Anggur dan Pengangguran

Pertama belajar mengucapkan kata faubourg dalam bahasa Prancis saya terganggu oleh pengucapan kubur dalam bahasa kita dan suburb dalam bahasa Inggris. Faubourg dan suburb memang maknanya sama “pinggiran”. Akan tetapi kuburan-kuburan juga sudah pasti dibangun di pinggiran, baik itu pinggiran kampung, kota, bahkan pinggiran rumah. Di Gorontalo banyak rumah bersisian dengan makam-makam keluarga mereka.

Dulu saya sempat juga merasa bangga jadi orang pinggiran gara-gara baca Alfred Delvau. Orang pinggiran itu menurutnya orang-orang yang tinggal di sorga dunia. Mereka dapatkan semua yang terbaik dalam cinta. Nafsu makan mereka juga lebih hebat karena gigi-gigi mereka yang muda dan sangat kuat. Mereka juga yang bisa makan anggur lebih dulu dari kebun-kebun mereka sendiri sebelum para pemuda lain dari pusat kota memakan anggur dari kebun yang sama.

Belakangan saja saya mengerti bahwa Delvau sedang menyindir orang-orang kaya sekaligus orang-orang pinggiran yang makin terpinggirkan. Maksudkan dari “Ces messieurs du faubourg” itu kelihatannya tuan-tuan muda dari pinggiran kota Paris, mungkin pria-pria kelas menengah yang hidup bebas dan menikmati hidup.

Dan karenanya mereka itu memiliki “ont le dessus du panier des amours”, yakni bagian terbaik dari keranjang cinta. Ungkapan serupa ini pernahlah juga muncul dalam puisi “Cien sonetos de amor” (1960). Namun tidak menyebut anggur, melainkan hazelnut. Tampak pada baris “avellanas oscuras, y cestas silvestres de besos” (“hazelnut gelap, dan keranjang liar penuh kecupan). Ungkapan-ungkapan idiomatik tersebut  kurang lebih sama-sama menggambarkan bahwa mereka mendapatkan perempuan-perempuan terbaik dan selalu jadi pemenang dalam urusan asmara.

Tentang nafsu makan dan gigi-gigi muda itu muncul dalam “comme ils ont l’appétit et les dents de la jeunesse”, metafora untuk hasrat dan tenaga khas anak muda. Gigi muda melambangkan kekuatan dan keberanian untuk menikmati hidup secara langsung. Tidak dari buah-buahan kalengan yang sudah dibuat empuk atau sudah menjadi bubur selai buat olesan roti.

Mereka itu digambarkan menggigit buah anggur, “ils mordent aux grappes”, dan hal itu mengarahkan kita pada simbol klasik untuk sensualitas. Kadang-kadang hal itu bermakna menikmati cinta sepenuhnya dan tanpa penundaan. Saat anggur itu berada dalam kondisi paling segar, lezat, dan harum pula, “lorsqu’elles ont toute leur fraîcheur, leur saveur, leur parfum”. Artinya bahwa mereka itu. mendapatkan cinta pada masa puncak keindahannya, puncak penuh dan ranumnya.

Karenanya, sepanjang kita bukan pemuda yang punya kebun anggur, bukan pemuda dari keluarga kaya, kita hanya bisa melihat vila-vila berdiri di tepian kampung kita dengan tamu-tamu tampan yang bawa perempuan-perempuan cantik dan kita hanya gigit-gigit jari—bukan anggur—di kampung halaman sendiri.

Mungkin salah kita juga hanya bisa menggerutu di antara menganggur satu ke menganggur lainnya. Kita terlalu pengangguran alih-alih mencoba menanam anggur, paling tidak di halaman rumah sendiri sebelum kelak menjadi pemilik kebun. Janganlah kita hidup di pinggiran makin terpinggirkan hingga terkubur bawah kebun orang kaya tanpa kecupan. []

Share your love
Avatar photo
Arip Senjaya

Pemenang Literasi Terapan Lokal Perpusnas 2022, alumni Batu Ruyud Writing Camp Kaltara, dosen filsafat Untirta, anggota Komite Buku Nonteks Pusbuk Kemdikbud, sastrawan, editor. Alumni UPI dan UGM.

Articles: 46

Leave a Reply