Eusideroxylon Zwageri | Tebang Ganti Untung (1)

Eusideroxylon Zwageri.
Alias kayu belian, kayu besi, kayu ulin, atau ironwood. Akhir-akhir ini menarik perhatian saya yang sejak dua tahun lalu saya budidayakan secara generatif. 

Kian bersemangat. Ketika belum lama ini bertemu seorang pengusaha dan pengrajin kayu keras khas Kalimantan ini di Bali. Bekas kapal, jembatan, bangunan tua, tiang telepon, juga tajar lada (sahang); jadi tambang uang di tangannya.

Atas ketertarikan, dan hobi itu, saya terdorong menulis secara serial pohon kayu langka ini. Mulai hari ini. Spesial untuk pembaca Bibliopdia.

“Kamu nebang dan ambil kayu belian bapakmu. Kamu harus tanam dan ganti tujuh kali untuk anak-cucumu!” kata ayah saya. Begitu saya izin, mau chain saw kayu 3 pohon kayu belian, samping rumah besa keluarga kami, yang usianya lebih dari 40 tahun.

Kayu belian itu bukan untuk saya pribadi, sebenarnya. Saya sedang membangun sebuah ekowisata, jaraknya sekitar 60,6 kilometer dari rumah. Saya memerlukan batang tiang yang segar, lagi kokoh kuat untuk tiang jembatan. Meski saya namakan “The Sareb’s Bridge”, tetap saja bahan jembatan itu tidak percuma.

Setelah menyanggupi mengganti 7 kali lipat, berarti saya wajib menanam 21 pohon ulin baru, baru saya diizinkan menebang pohon ulin ayah.

Bukan perhitungan. Sama sekali tidak! Tapi, kata ayah, “Itu bagian dari hukum adat, tradisi. Agar pohon atau apa saja yang langka, tidak semakin langka dan lama-lama punah.”

Saya melakukan dengan sukahati “hukum adat” itu. Sebab, sangat masuk akal dan baik adanya. “Mati satu tumbuh seribu,” kata ayah saya. “Itu filosofi orang tua kita, Dayak.”

Telah sejak lima tahun lalu saya menyuruh orang kampung mencari dan mengumpulkan biji kayu belian. Sebesar lengan. Berat.

Tak ada dalam cerita orang Dayak mati tertimpa buah durian. Namun, kisah mengenai putri raja yang mati gara-gara kejatuhan buah belian pas di ulu kepalanya, ada. Gara-gara itu, sang raja menyuruh warga menebang semua pohon belian. Syahdan, karena itu, di tepian-tepian sungai tidak ada pohon besi ini.

Kembali ke membayar ganti-untung (bukan ganti rugi). Saya tidak dimita membayar secara uang tunai karena mengambil kayu belian ayah. Tapi diminta menanam pohon yang sama, 7 kali lipatnya.

Oke, saja dengan tantangan itu. Siapa takut?

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 730

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply