Anak-anak Indonesia sudah belajar berganti pakaian sejak kecil. Untuk upacara mereka memakai seragam sekolah. Untuk Pramuka ada setangan leher, topi, tanda kecakapan, dan urusan warna yang tak boleh tertukar. Anak yang berlatih karate mengenakan karategi. Pemain basket memakai kostum sendiri, demikian pula pemain sepak bola, lengkap dengan nomor punggung, kaus kaki, dan sepatu yang tidak boleh dipakai sembarangan di lantai rumah. Anak laki-laki yang berangkat salat Jumat sering mengenakan baju takwa. Mereka tahu pakaian mana yang harus diambil dari lemari ketika ada kegiatan tertentu. Orang tua pun tahu. Kalau salah, kadang urusannya bisa panjang sejak pagi.
Saya mengenal urusan karate dengan baik. Memakai pakaian latihan adalah pekerjaan yang begitu biasa sampai orang jarang membicarakannya. Sabuk diikat, ujung baju dirapikan, lalu latihan berlangsung. Tidak ada anak yang protes mengapa menendang dan memukul harus dilakukan dengan pakaian khusus. Untuk bermain basket pun orang bersedia mengganti pakaian. Mereka tidak datang ke lapangan mengenakan seragam Pramuka, lalu berdalih tujuan basket ialah memasukkan bola ke keranjang sehingga pakaian mestinya tidak penting. Cobalah sampaikan pendapat itu kepada pelatih.
Hal yang sama berlaku di tempat kerja. Koki tidak masuk dapur restoran memakai jas dokter. Pekerja laboratorium mengenakan jas laboratorium, dan perenang tentu menyiapkan pakaian renang. Pakaian membantu orang memasuki suatu pekerjaan. Jas laboratorium melindungi tubuh dan pakaian di bawahnya. Pakaian renang memungkinkan tubuh bergerak dengan baik di air. Seragam Pramuka mengingatkan pemakainya pada aturan kegiatan yang akan diikuti. Untuk setiap urusan, manusia bersedia merancang pakaian sampai memperhitungkan saku dan panjang lengan.
Hanya membaca yang nasibnya aneh. Anak SD membaca dengan seragam merah putih. Kalau hari itu jadwal Pramuka, dia membaca dengan seragam Pramuka. Seusai pelajaran olahraga, dia boleh membaca dengan kaus olahraga. Tidak ada guru yang menghentikan kegiatan itu untuk meminta murid berganti pakaian. Buku dianggap bisa dibuka dengan pakaian apa saja. Saya mengusulkan agar kebiasaan ini diperbaiki. Sekolah sudah mengajarkan begitu banyak hal tentang membaca, tetapi belum menyiapkan pakaian membaca.
Kita juga sangat tidak adil dalam urusan upacara. Sebelum pertandingan olahraga besar, para peserta berbaris. Ada bendera, lagu kebangsaan, sambutan, dan kadang orang-orang yang harus berdiri lama menunggu acara dimulai. Sembilan puluh menit pertandingan sepak bola saja bisa mendapat pembukaan yang begitu terhormat. Anak sekolah yang akan membaca novel selama tiga minggu tidak mendapat apa-apa. Dia mengambil buku dari perpustakaan, menandatangani peminjaman, lalu pergi. Ketika novel itu selesai, dia mengembalikannya melalui meja yang sama. Tidak ada upacara penutupan. Tidak ada panji untuk kegiatan membaca. Bahkan kalau si anak berhasil menamatkan buku tebal, teman-temannya belum tentu tahu.
Saya tidak meminta agar setiap buku mendapat pengibaran bendera sendiri. Sekolah tentu memiliki pekerjaan lain. Cukup satu upacara pembukaan membaca pada awal semester dan satu lagi ketika program semester berakhir. Panjinya dapat memuat gambar buku terbuka. Tidak perlu terlalu banyak motif, sebab motif yang berlebihan akan membuat panji sulit dikenali dari jauh. Lagu pengiring harus disusun dengan baik. Kalau pertandingan punya lagu resmi, masa kegiatan membaca mesti menumpang pada musik yang dipakai untuk acara lain? Untuk buku yang sangat tebal, sekolah boleh memberikan penghargaan tambahan kepada siswa yang menamatkannya. Upacara tidak boleh menjadi alasan anak berhenti membaca hanya karena belum tersedia tiang bendera.
Dasar pikiran saya sederhana. Setiap kegiatan mengenal tata cara sebelum orang memasukinya. Kita mencuci tangan sebelum makan; orang memberi salam sebelum bertamu; pelatih mengatur barisan sebelum latihan. Membaca pun sebuah pertemuan. Ada orang yang telah menulis, menyunting, memeriksa cetakan, bahkan mungkin menghabiskan bertahun-tahun menyelesaikan bukunya. Pembaca datang beberapa menit, membuka halaman pertama, dan merasa dirinya berhak memperlakukan hasil pekerjaan itu seperti benda yang ditemukan secara kebetulan di meja. Saya kira rasa hormat kepada pengarang perlu diajarkan sebelum guru meminta anak menemukan gagasan utama paragraf.
Di universitas keadaannya lebih sulit lagi. Mahasiswa yang akan mengamati bakteri mendapat petunjuk keselamatan kerja dan wajib mengenakan jas laboratorium. Dia bisa melihat bakteri melalui mikroskop setelah semua perlengkapan diperiksa. Akan tetapi, ketika membaca buku yang menjelaskan kehidupan bakteri, dia boleh memakai kaus oblong. Seorang dosen mungkin menguji pemahamannya mengenai bakteri, tetapi tidak menanyakan pakaian yang dikenakannya ketika membaca. Saya ingin tahu mengapa mengamati bakteri dianggap pekerjaan yang memerlukan tata busana, sedangkan membaca pengetahuan tentang bakteri diserahkan seluruhnya kepada selera berpakaian mahasiswa.
Lebih dari lima ratus tahun lalu, Niccolò Machiavelli sudah menunjukkan jalan keluar. Dalam surat kepada Francesco Vettori, 10 Desember 1513, dia menceritakan bagaimana setiap malam dia pulang dan memasuki ruang kerjanya. Pakaian sehari-hari yang kotor oleh debu dan lumpur dilepaskan. Dia mengenakan pakaian resmi, pakaian yang layak bagi orang istana. Baru sesudah itu dia membaca karya orang-orang dari zaman kuno. Machiavelli menganggap dirinya sedang berkunjung kepada mereka. Dia bertanya tentang tindakan mereka dan mendengar jawaban melalui buku. Empat jam bisa lewat tanpa membuatnya bosan.
Ketika menulis surat tersebut, Machiavelli bukan pejabat yang sedang menikmati kemewahan istana. Dia telah kehilangan jabatan di Firenze dan tinggal jauh dari kehidupan politik yang lama dia kenal. Siangnya dia berurusan dengan pekerjaan di tanah miliknya, orang-orang desa, dan kedai tempat permainan kecil dapat berakhir dengan pertengkaran panjang. Di malam hari dia berganti pakaian untuk menemui orang-orang yang sudah mati ratusan tahun sebelumnya. Mereka tidak akan datang memeriksa kerah bajunya. Tetapi Machiavelli tetap berpakaian pantas. Dari percakapan melalui buku itulah dia mengerjakan tulisan tentang kekuasaan yang kelak dikenal sebagai The Prince.
Bagi saya, Machiavelli seorang guru membaca yang perlu mendapat tempat dalam kurikulum. Orang sudah membicarakan pemikiran politiknya di mana-mana. Mahasiswa diminta memahami gagasannya tentang kekuasaan, perebutan pemerintahan, dan tindakan para penguasa. Tetapi peristiwa sebelum dia membuka buku hampir tidak diajarkan. Dia sendiri menyediakan contoh yang bisa dikerjakan oleh siapa saja. Tidak semua mahasiswa sanggup menulis buku seperti Machiavelli. Mengenakan pakaian yang pantas sebelum membaca tentu lebih mungkin dilakukan.
Ilmu busana dapat membantu kita menyusun pelaksanaannya. Pakaian berguna secara fisik, sekaligus memberi tanda tentang pekerjaan yang sedang dilakukan pemakainya. Jas dokter dikenali orang bahkan sebelum dokter itu berbicara. Seorang koki tidak perlu menjelaskan dirinya kepada seluruh pengunjung restoran ketika masuk dapur. Dalam psikologi pakaian, hubungan antara makna sebuah pakaian dan perhatian orang yang mengenakannya juga sudah menjadi bahan penelitian. Jas laboratorium, misalnya, pernah dipakai dalam percobaan untuk melihat pengaruh pakaian terhadap tugas perhatian. Kita belum perlu menganggap semua hasil penelitian itu sebagai jaminan anak menjadi pintar setelah memakai jas. Untuk membaca, pemerintah dapat mengujinya sendiri. Tetapi aneh kalau pekerjaan membaca sama sekali tidak diberi kesempatan menggunakan pakaian yang bisa diuji.
Saya mengusulkan empat jenis pakaian membaca. Rancangannya harus memperhitungkan iklim Indonesia. Kita tidak mungkin menyuruh anak-anak belajar dengan jas tebal seperti orang yang akan keluar rumah pada musim dingin. Kain harus ringan, mudah dicuci, tidak membuat gerah, dan tetap nyaman ketika anak duduk, berdiri, atau membungkuk mengambil buku dari rak. Kalau perancang busana sanggup membuat pakaian atlet yang bergerak cepat dan pakaian kerja untuk petugas laboratorium, saya percaya mereka dapat menghasilkan pakaian bagi tubuh yang sedang duduk membaca.
Untuk SD, pilihan terbaik adalah rompi hijau lumut. Anak tetap boleh mengenakan seragam merah putih di bawahnya. Rompi itu cukup dipakai ketika jam membaca dimulai, sehingga sekolah tidak memerlukan ruang ganti yang luas. Bahan katun campuran yang tidak terlalu tebal akan memudahkan pencucian dan pengeringan. Kancing depan sebaiknya besar agar anak kelas satu dapat memasangnya sendiri. Dua saku diperlukan: satu untuk kartu perpustakaan, satu lagi untuk pensil. Hijau lumut tidak terlalu cepat memperlihatkan noda dan tidak menyilaukan ketika berdekatan dengan halaman putih. Anak akan belajar mengenakan rompi pada saat menghormati buku, sebagaimana dia memakai pakaian tertentu ketika mengikuti latihan dan upacara.
Jenjang SMP memerlukan model lain. Saya memilih jaket baca biru tua, tanpa bantalan bahu dan tanpa dasi. Usia SMP sudah cukup untuk mengenakan pakaian yang lebih tertata, tetapi anak-anaknya masih suka bergerak ke sana kemari. Jaket dengan bukaan depan memungkinkan mereka cepat berganti kegiatan. Biru tua membuat jaket tidak mudah tampak kusam. Bagian pergelangan jangan terlalu longgar karena akan menyenggol gelas atau menyeret ujung halaman. Saya tidak ingin ada buku perpustakaan robek hanya karena rancangan lengan yang buruk. Sekolah boleh membubuhkan lambang kecil pada bagian dalam jaket, bukan lambang besar di dada. Anak sedang membaca, bukan menjadi papan pengumuman sekolah.
Untuk SMA, saya mengusulkan jas hitam ringan dengan kemeja putih. Jasnya tak perlu memakai lapisan berat. Siswa kelas sebelas atau dua belas sudah terbiasa mengikuti berbagai kegiatan resmi; tidak ada alasan mereka menganggap membaca kurang layak mendapat perlakuan serupa. Hitam dipilih karena dapat dikenakan dalam ruang baca yang bermacam-macam dan tidak mengganggu perhatian terhadap halaman. Kemeja putih membantu guru memeriksa kebersihan pakaian, meskipun saya tidak menyarankan pemeriksaan yang membuat jam membaca habis untuk berurusan dengan noda. Siswa boleh melepas jas sesudah sesi selesai. Buku yang belum selesai dibaca tentu dapat dibawa pulang.
Perguruan tinggi tidak boleh disamakan dengan SMA. Mahasiswa telah berhak menentukan banyak hal untuk dirinya sendiri. Karena itu model jas membaca boleh lebih beragam, tetapi bentuknya tetap perlu mudah dikenali. Saya memilih jaket baca berkerah sederhana, dengan pilihan warna cokelat tinta, abu arang, atau biru gelap. Bahan, kelonggaran, dan ukuran ditetapkan menurut kebutuhan pengguna, termasuk mahasiswa yang memerlukan pakaian adaptif. Mahasiswa boleh menambahkan kantong untuk catatan, tetapi jangan sampai kantong itu berubah menjadi tempat menyimpan makanan yang baunya mengganggu perpustakaan. Untuk dosen, modelnya sama. Kita tidak mungkin mewajibkan mahasiswa menghormati kegiatan membaca sementara pengajarnya bebas membaca dengan pakaian apa pun.
Empat jenjang tersebut berbeda lebih dari soal warna. Anak SD memerlukan kemudahan mengenakan pakaian, siswa SMP memerlukan keleluasaan bergerak, siswa SMA sudah bisa menjalankan tata cara yang lebih resmi, sedangkan mahasiswa harus mendapat kesempatan menentukan kebutuhannya sendiri. Orang yang merancang busana biasa memperhitungkan fungsi, bentuk, bahan, dan pesan yang disampaikan pakaian. Saya ingin pekerjaan yang sama dipakai untuk membaca. Kementerian tidak perlu menunjuk satu pabrik untuk seluruh sekolah. Cukup menerbitkan standar desain yang dapat dikerjakan penjahit di berbagai daerah. Kalau semua pakaian dipesan dari satu perusahaan, kegiatan membaca malah akan lebih banyak dibicarakan dalam rapat pengadaan daripada di ruang kelas.
Biaya pun bisa diatur. Sekolah menyediakan rompi dan jaket yang dipinjamkan; keluarga tidak diwajibkan membeli. Pakaian yang sudah kecil dikembalikan, dicuci, lalu dipakai siswa lain yang ukurannya sesuai. Perpustakaan menyiapkan beberapa ukuran cadangan untuk murid yang lupa membawa pakaian membaca. Jika kain mengalami kerusakan, sekolah menggantinya melalui anggaran perlengkapan belajar. Siswa tak boleh mendapat nilai rendah hanya karena rompinya sedang dicuci. Justru kita sedang mengajarkan rasa hormat, bukan memberi kesempatan baru untuk menghukum anak dari keluarga yang kekurangan uang.
Saya juga mengusulkan satu mata kuliah atau bagian praktik dalam pendidikan guru mengenai tata busana membaca. Materinya tidak perlu berat. Calon guru mempelajari cara memilih pakaian sesuai usia anak, mengatur penyimpanan, menyiapkan ruang baca, serta memimpin upacara awal semester. Mereka harus bisa membedakan jaket baca dengan jas laboratorium. Jangan sampai seorang guru membawa tiga puluh anak berpakaian jas putih ke perpustakaan, lalu menjelaskan kegiatan membaca buku sama dengan mengamati bakteri. Keduanya perlu dihormati, tetapi pekerjaannya berbeda. Dokter sudah punya jas dokter. Masa pembaca tidak boleh punya jas sendiri?
Orang mungkin bertanya apakah ada gunanya berganti pakaian jika seorang murid tetap tidak memahami isi buku. Pertanyaan itu wajar, tetapi tidak perlu membuat program ini berhenti. Pemain sepak bola yang sudah mengenakan kostum lengkap tetap bisa kalah. Koki yang berpakaian rapi tetap mungkin membuat masakan terlalu asin. Kita tidak lalu menghapus pakaian sepak bola atau membiarkan koki bekerja dengan pakaian apa saja. Guru tetap harus mengajar membaca, mengajukan pertanyaan, membicarakan isi buku, dan memeriksa pemahaman siswa. Pakaian menolong anak menyadari pekerjaan yang sedang dia masuki. Tidak perlu membebankan seluruh keberhasilan pendidikan kepada rompi hijau.
Di suratnya, Machiavelli juga menceritakan kebiasaan membaca buku puisi pada siang hari, tanpa upacara berpakaian seperti pada malam hari. Saya tidak menganggap itu kelemahan teladannya. Dia membedakan kegiatan yang dijalankan sambil beristirahat dengan kegiatan yang memerlukan persiapan khusus. Dalam hal ini pendidikan kita bahkan dapat menyempurnakan pengalaman Machiavelli. Anak boleh membaca komik atau puisi di rumah dengan pakaian apa pun. Ketika sekolah menyelenggarakan kegiatan membaca, pakaian resminya dikenakan. Untuk membaca mandiri di luar sekolah, pemakaiannya boleh dianjurkan, bukan diwajibkan. Saya tidak mengusulkan petugas kelurahan memeriksa pakaian warga yang membaca di teras rumah.
Perkara lain yang perlu diperhatikan ialah penutup kegiatan. Upacara awal semester sudah memiliki tata tertib. Pada akhir semester, siswa cukup mengembalikan pakaian pinjaman, memeriksa bukunya, lalu mengikuti pertemuan singkat bersama guru. Saya tidak menyarankan penghormatan kepada pengarang dilakukan dengan membungkuk kepada sampul. Tidak semua buku memuat foto pengarang dan sebagian pengarang akan keberatan jika wajahnya harus ditunduki anak-anak setiap pagi. Membaca dengan penuh perhatian sudah merupakan penghormatan yang baik. Pakaian hanya membantu orang menyiapkan diri untuk melakukannya.
Machiavelli meninggal jauh sebelum sekolah-sekolah Indonesia mengenal seragam merah putih. Dia tak meninggalkan petunjuk ukuran rompi maupun warna jaket untuk pelajar SMP. Itu pekerjaan kita. Lima abad merupakan waktu yang memadai untuk mengembangkan teladannya, termasuk membuat standar jahitan yang sesuai dengan cuaca di sini. Saya bersedia menerima jika kelak penelitian sekolah menemukan warna biru yang lebih baik daripada pilihan saya. Tetapi penelitian warna harus dilakukan setelah sekolah menyediakan pakaian membaca, bukan dijadikan alasan menunda pengadaannya terus-menerus.
Sebagai dosen, saya juga harus menjalankan ketentuan itu. Saya belum menyediakan jas khusus untuk membaca di kelas. Selama ini mahasiswa menghadap buku dan saya menghadap mahasiswa, sementara pakaian kami mengikuti jadwal perkuliahan pada hari itu. Jika pemerintah menerima usul saya, perlengkapan dosen jangan dilupakan dalam perhitungan anggaran. Saya tidak ingin murid SD sudah memakai rompi hijau dengan rapi, lalu bertahun-tahun kemudian bertemu dosen yang masih membaca seperti orang yang baru mampir dari kantin.
Saya hanya meminta satu ketentuan tambahan bagi pakaian membaca mahasiswa dan dosen: bahannya harus cukup nyaman untuk dipakai selama empat jam. Machiavelli sudah memperlihatkan lamanya pertemuan yang pantas dengan orang-orang dalam buku. Kalau pemerintah menetapkan pakaian yang membuat pemakainya berkeringat setelah dua puluh menit, saya khawatir seluruh pekerjaan menghormati pengarang akan berakhir di tempat laundry. []




