanggil hujan dengan tarian yang indah yang telah kalian lakukan! Jangan mengorbankan jiwa manusia lagi!” teriak Baruna menegaskan pesannya.
DHAAAR!
Petir menyambar lagi setelah Baruna mengatakan demikian.
“Hm… momen yang pas petir ini!” puji Karang Melenu.
Orang-orang suku Otomi kemudian merunduk bersamaan dan kemudian serta merta mengangkat Baruna, Karang Melenu dan Kelikng, mengarak mereka ke arah desa yang letaknya tidak jauh sekitar 15 menit dari tempat tersebut.
Hampir sekitar 3 menit lagi sampai di desa, mendadak hujan rintik-rintik dan mereka mempercepat arak-arakan setengah berlari.
Hujan mulai deras saat mereka tiba di desa.
Baruna, Karang Melenu, dan Kelikng didudukkan di kursi yang lebih tinggi di dalam rumah kepala suku.
Pakaian Baruna dan Karang Melenu basah terkena air hujan, tetapi dengan cepat pakaian mereka segera mengering. Sedangkan Kelikng terlihat masih basah kuyup.
“Mengapa pakaian kalian dapat cepat kering dan selalu tampak bersih?” tanya Kelikng kepada Karang Melenu.
“Oh ini nano teknologi, baju ini dapat membersihkan dan mengeringkan dirinya sendiri,” jawab Karang Melenu.
“Oh… luar biasa!” Kelikng terkagum dan agak menggigil merapatkan jaket bulunya agar lebih hangat.
“Saya Chikaw… Kepala Suku Otomi mengucapkan terima kasih kepada Quetzalcoatl atas anugerah dengan mendatangkan hujan di area kering ini!”
“Semoga dengan anugerah ini… kami akan dapat menanam untuk pertanian kami dan air melimpah sehingga tanah ini akan subur dan juga menghasilkan banyak makanan yang sangat kami perlukan!” ucap Kepala Suku Chikaw dengan penuh hikmat.
“Bagus! Menanamlah sebanyak mungkin karena dengan banyak tanaman memungkinkan untuk hujan turun dan juga baik untuk tempat berteduh,” jelas Baruna.
“Mari kita berpesta!” Teriak Chikaw Kepala Suku Otomi.
Berbagai jenis makanan dan minuman muncul dari persediaan mereka yang seadanya… tidak banyak… lalu diserahkan di depan Baruna, Karang Melenu dan Kelikng.
“Hanya ini yang kami miliki saat ini, maafkan kami Quetzalcoatl,” ucap Chikaw si Kepala Suku Otomi.
Melihat hal tersebut Baruna merasa tersentuh, di saat kekeringan dan kekurangan makanan mereka tetap ingin berpesta tetapi ternyata pestanya hanya untuk mereka bertiga.
Kelikng berbisik kepada Karang Melenu.
“Ide bagus,” ucap Karang Melenu kepada Kelikng, kemudian Karang Melenu berbisik kepada Baruna yang juga tampak mengangguk.
Karang Melenu membuat portal teleport, kemudian Baruna dan Kelikng masuk ke dalamnya.
Saat mereka keluar lagi dari pintu portal, mereka membawa daging rusa hasil buruan sebelumnya dan berbagai makanan persediaan milik Baruna yang melimpah.
Lalu Baruna mempersilakan mereka semua makan bersama. Kepala Suku Chikaw matanya berkaca-kaca tampak terharu sekaligus bahagia dengan apa yang terjadi.
Tidak disangka Quetzalcoatl datang di waktu yang tepat menyelamatkan sukunya dengan mendatangkan hujan dan mendatangkan makanan yang berlimpah.
Gadis yang batal dijadikan tumbal mendekati Baruna dan mengucapkan terima kasih dengan mengalungkan kalung emas bertatahkan berlian biru ke lehernya.
“Terima kasih,” ucap Baruna.
“Quetzalcoatl, saya yang berterima kasih!” ucap gadis tersebut.
“Siapa namamu gadis?” tanya Baruna.
“Kuxi,” jawabnya dengan tersenyum.
“Kuxi adalah anakku,” jelas Chikaw si kepala suku Otomi.
“Anakmu? Lalu kenapa kau biarkan dia menjadi calon tumbal?” tanya Kelikng.
“Karena aku tidak dapat membantah ucapan si h’mähä dan untuk menolong rakyatku agar kekeringan cepat berlalu,” jawab Chikaw tertunduk merasa bersalah.
“Pastikan hal ini tidak terjadi lagi, kau kepala suku, kedudukanmu lebih tinggi dari si h’mähä, jangan pernah membuat tumbal pengorbanan manusia lagi!” jelas Baruna.
“Baik Quetzalcoatl, kami berjanji!” jawab Chikaw si kepala suku Otomi dengan mantap.
“Maafkan Bäi Kuxi,” Chikaw memeluk Kuxi anak gadisnya dengan erat.
Kuxi pun dengan erat memeluk balik ayahnya sembari meneteskan airmata.
“Hari sudah larut, sebaiknya Quetzalcoatl, Xochiquetzal, dan K’liin menginap di sini jangan terburu pulang…,” pinta Chikaw si Kepala Suku Otomi.
“Oh… aku juga diberi julukan oleh mereka Xochiquetzal,” bisik Karang Melenu ke Baruna.
Baruna menoleh kepada Karang Melenu dan Kelikng,”Sepertinya memang kita perlu beristirahat, besok kita lanjutkan misi kita.”
“Aku setuju sangat lelah mulai terasa setelah menari sekitar tiga jam,” jelas Kelikng yang mulai mengantuk.
Karang Melenu mengangguk setuju,”benar sekali, dan kita dapat memanfaatkan waktu istirahat malam ini untuk tracking alat yang kita perlukan.”
“Ya benar!” balas Baruna.
“Mari ikuti anak saya Kuxi, dia akan mengantarkan ruangan istirahat kalian,” ujar Chikaw si Kepala Suku Otomi.
Baruna, Karang Melenu, dan Kelikng mengikuti Kuxi ke area kamar yang telah disiapkan untuk masing-masing.
Ternyata kamar untuk Kelikng terlebih dahulu ditunjukkan. Sesampainya di sana, Kelikng langsung terkapar di kasur kamar tersebut.
Kamar berikutnya untuk Karang Melenu. Karang Melenu melambaikan tangan kepada Baruna,”Sampai jumpa besok pagi!”
Dan terakhir kamar untuk Baruna, lebih luas,”Terima kasih Kuxi.”
Kuxi mendekapkan kedua lengannya di depan dada dan sedikit menunduk sebagai tanda terima kasih yang mendalam kemudian meninggalkan area tersebut.
Baruna menghela napas, dan mulai beranjak untuk mandi, mendadak sebilah pedang macuahuitl hampir mengenai kepala Baruna untung baju yang dikenakan Baruna memiliki perisai pelindung yang tak kasatmata.
Pedang terpental, kemudian serangan berikutnya berupa sabetan pedang yang kedua mengarah juga ke area kepalanya.
Baruna segera menghentakkan kedua tangannya ke arah pedang berasal.
Sontak pedang dan pemilik pedang terhempas ke dinding dengan keras oleh ledakan tak kasatmata blast wave dari sarung tangan Baruna.
Tubuh orang tersebut menghantam dinding kamar dari batu dengan keras dan mengenai kepalanya terlebih dahulu.
Baruna segera bergerak cepat ke arah orang tersebut untuk menolongnya karena kepalanya terbentur.
Benar saja orang tersebut pingsan dengan mengenakan penutup wajah seperti sapu tangan berwarna coklat tua.
Mendengar suara keributan, beberapa orang berlari ke arah kamar Baruna, termasuk Karang Melenu dan Kelikng.
Pintu kamar Baruna terbuka lebar, di sana Baruna berada di tengah ruangan dan di kasurnya terbaring seorang pria wajahnya tertutup sapu tangan yang pingsan.
“Ada apakah?” tanya Chikaw si Kepala Suku Otomi.
“Orang ini masuk ke kamarku, menyerangku dengan pedang-pedang ini,” jelas Baruna sembari menyodorkan dua belah pedang macuahuitl kepada Chikaw.
“Sepertinya dia berusaha membunuhmu,” Kelikng menegaskan maksudnya.
Baruna menggunakan kedua tangannya menunjuk ke Kelikng untuk menegaskan bahwa yang dikatakan Kelikng adalah benar adanya.
“Hm… keterlaluan, baiklah, kita buka saja sapu tangan penutup wajahnya!” saran kepala suku.
Kuxi mendekati orang yang pingsan di kasur tersebut dan membuka penutup wajahnya.
“H’mähä!” teriak hampir semua orang berbarengan.
*
“Mengapa kau melakukan itu?” tanya Chikaw si Kepala Suku Otomi kepada si dukun yang telah siuman.
“Sudah jelas bukan? Reputasiku dan harga diriku hancur karena si Quetzalcoatl,” jawabnya penuh amarah.
“H’mähä kita telah mengorbankan banyak orang di waktu lalu dan hujan belum juga turun, berapa jiwa lagi yang akan menjadi korban? Malah hanya dengan tarian pemanggil hujan, hujan menjadi turun, Quetzalcoatl menuntun kita dengan benar!” jelas Chikaw.
“Itu dia masalahnya! Aku kehilangan kebanggaan satu-satunya sebagai dukun, cuih!” jelasnya sembari meludah.
“Aku telah mengorbankan anakku di masa lalu!” seorang perempuan maju berteriak kepadanya.
“Anakku juga!” Teriak seorang ayah.
“Anakku!” Seorang perempuan lagi mendekatinya sembari berteriak ke wajahnya!
Chikaw menahan beberapa orang lagi yang akan mengatakan hal yang kurang lebih sama,”Cukup!”
“Kau lihat, telah banyak korban jiwa yang telah kita lakukan, kita semua pelakunya, ini semua kesalahan kita, karena kita semua setuju untuk melakukannya, bukan hanya kau H’mähä!” jelas Chikaw sembari tertunduk.
“Cukup sampai di sini, tidak ada lagi pengorbanan manusia di masa kini dan mendatang!” jelas Chikaw dengan nada kuat dan berwibawa.
“Kau tetap sebagai H’mähä kami, banyak hal baik yang telah kau lakukan selain melakukan pengorbanan jiwa untuk mendatangkan hujan…”
“… kau andal dalam mengobati orang yang sakit, mulai kini kau fokus pada mengobati orang yang sakit, menjadi penyembuh… penyembuh terbaik di suku ini… kami memerlukanmu!” jelas Chikaw.
H’mähä tampak terdiam kemudian terisak dan terharu,”Kau pemimpin suku yang baik, aku merasa malu menerima pengampunanmu… dan ya mengobati dan menolong orang lain agar sembuh dari sakit adalah keahlianku sesungguhnya, terima kasih kepala suku dengan kebaikanmu!”
Kemudian Chikaw si Kepala Suku Otomi membimbing H’mähä untuk berdiri dari tempat tidur dan kemudian menepuk pundaknya sebagai tanda persahabatan.
H’mähä kemudian menempatkan kedua tangannya menyilang di dada dan mengangguk lebih dalam sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan yang diberikan kepadanya.
Kepala Suku Otomi membalasnya dan kemudian memeluk H’mähä sebagai tanda persahabatan yang tulus. H’mähä juga melakukan hal yang sama.
“Hm… semuanya berakhir baik!” ucap Baruna.
“Saatnya kita kembali istirahat!” ajak Chikaw kepada semua yang ada di sana.
“Ide bagus,” Kelikng menimpali.
Semuanya mulai kembali bergerak ke masing-masing kamar.
Hanya Karang Melenu dan Kelikng saja yang masih berada di dalam kamar Baruna.
“Untung kau baik-baik saja,” Karang Melenu tampak lega.
“Ya… teknologi perisai plasma telah menolongku,” jelas Baruna.
“Ah… ya… eh aku sudah melakukan scan di area sini yang terdeteksi teknologi kuantum,” jelas Karang Melenu. Kemudian peta hologram muncul dari sarung tangan kirinya.
“Awalnya terdeteksi di area sini sekitar tiga puluh menit yang lalu, kemudian mendadak pindah ke area yang lebih jauh di area sini!” jelas Karang Melenu sembari menunjukan satu titik di peta hologramnya.
“Sepertinya dia telah mendeteksi kedatangan kita, dan mulai menjauh, dari berpindahnya secara cepat, ada potensi dia memiliki alat teleport seperti kita,” ucap Baruna.
“Analisis yang tepat, jadi apakah kita kejar sekarang agar tidak menjauh lagi?” tanya Karang Melenu.
“Hm… jangan terburu, kita juga punya alat teleport untuk mengejarnya selama dia ada di Bumi,” Baruna mulutnya mulai menguap sebagai tanda perlu istirahat.
Melihat hal itu Karang Melenu mengerti,”Baiklah… kau benar, kita istirahat saja terlebih dahulu… tak lari gunung dikejar!”
“Ungkapan yang aneh… orang ini bukan gunung pasti dapat berlari… tapi aku mengerti maksudmu… selamat malam!” jawab Baruna sembari sedikit mengusir dengan halus dengan kata selamat malam.
“Selamat malam!” jawab Karang Melenu hampir berbarengan dengan Kelikng yang juga tampak menguap dan menggunakan tangan kanannya yang masih menggunakan sarung tangan dari Karang Melenu untuk menutup mulutnya yang mengangga karena kantuk.
*
Pagi hari. Kuxi membawakan makanan dan minuman ke depan meja,”Selamat pagi Ayah, Quetzalcoatl, Xochiquetzal, dan K’liin,” kemudian meletakkan makanan dan minuman tersebut.
Kuxi melirik dan tersenyum ke arah Kelikng.
“Terima kasih” jawab Baruna.
Chikaw si kepala suku berkata,“Mari kita bersantap… ini ada Caldo de Piedra… lihat di depan kita ada batu halus yang bersih dari sungai… batu ini telah dipanaskan di bara api… jadi mengambilnya dengan penjepit kayu ini…”
“… lalu batu panas ini dimasukkan ke dalam mangkuk sup berisi ikan dan sayur….”
CESSSZ!
Sup mendidih seketika. Chikaw menunjukkan caranya kepada mereka bertiga.
“Wuoh… unik” puji Kelikng.
“Sup ikan ini hangat dan enak!” Karang Melenu memuji,“Kalau kau tidak suka ikannya, aku mau.”
Baruna menggunakan sendoknya dan memberikan satu porsi ikan miliknya kepada Karang Melenu.
“Oh… Quetzalcoatl tidak suka ikan?” tanya Chikaw.
“Tidak, aku pemakan sayur dan buah saja,” jelas Baruna kepada Chikaw.
“Oh… bawakan sayur dan buah lebih banyak ke sini!” pinta Chikaw kepada Kuxi.
“Baik Ayah!” jawab Kuxi.
“Sembari menunggu… ayo Xochiquetzal, dan K’liin, ini namanya Mixiote,” Chikaw membuka bongkahan daun yang tampak telah dipanggang di dalamnya ada daging.
“Karena masih masa kekeringan sebelum hujan kemarin… yang kami dapat hanya daging kelinci… coba rasakan!” Chikaw kemudian mengambil satu potong kecil daging kelinci yang melahapnya.
Kelikng segera mengambilnya juga,”Waw dibungkus daun apa ini, memiliki rasa khas!” pujinya.
Karang Melenu juga mencicipinya,”Hm rasa daunnya menyatu dengan dagingnya, terasa fresh dan enak!”
“Yang ini namanya Tamale… ini adalah makanan utama kami… Tamale terdiri dari daun jagung yang membungkus tepung jagung…”
“… dan di dalam tepung jagung ini dapat diisi dengan sayur, daging, ikan kering, sangat enak selagi masih hangat!” Kemudian Chikaw membuka kulit pembungkus jagung dan melahapnya dengan nikmat.
Kelikng dengan segera melakukan hal yang sama, diikuti oleh Karang Melenu.
Sedangkan Baruna mengambil salah satu buah yang ada di sana.
“Itu buah Mamey, rasanya manis dan lembut” jelas Kuxi.
“Hm… kau benar, dan yang ini?” tanya Baruna sembari mengambil buah berwarna oranye kecil.
“Itu Tejocote, aku sangat suka buah itu!” jelas Kuxi.
*
“Terima kasih dengan keramahtamahannya, kami akan melanjutkan perjalanan!” Baruna berpamitan.
“Kami yang berterima kasih kepada Quetzalcoatl, Xochiquetzal, dan K’liin,” jawab Chikaw si Kepala Suku Otomi.
“Kami harap suatu saat Quetzalcoatl, Xochiquetzal, dan K’liin akan datang lagi ke sini untuk membimbing kami ke depannya agar lebih baik!” Chikaw menambahkan.
“Ya… kami suatu saat akan datang lagi bila kami mampir berkelana ke area sini,” jawab Karang Melenu.
“Sampai jumpa lagi!” Chikaw beserta penduduk desa suku Otomi melambaikan tangan kepada Baruna, Karang Melenu dan Kelikng yang mulai bergerak meninggalkan area tersebut.
“Ini sarung tanganmu,” Kelikng memberikan lagi sarung tangan kepada Karang Melenu setelah menggunakannya untuk membalas melambaikan tangan kepada para Suku Otomi.
*
“Deteksi teknologi kuantum bergerak lagi di peta,” ucap Karang Melenu.
“Ya… ada baiknya kita teleport segera ke area tersebut!” ajak Baruna.
Segera saja Karang Melenu menyiapkan pintu teleport-nya.
OOOOOOOOOOMM!
Pintu teleport aktif ditandai dengan seperti pusaran air muncul di pintu tersebut dan kemudian perlahan riaknya tenang, terlihat area tujuan di dalam area pintu tersebut.
Baruna, Karang Melenu, dan Kelikng melangkah mantap memasuki pintu teleport.
ZAP!
Mereka sudah di area lainnya dan dengan segera Karang Melenu merapikan dan mengambil pintu tersebut, mengecilkannya dan memasukkan ke dalam sakunya.
“Di sekitar sini, kurang lebih lima menit berjalan kaki ke target lokasi…,” jelas Karang Melenu.
Mereka segera berlari ke arah tersebut. Sesampainya di sana.
“Tepat di area sini, di mana dia?” tanya Karang Melenu.
“Berhati-hati…,” Baruna mengingatkan agar waspada.
Kelikng bersiaga, sumpitnya sudah siap untuk dilepaskan bila diperlukan.
“Scan dalam stealth mode!” Baruna memberikan perintah kepada komputer kuantum yang ada di kepalanya.
“Scan dalam ghosting mode!” Karang Melenu juga melakukan scan untuk mendeteksi seseorang yang sedang ghosting mode.
Kelikng menengadah ke atas. Namun tidak dapat menghindar! Seseorang meluncur dengan cepat dari atas ke arah Kelikng.
Tendangan telak mengenai kepalanya, kepalanya langsung retak, Kelikng tersungkur tak sadarkan diri.
“Sial! Kita ceroboh!” teriak Baruna yang segera menyerang seseorang yang telah mencelakai Kelikng.
Orang tersebut bergerak menghindar dengan cepat, mampu mengimbangi kecepatan Baruna.
BLAAAAR!
Ledakan energi tak kasat mata menghempaskan penyerang tersebut.
Ternyata dari kedua tangan Karang Melenu telah melepaskan tembakan Shock Wave Blast.
Kemudian kedua sarung tangannya memancarkan sejenis sinar merah yang siap digunakan kepada orang yang terhempas tadi yang berusaha untuk berdiri.
Baruna juga melakukan hal yang sama tetapi dari sarung tangannya mulai memancarkan sinar warna Ungu.
“Baik… baik… aku menyerah…,” jawabnya.
“Siapa kau?” tanya Baruna.
“Orang menyebutku Kukulkan!” jelasnya.
“Mengapa kau menyerang kami?” Tanya Karang Melenu.
“Pertahanan yang terbaik adalah menyerang! Lagian kalian membawa senjata saat ke arah sini,” jawabnya kalem.
“Buka helm yang kau kenakan!” perintah Karang Melenu.
Orang tersebut mengangkat kedua tangannya dan perlahan menekan sesuatu di lehernya.
SRRT!
Helmnya terbuka. Muncul wajah reptilia sejenis kadal besar dengan gigi tajam dan taring panjang tampak menyeramkan. Tidak seperti Baruna yang giginya seperti tidak terlihat dari luar.
“Kau reptilia… dengan bulu-bulu burung di area kepala, kau spesies apa?” Tanya Baruna.
“Aku spesies Trodoon! Kau sepertinya spesies Iguana!” jawab Kukulkan.
“Aku sarankan sebaiknya kau mengobati luka temanmu!” Saran Kukulkan.
“Sial, kau benar, aku yang berjaga, kau tolong Kelikng!” Saran Baruna kepada Karang Melenu.
Karang Melenu segera berlari ke arah Kelikng yang pingsan.
“Sial darah mengalir dari kepalanya!” Teriak Karang Melenu.
“Tolong semampu kau!” Jawab Baruna.
“Sial…sial! Apa yang mesti aku jawab ke Sepunti, ke Apai Lalong dan ke Babu Jaruma?” Karang Melenu terisak sembari memegang pundak Kelikng yang terkapar dengan kepala retak, darah berceceran dan napas tersengal-sengal sekarat.
“Aku sarankan kau transfer nanorobot atau nanites yang ada di tubuhmu untuk menyembuhkannya,” Saran komputer kuantum organik yang ada di kepalanya.
“Baiklah, bimbing aku caranya,” pinta Karang Melenu.
Kemudian Karang Melenu mengikuti langkah demi langkah yang diberikan oleh kuantum komputer organik yang ada di kepalanya sebagai asisten untuk menyembuhkan Kelikng.
Tangan Karang Melenu menyentuh area kepala Kelikng yang retak,“Separuh nanites dari tubuhmu telah tertransfer melalui tanganmu ke area retak yang ada di kepala Kelikng, proses penyembuhan sekarang dimulai.”
“Kulkulkan kami tidak bermaksud untuk menjadi lawanmu, kami datang untuk menanyakan apakah kau punya stabilisator kuantum?” tanya Baruna.
“Hah… seandainya aku punya, aku tidak akan memberikannya kepadamu!” jawab Kukulkan.
“Hm.. berarti kau tidak memilikinya,” Baruna tampak kecewa.
“Ha… aku pernah punya… tiga malah… tapi itu dulu… tapi aku punya informasi di mana kau dapat memperolehnya,” Kukulkan memberikan harapan.
“Bagaimana dengan Kelikng?” tanya Baruna.
“Aku sudah baikan!” jawab Kelikng.
Karang Melenu membantu Kelikng untuk berdiri. Dan dengan sigap Kelikng kemudian bersiap dengan sumpitnya ke arah Kukulkan.
Kesehatan Kelikng pulih dengan sangat cepat, retak di kepalanya sudah hilang dalam sekejap kembali seperti semula, kini di tubuhnya terdapat separuh dari nanites yang ada di tubuh Karang Melenu.
Kelikng merasa lebih kuat ratusan kali lebih kuat dari sebelumnya, tubuhnya terasa ringan dan sangat fresh, entah apa yang dilakukan oleh Karang Melenu kepadanya.
STUP!
Jarak berdiri Kelikng dengan Kukulkan sekitar 25 meter, tetapi tiupan panah sumpit beracun itu demikian kuat dan sangat cepat lebih cepat 100 kali dari kecepatan yang biasa Kelikng lakukan.
Tiupan sumpit mengenai Kukulkan dengan telak menembus kulitnya dan seketika Kukulkan merasakan racun menjalar dengan cepat.
“Apa yang kau lakukan?” Kukulkan memegang anak sumpit beracun yang mengenai lehernya, Kukulkan mendadak jatuh terkapar berkelojotan.
*
“Ah dia sudah tersadar!” ucap Karang Melenu melihat Kukulkan yang mulai tampak sadar diri dari pingsannya.
“Racun itu tidak membunuhku?” tanyanya keheranan.
“Tidak, racun itu hanya melumpuhkan dan membuat tidak sadar dalam beberapa jam,” jelas Kelikng yang kini tengah memakai satu sarung tangan lagi milik Karang Melenu sebagai alat asisten penerjemah bahasa.
“Oh… syukurlah!” jawab Kukulkan.
“Kini katakan, di mana kami dapat memperoleh stabilisator kuantum?” tanya Karang Melenu.
“Perempuan… aku tidak akan menjawab!” balas Kukulkan.
“Kau!” Karang Melenu kini sadar bahwa spesies ini sepertinya jenis kelamin jantan sangat dominan dalam susunan masyarakatnya.
“Baruna!” Karang Melenu meminta bantuan.
Baruna mengerti,”Baiklah… di mana kami dapat memperoleh stabilisator kuantum yang kami perlukan?” tanyanya kepada Kukulkan.
“Apa keuntungannya bagiku bila menjawabnya?” jawab Kukulkan.
“Kau akan tetap hidup!” Kelikng mendekatkan mandau miliknya ke arah leher Kukulkan.
“Hm… kau akan menjadi kesatria yang hebat anak muda! Aku suka gayamu,” puji Kukulkan.
“Baiklah, kulihat kau layak untuk mendapatkan informasi yang kau perlukan,” tambah Kukulkan.
“Apakah kau punya peta hologram?” tanya Kukulkan.
SRT!
Baruna meng-on-kan peta hologram di tangannya. Kemudian Kukulkan menunjuk ke satu titik di peta tersebut, “Di area ini kau akan mendapatkannya.”
“Terekam, baik terima kasih,” ucap Baruna.
“Bolehkah aku ikut dengan kalian?” tanyanya.
“Kau sangat agresif… akan menjadi masalah,” jelas Baruna.
“Ada kau… kita rundingkan sebelum aku melakukan sesuatu,” jelas Kukulkan.
“Alat-alat dan teknologi yang kau gunakan, sepertinya sudah pada rusak!” selidik Karang Melenu.
“Hei… kau memperhatikan, hanya beberapa alat milikku yang berfungsi baik… alat teleport-ku, cincin stealth mode, dan jaket antigravitasi ini,” kata Kukulkan sembari menunjuk jaketnya.
“Jaket itu yang membuatmu dapat terbang?” tanya Kelikng.
“Bukan terbang, mengambang!” jelas Kukulkan.
“Bagaimana?” tanya Kelikng menatap Karang Melenu dan Baruna mencari jawaban.
“Baiklah, kau boleh ikut!” ucap Karang Melenu.
“Perempuan ini pemimpin kalian?” Kukulkan tidak percaya.
“Bukan pemimpin, aku yang perlu stabilisator kuantum itu,” jelas Karang Melenu.
“Tidak ada pemimpin di sini, semuanya boleh berpendapat, termasuk kau!” tambahnya lagi sembari menunjuk Kukulkan.
“Syukurlah kalau kau bukan pemimpinnya, bila perempuan menjadi pemimpin, biasanya akan kacau balau, penuh dengan saling fitnah isinya… daripada berfokus guna menyelesaikan masalah!” gerutu Kukulkan.
Karang Melenu tidak meladeninya. Dia segera mempersiapkan pintu teleport dan menunjuk target tujuan yang telah dia tentukan berdasarkan inputan dari Kukulkan.
HOOOOOOMMMM
Pintu teleport memunculkan pusaran seperti air. Kemudian perlahan riaknya berkurang dan memperlihatkan area tujuan di dalamnya.
Karang Melenu kemudian melangkah masuk ke dalam pintu teleport tersebut.
“Tunggu… aku baru sadar, kau manusia, kenapa teknologimu sudah setara dengan spesies kami di masa kini?” Tanya Kukulkan.
“Dia dari masa depan,” jelas Baruna sembari melangkah masuk ke pintu teleport tersebut mengikuti Karang Melenu yang telah terlebih dahulu masuk.
“Oh… ya, itu menjawab semuanya,” katanya sembari mengikuti Baruna.
Kemudian Kelikng mengikuti mereka semua di belakang paling akhir memasuki pintu teleport.
*
Seseorang berlari dengan sangat cepat melintasi gurun di tengah malam. Tidak jauh dari sana sekelompok orang mengejarnya.
Sesampainya di dekat tebing batu besar,”Ha! Kau terpojok tidak dapat lari ke mana-mana!” teriak salah satu pengejarnya yang berhelm ular warna hitam dan berpakaian serba hitam pula.
“Kau salah!” jawab orang yang dikejar, “… dengan cara ini, memastikan bahwa tidak akan ada orang di belakangku!”
Tiga belas orang berhelm ular itu segera menyerang orang tersebut dengan gerakan yang sangat cepat!
“HIA!”
BLAAAR!
Para pengejar berpentalan karena hentakan shock wave blast yang keluar dari kedua tangan orang yang dikejar.
“ARRRGH!”
“Sial, siapkan tombak sinar!” teriak pemimpin gerombolan pengejar.
Dengan serentak para gerombolan pengejar mengeluarkan tombak yang ujungnya mulai bersinar warna kemerahan.
Kemudian ketiga belas orang pengejar tadi sudah mengepung dari depan dan bersiaga mengeluar tembakan sinar energi.
“Tembak!”
SRAAAATH!
Tiga belas sinar mengarah tepat ke orang yang dikejar!
BLAAAAR!
Sinar energi maut mengenai dinding tebing dan mulai runtuh menimpa apa saja yang di bawahnya.
BRUUUGH!
Kemudian hening.
“Sepertinya dia telah tewas!” teriak pemimpin berhelm ular, “Ayo kita pergi dari sini!”
Kemudian mereka berlari ke suatu arah dan mengambil masing-masing sejenis kendaraan mirip motor antigravitasi dan pergi menjauh dari area tersebut.
*
“Terima kasih telah menolongku!” ucap si orang yang dikejar kepada Karang Melenu.
“Sama-sama,” jawab Karang Melenu.
“Momenmu pas sekali, menariknya ke pintu teleport saat energi sinar hampir mengenainya,” puji Baruna kepada Karang Melenu.
“Ya… ya… ya…, taktik itu sering juga kami lakukan untuk mengelabui lawan… hal yang biasa di tempat kami,” ucap Kukulkan dengan wajah mencibir.
“Siapa namamu?” tanya Kelikng yang masih menggunakan sarung tangan milik Karang Melenu sebagai penerjemah.
“Namaku Ra El,” jawabnya.
“Kenapa kau dikejar-kejar gerombolan orang yang bertopeng ular?” tanya Karang Melenu.
“Ya…mereka adalah para prajurit patroli dari Apep para sentralis dari pemerintahan yang ingin menguasai Bumi…,” jelasnya.
“Para sentralis katamu? Ingin menguasai Bumi?” tanya Karang Melenu.
“Ya… para sentralis… kau tahu… mereka memproduksi uang… uang itu digunakan sebagai alat tukar… lalu mereka membeli apa saja dengan alat tukar tersebut…,” jelas Ra El.
“Bukankah itu bagus, memudahkan perdagangan?” Kelikng keheranan.
“Itulah… kadang hal yang buruk ditutupi dengan sesuatu yang tampak indah… tujuan mereka memperbudak orang yang memegang uang tersebut…” tambah Ra El.
“Bagaimana cara mereka memperbudak orang yang memiliki uang tersebut?” Kelikng masih belum mengerti.
“Saat semua orang bergantung pada uang tersebut… di sanalah mulai muncul masalah… makanan hanya dapat dibeli dengan uang, pakaian hanya dapat dibeli dengan uang, apa pun hanya dapat dibeli dengan uang…,” jelas Ra El.
“Ya… apa yang salah dengan hal itu?” tanya Kelikng masih belum mengerti.
“Saat seseorang baru bisa makan bila memiliki uang untuk membeli makanan, padahal untuk makan tidak perlu uang… maka orang tersebut sudah menjadi budak si Apep rezim pemerintah yang ingin menguasai Bumi…” jawabnya.
“… dan… Apep sebagai rezim pemerintah sentralis ini… hanya rezim sentralis ini yang boleh memproduksi uang semaunya…. sedangkan orang yang kini bergantung pada uang…. menjadi budak mereka… harus bekerja untuk mendapatkan uang…,” jelas Ra El.
“Oh… aku mengerti sekarang…,” jawab Kelikng.
“Jadi kau adalah petani… karena kau tidak perlu uang… kau menanam dan beternak untuk mendapatkan makanan?” tanya Karang Melenu.
“Tepatnya petani sekaligus kesatria! Dari mana kau tahu?” tanya Ra El kepada Karang Melenu.
“Kami pernah mengalami hal yang sama… tetapi kami kini memiliki sistem desentralisasi dalam susunan masyarakat kami, tidak ada sistem sentralisasi lagi,” jelas Karang Melenu.
“Itu dia, desentralisasi! Biarkan Bumi dan penduduknya tetap menyatu dengan alam, biarkan mereka barter tanpa memerlukan uang versi sentralisasi!” jelas Ra El.
“Ya… aku sering barter satu bakul ikan lais dengan sekantung garam…,” ucap Kelikng.
“Lalu bagaimana kau barter dengan motor antigravitasi saat kau memerlukannya bila tanpa uang?” Tanya Kukulkan.
“Eh… komunitas desentralisasi kami mengeluarkan uang rakyat, uang yang tidak dikeluarkan oleh rezim pemerintah… uang rakyat ini jumlahnya tetap karena menggunakan sistem teknologi kuantum kriptografi nilainya ada yang lebih tinggi dari uang rezim pemerintah…,”
“Ada yang lebih rendah,.. dan ada yang setara dengan uang rezim pemerintah… dengan uang rakyat ala kriptografi kuantum tersebut… kami melakukan perdagangan…,” jelas Ra El.
“Siapa yang mengatur uang kriptografi tersebut?” tanya Kukulkan.
“Semua orang yang memiliki uang tersebut dapat bersama-sama mengaturnya, karena sistem uang ini terbuka… desentralisasi, tidak dikendalikan oleh satu entitas sentral…,” jelas Ra El.
“Kelemahan uang sistem desentralisasi adalah… bila orang yang di dalamnya merasa ada manipulasi dengan uang kriptografi tersebut… maka nilai uang tersebut yang semula tinggi…”
“… mendadak menjadi tidak ada harganya… oleh karena itulah kejujuran dan kebersamaan… serta sistem kuantum kriptografi menjamin transparansi transaksi dan tidak dapat dimanipulasi…”
“… semua hal tersebut sangat penting di sistem desentralisasi ini,” jelas Ra El.
“Hm… jadi sistem keuangan ala sentralisasi mudah dimanipulasi, dikorupsi, dan para rakyat pemegang uang sebenarnya adalah budak?” Kukulkan bergumam.
