Brooke | Radjah Putih yang Cerdik dan Licik (1)

Ke Sarawak, tak ada habisnya, senantiasa ada bahan yang bisa dikisahkan. Kali ini tentang Brooke, so Radjah Putih. Bagaimana ia dan dinastinya merajai ranah Dayak sungguh bukan saja menarik, tapi juga fenomenal. 

Orang tempatan (lokal) mau saja dirajai orang luar! Mari kita ikuti kisahnya dengan saksama!

Pada awalnya, ia seorang petualang. Setelah itu, baru pecundang. Dengan modal nekad dan berani itu datang ke bumi Sarawak.

James Brooke, Radjah pertama. Charles adalah Rajah kedua, penggantinya..

Rumah saya hanya batas 2 kecamatan dari Sarawak. Lebih jauh saya ke Pontianak, daripada Kuching. Sarawak tempat main-main saya. Sudah menjadi semacam kampung halaman kedua.

Jadi, saya mengenal betul sejarah Sarawak. Termasuk Si Rajah dan dinastinya.

***

Awal yang tampak baik, dalam politik, bisa berakhir dengan buruk. Contohnya, James Brooke.

Sir James Brooke  mencoba berdagang di Timur Jauh, namun tidak berhasil. Pada 1835, ketika ayahnya meninggal ia mendapat warisan £30.000, 00 yang  ia pakai sebagai modal pembelian kapal the Royalist.

Setelah mempersiapkan pelayaran ke Borneo pada 1838, ia tiba di Kuching pada bulan Agustus di tahun yang sama untuk mencari solusi atas pemberontakan Dayak Bidayuh melawan Sultan Brunei.

Menawari bantuan pada Sultan, ia dan krunya membantu mengadakan penyelesaian perdamaian dan, sebagai ganjarannya, ia dianugerahi gelar Rajah Sarawak oleh Sultan yang merasa sangat berutang budi  (walau deklarasi resmi tak dibuat sampai 18 Agustus 1842).

Terlepas dari usahanya mengenalkan etnis Dayak ke luar, dan dari sana nantinya banyak etnolog dan peneliti menulis tentang Dayak, satu kelicikan Brooke patut untuk dicatat.

Betapa tidak! Ia mahir menggunting dalam lipatan. Setelah membantu Sultan Brunei menumpas para pemberontak Dayak Bidayuh melawan Sultan Brunei, ia kemudian memreteli kekuasaan Sultan. Bahkan, dinobatkan menjadi raja putih bagi suku Dayak.

Pelajaran yang ditinggalkan Brooke pantas dicatat untuk kemudian disimak. Ia telah membangun dinasti di Negeri Sarawak, menerapkan nepotisme, kekuasaan dibuatnya berpusat pada satu tangan. James Brooke 27 tahun menjadi raja Sarawak (1841-1868).

Ia digantikan keponakanya Charles Brooke (1868-1917) sebagai raja kedua. Sedangkan raja ketiga adalah Charles Vyner Brooke (1917-1941).

Dengan demikian, dinasti Brooke ini berkuasa di Sarawak sampai 1941.

Peringatan, bukan Ramalan (Nubuat)
Saya cukup mafhum. Siapa yang menyarikan, sehingga lepas dari konteks, apa yang disebut “Ramalan (Nubuat)” James. Yang, menurut saya yang pas seperti subjudul narasi ini.

Mari simak saksama.

Jika jadi penguasa, ngomong apa saja bisa. Namun juga, mesti kritis. Tak semua kata-kata James sesuai fakta.

Buktinya, setelah 3 dinasti merajai Sarawak, ia mengisap negeri yang mayoritas penduduk Iban ini (800.000), dan Bidayuh (500.000) ini makmur.

Tidak terbukti sebagai fakta. Peringatan, ya!

Buktinya, camat, bupati, bahkan gubernur dan para pelaku ekonomi Sarawak dan juga provinsi tetangganya; orang Dayak.
(bersambung)

ilustrasi utama dan penyerta: istimewa

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply