Ngayau, Misteri Manusia Kepala Merah (Cheu Fung Theu)

Ngayau, berasal dari kata “yau” yang secara harfiah berarti: mencari. Sedangkan “ngayau” positif maknanya, berarti: mencari kekuatan (kepala musuh) untuk menambah daya, mempertahankan wilayah, klan, serta menjaga harkat dan martabat warga suatu rumah betang atau kampung dari serangan luar.

Di Kalimantan Barat, ngayau identik dengan “manusia kepala merah”. Mengacu kepada kebiasaan orang Dayak, yang sehabis tariu, akan mengikatkan kepala dengan kain merah. Atau menyelipkan daun sabang merah di telinga, sebagai tanda, sekaligus penangkal serangan gaib yang tiba-tiba.

Cheu Fung Teu

Cheu Fung Teu, dalam dialek Tio Ciu di Kalimantan Barat, menjadi simbol keberanian dan keteguhan dalam menghadapi tantangan.

Secara harfiah, istilah ini merujuk pada “manusia kepala merah,” suatu julukan yang mengingatkan orang Dayak akan bahaya dan keberanian. Seiring berjalannya waktu, tradisi ngayau, awalnya terkait dengan kepala musuh, telah berevolusi dan meresap ke berbagai aspek kehidupan.

Baca Pembeli dan Pembaca Novel Indonesia

Novel sejarah ini memaparkan perjalanan ngayau dari masa ke masa, mencakup empat kali evolusi yang signifikan. Awalnya, ngayau terkait dengan praktik head hunting, di mana seseorang mengejar kepala musuh sebagai tanda keberanian dan kehebatan. Kemudian, tradisi ini bertransformasi menjadi dunia olahraga, di mana kegemaran menang diukur dengan pengumpulan piala.

Puncak evolusi berikutnya membawa ngayau ke dunia kerja, terutama dalam manajemen sumber daya manusia (SDM). Di sini, novel menggambarkan praktik membajak tenaga terampil dalam industri sejenis. Ngayau tidak lagi hanya berarti keberanian dalam pertempuran fisik, tetapi juga mencerminkan pertarungan untuk mendapatkan dan mempertahankan sumber daya manusia yang berkualitas.

Dalam dunia Dayak, ngayau menjadi lebih kompleks dan mendalam, mencerminkan perubahan masyarakat dan nilai-nilai yang berkembang. Novel ini tidak hanya menyajikan cerita epik, tetapi juga menyertakan catatan kaki untuk memberikan konteks dan informasi tambahan tentang tradisi, budaya, dan sejarah yang melingkupi ngayau.

Baca Anggrek Hitam untuk Domia : Sebuah Dongeng Suku Bangsa Dayak

Sebagai pembaca, Anda akan diajak menjelajahi dunia yang penuh warna dari masa lalu hingga kini, melalui mata tokoh-tokoh yang memainkan peran penting dalam evolusi ngayau. Dengan catatan kaki, penulis memberikan kedalaman lebih dalam, memastikan pembaca dapat memahami konteks historis dan budaya yang membentuk cerita ini menjadi suatu epik yang menginspirasi dan memikat.

DAFTAR ISI

Prolog Pesawat Lintas Galaksi: Pendaratan Pertama Imigran Yunan dan Formosa di Tanah Dayak

1. Mendirikan Betang
2. Tariu
3. Teu Fung Theu
4. Sabang Merah dan Panglima Burung
5. Penyelamatan Ka Kon
6. Pasukan Seribu Kuil
7. Darah Purifikasi
8. Hio untuk Akong
9. Babae
10. Macatn Gaikng dan Tulah Sirok Somah
11. Tengkorak Orang Sakti
12. Batu Janji
13. Kompunan
14. Pengacau Huma
15. Rasi Bintang dan Kultivasi Padi
16. Tiga Pasang Nabau
17. Silih Dosa dan “Tragedi Sambas”
18. Perangkap Majapahit
19. Loh Gender dan Akal Bulus Abang Jubair
20. Ponimpokng Ompuk
21. Pertarungan Menyelamatkan Kapuas Epilog Eunomia Mae Kola Jora

Berikut ini hanya dipostingkan Epilognya saja:

Eunomia Mae Kola Jora (Epilog) SEABAD kemudian. Setelah pertarungan di tepi Kapuas. Entekong sebagai pusat pemerintahan Indonesia Serikat tumbuh jadi negeri gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo.

Rakyat hidup teguh bersatu padu, bahagia, aman sentosa. Semua berazam terus berkhidmat pada negara di bawah seorang pemimpin arif bijaksana. Sebab demikianlah hakikat sebuah negara-kota: memakmurkan dan ada untuk warga. Hal itu karena Panglima Burung telah memanggil secara telepati pikiran Plato (abad 4 sM) dari negeri Yunani kuna ke tanah Dayak, lalu masuk ke diri seorang muda arif bijaksana.

Namanya gabungan Dayak dan Yunani: Eunomia Mae Kola Jora. Dia Rektor Universitas Negeri Dayak berkedudukan di jantung pulau Borneo. Arti namanya: Dewi keadilan tak pernah menderita. Wanita rektor itu berasal dari trah dan darah Panglima Burung yang mengambil studi S-1 di Universitas Tanjungpura, S-2 di Universitas Brawijaja, dan S-3 di California. Gabungan kearifan lokal, nusantara, dan visi global ada dalam dirinya. Ia dipilih secara aklamasi dalam sekali putaran Pemilihan Langsung yang diadakan KPU Republik Indonesia Serikat, dengan dukungan suara 99%. Dipilih memimpin pertama-tama bukan karena kepandaiannya, melainkan karena arif bijaksana. Rektor itu berusia 21 tahun. Termuda di antara profesor yang ada di Indonesia Serikat waktu itu.

Selain profesor di bidang teknologi hijau (green tech), wanita belia nan jelita itu juga pakar bidang telekomunikasi nirkabel. Terkenal karena percobaan di laboratorium miliknya mengklon manusia-manusia arif bijaksana. Di sebelah ruang percobaan Prof. Eunomia Mae Kola Jora adalah lab rekannya, Prof. Eirene David Mendel yang adalah keturunan ilmuwan Gregor Johann Mendel, rahib Katolik penemu teori genetika yang terkenal dengan teori “Principles of Inheritance”.

Teori Mendel kemudian dielaborasi dan dikembangkan Prof. Eunomia Mae Kola Jora untuk memanggil roh leluhur orang Dayak secara modern, namun ia gunakan secara bijaksana, hanya untuk kebaikan dan kepentingan umum saja.

Yang unik, manusia hasil klon sang profesor muda setelah diuji: SEPERTI MANUSIA DAYAK PURBA! Manusia Dayak purba yang jujur, polos, terbuka, open minded, serta memanfaatkan sumber daya alam secara bijak dan menjaganya secara berkesinambungan.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Serikat benar-benar tercapai, bukan hanya ada dalam orasi para petualang politik. Equilibrium dan harmoni terasa hingga strata dan kelas-kelas sosial. Undang-undang yang adil didasarkan kepentingan umum dan eunomia , sehingga mengeliminasi perseteruan dan konflik politik.

Mae Kola Jora berdiri di tepi sungai Mengkiang lalu membaca beberapa catatan kuno yang berada di genggamannya.

“Kekuak….” Dengan kata-kata lirih, namun tegas dan jelas. Mendadak langit di suatu area terjadi lompatan energi listrik membentuk kilat. Secara perlahan mendadak di area tersebut terlihat pesawat kuno yang telah ribuan tahun mengambang di langit tanpa tersentuh dan tidak akan terkena tabrakan mengenai pesawat lain karena memiliki teknologi yang sangat tinggi. Mae Kola Jora tersenyum dan berkata,”Kita akan segera saling bersilaturahmi, saudaraku.…”

Ratu adil telah datang. Ia Eunomia Mae Kola Jora. Lahir dari reruntuhan, setelah mengalami proses panjang dan berbelit. Setelah banjir darah purifikasi!

Baca Upacara: Novel Perdana Korrie yang Mengangkat dan Memperkenalkan Dayak

TAMAT Harga: Rp 1250.000, dikirim ke alamat, plus ongkir.

Share your love
Avatar photo
Biblio Pedia
Articles: 239

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply