Bakat saya masuk sastra sudah terasa sejak SMA. Waktu itu seorang guru mengatakan Newton kejatuhan apel di kepalanya, lalu lahirlah teori gravitasi. Guru lain memberi versi berbeda: apelnya tidak mengenai kepala Newton. Newton hanya melihatnya jatuh. Saya tidak tahu mana yang benar. Bisa saja ada guru lain yang punya versi ketiga: Newton yang jatuh menimpa apel. Apelnya hancur. Namanya juga cerita.
Seingat saya, sepanjang sekolah tidak pernah ada buku karya Newton di perpustakaan atau dibawa guru ke kelas. Jadi saya merasa cerita itu memang tersedia untuk siapa saja. Guru boleh menambah sedikit. Murid boleh membayangkan sisanya. Newton selalu siap menjadi tokoh fiksi dengan latar kebun apel abad ke-17.
Saya juga begitu. Alih-alih memikirkan kecepatan benda jatuh, saya malah sibuk memikirkan apelnya. Warnanya apa? Merah? Hijau seperti apel Malang? Manis? Agak asam? Ada ulatnya tidak?
Kalau jatuh dari pohon, apakah ulat yang kebetulan sedang nongkrong ikut jatuh dan tanpa pernah belajar fisika mengalami percepatan yang sama?
Saya juga ingin tahu pohonnya tinggi atau pendek. Kebun itu milik siapa. Apelnya tumbuh liar atau ditanam. Apakah buah seperti itu dijual bebas di pasar. Kalau dijual, berapa harganya. Newton sendiri waktu itu sedang hendak ke mana. Apakah setelah melihat apel jatuh dia memungutnya. Apakah dibersihkan dulu. Apakah dimakan. Kalau tidak dimakan, siapa yang akhirnya makan.
Tidak satu pun soal ulangan menanyakan itu. Soal ulangan malah menanyakan massa benda, waktu, jarak, dan percepatan.
Semakin sering memikirkan apel tersebut, semakin saya merasa fisika telah berbuat tidak adil. Ada sebuah apel utuh jatuh dari pohon dengan warna, rasa, kulit, tangkai, mungkin bercak kecil, mungkin bekas gigitan serangga, mungkin juga aroma yang baru keluar setelah kulitnya pecah. Tetapi begitu masuk pelajaran fisika, semuanya dicopot.
Apel itu tinggal massa m.
Saya sedih sekali.
Dalam Biologi keadaannya tidak lebih baik. Saya berharap setidaknya di sana apel Newton akan dikembalikan kepada keluarganya. Saya ingin tahu pohonnya tumbuh dari biji atau hasil sambung. Akarnya seperti apa. Bunganya bagaimana. Serangga apa yang membantu penyerbukannya. Berapa lama dari bunga sampai buah itu cukup tua untuk jatuh pada hari ketika Newton kebetulan berada di dekatnya.
Tidak ada.
Biologi malah membahas jaring-jaring makanan tanpa Newton makan apel.
Saya sempat berpikir mungkin guru Ekonomi dapat menolong. Kalau apel itu diperjualbelikan, setidaknya ia akan kembali menjadi barang nyata. Ada harga. Ada penjual. Ada pembeli. Ada orang yang menimbang. Ada orang yang menawar terlalu murah. Saya ingin tahu apakah satu apel pada abad ke-17 cukup murah untuk dimakan sambil berjalan atau harus dipikir-pikir dulu sebelum dibeli.
Tapi saya tidak mengambil Ekonomi. Saya anak IPA. Nasib saya semakin sempit.
Suatu hari saya bahkan sempat memperhatikan tukang buah. Saya berdiri agak lama di depan tumpukan apel sambil berpikir apakah orang seperti dia mungkin mengetahui sesuatu yang tidak diketahui guru fisika. Saya ingin bertanya, “Pak, kalau apel jatuh sendiri dari pohonnya, biasanya rasanya lebih manis atau lebih asam?” Atau “Pak, kalau durian ada durian jatohan, apakah apel juga ada apel jatohan?”
Saya tidak jadi bertanya. Saya takut dia menjawab harga per kilo.
Pernah juga saya mencoba bersungguh-sungguh kembali menjadi anak IPA. Saya membuka rumus gravitasi dan berjanji kepada diri sendiri untuk tidak memikirkan rasa apel.
F = G Mm / r².
Saya menatap huruf-huruf itu lama sekali. Ada M. Ada m. Ada r. Ada G. Apelnya mana?
Saya tahu m itu dapat menjadi massa apel. Tetapi hal itu tidak menenangkan saya. Malah makin menyedihkan. Sebutir buah yang membutuhkan berbulan-bulan untuk tumbuh, yang pernah menjadi bunga, pernah kehujanan, pernah dipanasi matahari, mungkin pernah hampir dimakan ulat, akhirnya memperoleh kehormatan masuk matematika hanya untuk diganti dengan satu huruf kecil: m.
Saya tidak tahu apakah apel merasa tersinggung. Bahkan ia tidak punya inisial, katakanlah A. Sayalah yang jelas-jelas tersinggung, karena saya penggemar berat apel. Saya suka rasanya, dan lebih suka lagi bunyinya saat digigit: kres!
Pernah saya mencoba menghitung lebih serius. Kalau massa apel diketahui, jaraknya dari pusat Bumi diketahui, massa Bumi diketahui, konstanta gravitasinya diketahui, gaya tarik dapat dihitung. Saya kagum beberapa menit. Lalu pertanyaan buruk datang lagi: kalau dua apel massanya sama tetapi yang satu manis dan yang satu asam, apakah keduanya jatuh dengan cara yang sama?
Jawabannya tentu iya. Ini kabar buruk bagi sastra. Sebab sastra biasanya hidup dari kenyataan bahwa yang manis dan yang asam tidak pernah sungguh-sungguh sama. Fisika tidak peduli apel mana yang lebih enak. Tidak peduli bunyinya ketika digigit. Tidak peduli siapa menanam pohonnya. Bahkan ulat yang jatuh bersama apel, kalau memang ada, hanya akan mendapat kehormatan menjadi massa lain. Tidak sempat menjadi tokoh fabel.
Saya sempat berharap perpustakaan sekolah akan menyelamatkan saya. Saya mencari buku yang mungkin menceritakan Newton lebih lengkap. Saya tidak tahu rak mana. Rak fisika dipenuhi buku rumus. Rak sejarah terlalu sibuk dengan perang dan kerajaan. Rak sastra malah tidak punya kepentingan kepada Newton. Saya mondar-mandir sebentar dan akhirnya pulang membawa buku lain.
Apel itu tetap menggantung sendirian dalam kepala saya. Lalu tibalah pelajaran Agama. Saya ingin sekali bertanya kepada Pak Guru berpeci itu apakah Adam dan Hawa jatuh ke bumi karena gravitasi. Saya tahu pertanyaannya mungkin tidak sopan. Tetapi saya serius.
Kalau mereka turun ke bumi, apakah selama perjalanan ada percepatan? Kalau iya, berapa? Kalau tidak, apakah hukum gravitasi saat itu belum berlaku? Dan mereka memang berurusan dengan buah juga, bukan? Buahnya tidak pernah disebut apel, saya tahu kemudian. Tetapi waktu SMA saya hanya melihat satu pola yang semakin membuat saya penasaran: kalau ada buah, tidak lama kemudian ada yang jatuh.
Apel Newton jatuh.
Adam dan Hawa jatuh.
Buah tetangga jatuh ke genting.
Bahasa Indonesia bahkan menyediakan kata “jatuh” untuk cinta, harga, pemerintahan, martabat, air mata, dan nilai rapor saya sendiri. Saya menduga manusia memang terlalu senang menjatuhkan sesuatu.
Tetapi saya tidak berani bertanya kepada guru Agama tentang percepatan Adam dan Hawa. Saya takut ditertawakan teman-teman. Jadi saya memilih pertanyaan yang saya anggap lebih aman dan lebih sesuai pelajaran.
“Pak, kalau buah tetangga jatuh ke halaman kita lalu kita makan, halal tidak?”
Kelas tertawa. Guru ikut tersenyum. Percuma.
Saya pulang dengan keadaan yang kurang lebih sama seperti sebelumnya. Fisika tidak menjawab rasa apel. Biologi tidak menjawab Newton. Agama tidak menjawab percepatan Adam dan Hawa. Tukang buah bahkan tidak sempat saya tanya. Semua bidang tampaknya memiliki pagar masing-masing, sementara saya berdiri di tengah-tengah sambil membawa sebuah apel yang tidak tahu harus diserahkan kepada siapa.
Mungkin itulah pertama kali saya merasa kasihan kepada benda konkret. Apel datang ke dunia secara utuh, tetapi ilmu pengetahuan membaginya menurut kepentingan masing-masing.
Fisika mengambil massanya. Biologi mengambil jaringan dan reproduksinya. Ekonomi mungkin mengambil harganya. Sejarah mengambil abad kelahiran Newton. Agama ternyata tidak membutuhkan jenis buahnya. Sastra memungut apa yang ditinggalkan semuanya: warna, rasa, bunyi ketika digigit, ulat yang mungkin ikut jatuh, tukang kebun yang tidak pernah disebut. Bahkan pertanyaan tolol tentang apakah Newton memakan apel itu atau membiarkannya membusuk di tanah.
Barangkali itu sebabnya setelah SMA jurusan IPA saya malah masuk bidang bahasa dan sastra. Saya tidak sedang meninggalkan ilmu pasti. Saya hanya ingin mencari kembali apelnya.
Apel yang sebelum menjadi massa m pernah punya warna. Pernah menggantung di pohon. Pernah kehujanan. Mungkin pernah membuat ulat bahagia. Mungkin rasanya tidak enak. Tidak apa-apa. Setidaknya ia apel.
Kadang saya membayangkan massa m itu sudah terlalu lama tinggal di dalam persamaan. Hidupnya tertib. Tidak pernah busuk. Tidak pernah digigit. Tidak takut jatuh sebelum matang. Hubungannya dengan M, G, dan r juga sangat terhormat.
Tetapi mungkin sesekali ia rindu pohon. Rindu punya warna. Rindu berbunyi kres di gigitan para pecintanya.
Mungkin itu kabar buruk bagi sastra: sesuatu harus kehilangan ceritanya lebih dulu sebelum kita merasa perlu mencarinya kembali.*
