Bayangkan ada wajah penyair terkenal dicetak pada mata uang. Bayangkan saja dulu. (Jangan-jangan kamu bahkan tidak bisa bayangkan wajah pahlawan satu pun di mata uang mana pun!).
Kalau sudah terbayang salah satu wajah penyair besar dunia di mata uang kita, atau mata uang negara lain, lalu bayangkan di bawah foto tersebut tertulis potongan puisi cabul. Ayo lho, kamu mau tertawa atau mau hormat?
Mungkin saja di negara kita puisi cabul itu akan menyulut tokoh-tokoh masyarakat untuk protes. Lumayan, cari eksistensi juga. Bahkan bukan tidak mungkin anggota parlemen akan menggelar rapat. Mungkin juga stasiun televisi yang biasa memancing kerusuhan mengundang lima narasumber yang saling memotong kalimat.
Tapi saya coba membayangkan jika mata uang itu ada di Prancis dan yang dicetak adalah karya Pierre-Jean de Béranger. Mungkin saja masyarakat Prancis hanya akan tertawa sambil melanjutkan minum anggur. Tidak akan menjadi bahan protes.
Hari ini nama Victor Hugo lebih sering terdengar di dunia sastra meski ketika saya tinggal di Corentin Celton—apartemen saya tak jauh dari gedung Victor Hugo—rasanya hanya saya yang selalu melirik nama gedung itu. Warga Paris ternyata lebih fokus melihat jalan di depan matanya, mereka fokus mengejar pagi dan mengejar petang, daripada melihat nama-nama tokoh sejarah.
Nama Baudelaire lebih sering masuk ruang kuliah bahkan ketimbang Hugo. Namun ada masa ketika Béranger adalah superstar sastra Prancis. Ia dicintai rakyat, ditakuti penguasa, dipenjara karena lagu-lagunya, dan dinyanyikan hampir di mana-mana.
Ia adalah seorang chansonnier. Kata ini menarik. Bahasa Indonesia tidak memiliki padanan yang pas.
Penyair terasa terlalu sempit.
Pencipta lagu terasa kurang tepat.
Aktivis terasa kurang lengkap.
Pelawak terasa kurang adil.
Seorang chansonnier hidup di antara semuanya sekaligus.
Ia menulis lagu yang bisa dinyanyikan orang banyak. Ia mengomentari politik. Ia mengejek tokoh publik. Ia menyisipkan humor. Ia menyelundupkan kritik melalui melodi yang mudah diingat.
Ketika pemerintah sedang sibuk mengawal pidato demi pidato yang tidak bermakna, rakyat sudah lebih dulu menyanyikan lagu penuh makna. Béranger memahami mekanisme itu dengan sangat baik.
Itulah sebabnya sebagian ahli sastra memandangnya sebagai figur penting dalam budaya politik Prancis. Ia menjadikan lagu sebagai kendaraan opini publik. Syairnya bergerak lebih cepat daripada pamflet dan lebih mudah diingat daripada pidato.
Lalu saya menemukan salah satu contoh paling lucu.
Dalam Dictionnaire érotique moderne (Alfred Delvau, 1864) terdapat kutipan yang dinisbahkan kepada Béranger. Isinya tentang Yusuf yang diberitahu bahwa dirinya kini masuk ke dalam “persaudaraan para suami yang diselingkuhi”. Setelah itu muncul malaikat, ranjang pengantin, dan beberapa permainan kata yang membuat guru agama mungkin memilih mengalihkan pembahasan ke bab berikutnya.
Saya langsung membayangkan betapa anehnya posisi seorang chansonnier. Di satu sisi ia dihormati. Di sisi lain ia tetap penduduk warung kopi. Hari ini menyanyikan kebebasan. Besok membuat lelucon tentang para suami malang. Lusa masuk penjara. Minggu depan kembali dinyanyikan rakyat. Karier yang sehat dan seimbang.
Yang membuat saya semakin tertarik adalah kenyataan bahwa tradisi chansonnier belum benar-benar punah. Ia hanya berganti pakaian. Dulu orang bernyanyi di kedai anggur. Sekarang orang bernyanyi di TikTok. Dulu syair beredar dari meja ke meja. Sekarang beredar dari grup WhatsApp ke grup WhatsApp. Dulu penguasa mendengar lagu itu dari kerumunan pasar. Sekarang mendengarnya dari video berdurasi tiga puluh detik yang sudah ditonton jutaan kali.
Mekanismenya masih sama: lagu segera menjadi milik orang banyak, macam di i Indonesia kita menyaksikan gejala yang mirip melalui lagu “Buahlil”. Yang menarik dari lagu semacam itu bukan mutu musikalnya. Yang menarik adalah proses sosialnya.
Ketika sebuah sindiran dinyanyikan beramai-ramai, penciptanya perlahan menghilang dari pusat perhatian. Lagu itu mulai hidup sendiri. Ia berpindah dari satu mulut ke mulut lain. Ia menjadi bahan candaan. Ia menjadi kode sosial. Ia menjadi penanda bahwa orang-orang sedang membicarakan sesuatu yang sama. Pada titik tertentu, lagu sindiran berubah menjadi lagu rakyat. Persis di situlah roh chansonnier bekerja.
Béranger pasti akan memahami fenomena itu. Ia hidup dalam dunia tanpa internet, tanpa mikrofon, tanpa algoritma rekomendasi, tanpa tombol bagikan.
Namun ia mengetahui satu rahasia yang masih berlaku sampai hari ini. Orang bisa melupakan artikel. Orang bisa melupakan pidato. Orang bisa melupakan konferensi pers. Dosen-dosen bisa melupakan ruwetnya mengisi laporan akhir semester. Tetapi mereka sering mengingat lagu yang cukup lucu untuk dinyanyikan sambil menyapu halaman.
Mungkin karena itulah para penguasa sepanjang sejarah sering merasa gelisah terhadap penyair lagu. Penyair lagu adalah:
Mereka yang tidak memiliki pasukan.
Mereka yang tidak memiliki kantor.
Mereka yang tidak memiliki anggaran negara.
Mereka yang hanya memiliki irama.
Jika Béranger hidup hari ini, ia akan membuat lagu satir, mengunggahnya ke media sosial, terkena laporan massal, diwawancarai televisi, lalu kembali menulis lagu baru keesokan harinya. Sebagian orang akan menyebutnya penyair. Sebagian lagi akan menyebutnya pengacau. Tanda-tandanya cukup jelas. Dua abad yang lalu ia sudah melakukan pekerjaan yang sama.
Lalu siapakah penyair yang membuat lagu “Buahlil”? Saya tidak tahu. Bayangkan ia sekarang sedang minum kopi. Mungkin sedang membaca komentar netizen. Mungkin juga sedang bekerja seperti biasa sambil diam-diam tersenyum melihat lagunya dinyanyikan orang yang tidak pernah dikenalnya dan mengenalnya.
Namun siapa pun dia, saya curiga Pierre-Jean de Béranger akan mengajaknya duduk semeja. Mereka akan segera akrab. Sebab keduanya berasal dari keluarga yang sama. Keluarga besar para chansonniers. Orang-orang yang mengubah keluhan menjadi lagu, lagu menjadi lelucon, dan lelucon menjadi bagian dari ingatan kolektif. Lalu suatu hari kita menyadari sesuatu yang agak memalukan: kita hafal bait-bait mereka, tetapi lupa nama-nama tokoh yang dicetak pada mata uang, dan bertambah banyak peredaran video-video pendek tentang para pejabat yang salah melafalkan lagu kebangsaan.
Bah! []