“Siaaaal! Aku berarti budak! Kukira aku adalah prajurit yang memperjuangkan negara!” keluh Kukulkan mendadak tampak beringas.
“Bagaimana caranya agar aku bergabung menjadi desentralis di komunitasmu?” tanya Kukulkan kepada Ra El dengan wajah semangat.
“Dengan bergabung denganku tentunya!” Jawab Ra El tegas sembari menepuk pundak Kukulkan.
“Terima kasih!” Jawab Kukulkan yang kini bagai menemukan semangat hidup baru.
“Selain dengan memproduksi uang… dengan cara apa lagi mereka membuat orang menjadi budak?” tanya Kukulkan lebih jauh.
“Yang ini adalah yang paling canggih… dengan membuat penjara yang tidak tampak… penjara mental!” jelas Ra El.
“Apa itu penjara mental?” tanya Kelikng juga penasaran.
“Hm… ada baiknya, kita ke area yang lebih aman terlebih dahulu,” saran Baruna.
“Oh ya… namaku Baruna, ini Karang Melenu yang menolongmu, ini Kelikng, dan ini Kukulkan,” Baruna mengenalkan diri sendiri dan rombongannya.
“Salam kenal semuanya, ayo ketempatku, lebih aman, eh… agar terhindar dari kejaran, ada baiknya menggunakan pintu teleport lagi,” saran Ra El.
*
ZAP!
Mereka muncul di suatu area,”Selamat datang di perkebunanku,” ucap Ra El sesampainya mereka semua di sana.
“Tempat ini kuberi nama Aaru… di sini aku bertani di dalam area gua bawah tanah di bukit ini….,”
“… Aaru ini juga sekaligus tempat persembunyianku di bukit ini, mudah untuk mengawasi area sekitar dari atas sini…”
“… sehingga bila ada orang-orang Apep yang lebih sering muncul di malam hari untuk berpatroli… aku menjauh dari tempat ini agar mereka tidak tahu bahwa aku tinggal di sini…” jelas Ra El.
“Sepertinya kau sengaja membuat orang-orang Apep mengejarmu tadi, iya kan?” selidik Karang Melenu.
“Pengamatanmu benar!” puji Ra El.
“Apa rencanamu bila Karang Melenu tidak menyelamatkanmu tadi?” tanya Baruna.
“Ah… aku punya jebakan di bukit tersebut… selama ini selalu berhasil… tubuhku punya perisai pelindung yang cukup untuk menahan semua sinar energi dalam batas sampai 20 senjata versi orang-orang Apep yang selalu berpatroli…” jelas Ra El.
“Oh… ada potensi suatu saat kau tidak beruntung… saat lebih dari dua puluh orang yang bersenjata sama menembakmu secara bersamaan,” tambah Kukulkan.
“Itu dia…” Ra El mengangguk membenarkan.
“Untungnya… patroli orang-orang Apep selalu di bawah 20 orang setiap malam sejauh ini…” tambah Rael menjelaskan.
“Boleh kutahu… apa yang membawa kalian ke sini?” tanya Ra El.
“Aku memerlukan Stabilisator kuantum,” jawab Karang Melenu.
“Ah… kau terlambat 5 jam, aku sebelumnya memiliki satu dan kujual ke pusat transaksi di area Lunu,” Ucap Ra El dengan nada menyayangkan.
“Bisakah kita ke sana segera malam ini?” tanya Kukulkan.
“Tentu, kalau kalian tidak lelah?” tanya Ra El.
“Kami belum lelah, ini baru jam 8 malam,” jelas Kelikng.
“Baiklah, silakan gunakan alat teleport-nya lagi, ada baiknya saat aku memiliki cukup uang kripto aku membeli alat teleport sendiri, ternyata sangat penting untuk melarikan diri…” ucap Ra El.
Karang Melenu menyiapkan alat teleport, kemudian Ra El menyentuh satu lokasi di peta hologram yang muncul.
Ra El masuk ke pintu teleport terlebih dahulu, disusul oleh Baruna, Kukulkan, Kelikng, dan Karang Melenu terakhir.
Mereka tiba di depan area yang tampak seperti piramida. Dengan segera Karang Melenu menyimpan pintu teleport ke sakunya.
“Bangunan yang unik,” ucap Kelikng sembari bergegas mengikuti yang lainnya di belakang Ra El.
“Akses disetujui!” suara dari pintu piramida tersebut menyetujui, “Ayo!” ajak Ra El.
Di dalam piramida tersebut suasana ramai,”Sejenis kafe?” ucap Karang Melenu.
“Kedai yang besaaaar,” puji Kelikng.
Di dalamnya ada banyak ragam spesies humanoid seperti manusia berkepala kambing, manusia berkepala cheetah, manusia berkepala burung elang, manusia berkepala serigala, manusia bermata besar, manusia berwajah ikan, dan banyak lagi.
Mereka tampak santai saja saat rombongan Ra El memasuki area tersebut.
Ra El bergerak ke meja untuk duduk,”Kalian mau makan atau minum, silakan!” menunjuk ke menu hologram muncul di meja mereka.
“Ini ada Ta Henket, Wadj-sop, Keftiu, Tjau, Hesyt, Bedja, dan Henket Merut,” jelas Ra El.
Kelikng tidak dapat membacanya,”Sarung tangan ini hanya menerjemahkan yang aku katakan, tapi bukan menerjemahkan apa yang aku lihat… Adakah makanan kesukaanku? Bebek?” tanya Kelikng ke Karang Melenu.
“Ada… ini Hesyt… aku juga sepertinya akan pesan yang sama, aku juga suka bebek!” ujar Karang Melenu.
Kelikng mengacungkan jempol,”aku juga perlu tuak atau sejenisnya.”
Karang Melenu mengangguk kemudian menyentuh menu hologram dan memesan jumlahnya.
Ra El, Kukulkan, dan Baruna melakukan hal yang sama.
“Nah… sudah kubayar semua makanannya,” jelas Ra El.
“Terima kasih!” hampir bersamaan mereka semua merespons apa yang dikatakan Ra El.
“Sembari menunggu makanan datang… kini kita bahas Stabilisator kuantum,” jelas Ra El.
“Ya bagaimana?” Karang Melenu antusias.
“Stabilisator kuantum ini aku jual kepada pemilik Peret ini,” jelas Ra El.
“Aku perlu uang untuk pertahanan dan persenjataan diri dari orang-orang Apep… dan juga untuk makanan kalian malam ini…” tambahnya.
“Ah… kau baik sekali,” puji Baruna.
“Aku perlu ke toilet!” ucap Kelikng.
“Aku juga perlu ke toilet,” ucap Kukulkan.
Mereka berdua berdiri mencari toilet.
Tak berapa lama seorang pelayan mendatangi meja mereka dan memberikan minuman yang telah dipesan.
Ra El mengambil minumnya dan mengarahkan minuman yang dipegangnya kepada teman-teman barunya.
“Untuk teman-teman baru!” ujarnya sembari meminum minumannya.
Baruna dan Karang Melenu melakukan hal yang sama,”Untuk teman-teman baruuu!” mereka berkata hampir bersamaan dan minum minuman mereka.
“Apakah permata merah ini dapat digunakan sebagai alat pembayaran?” tanya Kelikng saat balik dari toilet sembari menunjukkan berlian berkilau warna merah.
“Kau ambil dari mana permata itu?’ tanya Karang Melenu.
“Aku tidak mengambilnya, Kuxi memberikannya padaku saat dia berada di kamarku,” jelas Kelikng.
“Berada di kamarmu ha?” tanya Baruna.
“Ah… pasti ada yang kau lakukan bersamanya!” selidik Karang Melenu.
“He he he…,” Kelikng nyengir merasa bersalah sembari mengambil minumannya.
“Seumur dia… dia sudah dewasa menurut penduduk di area Sungai Niah… tak apa,” jelas Baruna kepada Karang Melenu.
“Ya… pria dewasa versi masa depan adalah 30 tahun,” jelas Karang Melenu.
“Apa? Kau dari masa depan?” tanya Ra El tak percaya.
“Aku pikir kau dari Rasi Orion sepertiku? Aku ternyata salah! Kuharap polisi lintas waktu dari masa depan tidak menangkap kita, aku sendiri sudah punya banyak masalah saat ini, dan tidak ingin menambahnya lagi…,”ucap Ra El.
“Tenaaaang, era ini belum masuk dalam sejarah resmi manusia bahkan manusia dari masa depan, polisi waktu tidak akan datang menjenguk kita,” jelas Baruna sembari melihat ke arah Karang Melenu yang mengangguk membenarkan.
“Syukurlah kalau begitu,” ucap Ra El tampak lega.
“Jadi apakah permata ini ada harganya?” tanya Kelikng sekali lagi.
“Permata tidak ada harganya di era ini, sama seperti emas, perak, dan sejenisnya tidak ada harganya…” jelas Ra El.
“Lalu apa yang berharga?” tanya Kelikng.
“Kau tidak menyimak? Uang versi sentralisasi ala Apep dan uang versi desentralisasi kripto kuantum, yang aku gunakan untuk membayar makanan kita malam ini!” jelas Ra El.
“Oh…,” Kelikng tampak kecewa.
“Simpan saja nak!” ucap Kukulkan yang sudah balik dari toilet sembari menepuk pundak Kelikng,”Kau lihat aku juga memilikinya di ekorku.”
“Jadi apa rencana kita selanjutnya?” tanya Baruna.
“Kita akan bertemu Set si pemilik Peret ini, dan kau siapkan uang kripto atau mungkin barter dengan sesuatu yang dianggap berharga oleh Set nantinya,” jelas Ra El.
“Hm… apa kau punya sesuatu yang kau anggap berharga Karang Melenu?” tanya Baruna.
“Entahlah… aku belum pikirkan sejauh ini, sebaiknya kita bertemu terlebih dahulu dengan Set,” saran Karang Melenu.
“Nah… Ra El, kau dengar sendiri?” ucap Baruna.
“Eh… ya, baiklah!” jawab Ra El.
Pada saat yang sama pelayan membawakan makanan yang telah dipesan.
“Sebaiknya, kita makan terlebih dahulu,” ajak Ra El.
“Hm… bebek panggang ini sama enaknya dengan bebek wadi dari Sungai Mahakam,” Puji Karang Melenu.
Kelikng mengangguk mengiyakan,”Tapi ada yang kurang, kurang sambal!”
“Tidak ada sambal di area sini,” jelas Baruna.
“Kalau sambal dijual di sini, pasti laku,” tambah Kelikng sembari nyengir.
“Jadi apa penjara mental yang kau maksud itu?” tanya Kukulkan kepada Ra El.
“Ini dia… kalau aku sebut sebagai Final Fallacy,” ucap Ra El.
“Iya, apa itu?” tanya Kukulkan tampak penasaran.
“Kepercayaan… agama tepatnya!” jelas Ra El.
“Hal ini perlu waktu beberapa generasi, minimal dua generasi saja hal ini dilakukan secara terus menerus… maka generasi berikutnya akan mengikutinya… para sentralis Apep ini membuat kepercayaan… bahwa mereka adalah tuhan dengan bukti mereka dapat terbang…”
“Dapat teleport… dapat membunuh orang biasa dengan cepat hanya dengan menekan tombol senjata pemusnah massal…”
“… intinya mereka para sentralis membuat cerita… tepatnya membuat agama… mereka menakuti-nakuti dengan entitas yang menghukum mereka saat mereka masih hidup dan bahkan saat mereka sudah meninggal bila melanggar aturan mereka…” jelas Ra El.
“… agama sebagai alat kontrol dan penjara mental yang tidak kelihatan… saat mereka patuh…”
“.… kemudian dikenalkan dengan rezim pemerintah sentralisasi ala Apep… dan rezim pemerintah sentralisasi ini kemudian mengenalkan uang sentralisasi ala Apep yang sebenarnya membuat mereka menjadi para budak…”
“Bagi budak yang mulai berpikir menggunakan pikiran kritisnya… dan tidak percaya….”
“… karena kepercayaan tersebut dibuat sebagai penjara mental bagi mereka… maka yang akan menumpas si pemikir kritis tentu saja orang-orang yang percaya pada kepercayaan tersebut…”
“… bahkan bagi yang berhasil menumpas si pemikir kritis akan diberikan hadiah berupa surga dan hidup abadi bersama para sentralis ala Apep….”
“Apakah para pejabat sentralis ala Apep benar-benar berusia panjang?” tanya Kelikng.
“Ya tentu saja, dengan teknologi mereka dapat hidup ratusan bahkan ribuan tahun!” jelas Ra El.
“Berapa umurmu?” Tanya Kelikng kepada Ra El.
“Aku 2275 juta tahun versi Bumi,” jawab Ra El.
“Whaow… usia tertua di desaku sekitar 200an tahun tetapi mereka tampak renta, kau masih terlihat muda!” teriak Kelikng tidak percaya.
“Usiamu berapa?” tanya Baruna ke Karang Melenu.
“750 tahun,” jawab Karang Melenu.
“Apa! Kau juga umurnya panjang dan tampak seperti gadis berusia duapuluh tahunan!” teriak Kelikng tidak percaya.
“Bangsat! Jadi selama ini aku benar-benar budak! Aku percaya saja pada kepercayaan yang ada di rezim pemerintahku, kini aku mengerti apa itu penjara mental… benar-benar final fallacy!” tampak wajahnya geram, jengkel, dan kecewa menjadi satu.
“Jadi kapan kita akan melawan balik rezim pemerintah sentralisasi ala Apep ini” Tanya Kukulkan bersemangat.
“Untuk sementara…. kekuatan komunitas desentralisasi di Bumi ini masih sedikit, jadi belum dapat terang-terangan untuk melawan secara fisik!” jawab Ra El.
“Hm… saat balik ke planetku di rasi Draco, aku akan membentuk komunitas tentang desentralisasi ini,” ungkap Kukulkan seperti mendapatkan ide.
“Mengapa rezim sentralisasi Apep ingin menguasai Bumi?” tanya Baruna.
“Bukankah sudah jelas, manusia adalah spesies yang masih muda, mudah dibohongi, mudah diarahkan, mudah diadu domba, mudah dikontrol dengan final fallacy dan sistem keuangan yang tersentralisasi…,”
“.… bila hal ini dapat dilakukan secara berkesinambungan…. ratusan bahkan ribuan tahun… ke depannya… tentu hal yang menguntungkan untuk dilakukan!” jelas Ra El.
“Ya… mereka berhasil melakukan hal itu di masa depan… masa sebelum zamanku,” jelas Karang Melenu merunduk sedih.
“Jadi apa yang akan kita lakukan?” Tanya Kukulkan.
“Tidak ada… itu menjadi bagian proses pendewasaan… kami berhasil melewatinya… buktinya aku… di zamanku… semuanya telah terdesentralisasi….” jawab Karang Melenu mantap.
“Aku senang mendengarnya…,” puji Ra El.
“Paling tidak, kini apa yang akan kita lakukan untuk memperlambat laju sentralisasi ala Apep ini?” tanya Kelikng.
“Kau dengar Kelikng kata Karang Melanu, tidak ada!” Baruna mengingatkan.
“Ayolah… aku tidak mau dipimpin oleh seorang perempuan untuk iya dan tidak akan suatu masalah!” Ucap Kukulkan setengah berteriak.
Orang-orang humanoid dari ragam spesies di tempat tersebut mulai memperhatikan mereka karena terganggu oleh suara keras Kukulkan.
“Hai Ra El! Tidak kukira kau datang lagi ke sini, bukankah sekitar 6 jam yang lalu kau sudah berkunjung!” sapa seseorang mendekat mereka.
Orang tersebut mendekat ke meja Ra El dan kawan-kawannya.
“Teman-teman, kenalkan ini Anubis!” Ra El mengenalkan Anubis kepada teman-teman barunya.
“Ini Kukulkan, ini Kelikng, ini Karang Melenu, dan ini Baruna,” tambahnya sembari menunjuk satu per satu mengenalkan mereka ke Anubis.
“Semuanya… senang berkenalan dengan kalian, aku Anubis!” sapanya dengan senyum serigala.
“Kau dari mana Anubis,” tanya Kukulkan.
“Aku dari Planet Saqqara, rasi bintang Sirius A,” jelasnya.
“Kau seorang prajurit?” tanya Baruna.
“Ya… ke mana-mana aku selalu mengenakan zirah prajurit ini,” jawab Anubis.
“Baju zirah prajurit Saqqara terkenal paling kuat dan canggih, seorang prajurit planet Saqqara seorang diri mampu mengangkat gunung tertinggi sekali pun… itu mitosnya,” jelas Ra El.
“Itu bukan mitos,” jawab Anubis.
“Metal dan teknologi baju zirah dari planet Saqqara terkenal karena benar-benar mampu melakukan apa yang orang anggap sebagai mitos,” jelas Anubis.
“Ya… ya… aku percaya!” ucap Kukulkan.
“Tidak biasanya… apa yang membuatmu ke sini dua kali?” tanya Anubis kepada Ra El.
“Aku memerlukan stabilisator kuantum…,” jelas Ra El.
“Kau bercanda… kau baru saja menjualnya… lalu kau memerlukannya lagi? Kau Bimbang?” tanya Anubis.
“Tidak… bukan aku… dia yang perlu…,” jelas Ra El sembari menunjuk ke Karang Melenu.
“Oh… saat ini memang sulit mendapatkan stabilisator kuantum… apalagi diperlukan dalam penjelajahan ruang angkasa dan juga mempersingkat serta memanipulasi waktu… suku cadang yang sangat-sangat berharga…” ucap Anubis.
“Kau sudah menanyakannya kepada Set?” tanya Anubis ke Ra El.
“Belum… terutama karena ada kendala keuangan…” jawab Ra El.
“Hei… kita berteman… kau anak Kaisar Atum Khnum, kau punya banyak uang!” ucap Anubis.
Ra El menyilangkan tangannya ke mulutnya sendiri sebagai tanda agar Anubis tidak melanjutkan kata-katanya lagi.
“Apa? Kau anak seorang raja!” Kukulkan terkejut dengan mata terbelalak.
Hal ini tentu juga mengejutkan Baruna, Karang Melenu, dan Kelikng.
“Dengar…he he he… ucapnya,” sembari menekan sesuatu di lehernya kemudian helm berbentuk seekor burung elang menutupi wajahnya.
“Yuk… segera kita bertemu Set,” ajak Ra El sembari berdiri dan melangkah dengan mantap ke suatu arah.
Anubis, Baruna, Kukulkan, Karang Melenu, dan Kelikng berdiri dan mengikuti ke mana Ra El berjalan.
“Ra Eeeeeel… ini perjumpaan kedua kalinya kita di hari ini!” seseorang berhelm seperti gabungan serigala dan burung mendatangi Ra El saat memasuki suatu ruangan yang tampak lebih nyaman dan lebih hening.
“Ya… ya… ya… Set… langsung saja, aku memerlukan stabilisator kuantum yang kujual tadi siang kepadamu…” ucap Ra El.
“Masih ada… kau ada uang untuk membelinya dariku?… harganya kini 10 kali lipat dari uang yang telah kau terima” jelas Set.
“Apa sepuluh kali lipat! Kau pemeras! Aku tidak memilikinya… tapi aku bisa pinjam darimu terlebih dahulu… nanti aku kembalikan,” jelas Ra El.
“Tawaran yang lemah… tidak menarik, tidak ada untungnya bagiku…” jawab Set.
“Set ayolah… kita sudah berteman sejak lama…,” ucap Ra El.
“Kau benar… tetapi bisnis adalah bisnis… atau… aku dapat mengontak ayahmu dan mentransfer uangnya kepadaku sekaligus menyerahkanmu…”
“.… sepertinya malah ayahmu akan memberiku 1000 kali lipat dari uang yang kau terima… apalagi kau seorang pengikut desentralisasi… ayahmu seorang raja yang sentralis…. “
“.… pasti senang mendapatkan kembali anaknya yang beraliran berbeda…,” Set mulai menggerakkan tangannya seolah akan mengontak seseorang.
“Tunggu…Kau benar… kau boleh panggil ayahku untuk mendapatkan hadiah… tapi berikan stabilisator kuantum terlebih dahulu kepadanya,” ucap Ra El menunjuk ke Karang Melenu.
“Kau tidak berubah… selalu baik kepada manusia… Bumi ini pasti akan menjadi bagian dari sistem kerajaan sentralisasi Apep dari ayahmu secara cepat atau lambat… sesuatu yang tidak terhindarkan!” jelas Set.
Set kemudian menggerakkan tangannya, kemudian muncul di tangannya satu unit stabilisator kuantum.
Set berjalan mendekati Karang Melenu,”Aku tahu kau dari masa depan, tetapi sejarah yang akan terjadi di masa depan tidak dapat terhindarkan…”
“… Bumi akan menjadi wilayah sentralisasi Apep sampai kalian mampu melepaskan diri dari penjara mental dan mampu memilih antara sentralisasi atau desentralisasi pada saatnya nanti…” jelas Set.
Karang Melenu menerima satu unit stabilisator kuantum di tangannya, kemudian mengecilkannya dan memasukkannya ke dalam saku.
“Terima kasih Set!” jawabnya.
“Ra El… ayo ikut aku!” ucap Set kepada Ra El.
Ra El mengikutinya sembari menoleh kepada Karang Melenu,”Hati-hati di perjalanan, semoga kita dapat bertemu lagi suatu saat!” kemudian Ra El diikuti oleh Anubis masuk ke pintu energi yang ada di ruangan tersebut bersama Set.
Karang Melenu, Baruna, Kelikng dan Kukulkan diantar keluar dari Peret tersebut oleh para pelayan.
Sesampainya di luar. Peret berbentuk piramida tersebut mendadak mengeluarkan energi dan membentuk sinar di area bawahnya, piramida tersebut kemudian mengambang dan melesat ke langit sampai tidak terlihat lagi.
Kelikng bengong melihat hal itu semua.
“Ternyata toko antarbintang,” ucap Baruna.
“Nah… kau sudah mendapatkan satu unit stabilisator kuantum, sepertinya misi kita berhasil,” ucap Baruna kepada Karang Melenu yang masih mendongak ke atas.
“Kini aku tahu… jadi inilah awal mula Bumi dan orang-orang kami menjadi budak oleh manusia dari planet lainnya… “
“… karena mereka mengklaim Bumi sebagai wilayah mereka… sentralisasi… kepercayaan… dan sistem keuangan…” mata Karang Melenu berkaca-kaca tanda sedih.
“Tidak terhindarkan… siaaaal… hal ini juga terjadi di rezim pemerintahku!” umpat Kukulkan tampak kecewa dan marah menjadi satu.
“Raaaa Eeeel! Kau berjanji kepadaku untuk bergabung denganmu, tapi kau pergi! Bangsat kaaau!” teriak Kukulkan lagi dengan amarah.
“Paling tidak kini kita semua mengerti bahwa musuh kita bersama adalah sistem sentralisasi yang membuat kita semua menjadi budak… ditularkan melalui kepercayaan… dan sistem keuangan…,” ucap Baruna lirih.
“Ya… ya… aku mengerti… mungkin itu yang kau maksud aku telah bergabung denganmu, bukan dengan cara fisik… tapi cara berpikir!” tambah Kukulkan tetap berteriak sembari tetap menengadah ke langit.
“Apa rencanamu selanjutnya?” tanya Kukulkan kepada Karang Melenu.
“Tidak ada, aku akan kembali ke Sungai Mahakam dan kembali ke masa depan,” jawabnya.
“Tidak ada? Dasar perempuan! Hm… paling tidak… aku kini telah mendapatkan sesuatu dari petualangan ini, sampai jumpa lagi,” ucap Kukulkan sembari menyiapkan pintu teleport miliknya.
HOOOOOMMMM!
Pintu teleport milik Kukulkan berdengung dan muncul sejenis pusaran air dari pintu tersebut dan kemudian tenang, di dalam pintu tersebut terlihat suasana masih siang hari.
“Sampai jumpa lagi Kukulkan!” ucap Kelikng sembari mendekatinya dan memberikan berlian warna merah kepadanya,”Ini tanda mata dari kami.”
“Terima kasih,” jawab Kukulkan sembari melihat wajah Kelikng, Karang Melanu dan Baruna bergantian.
“Aku punya ide, bila para sentralis Apep berhasil menguasai Bumi dengan kepercayaan dan sistem keuangan yang membuat manusia di Bumi menjadi budak dalam waktu cepat atau lambat… “
“Selama aku masih hidup… aku akan mengajarkan ke para rakyat untuk melawan raja… untuk membebaskan diri mereka dari perbudakan…,” jelas Kukulkan.
“Aku tidak tahu ide tersebut bagus atau tidak… tetapi itu terserah kau…” jelas Baruna.
“Selamat tinggal, sampai jumpa lagi!” Ucap Kukulkan sembari melihat ke arah Karang Melenu dan tersenyum.
Karang Melenu tersenyum balik sembari melihat Kukulkan berjalan memasuki pintu teleport-nya.
“Hari sudah hampir dini hari, apakah kita akan berkemah di sini atau langsung balik ke Gua Niah?” tanya Karang Melenu.
“Aku merasa sebaiknya kita langsung ke Sungai Mahakam, tempat Kelikng berasal,” saran Baruna.
“Baiklah!” jawab Karang Melenu sembari menyiapkan pintu teleport-nya.
OOOOOMMMM!
Pintu teleport berdengung. Mereka bertiga masuk ke dalamnya.
*
Pagi-pagi di rumah lamin milik Apai Lalong suasana menjadi heboh saat Putri Karang Melenu telah kembali bersama Raja Naga Erau dan juga Kelikng.
Para penduduk berdatangan untuk melihat dengan mata kepala sendiri, mereka ingin tahu bagaimana sesungguhnya rupa Raja Naga Erau dan Putrinya.
Tari Gantar dibawakan dengan alunan musik khas dari kelentangan, gimar, genikng, dan sulikng dewa yang mengalun merdu.
Para penduduk terkesima melihat Raja Naga Erau yang duduk di salah satu tempat, kemudian Putri Raja Naga Erau, Karang Melenu dan Kelikng yang tampak lebih gagah dari sebelumnya.
Apai Lalong dan Babu Jaruma merayakan kedatangan mereka selama tujuh hari tujuh malam seperti perayaan sepasang pengantin anak raja.
*
Setelah pesta berakhir. Apai Lalong dan Babu Jaruma yang tampak gembira berkata kepada Baruna.
“Raja Naga Erau… bila kau mau, kau dapat mendirikan kerajaanmu di area sini, tanah sini masih luas untuk dijadikan kerajaan…” ucap Apai Lalong.
“Eh… tepatnya Baruna… bukan Erau…,” Baruna membenahi pengucapan namanya.
“Oh… baik Borneo!” jawab Apai Lalong.
“Bukan Borneo…. Baruna… Baruna… tapi… terima kasih Apai… mengurus satu kerajaan saja sudah sulit apalagi kini membuat di sini… ada baiknya Kelikng yang membuat kerajaan baru di sini…” saran Baruna.
“Ah… Raja Naga… aku kini pengikut desentralisasi… aku tidak akan membuat kerajaan apa pun…,” jawab Kelikng.
“Ha ha ha… kau ini anak yang baik!” puji Baruna.
“Ehmm.. sepertinya sudah saatnya aku kembali ke Sungai Niah, tepatnya Gua Niah,” ucap Baruna kepada Karang Melenu.
“Terima kasih telah membantuku memodifikasi dan memasang stabilisator kuantum agar sesuai dengan pesawatku…. apakah kau perlu pintu teleport untuk ke sana?” tanya Karang Melenu.
“Tidak perlu… sengaja aku akan melakukannya dengan berjalan kaki, menikmati petualangan yang tidak jauh dari sini… ya sekitar 30 hari berjalan santai… kurasa aku bisa menghabiskan waktu untuk itu…” jelasnya.
“Perlu aku temani?” Tanya Kelikng.
“Tidak perlu…. baiklah… sampai jumpa lagi,” ucapnya sembari melakukan sembah tanda hormat kepada Apai Lalong, Babu Jaruma, Kelikng, dan Karang Melenu dan beberapa orang yang ada di sana.
Kemudian Baruna melangkah ke luar dari rumah lamin dan berjalan ke arah Sungai Mahakam, ada beberapa penduduk yang masih mengikutinya, sampai di perbatasan desa penduduk yang mengikutinya pada balik ke rumah masing-masing.
*
“Apa kau memutuskan untuk tinggal di sini?” tanya Kelikng sembari menyerahkan sarung tangan milik Karang Melenu yang dikenakannya kepada Karang Melenu.
“Tidak… sudah saatnya aku pulang, terima kasih telah menemaniku berpetualang Kelikng,” ujar Karang Melenu.
“Kau jaga Sepunti, Apai Lalong, Babu Jaruma dan penduduk sini ya, Kelikng kau kini sudah lebih dewasa dan menjadi kesatria perkasa!” Ucap Karang Melenu.
“Terima kasih Putri, berkat kau aku telah melihat banyak hal dan juga pemahaman baru!” Kelikng memberikan sembah rasa hormat.
“Ada satu pertanyaan buatmu sebelum kau pergi?” Kelikng menambahkan.
“Ya apa itu?” tanya Karang Melenu.
“Kau sebagai perempuan… aku sempat berbincang beberapa kali dengan Kukulkan tentang sifat buruk perempuan…,” Kelikng penasaran.
“Ya… Kukulkan benar… banyak perempuan hanya menggantungkan semua harapan kepada pria pasangannya, menggantungkan dan menuntut kebahagiaannya kepada pria pasangannya…” Karang Melalu memotong kata-kata Kelikng.
“… bila pasangan prianya tidak berhasil mewujudkannya… terutama masalah kekayaan… si perempuan akan meninggalkannya… “
“.. banyak masalah muncul dari pikiran labil perempuan karena perempuan cenderung menggunakan perasaannya tidak hanya itu… “
“… mereka cenderung mengatur… mengontrol apa pun yang dilakukan pada pasangannya… “
“… seorang perempuan akan cenderung mempermasalahkan hal yang kecil dan membuatnya menjadi besar…”
“… seorang perempuan mampu mengorbankan hal-hal besar untuk hal-hal yang kecil…”
“… seorang perempuan akan memintamu untuk jujur pada masa lalumu, kemudian dia akan menggunakan masa lalumu untuk melawanmu…. “
“.… seorang perempuan akan selalu ingat pria pasangannya yang telah menyakitinya… tetapi perempuan cenderung lupa bahwa dia telah menyakiti pria tersebut lebih banyak lagi…”
“.… seorang perempuan akan selalu meminta kembali harta yang telah dikeluarkannya untuk keluarga ke pasangan prianya…”
“… seorang perempuan akan selalu terjebak untuk mementingkan dan mencintai dirinya sendiri…”
“… seorang perempuan akan selalu mengorbankan kebahagiaan pasangannya untuk kebahagiaan dirinya sendiri…”
“… seorang perempuan akan selalu menyalahkan pasangan prianya walaupun si pria sudah banyak berkorban untuknya…”
“Hal… itulah yang membuat pria cenderung mencari lagi perempuan lainnya… dan berharap si perempuan yang baru memiliki sifat yang lebih baik…. tetapi tentu saja perempuan seperti itu sulit dicari…”
“Itu semua sifat buruk perempuan… tetapi di masaku, masa depan… itu semua sudah menghilang… karena di masa itu, kami diperlengkapi dengan komputer kuantum organik yang dipasang di kepala kami…”
“… sehingga perempuan di masa depan, di masaku mampu untuk berpikir lebih jernih, kritis, dan tidak dipengaruhi oleh perasaan…” jelas Karang Melenu.
“Itu dia yang aku katakan ke Kukulkan bahwa kau berbeda, kau mandiri!” jawab Kelikng sembari memberikan sembah sebagai tanda hormat.
“Apakah ada perempuan yang tidak seperti yang Putri katakan di masa kini?” tanya Kelikng.
“Tentu saja ada…. tetapi… sulit didapatkan… jangan menyerah untuk mencarinya…” saran Karang Melenu sembari menepuk pundak Kelikng.
“Baiklah, semoga suatu saat kita dapat berjumpa lagi,” Ucap Karang Melenu ke Kelikng.
“Kau tahu… namamu di masa depan banyak digunakan orang karena kau memberi inspirasi tentang keberanian, kejujuran, dan pelindung bagi para orang tertindas karena kau mengerti desentralisasi,” jelas Karang Melenu sembari tersenyum.
Kelikng tersenyum balik sembari memberikan sembah hormat.
Kemudian Karang Melenu mendekat ke Babu Jaruma, memeluknya dengan erat,”Terima kasih Ine sudah menganggapku sebagai anak, semoga suatu saat saya dapat berkunjung kembali.”
Apai Lalong mendekati mereka berdua. Karang Melenu memeluk Apai Lalong dengan meneteskan air mata.
HOOOOMM!
Suara pintu teleport Karang Melenu mendengung.
ZAP!
Karang Melenu menghilang disertai hilangnya pintu teleport di depan pandangan mereka yang ada di sana.
*
Di area dataran tinggi. Karang Melenu berjalan di tengah dataran dan mengeluarkan pesawat lintas ruang dan waktunya yang berbentuk mirip telur.
Meletakkannya. Kemudian pesawat tersebut membesar, dimasukinya.
OOOOOOOOOOOOOM!
Perlahan area bawah pesawat tersebut mengeluarkan energi dan kemudian pesawat tersebut melesat ke atas meninggalkan era tersebut.
*
Baruna menyaksikan pesawat tersebut menghilang dari kejauhan diperjalanannya.
Mendadak langit terpecah oleh energi kilat dan pesawat berbentuk seperti kerang meluncur dari langit ke suatu arah.
Baruna dengan kekuatannya berlari sangat kencang ke arah pesawat berbentuk kerang tersebut jatuh.
Sesampainya di sana. Baruna segera menolong seseorang yang ada di dalam pesawat yang rusak tersebut, pesawat rusak berat dan terjadi kebakaran di dalamnya.
Diangkatnya orang tersebut agar menjauh dari pesawatnya.
BOOOOOOM!
Pesawat meledak dengan keras, getarannya sampai terasa di area yang jauh.
Baruna segera membuka helm orang tersebut, ternyata seorang perempuan.
“Jangan khawatir… kau selamat, selamat datang di Bumi!” ucap Baruna.
“Terima kasih telah menolongku, siapa kau?” tanya perempuan tersebut.
“Aku Baruna.”
“.… A… Aku Dayang Sumbi.”
*
Ikuti cerita selanjutnya di sini
Baca cerita Legenda Sundaland ini dalam format Ebook di sini




