Saya pernah membelah lemari pakaian bekas menjadi dua. Kedua potongannya sekarang menjadi rak buku. Kalau orang bertanya apa yang terjadi pada pakaian yang semula akan disimpan di situ, saya bisa menerangkan kalau lemarinya memang sudah bekas. Jadi, urusan pakaian tak perlu diperdebatkan lagi. Yang masih perlu diperdebatkan adalah cara saya menyimpan buku.
Rak terbesar saya ada di lantai atas. Rangkanya memakai besi holo, alasnya papan, dan dinding kamar hampir seluruhnya tertutup. Saya membuat alas yang lebar agar setiap tingkat bisa menampung dua baris buku. Buku di depan, buku di belakang. Ruang kosong di antara tingkat juga saya manfaatkan untuk menyelipkan buku lain. Ketika semuanya sudah terisi, saya merasa berhasil. Ruangan yang tadinya hanya menampung sekian banyak buku sekarang bisa menerima lebih banyak lagi tanpa perlu ditambah luasnya.
Saya mengerjakan itu dengan tangan sendiri. Jadi kalau ada yang salah, sulit mencari orang untuk disalahkan. Saya mungkin perlu berbicara kepada tukang yang membuat papan atau toko besi, tetapi mereka tidak pernah menyuruh saya membuat rak sedalam itu. Saya yang memutuskan semua ukurannya.
Saya memisahkan novel dari buku puisi. Ada juga rak di lantai bawah, besar-besar. Sistemnya terdengar masuk akal sampai suatu sore saya membutuhkan sebuah novel. Saya menuju rak novel, membaca punggung-punggung buku yang tampak, kemudian menyingkirkan sejumlah buku untuk memeriksa baris kedua. Belum ketemu. Saya periksa sela di atas buku-buku yang berdiri. Kadang sebuah buku masuk menyamping ke sana. Sesudah beberapa lama saya mulai ragu apakah buku yang dicari memang masih berada di rumah.
Ada keuntungan dari rak dua baris yang tidak saya perkirakan. Ketika sedang mencari sebuah buku, saya bisa menemukan lima atau enam buku lain yang sudah lama tidak terlihat. Tiba-tiba ada novel yang ingin saya baca kembali. Saya buka sebentar. Saya teringat bagian lain dan mencari halaman itu. Pekerjaan menemukan buku pertama pun tertunda. Saya tidak bisa mengatakan pencarian gagal, sebab saya sedang membaca. Hanya saja yang saya baca bukan buku yang tadi saya butuhkan.
Saya mengetahui seorang pembaca Jepang bernama Yuri Nakae yang mengalami kesulitan serupa. Ketika berusia enam belas tahun, dia membeli novel Shūsaku Endō berjudul Suna no Shiro. Novel itu terus disayanginya. Dalam wawancara pada 2024, Yuri memperlihatkan buku lamanya yang sudah kecokelatan. Dia juga mengaku di rumah ada beberapa eksemplar novel yang sama. Setiap kali tidak berhasil menemukan buku itu, dia pernah membeli lagi. Saya senang mengetahui ada orang yang tidak menganggap tindakan tersebut sebagai aib. Dalam wawancara itu Yuri malah tertawa.
Saya ingin tahu bagaimana dia memilih eksemplar yang akan dibaca. Kalau ada lima buku dengan isi yang sama, apakah buku pertama tetap terasa lebih akrab daripada empat saudaranya? Saya belum sampai ke situ. Saya kerap membeli buku yang sama karena membutuhkan isinya, bukan karena ingin membandingkan pengalaman membaca pada eksemplar pertama dan kedua. Sampul edisi lawas pun bisa berbeda-beda. Melihat sampul yang tidak saya kenal belum tentu berarti judulnya tidak ada di rumah.
Buku-buku tentang Jepang termasuk yang beberapa kali saya beli ulang. Fiksi ada, nonfiksi juga. Kalau suatu hari saya menurunkan semua buku dari rak, mungkin saya bisa menyusun satu kelompok khusus untuk judul-judul kembar. Tetapi untuk membuktikan berapa banyak yang kembar, saya harus menurunkannya dulu. Pekerjaan itu belum masuk agenda saya. Rak dua baris membuat kegiatan inventarisasi terasa seperti memindahkan satu toko buku ke lantai kamar, lalu mengembalikannya lagi.
Biasanya ada jalan yang lebih mudah. Saya menghubungi Bandung Mawardi. Nama itu bukan petunjuk alamat. Dia tinggal di Solo. Dia sahabat saya yang gemar mengumpulkan buku lawas dan juga menjualnya. Saya bisa menanyakan sebuah judul kepadanya. Kalau dia punya, saya pesan, lalu dia mengirimkannya lewat pos. Jauh lebih praktis daripada menarik buku demi buku dari baris depan sambil mencoba mengingat kapan terakhir saya melihat punggung buku yang dicari.
Saya mengenal kebiasaan Bandung Mawardi sejak kami bekerja bersama sekitar setahun dalam Komite Buku Nonteks Pusat Perbukuan. Ada banyak kesempatan kami berada di Jakarta untuk urusan pekerjaan. Kalau sedang ada waktu kosong, dia tahu harus pergi ke mana mencari buku lawas. Dia bisa kembali ke kamar hotel membawa puluhan buku. Saya tidak pernah bisa memastikan bagaimana dia menghitung berat tambahan bagasinya. Bagi orang lain waktu senggang di kota mungkin berarti pergi makan atau melihat-lihat tempat wisata. Bandung Mawardi sudah tahu pedagang buku mana yang perlu didatangi.
Sesudah itu dia masih bisa tidur dengan cepat. Ini bagian yang agak menyakitkan bagi saya. Saya sulit tidur meskipun sudah berusaha membaca buku ringan; dia bisa tidur, lalu bangun sekitar pukul tiga dini hari untuk membaca dan menulis resensi. Kalau kebetulan kami sama-sama membaca pada pukul tiga, ada perbedaan yang tidak kecil. Bandung Mawardi sudah selesai tidur. Saya mungkin belum berhasil memulainya. Dia tidak perlu membaca esai saya tentang kesulitan tidur. Saya malah ingin mempelajari caranya meletakkan kepala di bantal.
Baru-baru ini Bandung Mawardi mengirim cerita melalui WhatsApp tentang masa ketika esai-esainya belum juga diterima koran. Dia menulis, mencetaknya, memasukkan lembaran-lembaran itu ke amplop, lalu mengirimkannya. Berbulan-bulan begitu. Ketika sebuah esainya akhirnya dimuat Kompas pada 2008, dia menangis sambil berdiri di pintu. Di depan cicak dan semut dia berjanji akan menulis seribuan esai. Para saksi itu tampaknya tidak dimintai tanda tangan.
Resensi-resensinya banyak. Ada yang disimpan sebagai berkas, ada yang dicetak lalu dibagi-bagikan begitu saja. Ketika menjadi pemateri, Bandung Mawardi juga bisa memberi buku kepada peserta yang bertanya. Saya menyaksikan orang yang membeli dan membaca buku, kemudian masih ingin buku-bukunya berpindah ke tangan orang lain. Kalau saya menjadi peserta, mungkin saya akan menyiapkan dua atau tiga pertanyaan. Tetapi saya juga tahu dia bisa membedakan orang yang ingin bertanya dengan orang yang sedang mencari buku gratis.
Ada cerita yang pernah Bandung Mawardi sampaikan kepada saya tentang awal kegemarannya membaca. Sewaktu sekolah, dia mendapat hukuman dari guru dan dimasukkan sendirian ke sebuah ruangan. Saya lupa ruangan apa; mungkin ruang BP atau BK. Di situlah dia menemukan sebuah buku dan membacanya. Menurut ceritanya, pengalaman itu membuat dia mencintai buku. Alasan hukumannya saya tidak ingat. Judul buku tersebut pun sudah tidak dia ingat.
Saya merasa ceritanya agak merepotkan pihak sekolah. Anak dihukum supaya mendapat pelajaran, tetapi pelajaran yang dibawanya pulang sama sekali mungkin tidak direncanakan oleh guru. Saya ingin tahu apakah guru itu tahu apa akibat keputusannya. Jika tahu, saya berharap tidak lantas menjadikan mengurung murid di ruang BK sebagai program peningkatan minat baca. Tidak semua ruang BK menyediakan buku yang menarik. Tidak semua murid pun akan senang ditinggal sendirian di sana.
Dari cerita yang dikirimnya itu, saya juga mengetahui bahwa beberapa buku esai yang dulu menemaninya belajar menulis baru saja dijual. Bandung menceritakan seorang pembeli yang memborong delapan buku, lalu menduga orang itu kelak akan menjadi esais atau kritikus sastra. Dia bahkan mendoakannya. Buku-buku tersebut dulu ikut bekerja ketika esai-esainya menghasilkan honor untuk kebutuhan keluarga. Sekarang buku-bukunya sendiri bisa dijual untuk kebutuhan keluarga juga. Menurut perhitungan saya, cara ini membuat buku bekerja dua kali. Saya masih berada pada tahap yang kurang menguntungkan: membeli buku dua kali karena buku pertama tidak ketemu.
Orang yang bisa lupa judul buku pertama yang membuatnya jatuh cinta kepada membaca itu sekarang membantu banyak orang menemukan buku-buku yang mereka cari. Termasuk saya. Kalau dia menjual sebuah buku, dia tahu persis mengapa buku lawas dalam keadaan bagus patut diberi harga tertentu. Saya kadang mengeluh, terutama kalau uang sedang tipis. Keluhan itu tidak selalu bertahan lama.
Buku paling saya cintai ialah Madame Curie. Sampai sekarang saya tidak yakin di mana eksemplar lama saya berada. Mungkin di rumah Ibu saya, mungkin tertinggal di rumah seorang teman. Itu bukan buku yang tidak sengaja saya tinggalkan karena sudah selesai membacanya. Pada suatu hari saya sangat ingin membacanya lagi. Saya bisa mengingat kerinduan itu lebih jelas daripada saat terakhir saya memegang bukunya. Saya menghubungi Bandung Mawardi.
Dia punya satu eksemplar. Harganya dua ratus lima puluh ribu rupiah.
Asu. Saya sedang tidak punya banyak uang. Saya mencoba menimbang kebutuhan lain, tetapi keinginan membaca Madame Curie tidak mau menunggu sampai keadaan keuangan saya membaik. Akhirnya saya bayar. Kalau saya membongkar semua rak dan menemukan eksemplar lama, uang itu mungkin bisa diselamatkan. Kalau buku tersebut sedang berada di rumah teman, saya harus mengingat siapa temannya. Saya tidak punya kepastian untuk dua pilihan itu. Bandung Mawardi punya bukunya dan bisa mengirimnya.
Buku itu biografi Marie Curie yang ditulis Ève Curie, putrinya. Terjemahan bahasa Indonesianya dikerjakan Krishna Maruli. Edisi yang terlacak diterbitkan N.V. Penerbitan W. van Hoeve pada 1953, setebal 568 halaman. Saya sempat mengingat tahun 1958, jadi saya masih perlu melihat kembali keterangan cetak pada eksemplar yang sampai di rumah. Saya suka sekali buku ini. Kalau ditanya mengapa, jawabannya mungkin memerlukan percakapan tersendiri; hari ini saya masih ingin menyelesaikan urusan uang dua ratus lima puluh ribu rupiah.
Begitu paket tiba, semua keluhan tentang harga harus saya periksa ulang. Bukunya asli, tua, mulus, tidak cacat. Saya mencari bagian-bagian yang biasanya mudah rusak pada buku setua itu dan tidak menemukan alasan untuk kecewa. Eksemplar lama milik saya, seandainya ditemukan besok, belum tentu sebaik kiriman Bandung Mawardi. Dua ratus lima puluh ribu rupiah itu tidak jadi saya sesali. Saya malah bersyukur tidak menawar terlalu lama sampai satu-satunya eksemplar miliknya dibeli orang lain.
Yang mengganggu pikiran saya bukan lagi uangnya. Kalau eksemplar lama muncul, saya punya dua Madame Curie. Kalau tidak muncul, saya masih harus mengingat dengan baik di mana buku yang baru ini saya simpan. Saya tidak ingin menghubungi Bandung Mawardi beberapa tahun lagi dan bertanya apakah dia punya Madame Curie untuk ketiga kalinya. Saya belum tentu sedang punya uang. Dia juga belum tentu punya satu lagi dalam keadaan semulus itu.
Bandung Mawardi bahkan pernah mengirim foto sejumlah buku yang baru datang kepadanya. Di antara buku-buku dalam foto itu ada Golok dan Bukan Golok, buku saya sendiri. Saya menatap foto itu agak lama. Satu-satunya eksemplar milik saya sekarang berada di rumah Ibu saya. Kalau orang datang ke rumah saya dan meminta melihat buku itu, saya tidak bisa langsung mengambilnya dari rak. Mungkin lebih cepat saya menghubungi Bandung Mawardi dan meminta foto sampulnya.
Saya sudah mencoba bermacam cara menyediakan tempat bagi buku. Rak besi, rak papan, lemari pakaian yang dibelah dua, pemisahan novel dan puisi, semuanya ada. Saya belum melakukan pekerjaan yang terdengar paling mudah: membuat semua buku bisa dilihat tanpa harus memindahkan buku lain. Kalau semua buku harus berdiri dalam satu baris, ruang yang saya perlukan bisa bertambah sangat banyak. Saya belum siap memikirkan biaya dan dinding yang harus disediakan untuk itu.
Sesekali saya ingin mengeluarkan seluruh isi rak, lalu menyusunnya kembali sejak pagi. Tetapi saya juga tahu apa yang mungkin terjadi. Di baris belakang akan ada buku yang sudah lama saya rindukan. Saya akan duduk dan membacanya. Kalau ada yang bertanya apakah kegiatan menata rak sudah selesai, saya barangkali sulit menjawab. Saya sedang bekerja, tetapi tidak memegang satu pun alat pertukangan.
Yuri Nakae masih menyimpan Suna no Shiro yang dibelinya pada usia enam belas tahun, bersama beberapa eksemplar penggantinya. Saya berharap suatu hari buku lama Madame Curie saya juga ketemu. Kalau itu terjadi, tidak perlu buru-buru membuat rak baru. Rak terbesar di lantai atas sudah menyediakan tempat untuk dua eksemplar buku yang sama: satu di baris depan, satu lagi di baris kedua. *




