Kabinet Literally

Jujurly, bahasa itu berbelat-belit dan berloncat-loncat tapi juga berkait-kait. Sebagai ilustrasi adalah kata kabinet. Dia masih berhubungan dengan ruang tempat menyimpan benda-benda sehingga masih berkaitan dengan kabin, ruang penumpang, biasanya untuk kapal tapi kini juga digunakan untuk mobil: kabin depan dan kabin belakang.

Maka dari itu kita mengenal kabinet sebagai nama lain dari lemari yang mengkompartementalisasi barang-barang yang tidak boleh menyatu, seperti dokumen-dokumen akademik tidak bercampur dengan dokumen-dokumen ke-RT-an dan ke-RW-an.

Lantas dalam pemerintahan kita pun menyebut eksekutif dengan sebutan “kabinet” (misal Kabinet Merah Putih), mengingat memang ada bidang-bidang yang satu dengan lain tidak saling mencampuri. Setiap kementerian menempati alamnya masing-masing, terkompartementalisasi.

Seluas apa pun penggunaan sebuah kata, jika kemudian melembaga dengan makna yang pasti itu, maka kita sebut literally—meminjam gaya bahasa anak-anak Gen-Z. Angkatan tua-tua keladi biasanya menyebut secara harfiah. “Kabinet” itu literally lemari atau eksekutif dan “kabin” itu literally tempat penumpang kapal atau mobil.

Dan lawan kata dari literally itu amat banyak: bersifat kiasan, metaforis, idiomatis, figuratif, lambang dari, simbol, konotatif, dan lain-lain. Sebanyak apa pun pilihan antonim literally itu agaknya anak-anak muda agak jarang gunakan satu pun. Lebih sering gunakan yang literally-literally saja. Jangan-jangan karena dunia mereka lebih banyak yang benar-benar demikian halnya, harfiah, alias denotatif. Tapi boleh jadi dunia yang mereka huni itu terlalu penuh oleh hal-hal yang konotatif sehingga ketika ketemu dunia yang demikian halnya mereka pun dengan lekas-lekas menggunakan literally. 

“Hari ini hectic banget tau, gue literally can’t even”, begitu misal pernah saya dengar anak Gen-Z bicara di sebuah kafe kepada temannya. (Saking anehnya kalimat anak itu sampai-sampai saya tidak tahu kalau itu anak saya sendiri. He-he-he). Dalam kalimat tersebut “literally” tidak lagi bermakna “harfiah” atau “denotatif”, melainkan harus dipahami “benar-benar” atau “aslinya” atau “sungguh”.

Bahasa memang selalu disegarkan dan disegarkan lagi oleh mereka yang mencoba mengalihkan makna-makna yang sudah melembaga itu. Dulu di zaman Renaisans ada penyair Noel du Fail (Natal dari Fail) yang menggunakan kata “kabinet” secara kiasan. Dia melukiskan tukang kebun yang menemukan lemari kabinet terbuka dan ia pun menyimpan besi tempanya di lemari kabinet tersebut. Le jardinier voyant et trouvant le cabinet aussi avantageusement ouvert, y logea petit à petit son ferrement. Maka “kabinet” dalam konteks tersebut bermakna tubuh perempuan atau bagian tertentu dari tubuh perempuan tempat laki-laki menaruh “barang”nya.

Tentu membaca permainan metaforis macam itu perlu imajinasi budaya. Di masa itu “kabinet” juga digunakan untuk menyebut bau tubuh perempuan yang mungkin apek seperti lemari jarang dibersihkan. Tapi meski begitu istilah tersebut digemari secara budaya dalam bahasa Perancis sebagai gambaran dari seapek apa pun kabinet itu, laki-laki toh tetap akan menyimpan barang-barangnya di sana. Tapi wallahualam ya, karena jujurly saya bukan orang Perancis (“jujurly” itu adverbia dari kata “jujur”). Saya tahu makna kabinet dalam masa Renaisans hanya menurut beberapa bacaan yang pernah ada di lemari kabinet saya, bukan dari siapa pun yang sibuk di kabinet pemerintahan. Lembaga yang satu ini terlalu harfiah secara bahasa dan kurang ngangenin. []

Share your love
Avatar photo
Arip Senjaya

Pemenang Literasi Terapan Lokal Perpusnas 2022, alumni Batu Ruyud Writing Camp Kaltara, dosen filsafat Untirta, anggota Komite Buku Nonteks Pusbuk Kemdikbud, sastrawan, editor. Alumni UPI dan UGM.

Articles: 46

Leave a Reply