Argentina, oh.. Argentina | Ulas Sepakbola bukan-Sindhunata

Baru kemaren. Di Web tercinta kita ini. Saya mendeskripsikan kekaguman saya pada Sindhunata. Yang ulas-sepakbolanya luar biasa, melebihi visual.

Itulah: teater-kepala!
Kita bisa berimaginasi melampaui kata-kata. Meta-verbatim. Tidak dibatasi, seperti visual dan gambar. Dibaca-ulang. Tetap berbeda dari sebelumnya. Demikianlah kata-yang-bekerja, bukan kata-kerja.

Saya tidak suka sepakbola. Sebatas kewajiban saja. Dulu, semasa SMP dan SMA, pernah main. Untuk melengkapi jumlah pemain yang harus 11. Saya nendang pakai kiri. Serasa kanan.

Sekali lagi. Lagi lagi sekali: Saya tak suka sepakbola!

Prek dengan permainan “gila” ini! Bagaimana sebuah bola, bundar sebesar kepala, dikejar-kejar, kemudian disepak sembarangan oleh 20 orang, ditahan 2 orang kiper sebelah menyebelah lapangan. Diteriaki pelatih di luar lapangan. Disorak sorai jutaan penonton. Dikagumi cewek-cewek cantik pemainnya?

Ketika pada babak pertama, Tim Argentina “ditewaskan” Arab, saya sudah memberi sinyal bahwa itulah: drama. Permainan setting sebuah cerita. Di mana hero kalah dulu, baru bangkit.

Terbukti. Subuh tadi (10-12-2022). Argentina mempecundangi Belanda. Dalam adu tendangan 12 pas. Skor 3-4 untuk Argentina. Setelah bermain imbang 2-2. Messi yang pada pertandingan babak awal melawan Arab disumpah serapah, semalam berubah jadi: Messiah.

Puas rasanya. Dendam serasa berbalas. Bagaimana tidak? Di Tanah Jawa, konon katanya, dijajah Belanda selama 3,5 abad. Tidak di Borneo, yang hanya dijajah –dimintai belasting— hanya 60 tahun saja. Rasain lo! Saya suka sepakbola gaya total footbal tim oranye. Tapi tetap saja hati ini pindah ke lain hati. Jangan Belanda yang menang. Biar tahu rasanya dipecundangi.

Kemaren, dalam ulasannya, Sindhunata pun menjagokan Argentina. Dan memuji leadership Messi, yang kini lebih melayani. Tak syak lagi. Itulah gaya servanthood leadership yang dipertontonkan lelaki yang dagu dan pipinya kotor karena jenggot dan cambang. Ya, sang pemimpin sejati adalah: pelayan!

Seperti Paus, yang julukannya: serus servorum Dei. Hamba dari para abdi Tuhan.

***

Dalam film, novel, dan narasi yang berkelas. Biasanya, jagoan kalah –atau ngalah dulu!

Lihatlah penguasaan bola. Juga peluang tendangan yang berpotensi jadi gol ketika Argentina melawan tuan rumah, Arab. Tapi tuan rumah yang menang. Tak apa-apa. Bagus saja, sebagai hiburan. Tuan rumah dan pendukungnya dibuat sukacita dulu. Jangan mempermalukan suatu kesebelasan di depan pendukungnya! Sebab permainan baru mulai.

Paus Fransiskus memang orang Argentina. Ia suka bola, namun ia sudah memaklumkan akan netral. Dalam hal sepakbola, Paus tidak akan berdoa. Biarlah permainan dunia ini mengalir begitu saja. Mengikuti irama tarian tango.

Itulah Barangkali Argentina. Di Piala Dunia 1982 kan begitu juga? Kalah di babak pertama.

Lihat saja akhir drama sepakbola dunia tahun 2022.

ARGENTINA akhirnya jadi kampiun. Lihat saja nanti di akhir laga Piala Dunia.

Paus Fransiskus memang orang Argentina. Ia suka bola, namun ia sudah memaklumkan akan netral. Dalam hal sepakbola, Paus tidak akan berdoa. Biarlah permainan dunia ini mengalir begitu saja. Mengikuti irama tarian Tango.

Tango pertama kali digunakan sebagai istilah untuk mendeskripsikan musik dan tarian pada akhir abad ke-18 di Buenos Aires. Tango adalah nama musik para budak pada saat itu di Argentina, lebih khusus lagi nama pertemuan besar di mana para budak menari dengan musik yang menggugah.

Katanya, “Sepakbola memang penting, namun Yesus dan Tuhan jangan disuruh-suruh memihak mana pun! Persaudaraan dan cinta lebih penting dari sepakbola! Tuhan di atas segalanya!”

Benar-benar permainan gila!

sumber foto: goa.com

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply