Ulong Bayeh | Buaya sebagai Simbol Dayak Lundayeh

Ulong Bayeh. Tugu Buaya. Adalah simbol kedigdayaan. Sekaligus sumpah setia orang Dayak Lundayeh, terutama di Kalimantan Utara.

Dahulu pun, seperti Anda. Saya mengira bahwa semua Dayak (7 stammenras dan 405 subsuku) simbolnya adalah burung enggang, ruai, atau hornbill. Namun, belakangan saya mafhum. Bahwa tidak semuanya. Dayak Lundayeh idi Lun Bawang misalnya, simbolnya adalah buaya.

Mengapa buaya? Ada kisah. Juga filosofinya.

Buaya hidup di dua dunia, di mana-mana ada. Badannya kokoh. Semua organ tubuhnya bisa bekerja. Lagi pula, buuaya dihikayatkan paling setia, tidak pernah gonta ganti pasangan.

Maka orang Lun Dayeh menjadikannya simbol. Dan membangun “menara buaya” atau patung buaya, tempat biasanya bersumpah. Atau mempertunjukkan perolehan hasil ngayau yang digantungkan pada ujung-ujung kayu dan bambu di ulong bayeh itu.

Seturut Seturut wiracarita (kisah pahlawan) yang berkembang di masyarakat, orang kuat yang punya gagasan mendirikan ulong bayeh itu bernama Padan Liyu Burung. Ia termasuk pemuda yang menonjol di klannya lagi sakti mandraguna.

Suatu hari, Padan memutuskan ngayau sebuah negeri bernama Prabudung. Sebelum berangkat ke medan laga, ia mengumpulkan manik-manik. Lalu memberi tahu semua penduduk di kerajaannya agar turun ngayau.

Buaya hidup di dua dunia, di mana-mana ada. Badannya kokoh. Semua organ tubuhnya bisa bekerja. Lagi pula, buuaya dihikayatkan paling setia, tidak pernah gonta ganti pasangan.

Maka berangkatlah Panglima Padan beserta para prajurit dan pasukannya. Begitu masuk batas negeri musuh, ia memerintahkan pasukan untuk berhenti. Segera peti-peti yang dibawa dibuka. Isinya adalah pelepet (parang panjang). Setelah masing-masing prajurit memilikinya, maka Padan mengumandangkan pekik perang. Ia memeritah pasukannya untuk menyerang musuh.

Terjadilah serang menyerang. Bunyi “ting ting” parang saling beradu, ditingkah suara rebah serta jatuhnya korban dari pihak musuh. Dalam peperangan yang cukup sengit itu, Liyu Burung tampil sebagai pemenang.

Ketika yang tersisa di negeri itu tinggal wanita dan anak-anak, pulanglah mereka. Lalu membangun ulong bayeh sebagai tanda kemenangan. Sekaligus simbol bahwa mereka kuat lagi perkasa seperti halnya buaya. Yang seluruh organnya berfungsi ketika melumpuhkan musuh.

Di samping ulong bayeh, mereka juga mendirikan di atas tanah bambu-bambu tinggi. Pada ujungnya digantungkan kepala musuh yang baru dikayau. Agar semua warga dapat melihat dan menyaksikan bahwa mereka pemenang, bukan pecundang.

Setelah tradisi ngayau ini disepakati untuk dihentikan oleh penguasa Hindia Belanda pada tahun 1894 di Tumbang Anoi (wilayah administratif Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah saat ini) sehingga tidak ada lagi terjadi praktik kayau-mengayau di kalangan suku bangsa Dayak. Dengan demikan, ulong bayeh dan kebiasaan manusia Krayan mendirikan bambu-bambu tinggi pun tidak terjadi lagi.

Toh demikian, masih tercatat kuat dalam ingatan orang- orang tua, bahwa manusia Lengilo’ adalah etnis Dayak terakhir yang mengayau. Ini terjadi tidak jauh sebelum Indonesia merdeka. Penyebabnya karena “balas dendam”.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply