Baluk, Rumah Adat Dayak Bidayuh

Jika Anda mengira bahwa semua Dayak (7 stammenras/ rumpun dengan 405 subsuku) rumah adatnya adalah betang/lamin, radakng; maka hal itu kurang lengkap lagi belum sempurna. Maka selesaikan membaca narasi ini.

Contohnya, Dayak Bidayuh. Rumah adat mereka adalah baluk. Pergilah ke Bengkayang. Tegak di sana sebuah rumah adat Dayak Bidayuh. Agak belakang sedikit anjungan Kalimantan Barat, di Taman Mini Indonesia Indah, pun ada sebuah modelnya. Saya pernah naik, hingga di puncak. Amboi! Tnggi sekali!

Sebutkan apa nama rumah adat orang Dayak!

“Rumah panjang, atau lamin.”

Jika ini jawaban Anda untuk Quiz tebak-tepat. Maka nilai belum sempurna. Baru 50. Sebab, ternyata, masih ada rumah adat Dayak lain yang belum Anda mafhum.

Rumah adat subsuku apa? Subetnis Dayak Bidayuh!
Banyak juga lho populasi subetnis ini.

Sejauh saya teliti, di Malaysia saja –terbanyak di Serian– populasi Bidayuh sebanyak 201.000. Diimbuhi Bidayuh di Kab. Sanggau dan Bengkayang, populasi Bidayuh ditengarai tidak kurang dari setengah juta.

Macam mana pula rumah adat Bidayuh?

Pergilah tengok-tengok ke Bengkayang, sebuah kabupaten yang dulu dikenal “Rara” atau “Lala” oleh orang Hakka. Persisnya di Kecamatan Siding desa Hli Buei dusun Sebujit. Dari Ibukota Bengkayang, jauhnya ± 134 Km.

Di situ berdiri unik rumah adat Suku Bidayuh dimaksud. Bentuknya bulat ke atas. Terletak persis di puncak sebuah mungu’, atau bukit kecil. Untuk ke sana, perlu perjuangan. Anda terlebih dahulu menapak “tangga seribu”. Lolos dari challenge itu, baru bisa masuk baluk.

Baluk, atau dialek Jangkang menyebutnya “bulak”, bundar bentuknya. Diameter kurang lebih 10 meter, dengan ketinggian sekitar 12 meter. Disangga oleh sekitar 20 tiang kayu besi, diperkokoh dengan beberapa kayu penopang lain. Didirikan sebatang tiang untuk mencapai ruang losnya sebagai tangga, sebuah titian. Ketinggian ini ada filosofinya. Menggambarkan kedudukan, atau tempat Djubata, Penompa, Penjadi-segala yang harus dihormati.

Menurut penuturan ayahku, seorang keturunan macatn Engkarong, dalam dialek Jangkang nama los, ketinggian itu “Panca ina balai Petara” –tempat kediaman Petara, atau Jubata. (Pada Neoblog berikut, saya kisahkan mantranya).

Saya telah beberapa kali ke sana. Pernah menemani Miss World Malaysia, 2014, Mss. Liana Seriestha.

Naik tangga. Banyak anaknya dan tinggi sekali. Yang gak biasa, bisa gempor.

Tapi buat Anda yang tinggal di Jakarta dan Jawa, harap jangan kecil hati. Miniaturnya ada di belakang rumah Dayak Anjungan Kalbar, di TMII. Tak ubahnya yang ada Bengkayang. Saya pernah naik hingga di puncaknya.

sumber gambar 1
https://seringjalan.com/6-rumah-adat-tradisional-kalimantan/

sumber gambar 2 dan 3
dokpri penulis

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply