Arswendo Atmowiloto | Mengarang Itu Gampang (1)

Dua buku. Edisi berbeda. Telah masuk dalam keranjang koleksi buku saya. Terserak di antara lebih 4.000 buku lainnya.

Dua buku sama, tahun terbit berbeda, dari penulis (bukan pengarang) sama. Sungguh sesatu bingits. Apalagi, buku itu magnum opus seorang maestro. Master. Pakar di bidangnya. Menjadi barang berharga. Yang makin tinggi nilainya manakala semakin langka.

Demikianlah buku Mengarang Itu Gampang karya Arswendo Atmowiloto. Siapa dia? Kabangetan! Jangan ngaku pegiat literasi, pekerja media, penulis, dan pengarang jika tak tahu. Minimal pernah mendengar nama itu!

Bagi kamu yang belum tahu siapa Arswendo Atmowiloto, kami bisa menyapanya “Mas Wendo”, keterlaluan! Googling dulu. Baru meneruskan membaca narasi ini!

Tahun 1995. Tatkala wartawan junior rubrik “berita kota” Suara Indonesia di Malang, Jawa Timur. Saya membei buku ini di Toko Buku Gramedia, Jalan Basuki Rachmat, persis di muka gereja Kayu Tangan. Masih murah harganya. Buku ini terbit tahun 1982. Edisi pertamanya.

Waktu itu, ini buku paling top. Setidaknya, di vaknya: mengarang. Setiap pengarang dan penulis menjadikannya “buku panduan”, vade me cum di bidang tulis-menulis.

Kemudian tak dinyana, tahun 1990-an. Saya bekerja di satu kelompok usaha dengan Mas Wendo. Sempat menulis beberapa artikel di media yang ia asuh. Kami pun, setelah itu, cukup akrab.

Mengarang Itu Gampang karya Arswendo Atmowiloto. Siapa dia? Kabangetan! Jangan ngaku pegiat literasi, pekerja media, penulis, dan pengarang jika tak tahu. Minimal pernah mendengar nama itu!

Poin saya adalah bahwa “Creative Writing” mengalami perkembangan. Writing dalam khasanah Inggris, bisa untuk mengarang dan menulis. Artinya, pas saja diterapkan untuk karya fiksi maupun non-fiksi.

Tapi kemudian, ketika saya dosen di perguruan tinggi mengampu mata kuliah “Creative Writing”. Saya mengadopsi penemuan baru, terkhusus kurikulum di Eropa dan Inggris. Terjadi perkembangan. Jurusan Jurnalistik, bukan hanya menulis berita nanti profil lulusannya. Tapi lebih luas. Jurusan jurnalistik hanya prospek jadi wartawan, itu kuno! Tapi 101 macam bentuk/style/ genre tulisan. Maka tulisan dibagi ke dalam 2 genre besar: fiksi dan nonfiksi.

Maka kemudian, Mengarang hanya pas untuk jenis tulisan: fiksi. Tidak pernah seseorang mengarang berita, mengarang artikel, mengarang esay. Tapi: menulis.

Apa pun, kemudian setelah edisi revisi tahun 2004. Saya tetap membeli (lagi) buku ini. Ibarat prajurit, atau petani, kita harus memperlengkapi diri dengan “senjata” rohani. Selain persenjataan pena atau kini laptop, HP, device.

Bahkan, menulis dengan berbicara menggunakan aplikasi Keep Notes pun, bisa!

Jadi, menulis mengalami evolusi. 

Betapa pun, terima kasih, mas Wendo! Nihil novi sub sole. Tidak ada yang baru di bawah kolong langit. Jika ada orang menulis mengenai creative writing, proses menulis/ mengarang, maka ia hanya: meneruskan saja darimu!

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply