Mgr. Agustinus Agus, Memoar Jelang Uskup Agung Emeritus

Lintang Pelaman, Kalimantan Barat. Tahun 1949, belum tertera pada peta Kalimantan Barat. Tak ada yang menyangka. Dari pedalaman Pelaman, puluhan kilometer dari pusat kota kabupaten Sanggau. Lahir seoran uskup Agung.

Pada 22 November tahun 1949. Lintang Pelaman melahirkan sosok yang kelak akan menjadi tokoh berpengaruh dalam dunia agama, istimewanya di bumi Khatulistiwa. Dalam lingkungan yang sederhana, ia tumbuh dan mengembangkan karakternya.

Tanpa terasa, waktu berlalu dengan cepat. Pendidikan awalnya di SD Bodok, Kabupaten Sanggau, membentuk dasar pemahamannya. Kemudian, langkahnya melangkah ke tingkat yang lebih tinggi dengan kelulusan dari SMP Seminari Nyarumkop, Kabupaten Sambas, dan SMA yang sama. Pendidikan agamanya semakin dalam ketika ia berhasil lulus dari Institut Filsafat dan Teologi di Jogjakarta pada tahun 1976.

Perjalanan rohaniahnya mencapai puncaknya saat 19 Juni 1977, ketika  Agus ditahbiskan sebagai seorang imam. Dengan tekad dan semangat yang membara, ia melangkah sebagai Pastor Kepala Paroki Sekadau Hulu dalam Keuskupan Sanggau dari tahun 1978 hingga 1981, dan terus berkiprah sebagai Pastor Kepala Paroki Sekadau Hulu hingga tahun 1983.

Namun, panggilan dan peran hidupnya semakin berkembang. Pendidikan lanjutannya di Marygnoll School of Theology, University of State of New York, pada tahun 1985, melengkapi bekal keilmuannya. Ia juga terlibat aktif dalam pelayanan gereja sebagai Sekretaris Dewan Imam dan Ketua Yayasan Karya di Keuskupan Sanggau.

Dengan semangat yang tak pernah pudar, ia menjalani masa jabatan sebagai Uskup Keuskupan Sintang dari tahun 2000 hingga 2015. Di bawah kepemimpinannya, keuskupan berkembang dan berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Ia juga terlibat dalam urusan keumatan, sebagai Ketua Komisi Kepemudaan dan Komisi Kerasulan Awam di Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Perjalanan hidupnya memasuki babak baru ketika Paus Fransiskus mengangkatnya sebagai Uskup Agung Pontianak pada tanggal 2 Juni 2014. Penghargaan dan tanggung jawab baru ini menjadi bukti pengakuan atas pengabdiannya yang luar biasa dalam pelayanan gereja. Tidak hanya sebagai pemimpin rohani, tetapi juga sebagai pemimpin dalam upaya mempromosikan keadilan, perdamaian, dan pastoral migran perantau.

Puncak penghargaan datang pada tanggal 19 Juni 2017, ketika ia merayakan 40 tahun imamatnya. Ini adalah momen yang menandai perjalanan panjangnya dalam melayani dan mengabdi kepada Tuhan serta umat-Nya. Kepergiannya yang terhormat dan dihormati dari jabatan uskup agung tidak menghentikan semangatnya, tetapi justru mengilhami langkah selanjutnya.
Masri Sareb Putra, sastrawan angkatan 2000 dalam sastra Indonesia dan penulis nasional, menghadirkan kisah ini dalam bentuk memoir. Dalam karyanya yang mengantar Uskup Agung yang dihormati memasuki usia pensiun dan status uskup agung emeritus, kita dapat menemukan inspirasi dari perjalanan hidup yang penuh makna dan dedikasi.

Keseluruhan narasi ini mengalir seperti sungai yang mengikuti perjalanan hidup Uskup Agung, mulai dari awal kelahirannya hingga pencapaian-pencapaian besar dalam pelayanan dan kepemimpinannya. Dalam perpaduan antara fakta sejarah dan sentuhan sastra, kita dapat merasakan semangat dan pengabdian yang menginspirasi dari sosok yang dihormati ini.*)

Share your love
Avatar photo
Biblio Pedia
Articles: 239

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply