Dongeng (dalam) Politik

Dongeng.

Kita telah mafhum apa gerangan. Sejak di kandung ibu. Atau tatkala masih balita (bawah lima tahun). Ketika pada malam hari, jelang tidur, ayah ibu meninabokokkan kita dengan dongeng. 

Ayah ibu bercerita hingga sang anak terlelap. Bercerita terus dan terus tanpa putus. Sembari bercerita, sang anak yang mendengarkan, menyimak dengan saksama. Ia membayangkan alur cerita. Kadang merasa bahwa sang tokoh dalam cerita dia sendiri adalah pelakunya. 

Atau membayangkan nanti di kemdian hari menjadi seperti pelaku cerita. Sekaligus pembuat peristiwa. Seorang besar yang sukses dalam berbagai bidang. Kaya raya. Dikenal sebagai orang baik dan luhur budi pekertinya.

Meski baru tahun depan, 2024. Namun, jelang tahun politik saat ini, banyak janji-janji politik ditebar. Biasanya, janji manis. Setinggi langit. Yang ditebar adalah angin surga. Tidak jarang pepes kosong.

Biasanya, cerita itu mengantar tidur anak. Oleh karena itu, dipilih kisahan yang bagus-bagus. Yakni cerita yang mengandung nilai kemanusiaan. Yang sarat dengan pesan-pesan moral.

Tidak cerita yang menebar kebencian dan permusuhan. Apalagi yang berdarah-darah. Sebaliknya, dipilih cerita yang tinggi kadar kandungan pesan moralnya untuk dibacakan atau didongengkan. 

Pesan inti cerita itu yang disebut: dongeng yang edukatif.

Itulah kekuatan sebuah dongeng!
Ia membekas dalam ingatan. Merasuk alam bawah sadar. Secara lambat laun, dongeng atau cerita “bekerja” sedemikian rupa secara otomatis.

***

Meski baru tahun depan, 2024. Namun, jelang tahun politik saat ini, banyak janji-janji politik ditebar. Biasanya, janji manis. Setinggi langit. Yang ditebar adalah angin surga. Tidak jarang pepes kosong.

Maka janji-janji politik, yang tidak ditepati oleh para pelaku politik, disebut sebagai: dongeng. Dongeng adalah cerita rekaan. Yang tidak benar-benar terjadi. Seperti defenisi KBBI daring yang berikut ini:

dongeng/do·ngeng/ /dongéng/ n 1 cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutama tentang kejadian zaman dulu yang aneh-aneh): anak-anak gemar mendengarkan — Seribu Satu Malam; 2 ki perkataan (berita dan sebagainya) yang bukan-bukan atau tidak benar: uraian yang panjang itu dianggapnya hanya — belaka;

— sasakala cerita zaman dahulu (seperti cerita para dewa);
 
Terlena, atau terlelapkah kita dengan tebar dongeng politik? Tergantung! Kita sebagai balita, atau sebagai dewasa.
 
Orang dewasa telah bisa memilah dan memilih kisahan untuk dirinya sendiri.
 
ilustrasi gambar”
dari FB sahabat MAl
Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply