Tumbang Anoi dan Perjanjian Damai Itu

Pada tahun 1894, Perjanjian Damai Tumbang Anoi menjadi tonggak sejarah yang sangat penting bagi Dayak, etnis pemangku dan pewaris sah pulau Borneo.

Setelah sekian lama mempraktikkan kayau, orang Daya sepakat untuk mengakhirinya.

baca NGAYAU: Misteri Manusia Kepala Merah (Teu Fung Theu)

Perjanjian Damai Tumbang Anoi, yang dikenal sebagai perjanjian damai antar-puak Dayak sedunia, mengandung makna mendalam dalam upaya mengakhiri sejumlah praktik yang merugikan di kalangan suku Dayak.

Menghentikan H-4 dalam bahasa Ngaju
Dalam konteks bahasa Ngaju, perjanjian Tumbang Anoi dikenal sebagai mengehantikan hakayau. Meskipun, sebagaimana dipahami secara umum, mengehantikan hakayau tidak hanya mengacu pada penghentian satu praktik ngayau saja, melainkan juga melibatkan kesepakatan untuk menghentikan praktik H yang lain.

Praktik-praktik tersebut melibatkan hakayau, yang merupakan saling serang atau bersengketa secara fisik, habunu, yang merujuk pada tindakan saling bunuh, dan hatetek, yang mencakup serangan fisik atau pertikaian. Selain itu, Ha-jipen atau jipen merupakan perbudakan di kalangan suku Dayak yang juga menjadi fokus perjanjian ini untuk dihentikan.

Perjanjian Damai Tumbang Anoi bukan hanya menjadi simbol penghentian konflik fisik antar-suku, melainkan juga mencakup komitmen untuk mengakhiri praktik-praktik yang merugikan, termasuk perbudakan. Perjanjian ini mewakili langkah besar dalam arah positif, menuju perdamaian, keadilan, dan pemahaman bersama di antara suku-suku Dayak.

Perlu dicatat bahwa upaya menghentikan praktik-prakti

Figur Damang Batu
Dalam peristiwa bersejarah ini, Damang Batu muncul sebagai figur sentral yang tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga seorang mediator yang dihormati seantero Borneo.

Damang Batu, sebagai tokoh Dayak yang sangat dihormati pada masanya, membawa kearifan dan integritas dalam menjalankan perannya sebagai tuan rumah. Kepemimpinannya yang diakui oleh berbagai suku Dayak memberikan fondasi yang kuat bagi tercapainya kesepakatan antarsuku. Dengan kepemimpinan yang bijaksana, Damang Batu memastikan bahwa atmosfer pertemuan berlangsung dengan damai dan saling menghormati.

The Reasons Behind Ngayau

Peran Damang Batu tidak hanya terbatas pada aspek simbolis sebagai tuan rumah, melainkan juga mencakup upaya nyata dalam memfasilitasi dan mendukung seluruh proses perjanjian.

Dengan bantuan logistik dari kompeni Hindia Belanda pra, selama, dan pasca pertemuan besar selama 3 bulan (Mei – Agustus 1894) disediakan dengan baik, memastikan keberlangsungan dialog antarsuku.

Sebagai mediator sekaligus “toean roemah”, Damang Batu membimbing dialog dengan bijak, menciptakan ruang untuk berbagai suku Dayak saling berbicara, dan membantu mencapai kesepakatan yang adil dan menguntungkan bagi semua pihak. Kerjasama yang baik antara Damang Batu dan kompeni Hindia Belanda menjadi kunci kesuksesan dalam merancang kesepakatan yang berkelanjutan.

Perjanjian Damai Tumbang Anoi bukan hanya mengakhiri praktik perbudakan di kalangan suku Dayak, tetapi juga membawa dampak jauh ke depan.

baca Ngayau – Kisah Heroik Suku Bangsa Dayak Mempertahankan Klan dan Wilayah

Peran penting Damang Batu sebagai pemimpin dan mediator memberikan inspirasi bagi solidaritas dan persatuan di antara suku-suku Dayak, mengukir jalan bagi perdamaian, keadilan, dan kerjasama yang berkelanjutan di wilayah tersebut.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply