Credit Union (CU) | Literasi Finansial Masyarakat Kalimantan (1)

Preambul:
Literasi, bukan hanya baca-tulis. Namun, sesuai  dengan putusan World Economic Forum (Forum Ekonomi Dunia) di Davos (Swiss) mencakup literasi bahasa (baca tulis), literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewargaan.

Berasal dari kata “literacy”, secara harfiah literasi berarti: kemampuan/ keterampilan akan satu bidang. Dapat juga literasi diartikan sebagai: melek, paham, mengerti.

Serial tulisan terkait topik Credit Union, Koperasi Kredit (Kopdit) Simpan Pinjam, yang tumbuh subur di akar rumput masyarakat Kalimantan, saya melakukan riset. Mengamati dengan saksama, bahwa koperasi hanya bisa tumbuh berkembang dalam masyarakat yang relatif homogen, saling percaya, berbela rasa tinggi, dan saling bantu: Kamu tolong saya, saya tolong kamu. Kita sama-sama maju!

Ikuti ulasan seputar CU di Kalimantan, suatu gerakan pemberdayaan, sekaligus pembebasan masyarakat dari segi finansial. 

***

“Kemiskinan itu bagai pendarahan,” ujar kawan-rapat, sekaligus pendiri CU Keling Kumang, Munaldus M.A. “Harus dihentikan!”

Dan kini, pendarahan itu telah berhenti lama. Jika patoknya harus ditancapkan sebagai tonggak sejarah, maka hal itu terjadi awal tahun 1970-an. Tatkala Gereja Katolik, lewat Komisi Sosial Ekonomi (kini PSE) memperkenalkan suatu model pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang sebenarnya diadopsi dari negeri Eropa.

Yang baik tetap baik. Seperti sawit, yang bukan asli tanaman industri Nusantara. Datang ke negeri kita membawa kebaikan.

Demikian Credit Union!

Sesuai hasil penelusuran saya, yang telah riset dan menulis 4 sejarah CU di Kalimantan Barat. CU besar dipelopori Lantang Tipo. Kemudian Pancur Kasih. Lalu “anak-anak didik”  Pancur Kasih menanam, bagai pisang, bibit baru ke lahan lain. Sebut saja, dalam hal itu, CU Keling Kumang di Sekadau yang dipelopori berdirinya oleh 4-M bersaudara (Musa, Munaldus, Masiun, dan Michael), yang kini bukan saja fokus pada CU, melainkan pada usaha lain, termasuk pendidikan.

Jalan menuju ke pembebasan finansial itu panjang. Dan tidak lempang. Banyak tantangan dihadapi, terutama “dari dalam”. Seperti kisah Masiun, di kampung mereka, Tapang Sambas, awalnya masyarakat menaruh syak wasangka. Bertanya-tanya, “Mungkinkah pembebasan datang dari orang kampung yang sekolah ke kota, lalu pulang ke negeri asalnya? Kami mengenal mereka!”

Toh Masiun, yang kini Ketua Pengurus CU Keling Kumang, bersaudara tetap bergeming. Kini aset CU yang berbasis di menoa Ibanik itu, memiliki aset yang bikin mulut berdecak: 2 T.

Saya telah meneliti dan menulis sejarah 4 CU. Intinya: sebuah koperasi hanya bisa tumbuh dan berkembang di antara orang/ komunitas yang saling percaya dan berjiwa berbela-rasa.

Di ruangan pelayanan anggota (bukan nasabah, seperti Bank). Kita ngobrol sebagai sesama pemilik dengan pemangku dan pengurusnya. Kita juga memiliki, sebagai anggota.

Saya, di ruang tunggu, selagi antre. Bertemu orang-orang kampung yang sederhana. Tapi uang mereka di dalam kantong plastik hitam segepok. Mereka menabung. Di antaranya, ada kawan sekelas saya, waktu SD: Dia punya truk. Baru saja panen sawit, 7 ton. Dia setor uangnya ke CU. Luar biasa!

Ugahari. Istilah ini lebih dalam dari sederhana. Buka saja laman Kamus Bahasa Indonesia daring. Sejak puluhan tahun saya telah menggunakannya. Ia kata yang bernas. Padat berisi. “Sak madyo”, kata orang Jawa. Secukupnya. Jangan berlebihan. Itulah cerminan sikap-hidup orang Dayak!

Konglomerasi ekonomi kerakyatan telah menggurita di ranah Dayak. Ini fakta! Sebab, “Kemiskinan seperti pendarahan. Harus dihentikan,” kata salah seorang pendiri CU Keling Kumang, dan salah satu penggiat Credit Union di Kalimantan Barat, Munaldus, M.A. kepada saya. Pemilik alias Liu Ban Fo, yang juga kawan-rapat dan teman latih tanding diskusi saya ini punya tekad: Desa mengepung kota, dengan sistem ekonominya. Berbagai gerai toko-swalayan milik Keling Kumang Grup (KKG) telah pun membuktikannya.

Pada 2016. Saya riset. Lalu dari situ, menulis buku setebal 275 halaman. Di bawah judul 40 Tahun CU Lantang Tipo, buku itu menyejarahkan. Tentang bagaimana sebuah koperasi hanya bisa tumbuh dan berkembang di antara orang/ komunitas yang saling percaya dan berjiwa berbela-rasa.

Ya, bukankah credit dari bahasa Latin “credere” yang berarti: percaya? Kata tunggalnya: credo = saya percaya. Orang ketiga tunggal: Credit. Yang berari: ia percaya pada xxx jika ada subjek. Dan “percaya” saja, jika tanpa embel-embel.

Jadi, basis Credit Union, CU itu: orang-orang yang percaya-mempercayai. Ini landasan. Tanpa kepercayaan, sebuah koperasi akan ambruk. Inilah sebab utama, mengapa banyak koperasi gulung tikar. Kecuali koperasi itu sendiri jual-tikar, dan mengulungnya sendiri.
(bersambung)

Presentation1

Keterangan gambar utama: Kantor CU Pancur Kasih, Balai Sebut; kantor sentral CU Keling Kumang di Sintang, dan kantor pusat CU Lantang Tipo di Bodok: representasi bangunan khas Dayak.
gambar inset/dalam: cover buku dan pelayanan anggota.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply