Tjilik Riwut |Penulis Dayak yang Pertama

Dalam suatu horizon sejilid buku. Yang unik, nulli secundus, tentunya. Saya menghimpun DAYAK SERBA-PERTAMA. Misalnya, pertama dalam hal menulis dan menerbitkan buku. Seperti judul narasi ini.

***

Sekalian uji-publik. Verifikasi. Siapa tahu, ada di antara Pembaca yang memberikan kritik (penulis tidak pernah alergi pada kritik.) Mengapa demikian? Sebab kritik adalah kawan-latih tanding seorang ilmuwan, termasuk penulis. Ingat. Sastrawan hebat era HB Jassin, menjadi besar karena adanya kritikus sekelas HBJ.

Dari kata Yunani “krinein”, kritik secara harfiah berarti: memberi penghargaan kepada…). Syukur, jika ada yang melengkapi. Lalu memberikan semacam clue, untuk saya teruskan menelitinya.

Kami (Dr. Wilson, Dr. Yansen TP, Yakobus Kumis, dan saya di resto dan galleru TjR, Palangka Raya. Mengagumi warisannya.

Tjilik Riwut dilahiran di Kasongan, Katingan, Kalimantan Tengah pada 2 Februari 1918. Siapa pun mengatahui bahwa Riwut seorang tokoh perjuangan kemerdekaan yang berasal dari Kalimantan.

Meski dikenal sebagai pejuang kemerdekaan di bidang militer, sebenarnya perjuangan Riwut diawali dari pers dan literasi. Ia menempuh sekolah perawat di Bandung dan Purwakarta.

Pada 1940, Tjilik menjadi pemimpin redaksi majalah Pakat Dayak dan Suara Pakat. Dia juga Koresponden Harian Pemandangan yang dipimpinan M. Tambrani dan Harian Pembangunan yang dipimpinan Sanusi Pane.

Pegulatan di bidang tulis menulis ini membuatnya berkenalan dengan perjuangan kemerdekaan.

Yang membuatnya menguasai, dan banyak menghimpun data dan informasi seputar Dayak dan Kalimantan, agaknya karena hal ini:

Pada masa pendudukan Jepang, Tjilik direkrut untuk mengumpulkan data-data seputar keadaan Kalimantan demi kepentingan militer Jepang.

Riwut menggunakan kesempatan ini untuk membangun jaringan, komunikasi, dan mengkoordinasi suku-suku di pedalaman. Semua itu kelak, pada pascaPerang Kemerdekaan, menjadi modal baginya untuk menyatukan kekuatan rakyat. Memberikan bingkai-pengalaman. Racikan bumbu–penyedap yang membuat buku-bukunya colorful, penuh dengan nuansa keIndonesiaan. Meski latar adat budaya dan agamnya: Dayak Katolik.

Kembali ke laptop. Benarkah Tjilik Riwut penulis pertama Dayak. Dengan karyanya Sejarah Kalimantan yang terbit pada tahun 1952?

Yang dimaksudkan dengan “penulis” di sini, tentu punya kriteria. Bukan ece ece. Yang “hanya” sebatas menulis artikel atau esai pendek di koran, sudah itu, selesai. Esoknya jadi bungkus kacang. Tidak terarsip atau disimpan sebagai dokumen dalam dimensi sejarah —historia vero testis temporum ) sejarah / dokumen adalah saksi pada zaman ketika itu).

Namun, penulis adalah dia yang secara sistematis dan metodis menulis dan mempublikasikan karya-tulis yang membahas topik kedayakan. Orang Dayak. Yang karyanya terdokumentasikan, diterbitkan  dan disebarluaskan secara nasional dan internasional. Dibahas. Dikutip. Dan dibicarakan. Bukan seseorang yang menulis sekali, sudah itu: mati. Tidak berkarya, apalagi berkanjang dan punya aanleg pada dunia kepenulisan.

Jika kriteria “penulis” di atas diterapkan, maka hemat saya: Tjilik Riwut adalah penulis pertama Dayak!

Anda ingin mengimbuhi? Atau membuktikan ada penulis lain Dayak, yang pertama, sesuai kriteria di atas?

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply