“Dana stimulan” yang kadang-kadang ditulis awak media jadi “dana stimulus” tidaklah salah jika yang mereka maksudkan adalah “dana untuk merangsang bagian tubuh tertentu”. Karena mereka tahu dana-dana itu sering dipakai buat menyawer biduan alih-alih buat menambal jalan daerah yang banyak lubang.
Stimulan bermakna cambuk, pendorong, sedangkan stimulus bermakna perangsang bagian tubuh tertentu. Baik dalam kamus kita (KBBI) maupun dalam kamus yang jadi asal-mulanya, bahasa Inggris, makna keduanya tidak pernah tertukar. Barangkali banyak awak menduga stimulus itu adjektif dari stimulan, padahal masing-masing merupakan nomina.
Nama-nama biduan yang disawer aparatur itu pun sudah pasti “Siti Mulus” semua, dalam rangka bikin stylus (“tongkat”) si aparatur jadi tegak. Lagi memang dikatakan dalam Kamus Oxford itu kalau stimulus masih seakar kata dengan stylus dari bahasa Latin. Akar kata tersebut pada sti- dari stilus. Sti- dalam bahasa Latin memang tidak pernah berdiri sendiri, tetapi menjadi ciri pada benda yang diawalinya mengandung makna “dapat bergerak” seperti “tongkat” aparatur itu. Belakangan kata stilus dan stylus menghidupkan lagi makna aslinya: alat tulis, mengingat kata tablet juga hidup dari masa purbanya. Dulu orang menulis di atas tablet (tanah liat) dengan tongkat kecil yang bergerak-gerak dan disebut stilus.
Sedangkan stimulan pada mulanya berkaitan dengan bidang farmakologi dan baru digunakan dalam bahasa Inggris stimulant di abad ke-18, dipinjam dari bahasa Latin stimulare. Jauh lebih aman menggunakan “dana stimulan” memang—hati-hati jadi wartawan ya, jangan asal tulis!—karena dana tersebut untuk mengobati pihak-pihak yang dianggap sakit. Farmakologi itu berkaitan dengan obat dan pengobatan.
Tapi memang banyak sudah oknum di pemerintahan yang menggunakan dana pengobatan ini untuk menciptakan rasa sakit masyarakatnya, terutama sakit hati melihat mereka berfoya-foya. Mau ke mana kau lari Pak, CCTV dan kamera ponsel wargamu mengintaimu di mana pun ke mana pun! Mereka adalah dokter-doktermu yang selalu mengawasi kapan kiranya Bapak harus masuk rumah sakit jiwa lagi.
Sebelum kita gunakan istilah stimulan yang sering ditulis stimulus dengan makna yang sama itu, kita sebenarnya sudah punya nomina sendiri: perangsang dari nomina rangsang. Mungkin gara-gara kata tersebut lebih produktif digunakan di kehidupan maksiat dalam bentuk verba merangsang dan kita pun jauh merasa lebih berpendidikan dengan bahasa Inggris stimulant, maka kita lebih senang jadi bangsa yang perlu diobati. Duh. Sakit apa sih kalian ini? Segala apa kita sampaikan dengan bahasa Inggris yang salah. Sudah pada minum obat belum? []
