Jika kata-kata hanya nama untuk benda-benda, maka kata apa pun itu tidak menggambarkan dunia; tidak lebih sebagai label atau merek pada barang-barang di toko. Bahasa dengan kekayaan kata-kata-label macam itu sudah pasti akan tergerus bahasa pesaingnya yang dengan kata-katanya sanggup menggambarkan dunia secara detail.
Kata “klitoris”, misalnya, dalam bahasa Indonesia hanya menunjuk bagian di kemaluan perempuan. Hanya nama benda. Tak lebih dari label. Dalam KBBI hanya diterangkan “daging atau gumpal jaringan kecil yang terdapat pada ujung atas lubang kemaluan perempuan; kelentit”. Mari Bandingkan dengan kata “χλιτοριάξειν” (dibaca chlitoriáxein) dalam bahasa Yunani yang mengandung makna lebih dari itu, yakni organ yang dibayangkan bisa atau biasa dijilati karena sifatnya yang dapat menegang seperti kemaluan laki-laki. Jadi, mana yang lebih jelas kalau begitu, “klitoris” atau “χλιτοριάξειν”?
Kita pun mengerti mengapa bahasa Yunani hingga kini bertahan sebagai bahasa ilmu, karena kemampuannya dalam menggambarkan dunia secara detail. “χλιτοριάξειν” bukan sekadar label.
Karena itu, bahasa nasional kita pun dapat rontok menghadapi jelasnya bahasa-bahasa pesaingnya itu. Dosen-dosen saya dulu di Filsafat UGM amat sering beralih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa saat menjelaskan konsep-konsep filsafat Jerman, Prancis, dll. mengingat bahasa pengantar ilmu pengetahuan nasional kita itu masih malu-malu.
Sering juga saya saksikan seminar atau ujian terbuka di berbagai perguruan tinggi menggunakan bahasa Inggris yang carut-marut. Mereka seperti malu berbahasa Indonesia. Ini gambar paling detail tentang situasi bahasa kita, bahwa jika bahasa Inggris yang carut-marut saja jadi pesaing dominan berarti bahasa nasional kita jauh lebih carut-marut dari bahasa Inggris yang digunakan secara carut-marut itu. Andaikan yang sering digunakan itu bahasa Inggris yang baik dan benar, maka kita pun patut bersyukur karena bisa sekalian belajar membenahi bahasa nasional plus akademik kita ini.
Dalam bahasa Prancis saya bisa baca frasa macam cliqueter une femme dengan cliqueter sebagai kata kuncinya, ia berkait dengan klitoris dalam penyebutan organ pengguncang perempuan. Klitoris dalam bangun cliqueter itu diterangkan ibarat kunci kontak pada mobil. Dalam bahasa Inggris dan Indonesia kita tidak temukan bentukan lain dari clitoris/klitoris selain label pada nama benda, sehingga ibarat kunci mobil tanpa mobilnya.
Ada juga bentukan clitoriser yang dapat kita terjemahkan menjadi meng– atau pengklitorisasian/clitorize. Pengarang dan penerjemah Claude-François-Xavier Mercier de Compiègne di abad ke-18 pernah menulis tentang cara menjadi manusia baik di sebuah biara, yakni dengan mengamankan diri secara alamiah (la nature le veut): merangsang diri sendiri saja dengan mengklitorisasi. Bahkan itu dikatakannya sebagai satu-satunya cara. Mengklitorisasi juga ia katakan sebagai kerja manual (manuéliser). “La nature le veut ; c’est le seul moyen d’être sage au couvent, puisqu’on ne peut l’être sans se clitoriser et se manuéliser.”
Mungkin karena kita terlalu menutupi kehidupan berbangsa dan bernegara yang banyak sembunyi-sembunyi dengan perselingkuhan dan korupsi maka bahasa kita pun dibuat “bermoral” dengan cara menutup-nutupi dunia melalui label-label belaka: kita harus menjunjung Pancasila! Kita harus menjaga bahasa persatuan! Kita harus bla-bla-bla, padahal di belakangnya hancur sehancur-hancurnya. Bahkan kata-kata yang dikembangkan para sastrawan pun kerap terancam urusan moral—tidak pancasilais dan tidak agamais—hingga kita tetap menutupi carut-marutnya dunia kita sendiri.
Itu sebabnya Iwan Fals bilang Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu / Peraturan yang sehat yang kami mau… Tegakkan hukum setegak-tegakknya / Adil dan tegas tak pandang bulu…
Alih-alih menegakkan hukum kita ini lebih terkenal dalam hal menegakkan syahwat kekuasan secara sembunyi-sembunyi dan saling menjilat kemaluan untuk kelak diadili secara tidak adil dan rakyat hanya bisa bilang “Dasar tidak tahu malu!”. Tidak tahu malu berarti tidak tahu kemaluan juga, selain label-label pada detail kemaluan itu sendiri. []



