Ombon: Endorsement Terahir Korrie Layun Rampan

Budi Miank agaknya sastrawan (Dayak) paling beruntung. Mengapa?

Penyair dan pengarang dari Bumi Khatulistiwa itu berhasil mendapatkan endorsement (nanti akan diulas dalam satu narasi sendiri) dari sastrawan kawakan negeri Pancasila: Korrie Layun Rampan.

Singkatnya, dalam dunia penulisan. Endorsement adalah semacam anjuran, peneguhan,  penguatan, kesaksian, testimoni seorang yang dianggap pakar atau kompeten di bidangnya untuk suatu karya sesorang.

Lazimnya endorsement berisi pujian, yang merekomendasikan bahwa karya itu “masuk” kategori. Dan lulus sebagai konsumsi publik. Suatu stempel, cap, dari seorang pakar. Dalam logika, namanya: argumentum ab auctoritate. Sekali otoritas di bidangnya berkata, habis perkara. Mengapa? Sebab otoritas adalah pemegang ilmu, zaman dahulu, dan kini pun, masih demikian.

Oxford Languages memberikan definisi “endorsement”: an act of giving one’s public approval or support to someone or something.

Kini terang benderang fokus topik kita. Budi Miank, yang beruntung itu, orang terakhir yang mendapat endorsement Korrie Layun Rampan.

Biasanya, Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatat hal yang serba Ter-.  Bolehlah Terakhir Endorsement Korrie Layun Rampan ini diusulkan masuk rekor MURI.

Saya punya pengalaman menyiapkan “mengapa” suatu objek pantas diajukan rekor untuk dicatat MURI. Menyusun argumen, menyarikan proses kreatif, mendeskripsikan, mengajukan, hingga pada penganugerahan MURI. Meski untuk itu keluar biaya. Dayak pun pernah tercatat dalam rekor MURI untuk buku yang ditulis keluarga inti terbanyak Dr. Yansen TP Hidup Bersama Allah Jadi Produktif (Bhuana Ilmu Populer, 2020).

Saya yang diminta Miank langsung menghadap kepada Korie untuk memperoleh endorsement ini. Ketika terbaring di rumah sakit Jakarta, saya bacakan Pengantarnya. Daftar isi. Kemudian beberapa contoh sajak.

Kata Korrie, “Sajak-sajak Budi Miank telah mengandung cita rasa, dan memenuhi unsur-unsur sastra.”

Selesai!

Inilah endorsement Korrie untuk kumpulan sajak (KS) Budi Miank:

“Puisi-puisi tematik tentang Dayak masih sangat langka. Kumpulan puisi ini khas mengangkat khasanah dan duna Dayak, seperti: pedagi, tembawang, hutan, dan ladang. Inilah sastra kontekstual, sekaligus regional.”

— Korrie Layun Rampan
Kritikus Sastra Indonesia dan sastrawan senior.

Buku ini pun mencatatkan sejarah sebagai terbitan perdana Lembaga Literasi Dayak (LLD) dengan ISBN 978-602-2735-86-07.

Terbit 2015. Buku dengan bilangan halaman 107 ini, dikatapengantari salah seorang sasrtawan Dayak, Alexander Mering. Yang di jagad sastra dan literasi, ia menggunakan nama-pena: Wisnu Pamungkas.

Di bawah judul pengantar “Mendirikan Pedagi lewat Puisi” (11-13) sang pengantar menyatakan, “…buku ini rekaman dari perenungannya terhadap berbagai gejala, fenomena, dan juga fakta yang tak seluruhnya berhasil ia kunyah menjadi pemahaman budaya bumi putra yang rantai geneologinya diwariskan Ombon”.

Membaca endorsement dan pengantar saja enak. Apalagi menikmati seluruh untaian puisi Miank. Tak syak lagi. Atas dedikasi dan kualitas puisinya ini, Budi Miank oleh Korrie dan Masri dicatat dalam buku Sastrawan Dayak: Karya dan Dunianya (2019).

Jangan mengaku diri pegiat literasi Dayak jika belum memegang langsung. Dan memamah-biak buku ini!

Lebih daripada itu. Buku ini menjadi contoh. Bahwa Dayak bisa berbuat di semua sektor, berkiprah di berbagai lini. Di bidang literasi misalnya: Penulis, pemberi kata pengantar, endorsement, editor, hingga Penerbit; semuanya: Dayak.

Hari gini. Pakar Dayak tak perlu (lagi) mencari keluar kandang. 

Nah!

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply