Colle-nya 1998

Ketika pertama kali dengar isu bahwa batu-batu candi-candi itu dipasang oleh putih telur, pikiran saya menjadi usil: mungkin saja direkat oleh sperma. Le sperme dalam bahasa Prancis artinya lem cinta kok, bukan ciment.

Di masa masih sekolah SMA itu saya sering dengar kata coli diucapkan oleh mereka yang sekolah di kotamadya. Sekolah saya sendiri di pesisian. Coli saat itu datang belakangan setelah populer kata ngaloco (bahasa Sunda) sebelumnya, yakni aktivitas laki-laki merangsang kemaluannya dengan tangan sendiri, alias onani.

Perbedaan dengan kata onani adalah bahwa dalam kata ngaloco itu gambarnya jauh lebih jelas dan bahkan juga dapat memperdengarkan bunyi dari aktivitas tersebut. Jika ada bunyi menyerupai aktivitas tersebut, maka kata tersebut dapat nyelonong di kepala pendengar Sunda. Pada kata onani jelas tidak terdengar apa-apa. Dia kata yang tidak muncul dari aktivitas yang mengeluarkan suara. Maka kata yang sebanding dengan ngaloco adalah ngocok.

Bunyi yang terdengar dari kata ngaloco tersebut kira-kira muncul dari aktivitas benda pejal yang keluar-masuk cairan setengah lengket. Dan gara-gara itu maka saya pun menduga mereka yang membawa kata coli dari kotamadya itu sepertinya terkena pengaruh colle dari bahasa Prancis. Maklumlah para pelajar di sana naik bus atau angkot bersama penumpang-penumpang yang Paris van Java.

Colle memang berarti lem, tetapi juga digunakan dalam bahasa Prancis untuk menyebut semen yang keluar dari alat kemaluan laki-laki.

Sperma sendiri pada masa itu saya temukan bukan sebagai nama lain dari ciment melainkan makna metafisik dari ciment, yakni “perekat pernikahan” atau “perekat cinta untuk membangun pernikahan”. Le sperme dalam bahasa Prancis waktu itu saya temukan tidak menunjuk pada cairan fisik. Dan guru Biologi saya sendiri di masa SMA menggunakan kata semen saat menjelaskan cairan mirip lem kertas itu. Guru-guru saya di SMA Ceko (SMAN Cicalengka) memang bukan guru-guru sembarangan.

Di sekolah kami kebetulan ada Kelas Bahasa dan salah satu buku yang dipegang teman sekampung saya yang di Kelas Bahasa adalah Le Cabinet satyrique (s-nya ditulis tidak kapital). Dan teman saya itu mengajarkan cara membacanya Le sperme sebagai liquide visqueux qui sert de ciment romain… dst. “Romain” itu kata teman saya adalah cinta alias romantika. Tentu dia tidak bisa saya salahkan karena dia tahu itu dari guru bahasa Prancisnya. Dan gara-gara itu kami pun setuju bahwa le sperme memang bukan ciment tapi perekat cinta tersebut mengingat dalam puisi yang kami baca itu baik Le sperme maupun ciment digunakan bersamaan. Ciment yang kuat tentu dapat merekatkan cinta sekuat dan seabadi batu-batu candi.

Maafkanlah kami jika penafsiran kami salah. Bagaimana pun waktu itu kami masih SMA.

Ketika kami kuliah di IKIP Bandung (UPI) tahun 1996, teman saya itu masuk ke Jurusan Pendidikan Bahasa Perancis. Satu tahun kami tinggal di kamar kos yang sama. Sepanjang itu kami tidak pernah diskusi lagi perkara-perkara sperma, karena situasi sosial-politik-ekonomi terasa menegangkan hingga candi-candi masa depan pun terasa mau berlepasan, dan puncaknya kami demo di tahun 1998.

Semen terbaik memang semen perjuangan di mana para mahasiswa saat itu saling colle di jalanan, dalam barisan perjuangan, bahkan tak peduli muhrim bukan muhrim, yang penting rapat-kuat bagai kena lem Korea, untuk membangun lagi masa depan yang hampir ambruk itu.

Cinta di masa Reformasi itu kini tinggal romantika juga sih. Suka bikin sedih. Apalagi tahu banyak sudah pulau ditukar guling ke para penambang asing, dan kita jadi bangsa kepulauan dengan lem yang sudah kering dan sulit menyatukan semua yang sudah berlepasan. Sedih kan? []

Share your love
Avatar photo
Arip Senjaya

Pemenang Literasi Terapan Lokal Perpusnas 2022, alumni Batu Ruyud Writing Camp Kaltara, dosen filsafat Untirta, anggota Komite Buku Nonteks Pusbuk Kemdikbud, sastrawan, editor. Alumni UPI dan UGM.

Articles: 46

Leave a Reply