Di Era Digital: Setiap Penulis Bisa Menjadi Penerbit

Kita kini hidup di era yang penuh dengan inovasi di tengah, dan dipengaruhi, media digital. Terlepas dari dominasi media digital dalam berbagai dimensi kehidupan kita, ada satu sisi di Indonesia yang masih menunjukkan ketertinggalan dalam hal adopsi teknologi digital, yaitu penjualan eBook dibandingkan dengan buku cetak tradisional.

Setiap tahun, ribuan buku (lebih dari 30.000) dengan berbagai judul dan genre diterbitkan dengan menerima International Standard Book Number (ISBN) dari Perpustakaan Nasional.

Terobosan yang semakin signifikan adalah bagaimana sebagian besar buku ini kemudian diubah menjadi format eBook, yang seharusnya memanfaatkan efisiensi dan kenyamanan teknologi. Namun, tantangan nyata muncul dalam bentuk proporsi penjualan antara eBook dengan buku cetak.

Dengan segala potensi yang dimilikinya, penjualan buku digital ternyata belum mampu menembus angka 5% dari total penjualan buku fisik. Bahkan di negara maju pun, penjualan buku digital belum pernah tembus 30% dari penjualan buku cetak. 

Namun, terdapat fenomena menarik di tengah tantangan ini. Peluang untuk menjual karya tulis melalui platform daring atau online kini semakin terbuka lebar, terutama berkat kerja sama dengan Mitra Google.

Hal lain yang menarik adalah tidak lagi dibutuhkan International Standard Book Number (ISBN) yang menjadi ciri khas dunia penerbitan konvensional. Sebagai gantinya, ID buku Google (GGKEY) menjadi kunci untuk memasuki pangsa pasar digital ini. Dengan syarat utama karya yang ditawarkan adalah orisinalitas, setiap penulis kini memiliki peluang yang sama untuk menjadi penerbit dan menjual karya-karyanya tanpa batasan yang selama ini ada.

Kehadiran platform-platform ini mencerminkan pergeseran paradigma dalam dunia penerbitan. Dulu, menjadi penerbit adalah hak yang hanya dimiliki oleh segelintir orang atau penerbit besar.

Namun, kini pintu dunia penerbitan telah terbuka lebar, dan setiap individu yang memiliki ide dan karya dapat dengan mudah memasukinya. Hal ini tidak hanya membawa angin segar bagi mereka yang ingin berbagi kreativitas, tetapi juga memungkinkan lebih banyak suara dan cerita untuk diakses oleh pembaca di seluruh dunia.

Dalam konteks Indonesia, di mana minat membaca dan kecintaan terhadap buku masih sangat tinggi, potensi ini bisa menjadi awal yang menjanjikan.

Dengan lebih banyak karya yang dapat diakses oleh lebih banyak orang, baik di dalam maupun luar negeri, perkembangan literasi dan apresiasi terhadap karya-karya lokal dapat lebih meluas.

Selain itu, ini juga memberi peluang ekonomi baru bagi penulis, terutama mereka yang sebelumnya kesulitan mendapatkan perhatian dari penerbit konvensional.

Maka, walaupun dominasi teknologi digital di era ini sudah sangat jelas, tantangan dan peluang di sektor penerbitan digital di Indonesia masih terlihat kontras.

Dengan kerja sama dengan Mitra Google yang memudahkan akses ke pasar digital, semakin banyak orang yang dapat mewujudkan impian menjadi penulis dan menceritakan kisah-kisah mereka.

Tentu suatu hari nanti angka penjualan buku digital akan mencapai proporsi yang lebih seimbang dengan buku cetak. Seraya tetap menjaga keberagaman dan kekayaan ragam karya di dunia literasi Indonesia.

Memang hasil penjualan e-book kerja sama dengan Google berbagi hasil. Namun, sebelum memutuskan harga buku, terlebih dahulu naikkan harganya, agar dalam pembagian itu penulis (dan penerbit) masih mendapat keuntungan.*)

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply