Waktu untuk MENULIS & PRODUKTIF

“Gak tidur, ya Cak? –tanya sahabat-dekat saya, Ariobimo Nusantara. Begitu ia lihat saya forward via WA tulisan-tulisan saya di Web ini padanya tadi pagi.
 
“Tidur cukup 6 jam/hari,” cetus saya padanya. “Seperti Thacther, agar  kita produktif.”
 
Terus terang. Subuh tadi (02-12-2022). Hingga pukup 04.00. Saya nulis, dan posting 3 artikel di web kita ini. Begitulah jika penulis lagi on fire. Tak ada yang bisa menghalanginya. Termasuk: waktu. Merunut ke histori dan pengalaman saya menulis pro, sejak 1984 di Kompas, tak-ada waktu khusus untuk menulis. Sebaliknya, semua waktu bisa untuk menulis.
 
Jika datang ilham. Dan tidak buru-buru dituangkan melalui tulisan. Maka akan lenyap menguaplah gagasan itu, dihapus waktu, yang tak pernah surut menoleh ke belakang kembali.
 
Toh demikian,  tidak semua tulisan saya yang diposting pada lewat subuh jatuh, diposting real-time. Ada juga artikel tertentu yang saya “setel” programnya terbit tanggal berapa?
 
Kali ini, saya berbagi ihwal waktu. Termasuk waktu untuk: menulis.
 
Apa yang tak dapat kembali? Uang yang dipinjamkan kepada orang? Cinta? Kehidupan?
Bukan! Yang tak kembali itu: waktu!
 
Benjamin Franklin di depan para pebisnis muda Amerika pada 1748 memberikan petuah yang hingga hari ini melekat kuat dan seakan menjadi kenisayaaan.
 
Salah satu penandatanganan Deklarasi Kemerdekaan Amerika, Gubernur Pennsylvania ke-6, penulis, dan pelaku penerbitan ini suatu ketika memberikan petuah, “Remember that time is money!”
 
Ucapan Benjamin Franklin ini segera menjadi sangat terkenal, bergema ke seluruh penjuru dunia, diadopsi di mana saja sebagai kebenaran yang tidak dapat disangsikan lagi. Ungkapan pendeknya “Time is money”, waktu adalah uang. Apa makna ungkapan ini? Apakah yang dimaksudkan bahwa segala-galanya ditakar semata hanya dengan uang?
 
Jika ditelusuri konteks dan suasana munculnya ungkapan bijak di atas, ternyata yang dimaksudkan bukanlah meletakkan uang di atas segala-galanya. Seakan-akan uang adalah tujuan dari segalanya. Khalayak yang mendengar pidato Benyamin waktu itu adalah para pebisnis muda.
 
 
Sebagaimana kita ketahui, umumnya pebisnis sangat menghargai waktu. Ketepatan dan efisiensi waktu sangat sangat diperhatikan dalam dunia usaha. Jika waktu tidak ditepati, atau terjadi keterlambatan, maka dunia bisnis akan kehilangan kepercayaan. Kehilangan kepercayaan akan menyebabkan kehilangan uang.
 
Di sini tepat ungkapan bahwa social trust akan mendatangkan financial trust. Bangun lebih dulu kepercayaan sosial, baru orang akan memberi apresiasi atau penghargaan berupa uang –misalnya dengan membeli atau membergunakan jasa kita.
 
Untuk mengilustrasikan betapa dimensi waktu sangat pokok dalam dunia bisnis, mari kita angkat soal delivery atau pengantaran pemesanan barang atau jasa. Katakanlah sebuah pabrik jamu berjanji kepada distributornya mengirimkan barang dalam tempo paling lama dua hari setelah pemesanan. Setelah ditunggu pada waktu yang dijanjikan, barang yang dijanjikan tidak kunjung tiba pengantarannya.

Saya pun, meski baru seujung kuku itemnya Thatcher. “Hanya” tidur 6 jam sehari. Anda sendiri tidur berapa jam? Bagaimana Anda mengisi waktu agar tidak berada di garis 1 dan 2?

Akibatnya, distributor tadi kehilangan kepercayaan (trust) kepada pabrik jamu tadi. Kejadian seperti ini terulang terus-menerus, sehingga muncul image di pada distributor tadi bahwa perusahaan jamu tersebut tidak tepat waktu.
 
Keluhan dan kesan negatif ini, kemudian menyebar luas ke distributor lain dan ke masyarakat. Pada akhirnya, distributor tadi beralih ke merek lain yang sejenis yang jauh lebih tepat dari sisi waktu pengiriman. Akibatnya, perusahaan jamu tadi kehilangan distributor, sekaligus kehilangan omset. Dalam kasus ini, tepat sekali ungkapan di atas bahwa waktu adalah uang. Tidak menepati waktu, uang melayang. Sebaliknya, menepati waktu, uang akan datang.
 
Akan tetapi, sebenarnya bukan hanya uang akan datang manakala seseorang atau institusi menepati waktu. Mengisi waktu dan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya juga akan mendatangkan uang. Orang yang membiarkan waktu berlalu, tidak akan mendapatkan apa-apa.
 
Sebaliknya, orang yang menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, akan memetik uang (manfaat) daripadanya.
 
Berkait dengan itu, Menteri Pendidikan Nasional, M. Nuh (2009) menyebutkan adanya tiga tipe manusia.
 
Tipe pertama, orang yang tidur (tidak berbuat apa pun) sementara waktu berjalan terus. Orang ini disebutnya berada pada garis nol. Ke garis negatif juga tidak, sementara ke garis positif juga bukan. Orang tipe pertama ini do nothing, namun tidak merusak.
 
Tipe kedua, orang yang melakukan sesuatu (hal yang negatif). Yang bersangkutan memang aktif, namun apa yang dilakukannya negatif dan menghancurkan orang lain. Peradaban umat manusia diporakporandakan, martabat direndahkan, dan kemaslahatan umat manusia dinafikan. Ia berada pada garis negatif. Orang ini melakukan sesuatu, namun merusak.
 
Tipe ketiga, orang yang melakukan sesuatu yang positif. Orang ini melakukan sesuatu demi kemasalahan umat manusia. Ia berada dalam garis positif. Apa yang dilakukannya mulia. Karena itu, ia sendiri orang yang mulia. Orang seperti ini sudah “selesai” dengan masalah egonya sendiri. Ia cenderung memikirkan orang lain melebihi dirinya sendiri.
Kita tentu berusaha, dan wajib, masuk tipe manusia ketiga ini!
 
Kembali ke petuah Franklin, sebenarnya yang diinginkan ialah agar setiap orang menggunakan waktu secara sangkil dan mangkus untuk mencapai sesuatu yang mulia. Jadi, “uang” hanyalah symbol untuk sesuatu yang berharga dan mulia. Andaikan Franklin berbicara di kalangan medis, maka ia akan berkata,“Waktu adalah kesehatan” karena kesehatan adalah sesuatu yang sangat vital dalam hidup, bahkan boleh dibilang syarat mutlak.
 
Manakala hari ini Franklin bicara di depan para pebisnis, petuah apa kira-kira yang akan disampaikannya? Masih samakah dengan nasihat yang diucapkan pada 1748, ataukah sudah berubah? Penulis yakin bahwa nasihat yang disampaikan masih tetap sama: “Remember that time is money!”
 
WAKTU UNTUK KITA
Dalam hidup sehari-hari, kita melihat ada orang yang sangat produktif. Ia kreatif dan produktif. Dapat melakukan apa saja, padahal yang bersangkutan juga sama sibuknya seperti kebanyakan orang. Apa kunci rahasianya? Ternyata, yang bersangkutan berhasil karena dapat dan sanggup mengatur waktu. Dalam istilah kerennya, yang bersangkutan menerapkan time management dengan tepat.
Margaret Thatcher produktif karena sukses mengatur waktu, tidur cukup 4 jam saja. Ia melakukan lebih banyak dibanding orang yang tidur banyak.
 
Margaret Thatcher, ketika menjadi Perdana Menteri Inggris (1979-1990 ) menggunakan waktu secara sangkil dan mangkus. Seperti dicatat Wikipedia , “During her tenure as Prime Minister she was said to need just four hours’ sleep a night”. Meski tidur hanya empat jam, toh Thatcher terbilang berusia panjang: 84 tahun.
 
Tidak banyak waktu Thatcher terbuang percuma. Hanya sedikit waktunya berada di garis nol. Thatcher lebih banyak menggunakan waktu untuk mengerjakan sesuatu yang mulia. Misalnya, memperbaiki dan meningkatkan perekonomian Inggris, selain aktif menyelesaikan masalah dunia, antara lain Perang Inggris dan Argentina karena masalah Falklands dan Perang Teluk.
 
Jadi, apa yang memampukan Thatcher berbuat lebih banyak dibandingkan orang kebanyakan? Jawabannya: ia mengatur waktu untuknya. Bukan waktu yang mengaturnya!
 
Saya pun, meski baru seujung kuku Thatcher. “Hanya” tidur 6 jam sehari. Anda sendiri tidur berapa jam? Bagaimana Anda mengisi waktu agar tidak berada di garis 1 dan 2?
***
kredit gambar kedua ilustrasi di narasi ini: Google/Wikipedia
ilustrasi utama, model: Cindy Christella / dokpri
Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply