Bahasa itu menyambungkan urusan apa saja, termasuk menyambungkan urusan perebutan kekuasaan di satu sisi dengan “urusan singkat” suami-istri.
Kalau saya pulang siang-siang dari kantor dan kembali lagi tak lama kemudian, sering juga beberapa senior saya menggoda. “Geus nyakeudeung nya jeung pamajikan!” (sudah “begituan” ya sama istri?).
Nyakeudeung secara harfiah hanyalah melakukan sesuatu sebentar saja, berasal dari kata sakeudeung (sebentar). Dalam bahasa Sunda Priangan kata ini tidak pernah saya dengar. Tapi bukan berarti mereka tidak mengerti jika kata tersebut digunakan pada konteks yang sama.
Dalam bahasa Indonesia-pergaulan sering juga urusan “sebentar” yang lain itu diucapkan dalam istilah sepukul dua pukul, akan tetapi istilah terakhir ini bisa digunakan untuk apa saja, tidak harus berhubungan badan sebentar. Bisa saja digunakan untuk minum kopi barang seteguk dua teguk, merokok barang sebatang dua batang, boleh juga digunakan untuk sambutan singkat macam sambutan dari pimpinan kantor dalam sebuah rapat.
“Silakan Bapak Pimpinan menyampaikan arahannya barang sepukul dua pukul!” Tapi jangan coba-coba katakan itu kepada pimpinan yang bertangan besi, Anda bisa kena tinjunya!
Meskipun dapat digunakan untuk urusan sebentar yang lain, sepukul dua pukul itu masih tetap menanggung beban identik dengan “pukulan” dalam arti lain juga sebab saya curiga jangan-jangan orang yang pertama kali menggunakan kata ini adalah mereka yang dulu tercerahkan kata coup d’état.
Kita mengenal coup d’état—yang menjadi kudeta dalam bahasa Indonesia berdasarkan cara pengucapan kata tersebut—sebenarnya secara harfiah berarti “pukulan terhadap negara”. Dan di masa Renaissance coup itu digunakan dalam bahasa puisi Prancis sebagai sepukul dua pukul yang setingkat dengan hubungan badan itu.
Sebagai misal dalam puisi Clément Marot dikatakan bahwa seorang perempuan berkata kepada bosnya sambil berbisik-bisik bahwa setiap pukulannya itu amat meninggalkan jejak, jejak keindahan dan kemewahan yang dilukiskan seharga dua atau tiga mahkota. L’autre jour un amant disait/ À sa maîtresse à basse voix,/ Que chaque coup qu’il lui faisait/ Lui coûtait deux écus ou trois.
Tapi boleh juga dipahami bahwa setiap pukulan bosnya itu menyebabkan rasa lemas luar biasa bagai kehilangan dua atau tiga mahkota, alias membikin tak berdaya. Saya sendiri lebih cenderung memahaminya dengan cara yang terakhir.
Maka jangan-jangan penyair Goenawan Mohammad menggunakan istilah “Wah, apa daya” dalam puisi “Interlude: pada Sebuah Pantai” itu terkena pengaruh dari se-coup-dua-coup-nya Prancis yang dalam puisi Marot tadi disampaikan oleh pihak yang diselingkuhi. GM menyebut urusan sebentar itu dengan sebutan affair singkat meskipun aku lirik dalam puisi tersebut punya urusan nyakeudeung yang kelihatannya agak lama: semalam suntuk (“Berarti pagi telah mengantar kau kembali”).
Karena tidak dapat dinilai singkat maka aku lirik memberi tambahan kata “semacam”. Mari kita simak bagian tersebut.
Di mana perasaan-perasaan memilih artinya sendiri,
di mana mengentara bekas dalam hati dan kalimat-
kalimat biasa berlarat-larat (setelah semacam
affair singkat), dan kita menelan ludah sembari
berkata: “Wah, apa daya.”
Banyak sudah puisi-puisi Indonesia pun menyiratkan hubungan-hubungan orang dewasa dalam hal-hal yang relatif singkat tersebut. Akan tetapi, berbeda dengan nyakeudeung, “affair singkat” itu berkaitan dengan perempuan lain di luar nikah, atau pacar lain di luar pacar resmi.
Apakah orang Sunda Banten menggunakan nyakeudeung-nya juga untuk hubungan singkat dalam perselingkuhan macam itu? Main dong ke Banten dan tanyakan mereka saja. “Maaf, Pak Haji, apa sih yang dimaksud dengan nyakeudeung itu?”
Tapi saya mau kasih nasehat, pastikan Anda sudah dewasa. Yang belum dewasa belum saatnya ambil bagian. Anak dan remaja akan selalu kena kudeta. Ingat, kudeta lebih dari sekadar pukulan tinju si tangan besi, tapi pukulan militer! []



