Bukit Satu Miliar dan Bagaimana Proses Kreatif Buku Ini

Aku namai tempat ini: BUKIT SATU MILIAR. Bagaimana tidak? Tiap kali panen, penduduknya kaya raya. Meski daerah sangat sangat terpencil, jauh masuk pedalaman hutan Jangkang, Kab. Sanggau, Kalbar.
 
Hanya ada jalan tikus. Tak ada jalan tembus dapat dilalui kendaraan roda empat. Kontur permukaan buminya benar-benar unik. Alami, berbukit, sedikit rawa, lalu hutan lebat di kiri kanan. Jalan setapak menanjak sangat curam, kadang ditingkah tebing tinggi.
 
Nama dusun amat sangat terpencil ini: Teriang. Tak sembarang orang bisa mencapainya. Diperlukan tekad baja dan kemauan kuat.
 
Suasana khas Dayak zaman baheula. Sangat tradisional. Ternak anjing, ayam, babi, masih berkeliaran di sana sini.
 
Dalam rancangan,  aku (kami) akan mempatenkan jenis lada lokal, dengan butir besar bulat cocok untuk lada putih dengan nama: lada teriang. Usianya setengah abad, aku saksikan, batangnya sebesar lengan orang dewasa, dengan tiang kayu belian (ulin) yang sudah tua berlumut dimakan tanah permukaannya jadi genting.
 
Ke situ, aku naik motor selama 3 jam bersama Mang Bol, karyawanku. Itu awal tahun 2015. Terpesona indahnya, segera kuputuskan MEMIDAHKAN BUKIT ITU ke lahanku, di Jangkang.
Dan kini benar-benar sudah pindah. Bibit ladaku kebanyakan dari Teriang ini. Termasuklah bibit lokal dan semengok perak dan india (subhakara).
Aku lalu ingat kawan-rapatku, bupati Malinau, Yansen Tp yang lama kutakbersua selama teror bu corona pak covid. Dia intelektual yang sering diskusi ihwal berbagai topik. Darinya, saya tahu bahwa desa menyimpan potensi luar biasa, asal pandai dikelola.
 
Saya “makan” lada bukan dari buahnya. Dari buku pun, saya bisa menikmati hasil lada. Buku ini sudah live in di Google pula. Edisi cetak, analognya, cetakan ke-3.
 
Kami biasa kongkow-kongkow di lahan area perkebunannya, Bang Abak, sembari ngopi, minum teh, dan melihat ke kolamnya ikan-ikan berenang. Dia punya areal perkebunan yang bukan saja ditata rapi dan asri, tapi juga punya tajar mati dari kayu belian setinggi 12 meter dan diameter 0,5 m — kukira itulah tajar lada mati terbesar dan tertinggi di Indonesia.
Sungguh, surga tak perlu dicari ke mana. Surga bisa kita cipta dengan hidup damai bersahabat dengan alam dan segeap makluk ekologinya. Sekaligus, berusaha secara lestari menjaga konservasi untuk anak cucu negeri ini kemudian hari.
 
 
 
Saya di Bukit Satu Miliar.
Usai menyaksikan, dengan mata kepala sendiri. Mengamati dari dalam kehidupan masyarakat setempat. Saya lalu punya gagasan untuk menulis buku, dengan judul seperti ini.
 
Nyatanya, saya “makan” lada bukan dari buahnya. Dari buku pun, saya bisa menikmati hasil lada. Buku ini sudah live in di Google pula. Edisi cetak, analognya, cetakan ke-4.
 
 
Puji Tuhan!
 
Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply