Belajar Menulis dari Bung Karno| Sarinah, Penghargaan atas Wanita(2)

Sarinah.

Adalah mal pertana di Indonesia. Terletak sangat strategis. Di jantung kota Jakarta. Tak jauh dari Monas. Tepatnya di Jalan Thamrin.

Bung Karno menamainya. Tentu Sarinah dulu, beda dengan kini. Saya baru saja ke Sarinah. Selain meeting, lunch, juga di atasnya ada taman. Menjual hasil kerajinan dalam negeri. Dari harga puluhan ribu, hingga ratusan juta. Semua ada. Segalanya tersedia.

Apa yang tidak berubah?

Yang tidak berubah adalah logonya. Sarinah. Adalah tulisan tangan Soekarno. Khas sekali. Di mana-mana, di bandara, juga ada gerai toko Sarinah. Branding yang amat khas.

Dari mana sebenarnya Sarinah berasal?

Membaca buku ini, akan terasa siapa tangan dan pikiran penulisnya. Topiknya sederhana, tentang wanita sederhana bernama Sarinah. Bung Karno mampu menulis topik sederhana dengan cara luar biasa. Bung Karno mengawali buku ini memberi catatan sebagai berikut:

Apa sebab saya namakan kitab ini ”Sarinah”? Saya namakan kitab ini ”Sarinah”sebagai tanda terimakasih saya kepada pengasuh saya ketika saya masih kanak-kanak. Pengasuh saya itu bernama Sarinah. Ia ”mBok” saya.

Ia membantu Ibu saya, dan dari dia saya menerima banyak rasa cinta dan rasa kasih. Dari dia saya mendapat banyak pelajaran mencintai ”orang kecil”. Dia sendiripun ”orang kecil”. Tetapi budinya selalu besar! Moga-moga Tuhan membalas kebaikan Sarinah itu!

Kita pun lalu mafhum, sebuah cikal bakal mall –toserba—di bilangan Menteng, jantng kota Jakarta yang ketika itu supemewah, diberi nama Sarinah. Pusat perbelanjaan setinggi 74 meter dan 15 lantai ini mulai dibangun pada 1963. Mall pertama di Jakarta yang diresmikan 1966 yang pembangunannya atas keinginan Bung Karno. Sebuah bangunan yang mengekalkan nama wanita yang dikagumi Bung Karno ini.

Buku Sarinah yang terbit November 1947 ini terbilang fenomenal ini. Disebut demikian, karena di masanya, termasuk best seller. Bayangkan! Cetakan pertama 50.000 eksemplar.

Hal yang unik, semua judul buku Bung Karno merupakan tulisan tangan. Jika mengamati teks Proklamasi, tulisan tangan untuk judul buku-bukunya adalah orisinal. Sebuah gagasan brilian, mengingat jarang ada penulis dan penerbit berpikir sejauh itu. Lagi pula, tulisan tanga Bung Karno, layaknya tulisan tangan orang-orang terpelajar zaman itu, indah. Hal ini karena memang di sekolah pada zamanitu ada pelajaran menulis tangan, menulis indah.

Demikianlah caranya bekerja ide. Jasad manusia bisa saja mati, tetapi ide abadi.  Sehebat apa pun pemimpin, jika tidak pernah menuliskan dan dituliskan ide-idenya, akan akan lenyap dan dilupakan orang, bersamaan dengan dia lengser atau dilengserkan. Dan setelah tiada, lebih dilupakan lagi.

Sebaliknya, pemimpin seperti Bung Karno. Ia abadi.  Namanya tak pernah pupus dari muka bumi ini.

Maka benarlah kata John F. Kennedy: A man may die, nations may rise and fall, but an idea lives on.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply