Arok Dedes: Roman Sejarah Pram yang Menyihir

Arok-Dedes.
Telah saya mafhum kisah kasih dua insan sejak di bangku SMP. Guru sejarahku, dengan hidup, mengisahkan. Dari celah paha bersinar Dedes yang membuat Arok mabok, kemudian mengambilnya dari seorang tumenggung tua “tak tahu diri”.

Tentu saja, sebagai remaja, terbetik keingintahuan. Saya lalu membuka-buka buku di perpustakaan. Oleh karena terbatas bilangan koleksinya, gak ada referensi di perpustakaan kampung kami.

Saya baru bisa membaca roman Ken Arok-Ken Dedes ketika SMA yang letaknya tak jauh dari kota Amoi, Singkawang.

Sungguh luar biasa! Kisahan asmara dua manusia, pria dan wanita dari negeri Tumapel bukan cuma legenda era itu. Melainkan pula kisahan sepanjang zaman.

Mengapa demikian itu? Sebab ia simbol percampuran antara tahta, harta, kuasa, dan wanita. Yang memicu, casus belli, berbagai konflik kepentingan, gila kuasa, dan bahkan menimbulkan peperangan. Kadang malah, akibat asmara, dendam kesumat bisa menimbulkan malabencara seluruh negeri seperti kisahan Pitaloka dan Hayam Wuruk.

Tepat di sini kata sejarawan dunia, Cicero. Dari 5 fungsi sejarah disebutnya, “Historia nuntia vetustatis” -sejarah adalah pesan dari masa silam.

Politik adalah permainan catur di atas papan bidak yang butuh kejelian, pancingan, ketegaan melempar umpan-umpan untuk mendapatkan peruntungan besar. Tak ada kawan dan lawan. Yang ada hanya takhta di mana seluruh hasrat bisa diletupkan sejadi-jadi yang dimau–roman sejarah ini.

Kemudian hari siapa nyana, saya berada dan tinggal lama di kota bekas tinggal kedua legenda. Malang dan sekitarnya adalah kota raja. Sebelum masuk kota dingin, ada sebuah tugu tegak di depan gerbang kota: Patung Ken Dedes. Simbol keindahan dan kecantikan. Juga pesona yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Ada pula pemandian dari kiri jalan masuk kota Malang,Blimbing. Namanya Ken Dedes. Saya dahulu sering berandai-andai di situ. Membayangkan keindahan. Pesona. Sekaligus magis sinar yang memancar dari dalam liang, tubuh terdalam paling rahasia sang dewi Dedes.

Dan kini imajinasi saya dibuat melayang jauh. Terbang ke angkasa biru. Saya cukup dipuaskan dengan bayangan, the theatre of mind, ketika membaca kata demi kata, hingga habis sampai halaman belakang buku roman sejarah yang ditulis Pram ini.

Roman Arok Dedes bukan roman mistika-irasional (kutukan keris Gandring tujuh turunan). Ini adalah roman politik seutuhutuhnya. Berkisah tentang kudeta pertama di Nusantara. Kudeta ala Jawa. Kudeta merangkak yang menggunakan banyak tangan untuk kemudian memukul habis dan mengambil bagian kekuasaan sepenuh-penuhnya. Kudeta licik tapi cerdik. Berdarah, tapi para pembunuh yang sejati bertepuk dada mendapati penghormatan yang tinggi. Melibatkan gerakan militer (Gerakan Gandring), menyebarkan syak wasangka dari dalam memperhadapkan antarkawan, dan memanasi perkubuan. Aktor-aktornya bekerja seperti hantu. Kalaupun gerakannya diketahui, namun tiada bukti yang paling sahih bagi penguasa untuk menyingkirkannya.

Arok adalah simpul dari gabungan antara mesin paramiliter licik dan politisi sipil yang cerdik-rakus (dari kalangan sudra/agrari yang merangkakkannasibmenjadi penguasa tunggal tanah Jawa).

Arok tak mesti memperlihatkan tangannya yang berlumur darah mengiringi kejatuhan Ametung di Bilik Agung Tumapel, karena politik tak selalu identik dengan perang terbuka.

Politik adalah permainan catur di atas papan bidak yang butuh kejelian, pancingan, ketegaan melempar umpan-umpan untuk mendapatkan peruntungan besar. Tak ada kawan dan lawan. Yang ada hanya takhta di mana seluruh hasrat bisa diletupkan sejadi-jadi yang dimau.

Pada akhirnya roman Arok Dedes menggambarkan peta kudeta politik yang kompleks yang “disumbang” Jawa untuk Indonesia.

Mari kita kecap. Dan nikmati nikmatnya rangkaian kata serta tata kalimat Pram pada menu pembuka roman-sejarah yang tiada bandingnya ini.

I
Tumapel

Ia takkan dapat lupakan peristiwa itu pertama kali ia sadar dari pingsan. Tubuhnya dibopong diturunkan dari kuda, dibawa masuk ke ruangan besar ini juga. la digeletakkan di atas peraduan, dan orang yang menggotongnya itu, Tunggul Ametung, berdiri mengawasinya. Ia tengkurapkan diri di atas peraduan dan menangis. Orang itu tak juga pergi. Dan ia tidak diperkenankan meninggalkan bilik besar ini. Gede Mirah menyediakan untuknya air, tempat membuang kotoran dan makanan. Matari belum terbit. Lampu-lampu suram menerangi bilik besar itu. Begitu matari muncul masuk ke dalam seorang tua mengenakan tanda-tanda brahmana. Ia tak mau turun dari peraduan. Tetapi Tunggul Ametung membopongnya lagi, mendudukkannya di sebuah bangku yang diberi bertilam permadani. Ia tutup mukanya dengan tangan. Tunggul Ametung duduk di sampingnya. Orang dengan tanda-tanda brahmana itu telah menikahkannya. Hanya….

Roman sejarah Arok-Dedes ini ditulis dengan bahasa magis. Menyihir pembaca. Membuat tidak ingin lekas-lekas meninggalkan buku ukuran 13 x 20 cm, dengan tebal 565 halaman.*)


Mas Pram, pengarang prolifik itu.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply