Rumah Tjilik Riwut (1)

Angin mengembus dingin menjelang malam. Di bilangan Jalan Sudirman, kota Palangka Raya, di belok jalan sedikit pojok. Terbaca plang yang dibenderang oleh cahaya lampu taman warna warni: Rumah Tjilik Riwut Gallery & Resto.

Pada narasi yang lalu, kita telah berkunjung secara virtual ke rumah para munsyi dan pujangga. Di antaranya yang telah dinarasikan adalah Rumah Sastra Korrie Layun Rampan dan Rumah Puisi Taufik Ismail.

Baca https://bibliopedia.id/rumah-sastra-korrie-layun-rampan/?v=b718adec73e0

Baca pula https://bibliopedia.id/rumah-puisi-taufiq-ismail/?v=b718adec73e0

Tak syak lagi. Bahwa literasi Dayak tonggaknya ditancapkan Tjilik Riwut. Mulai dari sejarah Kalimantan, Kalimantan Membangun, Kalimantan Memanggil, hingga Dayak-Indonesia; ditulisnya. Nukilan tentang indigenous people of Borneo, dan pulaunya, Tjilik yang cukup kompherensif membahasnya. Meski tidak bisa dikatakan “lengkap” betul. Sebab mana ada hal yang bisa ditulis secara lengkap, sebab semuanya berubah dan berkembang. Apalagi menyangkut perubahan suatu masyarakat.

Maka Rumah Penulis Tjilik Riwut kita jadikan dua tulisan. Mulai hari ini.

Malam itu temaram. Di luar, cahaya remang-remang. Langit membekap gelap. Gulita separuh bercampur pijar-pijar lampu taman menambah indah suasana. Kota Palangka Raya menebar pesonanya di malam hari.

Saya bersama Dr. Wilson, Prof. Dr. Suriansyah, dan Yunitha Elle duduk di kursi kayu yang bermeja kayu juga.

Pada sebuah ruang, berdinding putih. Tergantung foto-foto tua. Dibingkai kaca yang bening, semua gambar berkisah tentang sejarah masa lalu. Ketika bumi pendahara masihlah belantara. Dan Tjilik Riwut membangun kota di atas pasir. Pahandut yang semula cikal bakal Palangka Raya, kini nyaris sepi ditinggalkan. Pusat kota ada seputar lingkar kantor Gubernur, kilometer 00 sebagai pusat kota.

Malam itu temaram. Di taman, lampur remang-remang. Saya bersama Dr. Wilson, Dr. Suriansyah, dan Yunitha Elle duduk di kursi kayu yang bermeja kayu juga.

Terkesan orisinal warna alam.

Sembari menikmati kuliner setempat, ikan baong dan patin bakar, ditingkah suara merdu penyani kafe dan iringan musik, tergeletak begitu saja buku-buku di sana. Sebagian besar karya Tjilik Riwut, meski ada beberapa karya orang lain. Tapi semua buku di galeri cilik itu bertema Dayak.

Saya dan Prpf. Dr. Suriansyah, Dekan Fakultas Hukum Universitas Negeri Palangka Raya, diminta menyanyi malam itu. Menghibur para pengunjung sekalian. “Kembali ke Jakarta” mengalun lembut, menghangatkan malam yang makin didinginkan oleh embun.

Cukup tidak pas sebenarnya lagu itu. Sebab saya baru saja datang dari Jakarta. Bukan akan kembali.

Tapi itulah lagu. Kadang kita mendendangkannya untuk orang lain.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply